22-08-2011, 08:27 PM
Sebenarnya,
pengereman kereta api [dalam arti dengan rangkaian],
setiap masinis mempunyai karakter tersendiri. Ada yang kasar dan ada yang halus.
Tapi diusahakan, sehalus mungkin, ibarat,
abu rokok yang masih menempel diujung rokokpun, jangan sampai terjatuh,
saat kereta berhenti total !
Ada beberapa cara,
tergantung tiap masinis punya kebiasaan, tetapi, biasanya,
begitu mulai masuk Jalur 1 misalnya,
kereta sudah dalam keadaan perlahan,
setelah melewati sinyal masuk, dengan posisi rem sedikit ditahan,
atau dimainkan, rem sedikit, lepas kembali, dst,
demikian beberapa kali dilakukan.
Throttle tidak dalam posisi N, tetapi tetap dijalankan,
pada angka 1 misalnya, sambil ditahan rem sedikit atau dilepas
[rem rangkaian].
Setelah rangkaian hampir berhenti,
dalam arti masih berjalan tetapi sangat perlahan,
posisi Throttle dapat digeser ke N,
dan rangkaian dibiarkan menggelinding sangat perlahan,
karena semua idle, begitu berhenti,
langsung Rem Loko dikerjakan.
Ada juga, dalam posisi di 1,
tetapi dijaga dengan rem rangkaian sedikit,
sampai berhenti, lalu rem loko dikerjakan,
dan rem rangkaian dilepas.
Ini gunanya,
agar jika sampai berhenti, posisi coupler masih dalam posisi menarik rangkaian.
Sehingga, pada saat berhenti, rangkaian tetap mulus,
tidak terjadi hentakan tiap gerbong dengan gerbong DIDEPANNYA.
Nanti apabila kereta dijalankan kembali,
setelah penumpang turun dan naik,
karena posisi coupler masih dalam keadaan menarik,
saat mulai berjalan,
tidak terjadi hentakan dari gerbong DEPAN kearah BELAKANG.
Jadi, start dengan mulus,
penumpang tidak merasakan hentakan,
baik saat berhenti, maupun mulai dijalankan,
demi kenyamanan penumpang
dan keamanan masakan di Reska bagi yang ada KMP nya.
Saat akan menyambung Loko dengan rangkaianpun, juga ada seni tersendiri.
Saat loko sudah dalam jarak sekitar 1 meter,
bisa juga dilakukan dengan memasukkan Throttle ke posisi 1 dan N bergantian,
dilakukan beberapa kali,
sehingga loko berjalan sangat perlahan
sampai coupler saling menyentuh,
dengan melihat aba-aba tangan dari Juru Langsir.
Atau dapat juga, loko dijalankan dengan perlahan,
sampai mendekati gerbong,
dilepas perlahan, posisi N, dengan sedikit ditahan rem,
sampai menyambung.
Ini tergantung feeling masinis,
tentunya didapat karena pengalaman.
Rem loko, dapat digunakan jika rangkaian berhenti,
ibarat rem tangan pada mobil, karena, jalur pada emplasement tasiun adalah rata air.
Tetapi mengoperasikan rem loko pada kecepatan yang tiinggi,
selain dapat membahayakan loko,
yang karena dorongan dari belakang,
dapat mengakibatkan anjlog atau terbalik,
juga tidak dapat efektif titik berhentinya,
dan dapat merusak roda loko sehingga menjadi tidak bundar.
Tetapi jika mulai berjalan,
ya tinggal membunyikan dulu Semboyan sulingnya,
sekali dengan panjang, baru setelah itu,
Throttle mulai dimasukkan keposisi 1
dan rem loko langsung dilepas,
atau ada juga masinis yang setelah memasukkan Throttle pada posisi 1,
tetapi rem loko dilepas beberapa detik kemudian,
agar start pertama berjalan dengan mulus.
Dan perlahan tapi pasti, bergeser urut kacang,
kearah angka yang lebih besar,
disesuaikan dengan medan dan taspat tentunya.
Tapi pada akhirnya juga,
tergantung karakter setiap masinisnya,
mirip orang yang membawa mobil atau sepeda motor,
ada yang halus, dan ada pula yang kasar.
Kira-kira demikian,
semoga sedikit bermanfaat untuk menggambarkan,
bagaimana sebuah rangkaian kereta mulai diberhentikan
sampai berhenti total atau sebaliknya.
S4.


