(10-07-2010, 12:57 PM)CC_20413 Wrote: gimana hasil akhir dari penyelidikannya?....... apa yang menjadi penyebab PLH KA Logawa ini?
kalau nunggu KNKT bisa bisa 2012 baru dirilis laporannya.
ini ada dari Kompas
http://nasional.kompas.com/read/2010/07/...mbat.Buruk
TRANSPORTASI DARAT
Logawa Dicelakakan Penambat Buruk
Jumat, 16 Juli 2010 | 03:55 WIB
Moch S Hendrowijono
Anggota Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi, Whosep Muktamar, mengatakan (Kompas, 1/7), kecelakaan kereta api Logawa di wilayah Kecamatan Saradan, Madiun, Jawa Timur, menjelang masuk Stasiun Wilangan akibat masinis melajukan kereta api melebihi batas kecepatan yang 70 kilometer per jam. Laju kecepatan Logawa saat itu sampai 80 km per jam. Akibatnya, rangkaian KA limbung saat melewati tikungan radius 500 meter.
Kecelakaan KA memang paling mudah dicari penyebabnya, berbeda dengan kecelakaan moda angkutan udara, laut, atau angkutan darat lainnya karena bidang operasi KA sangat terbatas pada dua rel sejajar yang dijalaninya. Penyebab semua peristiwa pasti sebatas rel itu. Kalaupun sampai ke obyek lain, tak akan melebar jauh.
Meski mungkin tidak salah karena dasar keterangan adalah data global positioning system (GPS) di lokomotif, pernyataan Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) dinilai masih terlalu dini. Apalagi ada penemuan lain, lokasi kejadian bukanlah tikungan yang mulus, ada kelok-kelok kecil yang terbentuk akibat berpindahnya rel karena gaya sentrifugal yang lama dibiarkan. Teori menyebutkan, benda bergerak yang melewati tikungan akan mendapat gaya sentrifugal, gaya dorong ke luar, yang besarnya tergantung kecepatan pergerakan itu.
Data yang diambil dari keterangan sumber, foto di media cetak dan elektronik, serta foto-foto dokumentasi yang terekam justru memunculkan faktor penyebab yang lebih besar dari sekadar kesalahan masinis. Pemicu kecelakaan adalah kondisi prasarana rel yang buruk dan tidak terawat baik.
Jalur KA antara Stasiun Madiun dan Wilangan dan sekitarnya, meski sudah menggunakan rel UIC 54 yang merupakan rel terbesar di Indonesia, masih menggunakan penambat rel KAClip, penambat yang sejak awal abad ini dilarang digunakan. Konon masalahnya, penambat yang didesain PT PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu dari pelat tipis dan terlalu lentur, minim dalam daya puntir, dan tidak mengikat kuat rel ke bantalan.
Tanpa terikat kuat, rel mudah bergeser yang kalau bergeser satu sentimeter atau beberapa milimeter saja bisa membuat roda kereta tidak memijak rel dan anljok. Gaya sentrifugal memperbesar kemungkinan pergeseran rel, dan ini yang diperkirakan terjadi.
Kondisi rel di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak sebaik yang diharapkan. Direktur Komersial PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Sulistyo Wimbo Hardjito mengungkapkan, antara Pasuruan dan Banyuwangi terjadi rel patah 25 kali sebulan karena relnya R33 yang dipasang sejak zaman Belanda.
Rel patah di beberapa tempat karena terlindas roda kereta yang bergerak liar setelah anjlok. Ini akibat penyambungan rel dengan las thermit tidak dilakukan dengan sempurna, tidak homogen.
Selain penambat dan rel, beberapa bantalan beton hancur lebur, tidak hanya patah, sangat mungkin karena tidak cukup kuat menahan beban kereta. Padahal, berat kereta kelas tiga penuh penumpang tak sampai 30 ton, jauh lebih ringan dibandingkan dengan gerbong batu bara di Sumatera Selatan yang berat muatannya saja sampai 50 ton, tetapi saat KA anjlok bantalannya hanya tergores dalam, tidak sampai patah, apalagi hancur.
Alat pendukung
Penambat rel merupakan alat pendukung operasional KA yang masuk kategori no go item (tanpa itu KA tak boleh dioperasikan) karena sangat membahayakan perjalanan KA. Padahal, sejak beberapa tahun lalu pencurian penambat rel makin tinggi akibat mudah dijual karena baik KA-Clip, DE-Clip,E-Clip, atau Pandrol kebanyakan mudah dicongkel. Di lokasi kejadian bisa dilihat beberapa bantalan beton tidak lagi memiliki penambat karena dicuri orang.
Dari semua jenis penambat, pandrol dianggap yang terbaik dan digunakan oleh 411 perusahaan KA di 101 negara. Di Indonesia, kebanyakan penambat memang pandrol, tetapi mutunya berbeda, tergantung apakah itu produk lokal, produk impor dari China, atau pandrol asli yang sudah diproduksi di Indonesia dengan lisensi.
Sayangnya, produk lokal dan produk China selain daya puntirnya kurang, juga mudah dicongkel orang. Akan tetapi, sejak lama, karena harganya lebih murah dan lebih baik dibanding KA-Clip atau merek lain, pandrol produk lokal dan China banyak digunakan di jalur PT. Kereta Api Indonesia (Persero).
Dari hasil penelitian lapangan ditemukan, selain kecepatan tinggi, KA Logawa terguling karena kondisi rel yang buruk cara pengelasannya, juga pemakaian penambat yang seharusnya tidak digunakan lagi. Penambat yang jelek diperparah oleh bantalan yang rapuh yang mudah hancur.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama nanti pada masa angkutan Lebaran, ketika PT. Kereta Api Indonesia (Persero) harus mengangkut lebih dari 3 juta penumpang dalam waktu dua minggu. Ancaman dapat terwujud sewaktu-waktu sebab dari 4.000 km rel di Indonesia, 421 km masih menggunakan penambat KA-Clip. Juga masih digunakannya bantalan yang murah tetapi rapuh yang memenangi tender Kementerian Perhubungan sebagaimana amanat Keputusan Presiden Nomor 80.
Membagi pengalaman Logawa, semestinya Kementerian Perhubungan, sesuai tanggung jawabnya, segera mengganti KA-Clip dengan penambat yang lebih aman yang pastinya akan menelan biaya sangat besar. Untuk 421 km rel dibutuhkan 2,8 juta lebih penambat dan 700.000 bantalan karena otomatis bantalan lama tidak bisa digunakan karena â€Âtatakanâ€Â-nya berbeda, shoulder, insulator, dan pad-nya lain dari yang digunakan untuk KA-Clip.
Penggantian tak akan selesai dalam waktu enam bulan. Lebaran tinggal dua bulan lagi sehingga jangan heran â€Âjika jatuh korban berikutnyaâ€Â.
Moch S Hendrowijono Wartawan, Tinggal di Cisarua, Bandung