Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
KA Komuter Mana Yang Slalu Dimanjain dan Dianak Tiriin?
#1
Mungkin dari sebagian teman - teman udah pada tau lah kenapa aku post thread ini dan (pastinya) KRL mana aja yang selalu terjadi jatah penganak tirian dan pemanjaan selalu dalam keseharian. Berlaku buat KA komuter non Jabodetabek yah... Bisa berbagi?
Oya boleh juga persoalan selain kondisi keretanya seperti peronnya, jumlah penumpang, jatah petak relnya, dll.

1 yang mungkin blom (mungkin blom pernah aku kasih tau) ada perhatiannya sama sekali alias cuma sedikit2 aja, yaitu jatah petak rel KA yang selalu dikelilingin oleh pemukiman kumuh. Di Jabodetabek yah di petak rel stasiun Tn. Abang - stasiun Kamp. bandan itu lha pastinya... Termasuk rangkaian2 KRL dan KD3nya juga pastinya...

Reply
#2
kayaknya KRL lintas Tangerang, mungkin berkaitan juga dgn jumlah penumpang.
kalau yg paling dimanja ya lintas JAKK-BOO, penumpangnya ngerasain KRL baru terus, seperti seri 7000, hari minggu 31-10-2010, 3 set KRL seri 7000 lintas di JAKK-BOO.....
Big Grin

Reply
#3
mungkin KRL bekasi dianak tirikan karena bersaing dengan kereta jarak jauh, jadi terlambat terus
Reply
#4
(03-11-2010, 08:29 AM)eling Wrote: kayaknya KRL lintas Tangerang, mungkin berkaitan juga dgn jumlah penumpang.
kalau yg paling dimanja ya lintas JAKK-BOO, penumpangnya ngerasain KRL baru terus, seperti seri 7000, hari minggu 31-10-2010, 3 set KRL seri 7000 lintas di JAKK-BOO.....
Big Grin
Betul Kang Eling.. saya dah sering sekali merasakan KA2 Tangerang. Emang nih KA tangerang kayaknya dianak tirikan, jadwal perjalananya sedikit banget, jaringan LAAnya ada blank spotnya walaupun gak sepanjang jaringan LAA ke serpong, krl ekspress nya paling banter pake seri 6000 dengan embel-embel KL1 , yang paling parah masih single track lagi Sedih

kalo bogor gak usah di tanya lagi, sudah jaringan LAAnya gak ada blank spot CMIIW, peminatnya bejibun lagi
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Reply
#5
barangkali dianaktirikan karena potensinya lbh kecil drpd rute lain
Keep Fighting Never Give
Reply
#6
mungkin KRL ke tangerang kalo dibikin double track dengan jadwal perjalanan ditambah, okupansi penumpang bisa bertambah....

orang kan kadang males naek angkutan yang interval dan waktu tempuhnya yang lama

[Image: 30dl4ie.jpg]
Reply
#7
Walaupun tadinya saya menganggap judul thread ini terkesan konyol, tapi sebenarnya relevan dengan kenyataan KRL di Jakarta sana. Bahwa di sana ada KRL yang dianak tirikan dan dianak emaskan menunjukkan bahwa KRL gagal menjadi transportasi alternatif untuk menghindari kemacetan.

Bagaimana tidak, di KRL Jabodetabek ada segregasi kelas. Dan antara kelas satu dengan lain bagaikan bumi dan langit.
KRL ekonomi itu bagaikan pasar kumuh diatas rel dengan tarif yang sangat (maaf) tolol sekali murahnya. Masak jauh atau dekat (termasuk Jakarta-Bogor) hanya Rp 2.000an???

Sementara yang KRL ekspress AC sudah tarifnya mahal sekali, yaitu Rp 17.000an, entah jauh atau dekat, dan parahnya lagi tidak berhenti di setiap stasiun.

Kalau itu kurang, rata-rata stasiun KRL di Jakarta adalah kantung kekumuhan. Malah ada satu atau dua stasiun KRL di jalur Jakarta-Bogor yang, walaupun disekelilingnya adalah daerah mewah dan rapi, tapi stasiun itu kumuhnya minta ampun.

