Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Aset ex Malang Stoomtram Maatschappij
Hallo,

Saya anggota baru. Lahir di Malang thn 1952 tinggal disana samoai 1972, terus keluar negeri jadi maaf kalau bahasa saya mencong.

Waktu saya masih di Malang tiap hari sekitar jam 11.00 pagi kereta masih datang di setatiun Jagalan dari selatan. Terus 1 jam sesudahnya berangkat lagi keselatan.

Jang dari Blimbing ke Tumpang waktu itu juga masih ada.


Begitulah.
Reply
(29-09-2011, 08:41 PM)antonius_123 Wrote: Hallo,
Saya anggota baru. Lahir di Malang thn 1952 tinggal disana samoai 1972, terus keluar negeri jadi maaf kalau bahasa saya mencong.
Waktu saya masih di Malang tiap hari sekitar jam 11.00 pagi kereta masih datang di setatiun Jagalan dari selatan. Terus 1 jam sesudahnya berangkat lagi keselatan.
Jang dari Blimbing ke Tumpang waktu itu juga masih ada.
Begitulah.

Dear Mr. Antonius,
It's ok for your Indonesian language, we don't mind at all...
About your post, if you willing to and have a spare time to collect them as a story, or if you had few pics from that decade it will be pleased us very much.

So, our younger generation have a imagination how good our train operator back then.

Looking foward to waiting your other contribution.


[Image: spammingsj0.gif]
Reply
Ya ini ceritaku ojo nguyu lho, sing pasti bahasaku kuno.............

Foto ndak ada wong waktu itu camera masih muahal yang punya cuman orang berada....

Saya sudah mulai kecil seneng kereta api jadi dari kecil kalau hari libur ato hari minggu kerjanya nunguin KA di setatiun Utama dan Jagalan. Malah ndak pernah di setatiun Kota lama karena ndak ada tempat untuk duduk seharian. Kalau di Jagalan bisa duduk ditembok sekolah Halmahera seharian.
Dulu KA tidak sebanyak sekarang. Tiap hari 4 dari dan ke Surabaya dan 3 dari dan ke Blitar.
Ke Surabaya berangkat jam 6.00, 10.30, 14.00 dan 17.30.

Sampai kira2 thn 1958 semua lok uap. Yang ke Surabaya serie D52 dengan gerbong besi kelas 3 serie CW semua. Kira2 thn 1958 kadang2 masuk diesel serie CC200. Tapi ini chusus jalur Surabaya.

Yang ke Blitar selalu lok uap serie F, dengan susunan roda 2-6-1. Gerbongnya gerbong kayu serie CL. 1 x sehari kira2 jam 12, KA yang dari Surabaya dengen gerbong besi serie CW diteruskan ke Blitar tapi di Malang kalau dari Surabayanya pakai lok diesel, selalu ganti lok uap. Kalau gerbong besi serie CW, lok uapnya pakai serie D52 jadi tidak pakai lok serie F karena gandengannya lain dan gerbong serie CW perlu Vacuum untuk remnya. Ini cuman ada pada lok uap serie D52 serie lainnya tidak punya pompa vacuum dan gandengannya ndak cocok.

Sampai kira2 thn 1958 rel jagalan yang ke Utara masih ada tapi ndak pernah kelihatan kereta jalan. Routenya dari Jagalan ke Utara lewat jalan Jagalan disebelah kiri ( kalau jalan ke Utara), terus ke jalan Pegadaian ( gak tahu namanya jalan apa sekarang), juga disebelah kiri, terus nyebrang alun2 diagonal keluar di Kayutangan lewat hotel dan pas didepan Toko Oen. Di Kayutangan jalannya juga sebelah kiri terus sampai gedung PLN diseberang kantor Politie yang ditengah jalan ada roundabout dng lonceng( ndak tahu sekarang masih ada ndak). Disitu nyebrang kekanan, naik seperti tanggul disebelah kanan jalan Celaket. Disitu jalan Celakat kan agak menurun sampai kali Brantas terus naik lagi sampai Rs Umum kan, tapi rel kereta dinaikkan seperti bendungan jadi ndak turun terus naik lagi tapi kurang lebih datar. Jembatan rel nyebrang kali Brantas letaknya juga jauh lebih tinggi dari jembatan mobil.
Terus sampai Blimbing, di Blimbing cabang kekanan ke Tumpang, terus sampai Singosari., jalannya terus sebelah kanan jalanan mobil. Sesudah Blimbing kan nyebrang kali lagi, disitu jembatan rel juga dinaikkan seperti jembatan di Celaket.
Tapi ini semua thn 1958 sudah tidak dipakai lagi.

