Poll: Apakah Kereta Api harus dibenahi sehingga dapat bersaing dengan pesawat udara?
You do not have permission to vote in this poll.
Ya.. jangan mau kalah dengan pesawat udara
90.00%
18 90.00%
Jangan.. biarlah seperti ini
5.00%
1 5.00%
nggak tau ah.. nggak ikutan
5.00%
1 5.00%
Total 20 vote(s) 100%
* You voted for this item. [Show Results]

Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kritik, saran dan penemuan penting untuk PT. KAI (Persero)
#41
PT.KA,jalur pantura sering2 di pecok dong.. biar geometri relnya baik kyk di daop 6. biar KA di pantura bisa lari 100 lbh. jangan malah di kurangin taspatnya..

Wink
dan ketika aku memilih menjadi seorang RAILFANS,aku meyakini itu pilihan terbaik dalam hidup ku
Reply
#42
Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.
Reply
#43
(11-12-2010, 07:49 AM)BAMBANG EKO Wrote: Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.

waduhh......maaf neh pak kalo agak menyanggah.....
kalo dilewatkan jalur situ.....si gajayana bakal jadi bulan2an di jalur utara, soalnya hrs bersilangan dengan banyak KA dari arah barat.......
maksud hati pengen mempersingkat waktu malah bakal jadi sebaliknya.....
tapi entahlah kalo PT KA emg berniat begitu.....toh semua keputusan ada di PT KA selaku operator.....
[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#44
(11-12-2010, 11:34 PM)Agung Wrote:
(11-12-2010, 07:49 AM)BAMBANG EKO Wrote: Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.

waduhh......maaf neh pak kalo agak menyanggah.....
kalo dilewatkan jalur situ.....si gajayana bakal jadi bulan2an di jalur utara, soalnya hrs bersilangan dengan banyak KA dari arah barat.......
maksud hati pengen mempersingkat waktu malah bakal jadi sebaliknya.....
tapi entahlah kalo PT KA emg berniat begitu.....toh semua keputusan ada di PT KA selaku operator.....

sepertinya kalo lewat lintas utara Stasiun pemberhentiannya nanti malah tambah banyak (SMT-PK-TG-CN) apa ga malah nambah waktu tempuh,,,, ntar ujung2 penumpang kapok......Bethe
itu menurut pendapat saya......Xie Xie
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !
[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Reply
#45
Usulnya cuma satu dari yang awam ini...
double track dulu semua... Xie Xie
biar bisa dipangkas jam tempuhnya
-siggy under construction at Balai Yasa-
Bye Bye
Reply
#46
Warteg Wrote:12-Dec-2010, 04:04 PM

(11-Dec-2010 11:34 PM)Agung Wrote: [ -> ]

(11-Dec-2010 07:49 AM)BAMBANG EKO Wrote: [ -> ]Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.


waduhh......maaf neh pak kalo agak menyanggah.....
kalo dilewatkan jalur situ.....si gajayana bakal jadi bulan2an di jalur utara, soalnya hrs bersilangan dengan banyak KA dari arah barat.......
maksud hati pengen mempersingkat waktu malah bakal jadi sebaliknya.....
tapi entahlah kalo PT KA emg berniat begitu.....toh semua keputusan ada di PT KA selaku operator.....


sepertinya kalo lewat lintas utara Stasiun pemberhentiannya nanti malah tambah banyak (SMT-PK-TG-CN) apa ga malah nambah waktu tempuh,,,, ntar ujung2 penumpang kapok......New_bethe
itu menurut pendapat saya......New_xiexie

OK lah kalau begitu
btw terinspirasi oleh
> Padatnya lintas Selatan
> Beroperasinya jalur ganda parsial BB-TG dan PM-PTR
> Sukses KA Matarmaja melibas waktu tempuh ML-PSE
Reply
#47
(11-12-2010, 07:49 AM)BAMBANG EKO Wrote: Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.

Kalo Gajayana dialihkan rutenya ke Lintas Utara kasihan dong dosen2 dr Brawijaya yang mau ngajar di UNSOED, Pak... Apalg, PWT belon punya landasan pacu buat montor mabur. Xie Xie

"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe

[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#48
see_204XX Wrote:13-Dec-2010, 01:12 PM(11-Dec-2010 07:49 AM)BAMBANG EKO Wrote: [ -> ]Gimana ya , Kalau KA Gajayana Gambir - Malang perjalanannya di alihkan dari jalur selatan GMR - Cn - Pwt = KTA - YK - Slo - Mn - ML menjadi lewat jalur utara GMR - CN - SM - Slo - MN - ML
Pertimbangannya sbb :

> memperpendek jarak tempuh sekitar 30 s/d 40 Km
> mengurangi tingkat kepadatan yang ada di jalur selatan
> memaksimalkan aktivitas di Petak Brumbung - Kedungjati - Gundih s/d Solo Jebres
> memperingan kerja lokomotip karena tidak harus mendaki tanjakan Prupuk - Bumiayu - Purwokerto
> megurangi waktu edar rangkaian karena menurunnya waktu tempuh sehingga memperbanyak waktu perawatan rangkaian
> meningkatkan okupansi KA Taksaka , Bima , dan Argolawu

Btw penumpang Purwokerto - Yogya dan Solo sudah dapat diantisipasi dengan KA Argolawu , Bima dan Taksaka

Maaf jika nggak tepat , namanya juga usul.

