Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
{ASK}Penggadaan KRDI untuk rute jabodetabek
#1
misi temen2 RF semua, ane mau tanya sedikit neh, baru2 ini kan krl di jabodetabek dipusingin soal penumpang yg naek diatas gerbong, yg dari beberapa penumpang beralasan karena jumlah kereta yg terbatas, yang mau ane tanyain kenapa PT. KAI nggak mengoptimalkan KRDI buatan Indonesia sebagai sarana angkutan kereta di jabodetabek?karena ane pernah denger di berita salah satu kendala penambahan KRL di jabodetabek karena suplai listrik yg terbatas dari PLN...klo KRDI kan gak harus nungguin PLN gan?hehe..Mikir Dulu

sekian unek2 ane yg prihatin ngeliat berita penumpang yg naek diatas gerbong, sampe2 harus berantem ama petugas...sekalian salam kenal dari saya teman2, masih newbie...Xie Xie
Reply
#2
Menurut ane sih klo KRDI dipake dilintas Jabotabek, nanti boros BBM, soalnya jarak antara satu stasiun dengan stasiun yang lainnya mayoritas berdekatan, sehingga bakal sering2 gas-rem, gas-rem terus. Bandingkan dengan diluar Jabotabek
Menurut saya politik dan ekonomi itu seperti rel kereta api. Selalu berdampingan & saling menopang. Jika salah satunya terjadi gangguan, maka dapat dipastikan perjalanan kereta api yang bernama NEGARA akan terhambat yang berujung pada terlantarnya penumpang yang bernama RAKYAT
Reply
#3
(09-06-2011, 10:56 PM)ghazbhuld Wrote: Menurut ane sih klo KRDI dipake dilintas Jabotabek, nanti boros BBM, soalnya jarak antara satu stasiun dengan stasiun yang lainnya mayoritas berdekatan, sehingga bakal sering2 gas-rem, gas-rem terus. Bandingkan dengan diluar Jabotabek

klo pake KRL apa gak boros listrik gan?(ane gak paham kerja KRL),klo mslah BBM bsa pake BBM alternatif mnurut ane,efektif pake KRL apa KRDI ya?
Reply
#4
masalah ne' BBM yg di pakai di KRDI atau di Loko2 KA nggak di kasih subsidi alias pakai harga industri...untuk BBM alternatif atau non fosil juga sama, kapasitas pengolahan masih terbatas disamping bahan baku yg juga cukup terbatas, malah yg ane tahu untuk proses pengolahan juga memakan biaya yg hampir sama dengan BBM dari fosil

Jelas efektif KRL, walau pakai tarif listrik industri juga, tapi nggak pake di panas'in dulu, tarikan (mksd nya dari 0-50 atau 100 Km/jam) lebih cepat, nggak perlu ganti oli mesin, nggak ribet ngisi BBM berkali-kali

Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#5
(09-06-2011, 10:56 PM)ghazbhuld Wrote: Menurut ane sih klo KRDI dipake dilintas Jabotabek, nanti boros BBM, soalnya jarak antara satu stasiun dengan stasiun yang lainnya mayoritas berdekatan, sehingga bakal sering2 gas-rem, gas-rem terus. Bandingkan dengan diluar Jabotabek

Sebenarnya menurut pendapat saya KRDI kurang cocok untuk digunakan di lintas Jabodetabek yang sedemikian padat, di mana dari segi akselerasi sistem motor traksi listrik masih lebih unggul dibandingkan sistem traksi diesel hidrolik dan KRL tidak memerlukan pemanasan yang lama seperti KRD pada umumnya (dari dipo induk, pemanasan dan persiapan KRL untuk dinasan pertama dalam satu hari hanya sekitar 1 sampai 3 menit saja, sedangkan KRD butuh paling cepat 5 atau 10 menit tergantung spesifikasi mesin).

Selain itu, lok DE, DH, KRDE dan KRDI hingga saat ini menggunakan BBM non subsidi dari instansi terkait, sehingga diperlukan penambahan biaya BBM dalam perhitungan tarif.

