Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Penomoran Baru Gerbong dan Kereta
#1
Mohon ijin untuk buka trit baru..udah ane search ternyata belum ada tritnya yang membahas penomoran baru gerbong kereta..

Lagi2 sistem penomeran baru terjadi di lingkungan kereta api..setelah kemarin Lokomotif yang menggunakan penomeran baru yang menurut saya pribadi cukup menyusahkan pembacaannya..kali ini giliran kereta penumpang yang berubah format penulisannya..
Selain itu nomer boogie juga udah ngga di penomeran yang baru..melainkan di kotak F warna merah dekat pintu..Jadi tambah susah ngeliatnya...(CMIIW)
Rata2 yang udah make penomeran baru ini gerbong2 milik PWT..

Monggo kalo ada yang mau menambahkan ato mengoreksi..
Reply
#2
Di St. Tugu saya juga pernah lihat beberapa gerbong K2 & K3 yg udah memakai penomoran baru ini. Mungkin gerbong2 itu baru saja selesai di-PA. Sori saya nggak punya foto2nya.
Reply
#3
hmmm... penomoran baru tersebut pertama kalinya diperkenalkan pada KA Bogowonto dengan K3 0 10 xx dan berlanjut ke penomoran KA Argo Jati K1 0 10 xx ... dan belakangan akan diterapkan pada semua KA... itu terlihat pada gerbong2 yg telah selesai PA...

satu hal saja yang menjadi pertanyaan saya...

penomoran atau pengkodean sebuah aset.. termasuk aset PT KA termasuk gerbong dan lokomotif.. setahu saya merupakan urusan internal perusahaan... yang mungkin sekarang sedang menggunakan metode baru dalam membuat sebuah metode pengarsipan baru....

nah dalam hal ini... pengkodean tersebut merupakan urusan internal dapur PT KA... dan yang perlu tahu betul juga orang2 yang berada di internal PT KA kan???... selanjutnya... apakah penomoran baru berkorelasi dengan performa KA atau pelayanan??? saya kira juga tidak....

maaf.. saya sebagai pengguna tidak merasakan perbedaan pelayanan atau performa antara gerbong dengan kode K1 985xx misalnya dengan K1 0 10 xx ...

nah pertanyaan saya... mengapa kadang2 teman2 sering komen yang kurang positif tentang penomoran model baru tersebut??? termasuk metode penomoran lok model baru...Bingung

"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#4
Tata cara penomerannya:
0 : untuk kereta penumpang ditarik lok (contoh: K1 0 11 02 artinya kereta ekse yg ditarik lok, mulai dinas 2011 urutan ke-2)
1 : untuk kereta penumpang yg jadi bagian dari KRL termasuk KRL nya sendiri (contoh: K3 1 11 04 artinya KRL ekonomi, mulai dinas 2011 urutan ke-4)
2 : untuk kereta penumpang yg jadi bagian dari KRDE termasuk KRDE nya sendiri (contoh: K3 2 11 12 artinya KRDE, mulai dinas 2011 urutan ke-12)
3 : untuk kereta penumpang yg jadi bagian dari KRDH termasuk KRDH nya sendiri (KRDI termasuk pakai nomor ini dengan tata-cara penomeran sama seperti di atas) CMIIW[Image: overstappen.png]
Jadi nomor yg menunjukan jenis boogie nya sekarang TIDAK ADA.
Reply
#5
(19-05-2011, 08:06 PM)Bangunkarta Wrote: nah pertanyaan saya... mengapa kadang2 teman2 sering komen yang kurang positif tentang penomoran model baru tersebut??? termasuk metode penomoran lok model baru...Bingung

Nuwun sewu sebelumnya..sebenarnya pendapat saya pribadi bukan sebagai komen kurang positif (mungkin kawan2 yang lain memiliki pendapat yang berbeda). Saya hanya mempertanyakan fungsi dari penomeran tersebut..Kalo yang penomeran lama yang mencantumkan jenis boogie, paling tidak ketika kami naik k3, kami bisa memilih gerbong dengan boogie yang nyaman lah paling tidak..