KAlau mau benar, namanya KA komuter (dalam hal ini KRL) harusnya:
-stasiun bersih dan steril.
-semua KA ber-AC.
-berhenti di tiap stasiun.
-harga tarif berdasar jarak, bukan kelas.

Dengan begitu KRL Jabodetabek akan berperan besar mengurangi kemacetan di Jakarta dsk.
Reply
#8
Klo kata saya sih, klo kereta komuter di Indonesia ngga ada yang statusnya anak emas atw anak tiri.
Justru saya lebih suka klo kelas ekonomi itu yang namanya anak tiri. bayar murah ya dapet fasilitas seadanya. klo mw fasilitas mewah ya naek yg anak emas bayar mahal.
" Pecinta Rangkas jaya "
Reply
#9
Wah, klo semua kereta berhenti di semua stasiun, bukannya bakal bikin pelanggan kelas atas kabur. Masalahnya, orang2 kelas inilah yg suka naik kereta ekspres karena kecepatan waktu tempuhnya. Klo pelanggan kelas atas kabur, maka mereka akan beralih kembali menggunakan mobil pribadi. Dan hasilnya yang ada jalanan di Jakarta malah tambah macet
Menurut saya politik dan ekonomi itu seperti rel kereta api. Selalu berdampingan & saling menopang. Jika salah satunya terjadi gangguan, maka dapat dipastikan perjalanan kereta api yang bernama NEGARA akan terhambat yang berujung pada terlantarnya penumpang yang bernama RAKYAT
Reply
#10
(03-11-2010, 07:01 AM)Dana Komuter Wrote: Mungkin dari sebagian teman - teman udah pada tau lah kenapa aku post thread ini dan (pastinya) KRL mana aja yang selalu terjadi jatah penganak tirian dan pemanjaan selalu dalam keseharian. Berlaku buat KA komuter non Jabodetabek yah... Bisa berbagi?
Oya boleh juga persoalan selain kondisi keretanya seperti peronnya, jumlah penumpang, jatah petak relnya, dll.

1 yang mungkin blom (mungkin blom pernah aku kasih tau) ada perhatiannya sama sekali alias cuma sedikit2 aja, yaitu jatah petak rel KA yang selalu dikelilingin oleh pemukiman kumuh. Di Jabodetabek yah di petak rel stasiun Tn. Abang - stasiun Kamp. bandan itu lha pastinya... Termasuk rangkaian2 KRL dan KD3nya juga pastinya...

Untuk masalah lintas mana yang dianggap sebagai "anak emas" dan mana yang dianggap sebagai "anak tiri", saya mempertimbangkan beberapa sisi yang saling berkaitan berikut ini:

1. Okupansi, di mana okupansi pengguna (mulai saat ini saya lebih suka menyebut pengguna dibandingkan penumpang) yang menggunakan jasa angkutan tersebut, di mana okupansi beberapa lintas tertentu lebih rendah dibandingkan okupansi lintas lainnya.

2. Kondisi sarana dan prasarana, di mana pada beberapa lintas yang memiliki okupansi lebih rendah memiliki kondisi sarana dan prasarana yang juga lebih rendah baik dari segi kualitas dan kuantitas.

3. Kelas sarana yang dipergunakan, yang mana sistem kelas dari sarana yang dipergunakan dalam lintas tersebut mencerminkan kondisi sarana dan prasarana lintas tersebut secara keseluruhan.

Berdasarkan penilaian itu, saya memilih lintas Bogor dan Bekasi sebagai lintas yang menjadi "anak emas", karena kedua lintas ini memiliki okupansi penumpang yang demikian tinggi dan selalu diprioritaskan jika ada armada baru, sebaliknya lintas Tangerang menurut saya dikategorikan sebagai lintas yang menjadi "anak tiri", karena dari segi armada, sarana dan prasarana yang digunakan masih tertinggal dibandingkan lintas lainnya di seluruh Jabodetabek.

Untuk luar Jabodetabek, saya memilih Prameks dan lintas PDL-BD-CCL sebagai komuter "anak emas" sesuai dengan penilaian di atas, sedangkan komuter yang menjadi "anak tiri" adalah Pandanwangi dan Patas Merak.

CMIIW.

Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)