Kesimpulannya, untuk lintas Jabodetabek masih lebih baik menggunakan KRL namun dengan penambahan daya listrik dan sarana yang ada sehingga masalah pengguna bandel yang naik di atap dapat segera terselesaikan.
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#6
KRD di wilayah kota Jakarta cukup semasa kejayaan PJKA saja deh... Dahulu KRD entah yg kini dipakai Prameks KRDH atau kini jadi KRD Patas Bandung aku lupa bener2 menebar polusi asap ke udara. Coraknya merah putih merah spt Klas Bisnis kala itu inget banget. Sering lihat kalau aku lagi di stasiun Manggarai kala itu. Malah aku sih bermimpi alias ngarep dan berkhayal kelak se-Jawa dah elektrifikasi diganti dengan lok - lok listrik.

Reply
#7
Kalau untuk menambal kekurangan armada KRL saya setuju. Balik lagi ke era sebelum tahun 2000. Dulu Daop I kan sarang KRD, dari jakarta ke bekasi sampai puwakarta pakai KRD. Ke Tanggerang, Serpong, sampai ke Depok pun bisa pakai KRD. Sejak kebanjiran KRL bekas dari Jepun, KRD tersebut dimutasi ke Daop lain. Daop IV jadi kaligung, Daop VI jadi Prameks, entah sama si SUSI/SuLam apa ada unit yang eks Daop I atau tidak (kalau tidak salah dia eks KRD Bandung Raya). Mungkin hal tersebut bisa diterapkan.
Padahal SDM mulai dari masinis sampai Dipo memadai untuk mengoperasikan dan merawat KRD. Dipo BUD sampai sekarang masih koleksi KRD biar pun cuma sebagai kereta penolong. Atau Dipo Boo yang sampai tahun 2006 masih punya armada KRD (KRD BOO-SI).
Kalau untuk operasional mungkin lebih baik disimpan di jalur yang tidak terlalu ramai perka nya, seperti Tanggerang. Pakai KRL/KRD sama saja ketika akselerasi, sama-sama boros listrik/BBM. Teknologi KRL/KRD sekarang pun sudah jauh lebih maju dibanding dahulu. Lihat saja KRL-KRL jaman sekarang lebih hemat listrik. Demikian juga antara KRD MCW 302 dengan KRDI, biar pun sama-sama hidraulik,mesin sama-sama Cummins tapi beda teknologinya. Atau alternatif lain bisa pakai KRDE.
Bagi saya apapun rangkaiannya yang penting penumpang bisa terangkut. Apalagi macet total sudah didepan mata. Para penglaju yang menggunakan KRL tahun ke tahun semakin bertambah, tidak seperti angkutan jalan raya yang semakin menyusut. Sehingga perlu ada penambahan armada untuk mengatasinya, termasuk sarana lain seperti gardu listrik dan suplai listrik juga ditambah.

[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
#8
(16-06-2011, 10:21 AM)ahmadi Wrote: ...Pakai KRL/KRD sama saja ketika akselerasi, sama-sama boros listrik/BBM...


pernyataan anda bisa menimbulkan kesalahpahaman.

bisa diberikan data teknisnya? misalkan jarak sekian km habis bbm berapa liter atau listrik berapa kW?

lalu, apakah sama konsumsi energi krl/krd waktu keretanya berhenti? bukankah untuk krd mesinnya masih menyala?

soalnya kalo sama2 boros energi, tentu pt. kai lebih memilih krd yang tidak memerlukan infrastruktur kelistrikan macam laa, gardu2, dll.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#9
(16-06-2011, 03:58 PM)ady_mcady Wrote: pernyataan anda bisa menimbulkan kesalahpahaman.

bisa diberikan data teknisnya? misalkan jarak sekian km habis bbm berapa liter atau listrik berapa kW?

lalu, apakah sama konsumsi energi krl/krd waktu keretanya berhenti? bukankah untuk krd mesinnya masih menyala?

soalnya kalo sama2 boros energi, tentu pt. kai lebih memilih krd yang tidak memerlukan infrastruktur kelistrikan macam laa, gardu2, dll.