Saya sendiri pernah 1 x naik KA dari Malang ke jurusan Tumpang( kira2 thn 1958). Naiknya dari setatiun utama di Malang lewat rel KA SS yang biasa sampai Blimbing terus belok kanan ke Tumpang.

Yang jurusan Selatan dari Jagalan itu tiap hari kira2 jam 11.00 datang dari Selatan. Bawak gerbong penumpang 2 sm
ama beberapa gerbong barang atau ketel. Terus lepas lok, loknya sering pergi sendiri kearah gudang2 dibelakang terus kembali bawak gerbong2. Sebagian gerbong2 ditinggal di setatiun Jagalan dan sebagian digandeng dng rangkaian yang baru datang, terus sesudah kira2 1 jam kereta berangkat lagi ke Selatan. Loknya selalu sama, lok uap kecil dengan susunan roda 0-4-0. Lok seperti ini ada 2 di Malang. Yang satu di setatiun utama dipakai untuk langsir atau untuk kereta yang ke Tumpang.

Lori Tulung Agung waktu itu juga masih sering kelihatan. Dibelakang sekolah Dempo rel bercabang yang satu terus kearah timur lewat jln Jakarta terus ke Blimbing yang satu ke Utara ke Dinoyo.

Begitulah

Reply
(01-10-2011, 01:36 AM)antonius_123 Wrote: ... Di Kayutangan jalannya juga sebelah kiri terus sampai gedung PLN diseberang kantor Politie yang ditengah jalan ada roundabout dng lonceng( ndak tahu sekarang masih ada ndak). Disitu nyebrang kekanan, naik seperti tanggul disebelah kanan jalan Celaket. Disitu jalan Celakat kan agak menurun sampai kali Brantas terus naik lagi sampai Rs Umum kan, tapi rel kereta dinaikkan seperti bendungan jadi ndak turun terus naik lagi tapi kurang lebih datar. Jembatan rel nyebrang kali Brantas letaknya juga jauh lebih tinggi dari jembatan mobil........
kalo gak salah jalan yang di sebelah jembatan kali brantas di sebelah timur (kalo dari arah selatan/kayutangan di sebelah kanan jalan) tepatnya depan pojokan rssa dan pln memang lebih tinggi dari jalan raya (sekarang dibuat trotar). apakah itu yang dimaksud mr. antonius sebagai jalan trem?
Reply
(01-10-2011, 01:36 AM)antonius_123 Wrote: Ya ini ceritaku ojo nguyu lho, sing pasti bahasaku kuno.............

Foto ndak ada wong waktu itu camera masih muahal yang punya cuman orang berada....

Saya sudah mulai kecil seneng kereta api jadi dari kecil kalau hari libur ato hari minggu kerjanya nunguin KA di setatiun Utama dan Jagalan. Malah ndak pernah di setatiun Kota lama karena ndak ada tempat untuk duduk seharian. Kalau di Jagalan bisa duduk ditembok sekolah Halmahera seharian.
Dulu KA tidak sebanyak sekarang. Tiap hari 4 dari dan ke Surabaya dan 3 dari dan ke Blitar.
Ke Surabaya berangkat jam 6.00, 10.30, 14.00 dan 17.30.

Sampai kira2 thn 1958 semua lok uap. Yang ke Surabaya serie D52 dengan gerbong besi kelas 3 serie CW semua. Kira2 thn 1958 kadang2 masuk diesel serie CC200. Tapi ini chusus jalur Surabaya.

Yang ke Blitar selalu lok uap serie F, dengan susunan roda 2-6-1. Gerbongnya gerbong kayu serie CL. 1 x sehari kira2 jam 12, KA yang dari Surabaya dengen gerbong besi serie CW diteruskan ke Blitar tapi di Malang kalau dari Surabayanya pakai lok diesel, selalu ganti lok uap. Kalau gerbong besi serie CW, lok uapnya pakai serie D52 jadi tidak pakai lok serie F karena gandengannya lain dan gerbong serie CW perlu Vacuum untuk remnya. Ini cuman ada pada lok uap serie D52 serie lainnya tidak punya pompa vacuum dan gandengannya ndak cocok.

