Posts: 229
Threads: 0
Joined: Oct 2010
Reputation:
4
Tapi peta di sekolah lewatin pondok ranji dlu dari pada pondok betung, jadi bingung
Posts: 403
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
5
rekan"  ... 
saya mempunyai agenda pada ahir bulan desember besok saya mau ke kutoarjo.
mungkin sekalian mau memberi santunan ke Pak Slamet. karena kondisi beliau yang mengenaskan..
TUT TUT.. KOBONG..!!
~Presjam~
Posts: 535
Threads: 0
Joined: Aug 2009
Reputation:
2
30-11-2010, 08:54 AM
(This post was last modified: 30-11-2010, 08:58 AM by ahmadi.)
PLH Bintaro oleh penguasa dianggap sebagai kesalahan massal para pelaksana, dari Mass,Ass Mass, KP, sampai PPKA. Sehingga semua diganjar 5 tahun. Padahal management juga punya andil, tapi sampai sekarang management aman-aman saja,, 
Belum lagi manipulasi jumlah korban,,
Posts: 890
Threads: 0
Joined: Nov 2010
Reputation:
17
Pesan saya hanya singkat Di tengah ramainya dan majunya Kereta Api Indonesia Jangan melupakan sejarah ini :
[spoiler= BRAKE.Emergency use only]

[/spoiler]
Posts: 229
Threads: 0
Joined: Oct 2010
Reputation:
4
Ini sejarah kelam perkereta apian Indonesia
Posts: 890
Threads: 0
Joined: Nov 2010
Reputation:
17
(10-12-2010, 09:32 PM)shinkanseinz Wrote: Ini sejarah kelam perkereta apian Indonesia Foto propil NT serem banget sejarahnye Gan...
CC 201 - 45 (kabin masinis)
http://www.youtube.com/watch?v=HwHj4UjKcSg
[spoiler= BRAKE.Emergency use only]

[/spoiler]
Posts: 1,813
Threads: 0
Joined: Mar 2010
Reputation:
23
Sudah ada tritnya, merger saja di sini
Posts: 96
Threads: 0
Joined: Feb 2010
Reputation:
0
itu soalnya petugasnya nggak disiplin. Disuruh langsir malah berangkat. Ya udah PPKA nya gelagapan nggak bisa berhentikan itu kereta. Dari kebayoran lama juga ada kereta berangkat. Akhirnya tabrakan di Bintaro
CMIIW
Posts: 5,708
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
117
MasRafif Wrote:11-Dec-2010, 07:41 PMitu soalnya petugasnya nggak disiplin. Disuruh langsir malah berangkat. Ya udah PPKA nya gelagapan nggak bisa berhentikan itu kereta. Dari kebayoran lama juga ada kereta berangkat. Akhirnya tabrakan di Bintaro
CMIIW
Mungkin bukan Petugas Nggak Disiplin kali Mas tetapi salah penafsiran dari Masinis dan Kondektur terhadap perintah / semboyan yang diberikan oleh PPKA , harusnya langsir tetapi malahan berangkat . Kita semua menyesalkan hal tersebut terjadi tetapi tidak harus menyalahkan secara terus menerus , beliau semua sudah mendapat hukuman dari kelalaian yang terjadi. Atau memang sudah suratan takdir Illahi yang tidak bisa ditolak.
marilah kita ambil hikmahnya.
Posts: 8
Threads: 0
Joined: Dec 2010
Reputation:
0
25-12-2010, 01:16 AM
(This post was last modified: 25-12-2010, 01:50 AM by jebood.)
(28-10-2008, 08:47 AM)pinguin Wrote: Cerita lain di balik Tragedi Bintaro:
Sumber
Kamis 30 Juni 2005, siang hari stasiun televisi METROTV menyiarkan filem dokumenter tentang kecelakaan kereta api di Indonesia. Tragedi kereta api terbesar yang tercatat di sini adalah tabrakan KA255 dan KA220 di dekat stasiun Sudimara, Bintaro yang terjadi tanggal 19 Oktober 1987. Peristiwa itu terjadi persis pada jam sibuk orang berangkat kantor, sehingga jumlah korban juga besar sangat besar yakni 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Tabrakan itu juga melambungkan nama Juned, seorang bocah lelaki berumur 8 tahun yang selamat dari tragedi itu. Ia harus kehilangan nenek yang menjadi satu-satunya gantungan hidupnya, di samping nenek ia juga kehilangan adik satu-satunya dan sebelah kakinya. Berkah dari tragedi yang tidak pernah diharapkankan, bocah Juned yang semula bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa tiba-tiba wajahnya menghiasi seluruh media massa sehingga menjadi terkenal di mana-mana. Kemudian bapak dan emaknya yang semula cerai, sepakat untuk rujuk kembali membesarkan Juned dalam sebuah keluarga yang utuh. Kemudian ketika tragedi itu dikomersialkan ke layar lebar, Juned juga menikmati sejumlah uang.
