Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Loket Stasiun akan Dihapus
#11
Suporter sepakbola boleh beli tiket di agen juga?
Agen sih mau-mau aja. Yang penting kan dapet fee.
Kereta remuk urusan KAI, bukan agen.
Reply
#12
nyusahin orang namanya... hhhh
Reply
#13
ooo ini ujung2nya untuk menekan cost biaya SDM.....
sebetulnya tiket di stasiun tidak perlu di hapus, hanya saja porsi penjualan tiket di stasiun di kurangi porsi lebih besar di jual di agen2.....
Tersenyuum

Reply
#14
Quote:Dengan penghapusan loket tersebut, Rapino menyebutkan, penumpang tidak akan pusing untuk mengantre tiket. Mereka tinggal datang ke stasiun untuk berangkat, seperti halnya di bandara. "(Penumpang) enggak pusingin tiket lagi. Stasiun tinggal ngurusin kereta dan penumpang," tambah Rapino.

Ia menambahkan, tiket dapat dibeli di agen atau melalui layanan online. "Enggak ada penumpukan antrean. (Penumpang) yang datang yang siap berangkat," tegas Rapino.

Dampak positif lainnya, penjualan tiket ilegal melalui calo pun dapat diberantas. Apalagi, lanjut dia, pegawai KAI sering kali diberitakan terlibat dalam penjualan tiket secara ilegal itu.

Sisi positif dan negatif yang bisa ditarik dari rencana penghapusan loket KA jarak jauh ini adalah:

- Sisi positif

1. Tak ada lagi antrian berjubel dan calo ilegal yang merugikan pembeli tiket.
2. Kondisi stasiun lebih tertib dan terorganisir.
3. Penumpang tidak pusing soal ketersediaan tiket dan tempat duduk untuk tanggal keberangkatan tertentu.

- Sisi negatif

1. Biaya tambahan yang dibebankan kepada calon pengguna karena membeli melalui agen resmi.
2. Tak ada kesempatan untuk pengguna yang masih mengandalkan pembelian model konvensional.
3. Banyak calon pengguna yang belum mengetahui cara pemesanan online maupun agen.
4. Tak tersedianya sarana yang memadai untuk pengurusan tiket apabila calon pengguna ternyata membatalkan/mengembalikan atau mengubah tanggal keberangkatan pada tiket yang telah dibeli.

(30-08-2011, 05:38 PM)enrico Wrote: kebijakan yang makin aneh....
namanya stasiun ya harus ada loketnyalah...

macam mana pula ini???

Kalaupun tidak ada loket konvensional, dalam pemikiran saya perlu ada sistem loket elektronik yang dijaga SDM PT. KAI (Persero) sehingga pengguna KA jarak jauh yang ingin berangkat pada hari itu juga bisa langsung membeli tiket selama masih ada kursi yang kosong pada hari tersebut.

(30-08-2011, 06:21 PM)Joe_cn Wrote: Kalo menurut saya, moda transportasi kereta api tuh kebanyakan dipake oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, jangan selalu disamakan dengan pesawat, seperti kemaren masalah boarding sangat amat mengganggu bila belum ada sosialisasi.
Saya pikir loket itu uda pilihan tepat dan sudah menjadi budaya sendiri untuk orang2 Indonesia.
Saya bukan anti sama cara baru yang sangat modern tapi apa masyarakat Ina uda siap menerima cara baru tersebut?
Sudah berapa persen masyarakat pengguna KA yang menggunakan sistem on line dan menggunakan agen?

Pengguna kereta api sendiri memang sebagian besar adalah masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang mana mereka membutuhkan ketepatan pelayanan, apalagi jika mereka tidak mengetahui jadwal keberangkatan KA yang akan mereka naiki.

Menurut saya masih sedikit yang menggunakan jasa agen, drive-thru atau pemesanan daring (via 121), sebagian besar memilih mengantri di loket karena faktor perbedaan harga dengan harga yang ditawarkan agen perjalanan.

(30-08-2011, 08:04 PM)eling Wrote: ooo ini ujung2nya untuk menekan cost biaya SDM.....
sebetulnya tiket di stasiun tidak perlu di hapus, hanya saja porsi penjualan tiket di stasiun di kurangi porsi lebih besar di jual di agen2.....
Tersenyuum

Langkah semacam ini pun perlu diimbangi dengan penurunan agency fee agar tidak terlalu berbeda jauh antara tiket yang dijual di loket dengan yang dijual di stasiun.