Sampai kira2 thn 1958 rel jagalan yang ke Utara masih ada tapi ndak pernah kelihatan kereta jalan. Routenya dari Jagalan ke Utara lewat jalan Jagalan disebelah kiri ( kalau jalan ke Utara), terus ke jalan Pegadaian ( gak tahu namanya jalan apa sekarang), juga disebelah kiri, terus nyebrang alun2 diagonal keluar di Kayutangan lewat hotel dan pas didepan Toko Oen. Di Kayutangan jalannya juga sebelah kiri terus sampai gedung PLN diseberang kantor Politie yang ditengah jalan ada roundabout dng lonceng( ndak tahu sekarang masih ada ndak). Disitu nyebrang kekanan, naik seperti tanggul disebelah kanan jalan Celaket. Disitu jalan Celakat kan agak menurun sampai kali Brantas terus naik lagi sampai Rs Umum kan, tapi rel kereta dinaikkan seperti bendungan jadi ndak turun terus naik lagi tapi kurang lebih datar. Jembatan rel nyebrang kali Brantas letaknya juga jauh lebih tinggi dari jembatan mobil.
Terus sampai Blimbing, di Blimbing cabang kekanan ke Tumpang, terus sampai Singosari., jalannya terus sebelah kanan jalanan mobil. Sesudah Blimbing kan nyebrang kali lagi, disitu jembatan rel juga dinaikkan seperti jembatan di Celaket.
Tapi ini semua thn 1958 sudah tidak dipakai lagi.

Saya sendiri pernah 1 x naik KA dari Malang ke jurusan Tumpang( kira2 thn 1958). Naiknya dari setatiun utama di Malang lewat rel KA SS yang biasa sampai Blimbing terus belok kanan ke Tumpang.

Yang jurusan Selatan dari Jagalan itu tiap hari kira2 jam 11.00 datang dari Selatan. Bawak gerbong penumpang 2 sm
ama beberapa gerbong barang atau ketel. Terus lepas lok, loknya sering pergi sendiri kearah gudang2 dibelakang terus kembali bawak gerbong2. Sebagian gerbong2 ditinggal di setatiun Jagalan dan sebagian digandeng dng rangkaian yang baru datang, terus sesudah kira2 1 jam kereta berangkat lagi ke Selatan. Loknya selalu sama, lok uap kecil dengan susunan roda 0-4-0. Lok seperti ini ada 2 di Malang. Yang satu di setatiun utama dipakai untuk langsir atau untuk kereta yang ke Tumpang.

Lori Tulung Agung waktu itu juga masih sering kelihatan. Dibelakang sekolah Dempo rel bercabang yang satu terus kearah timur lewat jln Jakarta terus ke Blimbing yang satu ke Utara ke Dinoyo.

Begitulah

Terima kasih tanggapannya Pak. Sekarang Bapak tinggal di mana?
Mungkin yang Bapak maksud dengan Lori Tulung Agung adalah Lori PG Kebon Agung.

Salam Spoor,
Reply
Selamat Siang,

Saya sekarang tinggal di Belanda, e ya kok Tulung Agung, memang maksudnya Lori PG Kebon Agung.

Jang sekarang masih kelihatan agak tinggi itu memang bekas rel KA tapi lebarnya tinggal separoh karena jalan Celaket diperlebar, buat jalanan sepeda, jembatan jalan umum juga sudah diperlebar. Jembatan besi yang bekas KA itu kira2 waktu saya di SMP( thn 1965 an) diangkat terus celaket diperlebar.

Salam.
Reply
Stasiun kota lama malang masih tampak asli...bangunan kuno masih ada. kenapa ga di perbarui ya bangunanya.
Reply
andaikan bisa di hidupin kembali jalur trem pasti malang kayak kota2 di eropa...
Reply
Salam KA

saya pernah lihat ada jembatan misterius di sebelah utara jembatan Kali Sari (jalan raya malang-tumpang) apakah itu Aset ex Malang Stoomtram Maatschappij
Reply
(16-10-2011, 08:37 PM)Rizky Oktafiansyah Wrote: Salam KA

saya pernah lihat ada jembatan misterius di sebelah utara jembatan Kali Sari (jalan raya malang-tumpang) apakah itu Aset ex Malang Stoomtram Maatschappij

[align=justify]Iya bener itu asetnya Malang Stoomtram Maatschappij. Dulunya itu bagian dari jalur trem dari Malang ke Tumpang. Saya sering banget lewat situ soalnya saya sering ke Tumpang. Dulunya pas saya masih kecil, sekitar tahun 90'an jembatan itu masih ada relnya meskipun jembatannya sudah nggak ada. Jadi dari pondasi jembatan satu ke pondasi jembatan yang deseberang kali itu relnya nggantung melengkung gitu.Terus ke arah barat di dekat pasar pakis itu ada jembatan juga.

Tapi sayang banget, sekarang jembatan di Kali sari sama yang deket pasar itu tinggal pondasi jembatannya saja. Rel di sekitar jembatan situ sudah nggak bisa ditemui lagi. Sedih
Kecuali kalo ke arah Tumpang sana memang di beberapa titik memang relnya masih kelihatan.


salam spoor, Bye Bye
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)