Namun keterkenalan maupun sedikit uang yang dinikmati itu, ternyata tidak pernah berhasil mengubah nasibnya. Beberapa tahun kemudian uang yang diperolehnya ludes karena usaha ayahnya yang bangkrut. Juned juga ternyata tidak berumur panjang, tahun 2002 lalu masih dalah keadaan serba berkekurangan dalam usia yang masih sangat muda (22 tahun), Juned dipanggil sang Khalik untuk menyusul nenek dan adiknya. Akhirnya kisah Juned-pun tenggelam, bahkan di tayangan MetroTV siang itu juga tidak terungkap.
Masih dari tragedi Bintaro, ada kisah sedih yang dialami Slamet Suradio. Ia adalah masinis KRL255 yang selamat, namun ia harus menanggung nasib buruk yakni dipecat dari pekerjaannya, maka ia memilih pulang ke kampung halamannya menjadi petani di Purworejo sana. Kini ia menapaki masa senjanya dibalut kemiskinan dan menanti seberkas sinar terang untuk memperoleh pengakuan atas jerih payah pengabdian selama lebih 20 tahun di atas roda besi. Nasib yang serupa juga menimpa seorang mantan pengatur sinyal kereta api (Umriadi?), yang juga dinyatakan bersalah dan kini menapaki masa tua juga dengan penuh penantian. Meskipun setelah melalui banding, ia sudah diputus tidak bersalah , namun hingga kini hanya bisa menunggu datangnya mukjizat untuk memperoleh pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari dua puluh tahun. Badan ringkih itu kini acapkali nampak ada di stasiun Rangkas Bitung, sekedar untuk nostalgia dan tentu saja memperoleh belas kasihan kolega yang juga sama-sama pantas dikasihani.
===============================
Dari Tempo:
Kisah si Juned
Profil juned alias juneidi wijaya, salah satu korban kecelakaan kereta api di bintaro, jakarta. kaki kirinya diamputasi sedang kaki kanan di gips. ibunya, lena, berniat membesarkan juned.
JUNED mengerang, "Emak,... haus,... lapar, Mak... " Ibunya, Lena, hanya bisa memandangi. Sampai Minggu yang lalu, bocah tujuh tahun ini masih diinfus, belum boleh diberi makanan. Kaki kanannya digips, tak bisa digerakkan. Kaki kirinya sudah diamputasi. Juneidi Wijaya, nama lengkap anak ini, terbaring di RSCM Jakarta. Ia salah satu korban tabrakan kereta api yang masih dirawat. Di pembaringan itu, berserakan mainan anak-anak.
Termasuk dua game watch pemberian keluarga Eddie Nalapraya.
Senin pekan lalu, Juned bersama empat saudara kandungnya, disertai neneknya, Minah, bermaksud mengunjungi Desa Tenjo, Serpong. Ini desa kelahiran Nenek Minah. Sejak ayah dan ibunya cerai, Juned bersaudara memang diasuh Nenek Minah itu. Mereka naik kereta api nomor 220 dari Tanah Abang. Seperti yang terjadi, kereta api itu tak sampai di tujuan. Begitu pula Nenek Minah dan kelima cucunya. Mereka, yang berada di gerbong terdepan, tergencet ketika tabrakan maut itu terjadi dan meninggal saat itu juga.
