17-04-2011, 09:17 PM
Mohon maaf, mau numpang sharing Sritanjung berdasar pengalaman dan ingatan saya...
Dulu memang KA ini bernama Argopuro dan berangkat dari Jember. Seingat saya, dulu berangkat dari Jember pagi sekali, masih gelap. Saat itu saya selalu berharap semoga lokonya BB303...
hehehe...Pengalaman ketika saya kelas 1 SMP (tahun 1990) eyang putri saya meninggal di Jogja
, kami sekeluarga berangkat pagi sekali, mungkin jam 4 dari rumah, dan Argopuro ini berangkatnya kalo tidak salah jam 5 atau jam 6 pagi, dan jam 18.00 (saat adzan maghrib) sudah tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Saat itu pemberhentian terakhir adalah stasiun Tugu Yogyakarta.
Bersamaan dengan lahirnya KA Argo, Argopuro ini berganti nama menjadi Sritanjung dan sempat hanya menjalani relasi SGU-BW, berlangsung beberapa lama (sekitar enam bulanan kalo tidak salah). Kelas 2 SMP, bersamaan dengan libur lebaran tahun 1991, saya pernah ke Jogja sendirian, saat itu Sritanjung sudah menjalani relasi BW-YK (masih stasiun Tugu), dan selalu ada 1-2 kereta tambahan dari Jember. Tahun 1993, kelas 3 SMP, sekolah saya piknik ke Jogja, dan kami memanfaatkan jasa kereta ini untuk mengantar ke Jogja (carter 2 kereta). Ketika saya melanjutkan SMA di Jogja, Sritanjung masih menjadi angkutan favorit saya, dan pilihan saya selalu cw 1 (belakang lokomotif) dan masih berangkat dari Tugu YK (sekitar 1993-1995), bahkan di masa itu Sritanjung sempat berjalan langsung di Lempuyangan. Ketika saya kuliah Sritanjung juga masih menjadi pilihan, terutama ketika lebaran karena pasti masih ada tempat, tetapi pada masa itu sudah pindah keberangkatan dari Lpn.
Sekitar tahun 1999/2000 (saya lupa tepatnya) Logawa lahir, dan disertai 1 kereta bisnis. Saya sempat beralih pilihan ke Logawa mengingat jamnya yang lebih siang namun kedatangan lebih awal (masa-masa awal Logawa dari Lpn sekitar jam 9-an dan tiba di Jr sekitar jam 18-an, susul Sritanjung biasanya di SGU atau Semut). Berangkat dari Jember saya juga lebih suka naik Logawa karena pasti masih ada tempat dan tibanya juga siang (tiba di Lpn dari Jr sekitar jam 14.30, pada masa-masa awal kelahirannya). Ketika Logawa mulai melambat dan jam kedatangannya dimundurkan, saya kembali ke Sritanjung, lebih-lebih ketika Logawa sudah tidak ada kereta bisnisnya (maaf OOT, menurut info dari kondektur Logawa saat itu, ada wacana Logawa bisnis namun menunggu ketersediaan sarana). Nah, ketika Logawa sudah tidak menyertakan kereta bisnis, Sritanjung sempat membawa 1 kereta bisnis dan promosinya di stasiun Jember saat itu: "Sritanjung rasa bisnis". Tidak berjalan lama, kereta bisnis ini juga hilang karena menurut salah seorang kondekturnya, kereta bisnis lebih sering ditempati pedagang asongan dan mereka yang mau naik gratis dan tidak mau membayar (padahal harga tiket jelas lebih mahal) atau mereka yang bertiket ekonomi tapi dengan seenaknya pindah kelas. Menurut sang kondektur, "mendewasakan penumpang kita memang masih sulit mas. Maunya naik yang enak tapi bayare murah".
Demikian sekilas yang bisa saya bagikan dari pengalaman saya bersama Sritanjung, mohon maaf mungkin beberapa informasi tidak tepat karena berdasar ingatan saja (CMIIW). FYI, untuk saat ini kereta favorit mudik saya adalah Logawa karena Ibu di Jember sementara saya cari makan di Purwokerto, jadi belum ada kesempatan bareng Jeng Sri lagi...
