Rusia Bangun Rel Kereta di Kalimantan
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Rusia Bangun Rel Kereta di Kalimantan
VIVAnews - Investor Rusia berminat untuk
berinvestasi di wilayah Kalimantan dengan
membangun rel kereta pengangkut batu
bara sepanjang 135 kilometer. Nilai investasi
untuk proyek tersebut ditaksir mencapai US
$2,5 miliar dan membentang dari
Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur.
"Melibatkan Pemerintah Daerah Kalteng dan
Kaltim, nota kesepahaman atau
memorandum of understanding akan
ditandatangani pada saat kunjungan
Presiden Rusia ke Bali pada East Asia
Summit, November mendatang," kata Deputi
Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan
Pembiayaan Internasional, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal
Affandi Lukman, usai menerima kunjungan
Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia,
HE Alexander A Ivano, di Kantor Menko
Perekonomian, Jakarta, Senin, 1 Agustus
2011.
Pemerintah, lanjut Rizal, saat ini masih
berkoordinasi bersama Pemda yang akan
dilewati jalur itu. Selain itu, pemerintah akan
memeriksa kesiapan perusahaan Indonesia
yang akan menjadi rekan kerja Rusia.
"Kalau bisa, paling tidak 3-5 tahun setelah
penandatanganan. Ada tahap-tahap yang
harus dilewati, ini baru kesepakatan untuk
membangun," ungkapnya.
Selama ini, kata Rizal, pihak Rusia melihat
potensi bisnis batu bara di Kalimantan
sangat besar. Namun, teknologi yang
digunakan masih kurang memadai. Untuk
mendukung rencana tersebut, pemerintah
Indonesia bahkan siap membantu dalam hal
yang terkait isu lingkungan dan analisis
mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
"Ini bagian dari MP3EI. Saya kira, proyek
kereta bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk
batu bara, tapi juga penumpang," kata Rizal.
Sementara itu, dalam pertemuan dengan
Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, Dubes
Rusia menyepakati peningkatan kerja sama
bilateral dari sisi investasi dan perdagangan
dengan Rusia.
"Perdagangan kedua negara masih di bawah
US$2 miliar yaitu US$1,7 miliar. Tapi, tahun
ini, 5 bulan pertama 2011 meningkat 50
persen dan sudah sampai US$1 miliar.
Prediksi mencapai US$2 miliar sampai akhir
tahun," ungkap Rizal.
Kesepakatan ini, dia melanjutkan, nantinya
akan dituangkan dalam roadmap ekonomi
kedua negara pada lima tahun ke depan,
yang akan dibicarakan pada saat pertemuan
antar menteri pada Oktober mendatang.
Pertemuan ini adalah hasil dari kunjungan
Menteri Keuangan, Agus Martowardojo
beberapa waktu lalu serta kunjungan
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu ke
Rusia.
"Potensi ekspor Indonesia ke Rusia salah
satunya minyak sawit mentah (CPO), (≖᷆︵︣≖),
garmen, sepatu, dan elektronik. Produk-
produk itu yang bisa bersaing dengan China,
karena secara geografis, China diuntungkan
karena lebih dekat," kata Rizal.
Selain itu, kata Rizal, impor terigu dari Rusia
juga diharapkan untuk menambah alternatif
selain dari Australia dan Turki, agar pasar
dalam negeri bisa lebih kompetitif akibat
peningkatan konsumsi non-beras ini.
"Penduduk Rusia 140 juta orang,
pendapatan per kapita US$15.900, ini adalah
pasar potensial," pungkasnya.
Investasi perusahaan Rusia di Tanah Air
masih terbatas. Investasi itu dalam beberapa
sektor, di antaranya transportasi,
pergudangan, komunikasi dan sektor jasa
lainnya. Namun, karena nilainya terlalu kecil,
sehingga kedua negara sepakat untuk
mengembangkannya. (art)