pengereman kereta api [dalam arti dengan rangkaian],
setiap masinis mempunyai karakter tersendiri. Ada yang kasar dan ada yang halus.
Tapi diusahakan, sehalus mungkin, ibarat,
abu rokok yang masih menempel diujung rokokpun, jangan sampai terjatuh,
saat kereta berhenti total !
Ada beberapa cara,
tergantung tiap masinis punya kebiasaan, tetapi, biasanya,
begitu mulai masuk Jalur 1 misalnya,
kereta sudah dalam keadaan perlahan,
setelah melewati sinyal masuk, dengan posisi rem sedikit ditahan,
atau dimainkan, rem sedikit, lepas kembali, dst,
demikian beberapa kali dilakukan.
Throttle tidak dalam posisi N, tetapi tetap dijalankan,
pada angka 1 misalnya, sambil ditahan rem sedikit atau dilepas
[rem rangkaian].
Setelah rangkaian hampir berhenti,
dalam arti masih berjalan tetapi sangat perlahan,
posisi Throttle dapat digeser ke N,
dan rangkaian dibiarkan menggelinding sangat perlahan,
karena semua idle, begitu berhenti,
langsung Rem Loko dikerjakan.
Ada juga, dalam posisi di 1,
tetapi dijaga dengan rem rangkaian sedikit,
sampai berhenti, lalu rem loko dikerjakan,
dan rem rangkaian dilepas.
Ini gunanya,
agar jika sampai berhenti, posisi coupler masih dalam posisi menarik rangkaian.
Sehingga, pada saat berhenti, rangkaian tetap mulus,
tidak terjadi hentakan tiap gerbong dengan gerbong DIDEPANNYA.
Nanti apabila kereta dijalankan kembali,
setelah penumpang turun dan naik,
karena posisi coupler masih dalam keadaan menarik,
saat mulai berjalan,
tidak terjadi hentakan dari gerbong DEPAN kearah BELAKANG.
Jadi, start dengan mulus,
penumpang tidak merasakan hentakan,
baik saat berhenti, maupun mulai dijalankan,
demi kenyamanan penumpang
dan keamanan masakan di Reska bagi yang ada KMP nya.
Saat akan menyambung Loko dengan rangkaianpun, juga ada seni tersendiri.
Saat loko sudah dalam jarak sekitar 1 meter,
bisa juga dilakukan dengan memasukkan Throttle ke posisi 1 dan N bergantian,
dilakukan beberapa kali,
sehingga loko berjalan sangat perlahan
sampai coupler saling menyentuh,
dengan melihat aba-aba tangan dari Juru Langsir.
Atau dapat juga, loko dijalankan dengan perlahan,
sampai mendekati gerbong,
dilepas perlahan, posisi N, dengan sedikit ditahan rem,
sampai menyambung.
Ini tergantung feeling masinis,
tentunya didapat karena pengalaman.
Rem loko, dapat digunakan jika rangkaian berhenti,
ibarat rem tangan pada mobil, karena, jalur pada emplasement tasiun adalah rata air.
Tetapi mengoperasikan rem loko pada kecepatan yang tiinggi,
selain dapat membahayakan loko,
yang karena dorongan dari belakang,
dapat mengakibatkan anjlog atau terbalik,
juga tidak dapat efektif titik berhentinya,
dan dapat merusak roda loko sehingga menjadi tidak bundar.
Tetapi jika mulai berjalan,
ya tinggal membunyikan dulu Semboyan sulingnya,
sekali dengan panjang, baru setelah itu,
Throttle mulai dimasukkan keposisi 1
dan rem loko langsung dilepas,
atau ada juga masinis yang setelah memasukkan Throttle pada posisi 1,
tetapi rem loko dilepas beberapa detik kemudian,
agar start pertama berjalan dengan mulus.
Dan perlahan tapi pasti, bergeser urut kacang,
kearah angka yang lebih besar,
disesuaikan dengan medan dan taspat tentunya.
Tapi pada akhirnya juga,
tergantung karakter setiap masinisnya,
mirip orang yang membawa mobil atau sepeda motor,
ada yang halus, dan ada pula yang kasar.
Kira-kira demikian,
semoga sedikit bermanfaat untuk menggambarkan,
bagaimana sebuah rangkaian kereta mulai diberhentikan
sampai berhenti total atau sebaliknya.
S4.




![[Image: BonBon.jpg]](http://i1255.photobucket.com/albums/hh636/kadaop_x/BonBon.jpg)



![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
![[Image: SOP01.jpg]](http://i807.photobucket.com/albums/yy358/argoloyo_gandargolong/SOP01.jpg)
![[Image: SOP02.jpg]](http://i807.photobucket.com/albums/yy358/argoloyo_gandargolong/SOP02.jpg)

![[Image: warteg.png]](https://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)

![[Image: 20110A.jpg]](http://i807.photobucket.com/albums/yy358/argoloyo_gandargolong/20110A.jpg)
![[Image: 20110B.jpg]](http://i807.photobucket.com/albums/yy358/argoloyo_gandargolong/20110B.jpg)
![[Image: 20110C.jpg]](http://i807.photobucket.com/albums/yy358/argoloyo_gandargolong/20110C.jpg)