Begini logika sederhananya,
Pada putaran mesin yang fluktuatif (banyak berhenti) BBM yang dikonsumsi lebih boros dibanding pada RPM konstan. Begitu pula pada traksi motor, butuh listrik lebih banyak ketika akselerasi. Analoginya sama seperti pada kendaraan bermotor anda ketika macet, lebih boros dibanding ketika jalan lancar.Atau pada peralatan elektronik yang lebih banyak di on-off kan. Ini yang saya maksud, bukan kebutuhan energi per jarak tempuh.

Tentunya pertimbangan aspek operasi yang menyebabkan pilihan jatuh pada KRL. Dengan perka yang padat, kurang efisien kalau menggunakan KRD, butuh waktu untuk warming up & isi HSD. Memang investasi sarananya lebih murah dibanding KRL. Makanya saya sarankan untuk beroperasi dilintas yang lebih sepi perkanya.

Sudah saya jelaskan pada post sebelumnya, KRD hanya untuk menambal kekurangan armada KRL termasuk mengakali kekurangan suplai daya. Kalau sudah ideal kan KRD bisa dimutasi ke daop lain. Balik ke era sebelum tahun 2000.

[Image: stasiunkeretaapibogor.jpg]
Reply
#10
(18-06-2011, 09:00 AM)ahmadi Wrote:
(16-06-2011, 03:58 PM)ady_mcady Wrote: pernyataan anda bisa menimbulkan kesalahpahaman.

bisa diberikan data teknisnya? misalkan jarak sekian km habis bbm berapa liter atau listrik berapa kW?

lalu, apakah sama konsumsi energi krl/krd waktu keretanya berhenti? bukankah untuk krd mesinnya masih menyala?

soalnya kalo sama2 boros energi, tentu pt. kai lebih memilih krd yang tidak memerlukan infrastruktur kelistrikan macam laa, gardu2, dll.

Begini logika sederhananya,
Pada putaran mesin yang fluktuatif (banyak berhenti) BBM yang dikonsumsi lebih boros dibanding pada RPM konstan. Begitu pula pada traksi motor, butuh listrik lebih banyak ketika akselerasi. Analoginya sama seperti pada kendaraan bermotor anda ketika macet, lebih boros dibanding ketika jalan lancar.Atau pada peralatan elektronik yang lebih banyak di on-off kan. Ini yang saya maksud, bukan kebutuhan energi per jarak tempuh.

Tentunya pertimbangan aspek operasi yang menyebabkan pilihan jatuh pada KRL. Dengan perka yang padat, kurang efisien kalau menggunakan KRD, butuh waktu untuk warming up & isi HSD. Memang investasi sarananya lebih murah dibanding KRL. Makanya saya sarankan untuk beroperasi dilintas yang lebih sepi perkanya.

Sudah saya jelaskan pada post sebelumnya, KRD hanya untuk menambal kekurangan armada KRL termasuk mengakali kekurangan suplai daya. Kalau sudah ideal kan KRD bisa dimutasi ke daop lain. Balik ke era sebelum tahun 2000.


ane setuju ama agan ahmadi neh, itu yg jadi pemikiran ane selama ini, meskipun KRL lebih banyak keunggulannya namun masih terkendala soal penggadaan insfrastruktur kelistrikan, dan penggadaan keretanya, menyebabkan kereta di jabodetabek sulit ditambah, kenapa kita gak lebih mengoptimalkan KRD yang PT. INKA sudah mampu memproduksinya dan tanpa harus menanti pihak lain untuk memberikan layanan yang lebih baik di lingkup jabodetabek.sehingga konflik sosial penumpang KRL bisa teratasi..
[Image: overstappen.png]
gimana menurut temen2 RF semua?apa masih mungkin KRD sebagai alternatif angkutan kereta di jabodetabek, mengingat kondisi KRL jabotedabek yang sudah kurang mampu melayani dengan jumlah penumpang yang ada?klo kereta banyak, jadi lebih aman dan nyaman kan?hehe..
[Image: overstappen.png]
adakah yang mau kasih saran lagi.....Xie Xie
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)