Hanya Juned yang wajahnya tersembul di dinding reruntuhan gerbong. Petugas penolong berjuang keras mengangkat tubuh Juned dari impitan baja. Setelah dua belas jam, tubuh bocah itu dapat diangkat. Ketika diangkat ke tandu, Juned mencoba tersenyum. Padahal, kaki kirinya itu sudah remuk. Ia murid kelas II SDN Sukabumi Ilir 11 Pagi, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ketika pembagian rapor Sabtu pekan lalu, Juned menduduki ranking ke-7 dari 17 murid. Ada angka merah (nilai 5) untuk pelajaran IPA. Tapi nilai rata-ratanya 6,3. Untuk seorang Juned, yang pulang sekolah langsung harus mondar-mandir ke jalan berjualan koran, dan hampir membiayai sendiri sekolahnya -- malah kadang-kadang suka memberi uang untuk adiknya Astuti yang ikut jadi korban -- prestasinya lumayan.
Wagub DKI Jaya Eddie Nalapraya berkeinginan mengangkat Juned menjadi anak angkatnya. Namun, anak ini memilih tinggal dengan ibunya. "Juned akan tetap saya pelihara, karena ia satu-satunya anak yang tersisa," kata Lena, yang melahirkan lima anak. Sabtu petang pekan lalu, seorang pria menjenguk Juned. Ia berbicara panjang lebar dengan Lena, menjajaki kemungkinan mengasetkan kisah Juned. Imbalan untuk Juned: sebuah kaki palsu. Lena belum memberi persetujuan.
================================================
Lebih Seratus Orang Mati.
Tabrakan ka 225 dengan ka 220 di bintaro, jakarta diduga karena masinis salah mendengar instruksi. 139 korban tewas & 123 luka berat.dari hasil pemeriksaan belum ditemukan latar belakang politik.
SLAMET Suradio sampai Sabtu pekan lalu masih terbaring di Ruang Perawatan lntensif (ICU) Rumah Sakit Kepolisian Kramat Jati, Jakarta. Sekujur kaki kanan hingga batas pahanya dililit semacam plester berwarna cokelat. Ujung kaki itu diberi pemberat sekantung pasir untuk membantu meluruskan tulang kakinya yang patah dan engsel pahanya yang bergeser.
Kepala masinis KA 225 itu juga luka dan mendapat beberapa jahitan. "Terkena besi-besi yang ada di lok," kata Slamet lemah kepada teman yang menengoknya.
Lelaki bertubuh kecil, berkulit hitam, dan rambut ikal, kelahiran Purworejo 52 tahun yang silam itu merupakan salah satu kunci untuk mengungkapkan mengapa terjadi tabrakan dua kereta api di Bintaro, Pondok Betung, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 19 Oktober yang lalu. Tabrakan yang menyebabkan -- hingga Senin lalu -- 139 korban tewas dan 123 luka berat ini merupakan musibah dengan korban nyawa terbesar dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.
Menurut Kadispen Humas Laksusda Jaya Letkol Sumekar K.W. pekan lalu, dari hasil pemeriksaan belum ditemukan latar belakang politik di balik musibah ini. Kecelakaan tersebut hanya akibat kelalaian petugas PJKA. Disimpulkan: Slamet, masinis KA 225, berangkat tanpa izin PPKA Sudimara.
Biasanya, KA 225 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang itu berangkat setelah menunggu KA 220 jurusan Tanah Abang-Merak melintas di Sudimara. Pagi itu, sekira pukul 05.05, kereta api tersebut berangkat dari Rangkasbitung membawa 700-an penumpang, dan sampai di stasiun Sudimara pukul 06.50. Kereta yang menyeret rujuh gerbong penumpang itu penuh sesak oleh penumpang yang menuju Tanah Abang. Banyak penumpang yang duduk di atap gerbong dan berdempetan di dalam lokomotif dan, seperti biasanya, hal itu didiamkan saja.
Menurut pengakuan petugas PPKA, Jamhari, kereta api itu hanya berhenti sekitar lima menit di Sudimara, untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Terus Jamhari meniup peluit tiiiiit..., satu kali dan panjang. Itulah yang disebut semboyan 46, berupa perintah kereta api untuk bergerak melakukan langsir. Perintah diberikan jamhari karena beberapa saat sebelumnya dia menerima pemberitahuan melalui telepon engkol dari petugas PPKA stasiun Kebayoran Lama, Umriyadi, bahwa KA 220 sudah berangkat pukul 06.46 dari Kebayoran Lama menuju Sudimara.