Sebenarnya penomeran dengan mencantumkan tahun beroperasinya gerbong ato lokomotif tersebut memunculkan pemikiran nakal saya..mungkin bisa diilustrasikan dalam percakapan berikut..

B : Bapak
A : Anak yang notabene RF

Bapak melihat plat nomor lokomotif CC 201 77 23

B : Le, arti dari nomer2 di lokomotif itu apa le..?

A : Ohh..gini pak, CC itu berboogie 2 dengan 3 roda..201 itu jenis lokomtifnya pak, 77 itu tahun awal operasinya pak, 23 itu nomer urutnya pak..

B : Ohhh...jadi lokomotif ini beroperasi mulai taun 1977 le..?

A : iya pak..

B : waahh..lama banget ya..bahkan bapak belum ketemu ibumu waktu itu..kok masi operasi ya le..padahal wes lawas..pantesan sering kecelakaan..


Bagaimana ya kira2 kalo bapak itu tau ada gerbong yang uda beroperasi mulai taun 68...Xie Xie

Just opinion no offense..[Image: Peace.gif]
Reply
#6
Pendapat saya soal penomoran baru pada gerbong kereta (karena penomoran ini juga berlaku pada gerbong non-penumpang, seperti gerbong datar, menggunakan istilah "GD"):

Mungkin ditujukan untuk mempermudah penomoran...

OK lah, karena memang sekarang, tidak ada lagi nomor ganda dalam satu "angkatan" gerbong tapi berbeda boogie. Contoh saya ambil dari 2 gerbong KA Argo Wilis:

Penomoran lama:

K1-98505 BD dengan K1-98805 BD (keduanya bernomor seri "5", dibedakan dari seri boogie)

Penomoran baru:

K1 0 98 05 BD dengan K1 0 98 12 BD

Setelah perubahan nomor, buat saya yg kali ini justru cukup memudahkan pengidentifikasian gerbong karena, dengan demikian, suatu gerbong dapat diidentifikasi lebih mudah, cukup dengan mengingat tahun MD dan nomor urut.

Tapi, di samping itu, ada juga kekurangannya: tidak tercantum jenis boogie. Jika sewaktu-waktu terjadi PLH, dan butuh penggantian boogie segera, padahal kejadian di lapangan, jauh dari dipo manapun, untuk mengetahui jenis boogie yg harus diganti, tidak cukup dengan melihat nomor seri.

Misal, kalo gerbong yg terkena musibah BP-09501 (ini kalo ga salah BP yg terlibat dalam PLH rangkaian Gajayana meluncur dari Stasiun Malang Kotabaru), kan gampang diidentifikasi, oh boogie K5 yg harus didatangkan. Nah sekarang, kalo nomornya K1 0 98 12, harus dicek dulu di database, boogie jenis apa yg harus dipakai. Barulah dari database itu diperoleh, boogie yang dibutuhkan adalah jenis K8.

Makanya, saya masih bisa bilang (menurut saya), penomoran yang baru ini ada baiknya. Berbeda dengan penomoran lokomotif baru, terutama yg baru-baru ini, sudah makin panjang, berubah total pula (dari CC 201 62 jadi CC 201 83 24, lha entar CC 201 24 yang asli juga jadi CC 201 77 24, kalo disingkat ala penomoran lama, sama-sama jadi C1 24)...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#7
(20-05-2011, 07:19 AM)dtRAiNeR Wrote: Pendapat saya soal penomoran baru pada gerbong kereta (karena penomoran ini juga berlaku pada gerbong non-penumpang, seperti gerbong datar, menggunakan istilah "GD"):

Mungkin ditujukan untuk mempermudah penomoran...

