Thread Rating:
  • 1 Vote(s) - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jalur KA Cikampek - Padalarang VS Jalan Tol Cipularang
#71
(13-05-2011, 06:31 PM)Ken Aditya Wrote: Sekarang waktu tempuh Gopar 3 jam lebih dikit, dulu ko bisa 2 setengah jam waktu JB 250, pada awal diluncurkan 31 Juli 1971 dijanjikan 2 1/2 jam juga, waktu itu pake Lok BB, ada gambarnya di 30 tahun Indonesia merdeka, smoga ga salah ingatan saya. Kenapa ada penurunan? Infrastukturnya sudah pada tua?

Maaf, tahun 1971 masih Parahyangan.

Ya itulah Mas, entah kenapa... Di zamannya Pak Harto, walaupun tidak sempurna sekali juga, tapi perkeretaapian kita mengalami masa-masa kejayaannya...

Walaupun diwarnai beberapa tragedi tak terlupakan, mulai dari PLH Kebasen 1981 dimana PJKA kehilangan 2 lokomotif CC 201 (seri 33 dan 35) sampai PLH Bintaro 1987 yg merenggut nyawa ratusan penumpang dan (juga) 2 lokomotif (BB 303 16 dan BB 306 16 - hebat juga bisa kembar nomornya...)...

Tapi di zaman itulah Indonesia mengenal KA berkamar tidur pertama (Bima tahun 1967), KA ber-AC yg pertama (Bima lagi, beserta Mutiara Utara tahun 1967), KA Eksekutif Argo pertama (Argo Bromo JS-950 dan Argo Gede JB-250 tahun 1995), dan KA Eksekutif Argo kelas Anggrek pertama (Argo Bromo Anggrek JS-852 tahun 1997)...

Sayang, semua kebanggaan itu telah hilang...

Bima sudah jadi KA Eksekutif Satwa biasa...

Argo Gede melebur dengan Parahyangan jadi KA Argo Parahyangan JB-365 (3 jam lebih saat RI berumur 65 tahun)...

Argo Bromo Anggrek mengalami penurunan di berbagai segi (KZ Anggrek hilang, makin ngodong, ditambah K1 Anggrek yg sementara harus di-grounded dan masih dalam proses menjelang re-launching)...

Argo Bromo dan Mutiara Utara? Lenyap (bermetamorfosis) dimakan "saudara" mereka Argo Bromo Anggrek yg okupansinya jauh lebih baik dari keduanya (tapi ujungnya sekarang juga sedang bernasib buruk)...

Kapankah perkeretaapian Indonesia bisa kembali ke masa kejayaan seperti di masa lalu, terutama KA relasi Bandung-Jakarta yang, seiring perkembangan zaman, menjadi tersaingi oleh moda transportasi darat lainnya (travel) atas kehadiran ruas tol Cipularang yg (konon) memudahkan perjalanan antara kedua kota besar ini?

Moga-moga hal ini segera terwujudkan...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#72
Smoga angkutan ini teknologinya terus diperbarui, biar bisa bersaing dengan moda transportasi yang lain, di Indonesia ada pendidikan yang benar-benar mempelajari kereta api secara intensif? Biar maju kayak luar negeri.
Reply
#73
Sebenernya itu kembali lagi ke petinggi or Shareholders

soalnya kita sebagai railfans, bisa mengadakan beberapa study mengenai kondisi ini

Tapi ya, balik lage ke kebijakan PT. KAnya sebenernya untuk ngehadapin permsalahan ini nggak susah, walalupun competitive advantage dari sisi waktu sudah hilang, PT. KA bisa memakai competitive advantage yang lain, seperti pelayanan misalnya, or value added services lainnya...

kalo menurutquw pribadi Tuslag sepertinya perlu diadakan untuk koridor ini, ya walauoun hanya kue dan air mineral... Travel aja dikasih gratis air mineral kok...

And format hiburan diatas kereta diubah ke masa lalu, waktu sebelum ada KATV, ya lumayan nyetel dvd aja... nggak usah kayak sekarang kurang jelas konsep KATVnya... mana suaranya kelewat kecil lage...

Ya perbaiki disisi kualtias dulu, kalo nggak salah TOP 21 semboyannya

PlayboyPlayboyPlayboy
Reply
#74
Untuk sementara Sabtru Minggu dan menjelang libur pake toeslag deh,soalnya tiket hari-hari itu lebih mahal dari hari biasa.
RF darosej, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Feb 2011.
Reply
#75
Jalur yg eksotis akan pemandangan bukit dan pegunungan.......
cocok buat hunting foto kereta api.... Tersenyuum
Reply
#76
Jalur Jakarta-Bandung dulu potensi paling finansialnya besar untuk kereta non ekonomi jarak pendek.
[Image: overstappen.png]
Belum pernah baca datanya, tetapi okupansinya selalu tinggi, maaf.
Reply
#77
(13-05-2011, 11:21 AM)enrico Wrote:
(12-05-2011, 09:59 PM)fun_plano Wrote: Kalo ane usulnya jalur ini pake KRD, sama ma usulnya di MKA. Seperti di Jepang KRD KIHA-85. Jalur yang di lalui KRD ini di Jepang seperti jalur ini, jaraknya pun hampir sama. Satu rangkaian terdiri dari 7 unit. Setiap unit dilengapi 2 mesin Diesel Cummins NTA-855-R1yang masing-masing mempunyai daya 350 HP yang menggerakkan roda pada bogie 1 dan 2. Daya mesin total satu rangkaian 7x2x350 HP = 4900 HP. Lebih besar dari tenaga 2 lokomtif CC 203. Apalagi kalo KRD nya berkonsep tilting, dengan begitu GMR-BD bisa ditempuh 1 jam 55 menit saja..tambah maknyus dah..

mantab tuh pakai KRD itu...

yang ini bukan?

[Image: 250px-JRC-Kiha85-0DC.jpg]

Yup bener...apalgi kalo jalur ini pake KRD yang ini...pasti bisa bersaing dengan travel-travel yang ada sekarang.

[Image: 174eb6f173c4496755ab07d53272_grande.jpg]

[Image: a2vric.jpg]
Reply
#78
^

mas fun, itu kereta titling kah? berapa kecepatannya ya?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#79
(17-05-2011, 08:00 PM)ady_mcady Wrote: ^

mas fun, itu kereta titling kah? berapa kecepatannya ya?

Yup bener banget...kalo KIHA-85 pada jalan datar 120 km/jam dan 75 km/jam pada jalan rel di pegunungan dengan tanjakan maksimum 25 permil. Kalo KIHA 261 (gambar bawah) itu sekitar 130 km/jam.

[Image: a2vric.jpg]
Reply
#80
Kapan konsep ini bisa di pake di Gopar? Mantap banget usulnya. Kecepatan tinggi berapa yang optimal untuk pelayanan di Indonesia saat ini, disesuaikan dengan kondisi kepadatan penduduk apabila semua sdh pad R54 (diluar topik kayaknya)?
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)