Untuk itu, KA 225 yang berada di lintasan 3, atau lintasan utama yang akan dilewati kereta yang datang dari Kebayoran Lama harus segera dipindahkan ke lintasan 1. Stasiun Sudimara memiliki tiga lintasan, dua lintasan digunakan untuk kereta api melakukan langsir. Pada waktu itu yang kosong memang cuma lintasan 1, di lintasan 2 ada kereta api pengangkut semen milik PT Indocement dari Cibinong.
Kalau pernyataan Jamhari itu betul, entah apa yang sedang mengganggu Slamet, masinis itu. Kereta bukan dilangsirkannya sesuai dengan perintah, melainkan bergerak terus meninggalkan Sudimara. Itu terjadi pukul 06.55.
Jamhari kalang kabut mengejar sembari meniup peluit dan mengibas-ngibaskan bendera merah. Selain itu, sinyal atau biasa disebut palang kereta api dinaik-turunkan berkali-kali. "Itu tandanya menyuruh kereta berhenti," kata Wikarma, Kepala Stasiun Sudimara.
Tapi semua upaya sia-sia. Kereta api Slamet seakan sudah dituntun menuju maut. Tanpa sadar, nasib menunggu mereka. Para penumpang yang duduk di atap gerbong rupanya gembira kereta berangkat lebih cepat. "Mereka malah menyoraki Bapak sambil tertawa-tawa," kata Jasiah, istri Jamhari, yang tinggal di dekat stasiun Sudimara.
Maut kemudian memang datang. Setelah berjalan 10 menit atau delapan kilometer meninggalkan Sudimara, di km 17, kereta api bertabrakan dengan KA 220 yang tadi dilaporkan sudah berangkat dari stasiun Kebayoran Lama. Slamet mengaku baru melihat di depannya KA 220 datang dari arah berlawanan setelah jarak tinggal 30 meter. Hal itu bisa dimaklumi karena jalan di situ menikung. Dalam jarak sedekat itu upaya mengerem pun sia-sia. Menurut teori, dengan kecepatan 50 km/jam kereta api itu baru bisa dihentikan setelah 400 meter.
KA 225 melaju dengan kecepatan 45 km/jam, sedang lawannya, KA 220, yang dikemudikan Amung Sunarya, diduga bergerak cuma dengan kecepatan 25 km/jam karena baru melintasi pintu kereta api Bintaro dan tikungan tadi.
Masinis KA 220, Amung Sunarya, bersama juru api Mujiono hanya bisa berjongkok di lantai lok, tapi mereka hanya mendapat luka-luka yang tak begitu parah. Di lokomotif seberang, Slamet dan juru api Soleh tak sempat bereaksi. Munkin karena itu Slamet mengalami cedera yang lebih parah. "Dada saya tergencet rem," kata Slamet. Pegawai rendahan itu bersama istrinya, Kasni, tinggal di sebuah rumah reyot kontrakan berharga Rp 70.000,00 setahun di dekat stasiun Parungpanjang, Bogor.
Slamet sendiri merasa telah menerima perintah untuk berangkat dari stasiun Sudimara karena KA 220 datang terlambat. Dia menduga akan bersilang dengan kereta api itu di stasiun Kebayoran Lama. Tampaknya, Slamet begitu yakin bahwa perintah yang diterimanya itu bukanlah untuk langsir, katanya, "'Kan semboyannya berbeda."
Untuk memberangkatkan kereta api, petugas PPKA akan memulai dengan semboyan 40, berupa lambaian papan bulat mirip pemukul bola tenis meja dengan cat putih berlingkar hijau, yang biasa disebut "eblek". Begitu melihat semboyan 40 itu, kondektur kereta akan meniup peluit dengan tiupan sekali pendek dan dilanjutkan tiupan panjang, tit, tiiiiiiit.... Masinis menyambutnya dengan membunyikan sirene lokomotif, kereta segera berangkat.
Mungkin saja, karena suara ribut penumpang yang berjubel di dalam lok, Slamet salah mendengar suara peluit. "Kereta itu memang padat sekali dan itu bisa mengganggu penglihatan dan pendengaran masinis," kata Soedarno, Kepala Subdirektorat Lalu Lintas PJKA.
Ketika disebutkan kepada Slamet di rumah sakit bahwa dialah yang disalahkan dalam peristiwa yang menewaskan ratusan orang itu, dia tampak terbengong-bengong.
