Tragedi inilah yang membuat silent rider seperti saya tergerak untuk posting setelah membaca dari awal mpe akhir.
Pelajaran yang bisa dipetik adalah jangan menyepelekan sesuatu.
Ada beberapa hal yang saya ingin komentari dari beberapa postingan yang saya anggap sebagai fakta kejadian :
1. Meskipun semua orang yang terkait dengan peristiwa ini semua bersalah, terutama

yang membuat kondisi lokomotif jadi buruk bagi psikologi pak Slamet, tapi yang saya sayangkan adalah pernyataan PPKA KBY Umriyadi.
Statemen dia membuat saya dongkol dan dialah satu-satunya petugas yang membuat saya menjadi benci, dikarenakan sikap arogan beliau "gw nggak salah, elu aja bla bla bla...". Sedangkan bagi pak djamhari dan pak slamet, saya lebih ke simpati yang mendalam tanpa rasa dongkol, dikarenakan meskipun mereka lalai, tapi sikap mereka yang masih manusiawi dan kebetulan saja takdir mereka yang sedang apes.
2. Seharusnya manajemen, petugas atau apalah, yang bertanggung jawab akan penuhnya lok pak Slamet memegang kunci pokok akan terjadinya perisitwa ini, setidaknya itu menurut saya. Sebab kondisi lok yang bonafit tentunya akan menyebabkan psikologi yang berbeda kepada pak Slamet, apalagi jam-jam tersebut adalah jam "grusa-grusu" bagi banyak orang.
3. Khusus untuk Setan

yang membisiki pak Slamet bahwa sinyal itu adalah sinyal berangkat. Jika dia adalah salah satu korban PLH (yang nyawanya hari itu ada kemungkinan 99% melayang karena ada di sekitaran lok) maka semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa besar yang telah dilaksanakan. Namun jika dia ada di luar jalur KA atau bukan penumpang, maka dia pasti menanggung beban yang amat berat (jika dia masih seorang manusia, bukan setan) karena memeberikan "bisikan" yang menyesatkan pada pak Slamet. Derita pak Slamet barangkali menyebabkan kemungkinan beberapa kali pak Slamet lebih berangan-angan untuk mati saat kejadian daripada hidup. Tapi Yang di Atas berketentuan lain.
demikian wassalam.