Kalo Gajayana dialihkan rutenya ke Lintas Utara kasihan dong dosen2 dr Brawijaya yang mau ngajar di UNSOED, Pak... Apalg, PWT belon punya landasan pacu buat montor mabur.

Terima kasih untuk yang sudah memberikan komentar sehingga makin menambah wawasan saya dalam ilmu persepuran btw saat saya melayangkan surat usulan beberapa tahun silam bahkan sebelum S 35 lahir tentang KA Matarmaja agar dilewatkan jalur utara juga banyak sekali sanggahan , komentar dan bimbingan yang saya terima walaupun pada akhirnya bahkan sampai saat ini ternyata ada realisasi KA Matarmaja dialihkan perjalanannya dari jalur selatan menjadi jalur utara via SM - SLO . Kini saya menjadi tahu bahwa KA Gajayana selain melayani petak JK - s/d ML juga melayani Petak ML s/d PWT sebelumnya saya tidak menduga kalau ternyata ada juga pemerjalan di koridor ML s/d PWT yang menggunakan KA Gajayana sebagai sarana transportasi
Reply
#49
kritikan aja untuk PT KA... sebenarnya hal-hal ini mungkin bisa dibilang mendasar dan "maaf" sepele... tinggal kemauan untuk mewujudkannya ada atau tidak..

kalo ada penambahan waktu tempuh, kenapa yang tertera di tiket masih jadwal lama yang belum disesuaikan...... dan kalo begini kan, terjadi perbedaan yang terlalu besar antara jadwal yang tertera di tiket dan realisasi... dan itu adalah suatu penipuan, karena telah berlangsung terus menerus.... makanya tidak heran kalo sekarang banyak KA bendera yang rangkaiannya pendek (ABA dan Sindoro sekarang cuman bawa 5 K-1)... karena penumpang terlanjur kecewa dan merasa ditipu terus-menerus dengan layanan KA,

jika waktu tempuh sudah tidak dapat diandalkan, kenapa malah membikin tarifnya gila-gilaan..... hei man.. itu ngga worthed banget.. harusnya memberikan kompensasi kepada konsumen sebagai bentuk permintaan maaf kepada konsumen yang telah setia namun hak-haknya tidak terpenuhi...

kemudian yang menurut saya simpel banget ya.... kenapa model pembayaran tiket KA itu masih ya gitu2 aja, masih mengunakan metode2 jaman Orde Lama, ato bahkan metode jaman KumpeniBethe

kita mesti datang ke stasiun dan membayar dengan uang cash... dan kita tidak mempunyai hak untuk milih gerbong berapa dan kursi di posisi apa, kalo kita milih pasti dicuekin ato di cemberutin......

kenapa tidak bekerja sama dengan jaringan perbankan?.... saya telah menemukan begitu banyak ATM di stasiun, itu bukti kerjasama antara PT KA dengan perbankan... tapi kesannya PT KA cuman menyewakan ruko... mengapa tidak mengkaji kerjasama yang lebih baik... misalnya menggunakan fasilitas debit atau kartu kredit... jadi tinggal gesek atau cash terserah penumpang... itu akan sangat meminimalisir calo....

kemudian tiket yang dijual melalui travel2.... itu menurut saya kurang fungsi, seolah-olah PT KA ogah jualan sendiri tiketnya, jadi dikasih ke travel aja.... dan ada biaya charge bila kita beli tiket di travel

kenapa PT KA tidak menggunakan fasilitas e-booking aja, kan simpel... tinggal pesen, catat kodenya dan Issued di ATM.. beres kan, tar imel peng issued akan dikirim konfirmasi tiket yg tinggal dituker di stasiun pas mo berangkat....

yang ada malah katanya OL tapi musti telp operator lamaaaa.... dan makan pulsa ngga ketulungan, ingat kode2 angka ticket itu lebih kudah digunakan dalam bentuk tulisan, bukan ucapan by phone.....

ayo PT. Kereta Api Indonesia (Persero), perbaiki manajemen pelayananmu... ini jaman millenium ke-3, bukan era Orde Lama ato jaman Kumpeni.... ingat perusahaan jasa itu yang dijual adalah pelayanan, dan yang diharapkan dari konsumen adalah loyalitas menggunakan jasa tersebut.... sementara loyalitas itu dibangun dari kesan baik selama menggunakan moda transportasi tersebut
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~
Reply
#50
dear PT INKA (Persero) dan PT KA (Persero), berdasarkan pengalaman saya, tempat duduk di gerbong ka eksekutif dan bisnis yang posisinya di ujung paling depan (menghadap dinding) memiliki ruang (jarak antara tempat duduk dengan dinding) yang sempit sehingga kaki penumpang tidak bisa selonjor dengan leluasa. selain itu, pada kereta eksekutif, karena tempat duduk tersebut posisinya paling depan dan menghadap dinding, akibatnya tidak memiliki fasilitas sandaran kaki (foot rest).
oleh sebab itu, mohon penyusunan konfigurasi tempat duduk di KA eksekutif dan bisnis agar memperhatikan kenyamanan untuk semua posisi tempat duduk. tempat duduk yang paling depan hendaknya diberikan jarak yang cukup lebar dengan dinding serta dipasang foot rest sehingga kenyamanannya sama dengan tempat duduk lainnya.
terima kasih.
KA Sumber Kentjono
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)