=========================================================
Tanah pun Bergetar
Bencana di Atas Ka 225 dari Rangkasbitung bertabrakan dengan KA 220 dari Jakarta di Pondok Betung, Jak-Sel. Lebih dari 100 korban meninggal. Kedua gerbong terdepan meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman.
TIBA-tiba Wartini berteriak, "Kereta... kereta...." Semua pembeli lontong di warung wanita bertubuh gemuk itu menoleh ke belakang, ke arah rel 30-an meter di depan. Dua kereta api masing-masing sarat penumpang melaju dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Dan, "glegarrr," tanah di sekitar warung pun bergetar. Wartini menjerit, "Astagfirullah ...," lalu ia jatuh pingsan. Orang-orang pun berdatangan, terkesima, kaget, tak percaya, ngeri.
Di Desa Pondok Betung, 4 km dari stasiun Kebayoran Lama, kawasan pinggir barat Jakarta Selatan, musibah itu terjadi. Pagi, pukul 07.05, 19 Oktober, Senin pekan ini. Seketika daerah itu menjadi ramai. Ramai oleh mereka yang dengan sukarela mencari alat apa saja untuk menolong korban bencana kereta api terbesar sepanjang sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dan pemandangan di sekitar titik tubrukan sungguh mirip mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan.
Di titik itulah KA 225 dari Rangkasbitung, Jawa Barat, dengan sekitar 700 penumpang adu kepala dengan kereta api KA 220 yang membawa 500-an penumpang yang datang dari stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jumlah penumpang itu diperoleh dari sumber PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Artinya, belum terhitung penumpang gelap yang biasa berjejal, menempel di pinggiran lokomotif atau bertengger di atap gerbong-gerbong bercat hijau itu.
Sampai Senin tengah hari sudah lebih dari 100 korban yang meninggal dunia, 300-an orang luka berat dan ringan. Jumlah ini pasti bertambah, karena di dalam gerbong yang ringsek masih 20-an korban meninggal tapi belum bisa dikeluarkan.
Tertindih besi-besi yang tak keruan lagi malang-melintangnya, seorang ayah dan anak laki-lakinya berumur 10-an tahun tampak masih bernapas. "Saya belum akan pulang sampai dua orang itu jelas nasibnya," kata Kapolda Poedy Syamsudin, yang langsung berada di tempat musibah.
Tujuh rumah sakit terdekat -- RS Fatmawati, RS Setia Mitra, RS TNI-AL Mintoharjo, RS Pertamina, RS Pondok Indah, RS Jakarta, dan RS Cipto Mangunkusumo -- menjadi tempat penampungan. Hari itu juga Presiden Soeharto mengunjungi para korban di RS Cipto Mangunkusumo.
Darah berceceran, di beberapa tempat menggenang. Potongan tubuh manusia berserakan. Di sebuah gerbong ditemukan potongan kaki dan tangan berselemak darah, entah tubuhnya berada di mana. Bau amis menyengat hidung. Raungan, jeritan, dan tangis korban yang masih dikaruniai hidup mengiris hati.
Di sebuah atap gerbong, seorang lelaki setengah baya terjepit dan putus asa. "Pooo...tong saja kaki saya," pintanya dengan sengsara kepada sejumlah petugas yang mencoba menolongnya. Tak berapa lama si malang mengembuskan napas terakhirnya.
Tiga anak berumur sekitar lima tahun diketahui bernama Juned, Aswadi, dan Makmur, yang juga terjepit tak menjerit. "Minta air, Om," kata salah seorang di antaranya kepada seorang polisi. Ketiganya baru bisa dikeluarkan pukul 20.00, lebih dari 12 jam kemudian.
Ketika matahari mulai menyengat, korban yang masih hidup, tubuh-tubuh yang menyembul di antara gerbong, dipayungi dengan kertas koran.
Siang itu sebuah lokomotif didatangkan untuk menyeret gerbong yang saling menjepit. Tapi rencana dibatalkan karena khawatir puluhan korban yang tergencet di dalam akan tambah remuk. "Selama masih ada yang hidup, gerbong itu tidak boleh digerakkan sampai kapan pun," kata Menteri Perhubungan Rusmin Nurjadin di lokasi kecelakaan, Senin sore.