Dulu memang KA ini bernama Argopuro dan berangkat dari Jember. Seingat saya, dulu berangkat dari Jember pagi sekali, masih gelap. Saat itu saya selalu berharap semoga lokonya BB303...
hehehe...Pengalaman ketika saya kelas 1 SMP (tahun 1990) eyang putri saya meninggal di Jogja
, kami sekeluarga berangkat pagi sekali, mungkin jam 4 dari rumah, dan Argopuro ini berangkatnya kalo tidak salah jam 5 atau jam 6 pagi, dan jam 18.00 (saat adzan maghrib) sudah tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Saat itu pemberhentian terakhir adalah stasiun Tugu Yogyakarta. Bersamaan dengan lahirnya KA Argo, Argopuro ini berganti nama menjadi Sritanjung dan sempat hanya menjalani relasi SGU-BW, berlangsung beberapa lama (sekitar enam bulanan kalo tidak salah). Kelas 2 SMP, bersamaan dengan libur lebaran tahun 1991, saya pernah ke Jogja sendirian, saat itu Sritanjung sudah menjalani relasi BW-YK (masih stasiun Tugu), dan selalu ada 1-2 kereta tambahan dari Jember. Tahun 1993, kelas 3 SMP, sekolah saya piknik ke Jogja, dan kami memanfaatkan jasa kereta ini untuk mengantar ke Jogja (carter 2 kereta). Ketika saya melanjutkan SMA di Jogja, Sritanjung masih menjadi angkutan favorit saya, dan pilihan saya selalu cw 1 (belakang lokomotif) dan masih berangkat dari Tugu YK (sekitar 1993-1995), bahkan di masa itu Sritanjung sempat berjalan langsung di Lempuyangan. Ketika saya kuliah Sritanjung juga masih menjadi pilihan, terutama ketika lebaran karena pasti masih ada tempat, tetapi pada masa itu sudah pindah keberangkatan dari Lpn.
Sekitar tahun 1999/2000 (saya lupa tepatnya) Logawa lahir, dan disertai 1 kereta bisnis. Saya sempat beralih pilihan ke Logawa mengingat jamnya yang lebih siang namun kedatangan lebih awal (masa-masa awal Logawa dari Lpn sekitar jam 9-an dan tiba di Jr sekitar jam 18-an, susul Sritanjung biasanya di SGU atau Semut). Berangkat dari Jember saya juga lebih suka naik Logawa karena pasti masih ada tempat dan tibanya juga siang (tiba di Lpn dari Jr sekitar jam 14.30, pada masa-masa awal kelahirannya). Ketika Logawa mulai melambat dan jam kedatangannya dimundurkan, saya kembali ke Sritanjung, lebih-lebih ketika Logawa sudah tidak ada kereta bisnisnya (maaf OOT, menurut info dari kondektur Logawa saat itu, ada wacana Logawa bisnis namun menunggu ketersediaan sarana). Nah, ketika Logawa sudah tidak menyertakan kereta bisnis, Sritanjung sempat membawa 1 kereta bisnis dan promosinya di stasiun Jember saat itu: "Sritanjung rasa bisnis". Tidak berjalan lama, kereta bisnis ini juga hilang karena menurut salah seorang kondekturnya, kereta bisnis lebih sering ditempati pedagang asongan dan mereka yang mau naik gratis dan tidak mau membayar (padahal harga tiket jelas lebih mahal) atau mereka yang bertiket ekonomi tapi dengan seenaknya pindah kelas. Menurut sang kondektur, "mendewasakan penumpang kita memang masih sulit mas. Maunya naik yang enak tapi bayare murah".

Demikian sekilas yang bisa saya bagikan dari pengalaman saya bersama Sritanjung, mohon maaf mungkin beberapa informasi tidak tepat karena berdasar ingatan saja (CMIIW). FYI, untuk saat ini kereta favorit mudik saya adalah Logawa karena Ibu di Jember sementara saya cari makan di Purwokerto, jadi belum ada kesempatan bareng Jeng Sri lagi...






![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)

![[Image: new2copy.jpg]](https://img254.imageshack.us/img254/7018/new2copy.jpg)