Dari hemat saya, lebih baik sistem ala mas eling dipakai daripada keberadaan loket untuk KA jarak jauh dihapuskan sama sekali, dan kalaupun loket manual dengan SDM harus dihapuskan tentu harus ada penggantinya yang sesuai (berupa solusi mesin penjual tiket otomatis yang terkomputerisasi).
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#15
(30-08-2011, 08:29 PM)Charles Wrote:
(30-08-2011, 06:21 PM)Joe_cn Wrote: Kalo menurut saya, moda transportasi kereta api tuh kebanyakan dipake oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, jangan selalu disamakan dengan pesawat, seperti kemaren masalah boarding sangat amat mengganggu bila belum ada sosialisasi.
Saya pikir loket itu uda pilihan tepat dan sudah menjadi budaya sendiri untuk orang2 Indonesia.
Saya bukan anti sama cara baru yang sangat modern tapi apa masyarakat Ina uda siap menerima cara baru tersebut?
Sudah berapa persen masyarakat pengguna KA yang menggunakan sistem on line dan menggunakan agen?

Pengguna kereta api sendiri memang sebagian besar adalah masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah yang mana mereka membutuhkan ketepatan pelayanan, apalagi jika mereka tidak mengetahui jadwal keberangkatan KA yang akan mereka naiki.

Menurut saya masih sedikit yang menggunakan jasa agen, drive-thru atau pemesanan daring (via 121), sebagian besar memilih mengantri di loket karena faktor perbedaan harga dengan harga yang ditawarkan agen perjalanan.
Ya saya salah satu orang yang memperhatikan faktor perbedaan harga, karena saya pernah mencoba beli di agen ternyata tarif yang dibebankan mencapai 10ribu, pun dengan salah satu mini market yang menjalin kerja sama tarif yang dibebankan mencapai 7500, kalo ga terpaksa aja saya selalu pergi ke stasiun walaw dengan antrian yang panjang.Ngakak

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#16
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ga usah neko-neko lah.... dalam artian tingkatkan aja STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM)...
masyarakat Indonesia belum siap dengan sistem baru tersebut, terutama tuk penumpang (maaf) ekonomi......
Belum lg jika ada calon penumpang yg akan menggunakan Kereta secara mendadak dikarenakan musibah atau keperluan lain, begitu ke stasiun mau tiket ga ada loket, bingung deh

[Image: CopyofIMG_0286.jpg]
Reply
#17
kalo emang PT KA pengen melakukan modernisasi pelayanan dengan mengoptimalkan fungsi agen.... mbok ya jangan kek gitu.... saya lihat ide itu di satu sisi setengah2... tapi di sisi lain terlalu frontal..

maksud saya setengah2.... kalo emang agar pelayanan tiketing bisa lebih luas dan efisien.... kenapa cuman liwat agency... napa juga ga sekalian bikin E-Ticketing via website..... kan itu ebih visioner dimana konsumen akan lebih dipermudah dalam mendapatkan informasi dan peayanan ticketing KA

selanjutnya terlalu drastis itu... apakah iya, semua tiket tidak ada yg dijual di stasiun.... lah di bandara ajah maskapai2 sekelas GIA, dan beberapa maskapai internasional ASEAN ajah masih buka loket di bandara.... ya njagani penumpang yg perjalanan ndadak dan go show.... nah ini gimana nih kalo kondisi KA pas sepi (weekdays).... tapi banyak penumpang go show..... apa itu namanya ndak sama saja dengan menyuruh penumpang beralih ke moda lain????

sementara moda lain menyediakan berbagai keunggulan (ada yg murah, ada yg full service, ada yg pridefull, ada yg cepet banget, dll dan penumpang tinggal milih yg mana)
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#18
(30-08-2011, 07:33 PM)pardjono Wrote:
Suporter sepakbola boleh beli tiket di agen juga?
Agen sih mau-mau aja. Yang penting kan dapet fee.
Kereta remuk urusan KAI, bukan agen.
NgakakNgakak
Ga kebayag kalo pada beli tiket eko rombongan.

SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN

Reply
#19
(30-08-2011, 02:38 PM)hedwigus Wrote: Ada berita bahwa loket-loket (untuk KA Jarak Jauh) yang ada di stasion akan dihapus.
Jadi sepertinya harus beli melalui agent kedepannya

Apa seperti dulu ya,
sekitar tahun 70 an ?
Biasanya,
jika ingin naik kereta api, orang tua saya,
membelinya di Carnation,
apa sekarang masih ada ya ?

Xie XieBingungBye Bye
Reply
#20
(30-08-2011, 11:12 PM)Adi Sutjipto Wrote: Apa seperti dulu ya,
sekitar tahun 70 an ?
Biasanya,
jika ingin naik kereta api, orang tua saya,
membelinya di Carnation,
apa sekarang masih ada ya ?

Xie XieBingungBye Bye

Carnation apaan pakde...???
Bingung

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)