Begitu dahsyatnya tabrakan itu hingga dua gerbong terdepan dari KA 225 meluncur menelan kedua lokomotif yang berciuman, seakan ular menelan tikus. Di kedua gerbong inilah banyak korban tergencet, bak daging tercincang. Normalnya, kedua gerbong berkapasitas 166 penumpang. Kenyataannya, tentulah lebih dari itu. Gergaji besi mesin dan mesin pengelas didatangkan guna membongkar gerbong.
Sementara itu, bangku-bangku kereta yang berserakan dijadikan tandu untuk mengangkuti korban ke balai desa 200-an meter dari tempat itu. Mayat-mayat dijejerkan menunggu puluhan ambulans yang sibuk. Sejumlah mobil pribadi ikut membantu.
Helikopter polisi meraung-raung mengawasi keadaan dan siap mengangkut korban yang kritis. Beberapa sekolah SMP dan SMA di dekat tempat kejadian diliburkan, siswanya dikerahkan membantu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bertahun, mungkin berpuluh tahun, jalur kereta api di situ aman. Wartini, penjual lontong berusia 32 tahun, saksi mata itu, pun heran, "Biasanya kereta api dari Rangkasbitung menunggu dulu di Sudimara. Saya heran kali ini kok dia jalan terus," kata pemilik rumah di tepi rel itu.
Penumpang kereta dari Rangkasbitung yang berangkat pukul 05.00 subuh paling banyak pedagang kecil dan anak-anak sekolah. Biasanya kereta ini berhenti di stasiun Sudimara pada pukul 06.40, menunggu kereta dari Tanah Abang, yang biasanya melintas sembilan menit kemudian.
Menurut catatan yang diperoleh TEMPO, di hari maut itu KA 225 seperti biasa menunggu di Sudimara. Tapi KA 220 yang ditunggu tak juga datang. Mestinya -- kalau semua berjalan sesuai dengan jadwal -- pada pukul 06.50, KA 225 sudah meninggalkan Sudimara menuju Tanah Abang. Setelah menunggu sampai 06.55 dan kereta dari Tanah Abang tak juga nongol, maka bergeraklah kereta dari Rangkasbitung itu.
Memang, KA 220 terlambat 11 menit dengan sebab yang belum jelas. Stasiun Kebayoran Baru dilewatinya seperti biasanya. Seandainya rel kereta di 4 km kemudian tak menikung, bisa jadi tubrukan tak sedahsyat yang terjadi. Tapi siapa menduga pagi itu maut telah menunggu? Tiba-tiba saja, begitu kereta menikung, di depan sudah terlihat KA 225 meluncur, dan....
Pengusutan, seperti dikatakan Menteri Rusmin Nurjadin, difokuskan pada "Entah mengapa KA 225 meneruskan perjalanannya dari Sudimara". Hal itu disebut Menteri sebagai suatu "kelainan" dan sedang diusut oleh Gappka (Gabungan Penyelidikan Peristiwa Kecelakaan Kereta Api). Hari itu juga Menteri Rusmin memerintahkan agar seluruh jadwal perjalanan kereta api di Indonesia dicek, tanpa kecuali.
Menurut sumber TEMPO, petugas di Sudimara tak pernah memberikan aba-aba berangkat pada KA 225. Padahal, tanpa aba-aba dari pimpinan perjalanan kereta api berupa tiupan peluit dan lambaian sinyal kayu bundar berwarna hijau -- kereta api dilarang berangkat.
Adalah Ir. Endang Sukaesih, 27 tahun penduduk perumahan Pondok Pucung, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, agaknya bisa sedikit menjelaskan. Pagi itu, pegawai Badan Pemeriksa Keuangan yang biasanya naik KA 225 itu terlambat. Dia mencoba mengejar kereta yang mulai berjalan. Seorang petugas stasiun berteriak, "Tak usah buru-buru, kereta cuma langsir." Endang berhenti mengejar. Tapi kereta ternyata terus melaju meninggalkan stasiun. Semula Endang ingin marah, merasa ditipu. Urung, karena melihat petugas stasiun sendiri kalang-kabut. Ada yang berkata "Wah, ini bisa tabrakan." Endang melihat seorang petugas mengejar kereta itu dengan sepeda motor. Tak berhasil. Siangnya, Endang mendengar musibah kereta api itu. Dia kontan pingsan.