OK lah, karena memang sekarang, tidak ada lagi nomor ganda dalam satu "angkatan" gerbong tapi berbeda boogie. Contoh saya ambil dari 2 gerbong KA Argo Wilis:

Penomoran lama:

K1-98505 BD dengan K1-98805 BD (keduanya bernomor seri "5", dibedakan dari seri boogie)

Penomoran baru:

K1 0 98 05 BD dengan K1 0 98 12 BD

Setelah perubahan nomor, buat saya yg kali ini justru cukup memudahkan pengidentifikasian gerbong karena, dengan demikian, suatu gerbong dapat diidentifikasi lebih mudah, cukup dengan mengingat tahun MD dan nomor urut.

Tapi, di samping itu, ada juga kekurangannya: tidak tercantum jenis boogie. Jika sewaktu-waktu terjadi PLH, dan butuh penggantian boogie segera, padahal kejadian di lapangan, jauh dari dipo manapun, untuk mengetahui jenis boogie yg harus diganti, tidak cukup dengan melihat nomor seri.

Misal, kalo gerbong yg terkena musibah BP-09501 (ini kalo ga salah BP yg terlibat dalam PLH rangkaian Gajayana meluncur dari Stasiun Malang Kotabaru), kan gampang diidentifikasi, oh boogie K5 yg harus didatangkan. Nah sekarang, kalo nomornya K1 0 98 12, harus dicek dulu di database, boogie jenis apa yg harus dipakai. Barulah dari database itu diperoleh, boogie yang dibutuhkan adalah jenis K8.

Makanya, saya masih bisa bilang (menurut saya), penomoran yang baru ini ada baiknya. Berbeda dengan penomoran lokomotif baru, terutama yg baru-baru ini, sudah makin panjang, berubah total pula (dari CC 201 62 jadi CC 201 83 24, lha entar CC 201 24 yang asli juga jadi CC 201 77 24, kalo disingkat ala penomoran lama, sama-sama jadi C1 24)...

karena sudah jd ketentuan tetap ya, kita2 para RF nurut aja deh. Semoga aja yg anda sampaikan diatas, benar2 tidak menjadi masalah kalo ada PLH ato trobel. Yg penting databasenya gak ngaco aja Ngakak
[Image: 00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg]
Murtini

Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950
Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012

Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali.

Semboyan 40, 41, mama aman berangkat.
Reply
#8
(20-05-2011, 12:58 AM)phadeen Wrote: Nuwun sewu sebelumnya..sebenarnya pendapat saya pribadi bukan sebagai komen kurang positif (mungkin kawan2 yang lain memiliki pendapat yang berbeda). Saya hanya mempertanyakan fungsi dari penomeran tersebut..Kalo yang penomeran lama yang mencantumkan jenis boogie, paling tidak ketika kami naik k3, kami bisa memilih gerbong dengan boogie yang nyaman lah paling tidak..

Setuju mas. Selain dari segi teknis seperti yang udah dijelasin ama senior2 lainnya (termasuk kalau harus mendatangkan spare part boogie), buat penumpang ya ruginya jadi gak bisa milih jenis boogie-nya. Naik K1 pun, meskipun di tiketnya sudah ditentukan dapet gerbong yang mana, kadang kalo pas kosong saya suka nyari gerbong yang boogie-nya seri 8, hehe. Nah kalo sekarang kan udah gak bisa lagi tuh pake cara begitu Sedih

NAIK Depok Express EMANG PALING OKE
Reply
#9
nomor bogie emang gk disebutkan lagi, sebab nanti semua bogie kereta penumpang bakalan diganti dengan bogie K5 (TB398), bogie K8 akan diganti semua karena sudah tidak diproduksi
[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#10
(20-05-2011, 07:54 PM)Agung Wrote: nomor bogie emang gk disebutkan lagi, sebab nanti semua bogie kereta penumpang bakalan diganti dengan bogie K5 (TB398), bogie K8 akan diganti semua karena sudah tidak diproduksi

kode bogie tertera di samping pintu kanan bersama batas kecepatan kereta Xie Xie
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)