Tak jelas, setelah gagal mengejar kereta, adakah Sudimara menghubungi stasiun pertama yang akan dilewati KA 225 itu. Harap dicatat stasiun kereta api itu masih berada di wilayah Jakarta, tapi masih memakai telegram sebagai alat komunikasi antarstasiun. Tak ada hubungan telepon. "Faktor itu kemungkinan menghambat komunikasi," kata Haji Burhanuddin Wahab, Humas Departemen Perhubungan.
Mudah-mudahan, semua itu tak akan sulit diungkapkan. Masinis Amung Sunarya dan pembantunya Mujiono dari KA 225, juga masinis KA 220, Selamet dan pembantunya Saleh, selamat dari musibah. Diduga mereka meloncat dari lokomotif sebelum tabrakan terjadi. Mereka sekarang dimintai keterangan oleh Gappka.
Tinggal pertanyaan yang susah dijawab. Mengapa dalam tiga hari terjadi musibah dengan korban cukup besar: kebakaran dan tubrukan kereta.
Dari berbgai sumber :|
salam teman-teman railfans,
baru beberapa hari sy menemukan forum ini, dan cb bergabung... kebetulan sy tinggal tdk jauh dr tempat kejadian tragedi Bintaro kira2 100 meter dari titik kejadian yaitu di RT 006/02 Kel Pesanggrahan berbatasan dgn RT 005/12 (kl Gak salah) Kel Bintaro Kec Kebayoran Lama (Skr Kec Pesanggrahan) Jakarta Selatan Jadi kedua Rel tsb merupakan perbatasan antar kelurahan. jadi bukan desa Pondok Betung Kabupaten Tangerang, waktu itu saya kelas 3 smp yg sekolahnya berjarak 300m dari tragedi tersebut, dan sempat membantu para korban, krn saat kejadian jam 7.00 di sekolah sedang upacara hari senin, tidak berapa lama terjadi dentuman, kita tidak tau sebelumnya, kurang lebih 10 menit kemudian ada pengumuman dari kepsek smp177 bahwa telah terjadi tabrakan kereta, saat itu jg para guru dan siswa diliburkan. stlh sampai lokasi badan saya gemetar sy istigfar melihat mayat korban bergelimpangan dalam keadaan hancur. krn blm ada tim penyelamat yang datang sy dgn beberapa tmn disuruh warga sekitar untuk membantu, mencarikan minuman menggunakan teko (kynya dulu blm ada air kemasan) dan karung goni, yg ternyata untuk mengumpulkan potongan tubuh korban, sy sempat memasukan beberapa potongan kedlm karung, setelah itu sy melihat potongan kepala korban yg berlumuran darah, krn takut sy tinggal karungnya.... hiiiiii, (Maksudnya mau nolong malah jd ngerecokin) gak brp lama tim sar dibantu aparat datang dan mensterilisasi TKP... stlh itu sy plg sampai di rmh seragam yg terciprat darah lgs sy buang di tempat sampah, ibu sy sdh tau dan sibuk membantu menyiapkan air minum...keadaan daerah tempat tinggal hiruk pikuk, ada yg menolong, ada yg nonton, banyak jg yg dagang teh botol... 
keadaan spt itu berlangsung hampir 2 minggu krn setelah tragedi bintaro kereta penolong (crane) yg disebut "Si Bongkok" Terguling.... (ktnya ada unsur mistis nya)
itulah cerita sy tentang tragedi bintaro, mungkin kl ada teman2 yg sdg mblasak-mblusuk kedaerah situ bisa mampir ke rmh sy..... untuk sekedar ngobrol2 sambil ngopi ....
(08-09-2009, 02:34 PM)Agus Riyanto Wrote: Dulu sy punya tetangga yang kerja di St. THB. Waktu ada Tragedi Bintaro dia diperbantukan untuk mengevakuasi para korban.
Waktu mengevakuasi sih dia dengan "semangat 45" mengangat para korban/onderdil korban.
Tapi begitu malam nya, dia ga bisa tidur ngebayangin para mayat dan potongan potongan tubuh yang tergeletak disana .
Semoga tidak ada PLH lagi yang menelan korban banyak
betul itu sy paginya turut membantu malemnya gak bisa tidur ... kebayang dengan potongan kepala korban,,, jadi tidur sm orang tua
|