Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Trip Report Keliling Eropa di tahun 1999.
#1
Saya kebetulan pernah jalan-jalan keliling Eropa naik Kereta Api di sana, pada sekitar Januari 1999 yang lalu.
Waktu itu saya ke Swiss untuk menghadiri wisuda kakak saya di sebuah sekolah perhotelan di Luzern.

Rute perjalanannya melintasi Swiss-Jerman-Perancis-Swiss.

Cerita lagi saya susun, tapi berhubung waktu itu saya nggak bawa film yang banyak, jadi foto terpaksa pinjam dari orang lain. Bethe

Ada juga bagian pesawatnya.
Reply
#2
Bisa di upload foto2na meskipun dari pinjaman karena untuk menambah wawasan Mas..karena Eropa terkenal dengan kereta canggihnya serta gauge yang bervariasi.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#3
Perjalanan dimulai di sore hari di bulan Januari 1999 dari terminal Internasional bandara Juanda, Surabaya. Waktu itu masih berada di terminal lama yang ditutup tahun 2007 silam.
Saya sekeluarga (orang tua, adik, dan saudara sepupu) berangkat menggunakan pesawat Malaysian Airlines Boeing 737-400. Setelah menunggu pesawat berangkat dari bandara Juanda sekitar pukul 17.00, langsung menuju ke Kuala Lumpur. Bagi saya penerbangan antara Surabaya-Kuala Lumpur ini tak begitu istimewa, mengingat sebelumnya saya sudah pernah terbang langsung ke luar negeri dari Surabaya.

Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Sepang, Kuala Lumpur tiga jam kemudian. Sewaktu pertama saya melihat bandara ini, saya merasa sangat takjub. Bagi saya, desain bandara ini hanya bisa dijelaskan dengan satu kata saja: spektakuler!


[Image: n4i3cn.jpg]

Desainnya sangatlah futuristik untuk masa itu. Didominasi oleh warna putih keperakan, serta atapnya yang menjulang tinggi, suasananya lebih mengingatkan saya dengan bangunan futuristik yang saya lihat di buku-buku arsitek luar negeri yang sering saya lihat di toko buku.
Kalau itu kurang, ada beberapa lift yang berbentuk seperti tabung, mirip dengan yang ada di film fiksi ilmiah tentang luar angkasa. Sayapun benar-benar kagum dengan desain bandara yang sangatlah maju itu, menyembunyikan kesan kalau Malaysia sebenarnya yang dalam banyak hal sama saja dengan Indonesia!
Oya, pada saat pesawat dari Surabaya datang, dia diparkir di bagian yang ke pinggir, sementara bagian yang untuk penerbangan ke Eropa terletak di bangunan di tengah landasan. Jadi untuk mencapai ke sana, kita menggunakan kereta api otomatis tanpa masinis yang mengantar kita ke sana. Dari dalam kereta ini, saya bisa melihat kompleks
Kursi di bandara yang besar membuat kami bisa tidur nyenyak sembari menunggu keberangkatan pesawat sambungan ke Zurich, yang berangkat pukul 1 malam waktu Kuala Lumpur.
Saya sendiri sebenarnya tidak banyak tidur, karena kagum dan takjub dengan kemegahan bandara Sepang ini. Malah kalau saya bilang, bandara Changi di Singapore itu masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bandara ini.
Selain itu saya juga menghabiskan waktu mencoba perangkat informasi multimedia yang ada di situ (WiFi masih belum ada saat itu, dan saya juga belum punya handphone, apalagi handphone teknologi Wifi seperti Nokia E71 saya sekarang).

Sekitar pukul 12 malam, para penumpang tujuan Zurich dipersilahkan untuk masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Yang unik, rupanya penerbangan kali ini punya dua nomor, yaitu penerbangan milik Malaysian Airlines, serta Swissair. Waktu itu joint flight sudah ada, hanya saya belum pernah lihat sebelumnya
Karena saya memakai rompi yang banyak kantongnya, serta celana kargo yang kantongnya banyak, saya sempat kewalahan mencari dimana boarding pass saya. Rupanya dia tersembunyi di kantong yang memanjang.
Setelah menemukan boarding pass saya, saya langsung masuk dan duduk di salah satu sudut ruangan yang berjendela. Dari dalam saya bisa melihat hidung pesawat Boeing 747-400 yang terletak persis di sebelah ruang tunggu. Selain juga beberapa pesawat Boeing 777 yang ada di situ.
Tadinya saya pikir saya akan menaiki pesawat Boeing 747 ini. Rupanya tidak karena begitu penumpang dipersilahkan masuk, kami diarahkan ke garbarata yang terpasang di pesawat Boeing 777-200 yang ada di sebelah Boeing 747 tadi.


[Image: 1h2qvb.jpg]

Dan karena garbaratanya berdinding kaca, jadi saya bisa melihat pesawat saya secara utuh dan jelas, termasuk pesawat Airbus A340 milik Lufthansa yang diparkir di belakang pesawat saya.

Oya, sebagai catatan, tahun 1996 silam pada acara Indonesian Air Show di Cengkareng, saya sempat melihat dan masuk ke dalam protoype Boeng 777 yang dipamerkan. Waktu itu saya sempat membayangkan, terbang dengan pesawat ini pastinya nyaman. Rupanya impian itu jadi kenyataan 3 tahun kemudian.

Begitu masuk ke dalam, saya langsung disambut oleh seorang pramugari dan pramugara yang berdiri di depan. Senyuman mereka tak terlihat khas....atau memang saya terlalu mengantuk untuk memperhatikannya.
Tetapi yang membuat saya senang sekali adalah, di tiap-tiap kursi (termasuk di kelas ekonomi) penumpang mempunyai layar TV sendiri-sendiri. Dan selain itu, kita bisa memilih sendiri channel yang mau kita lihat.


[Image: amd1yp.jpg]

Otomatis penerbangan yang berlangsung semalam suntuk itu tak terasa membosankan untuk saya. Saya bisa memilih channel dan tayangan yang bisa saya lihat, mulai dari film-film yang lagi populer, acara TV yang lucu (waktu itu saya ketawa terus lihat acara “Just For Laughs”), dan game Nintendo. Benar-benar fitur yang luar biasa untuk ukuran jaman (dan hingga saat ini sebenarnya).
Ditambah lagi dengan ruang kaki yang sangat luas untuk ukuran kelas ekonomi, serta kursinya yang lumayan besar, membuat perjalanan ini terasa sangat istimewa. Semua fitur itu sebenarnya sangat ampuh juga untuk mengalihkan perhatian kita dari perilaku prami pesawat yang cenderung ketus dan agak tak ramah, apalagi kalau mereka tahu kita orang Indonesia.... Juga fakta kalau cadangan air di pesawat habis total 30 menit sebelum mendarat benar-benar tak terasa.

Menjelang subuh, pesawat mulai turun untuk mendarat di bandara Zurich. Suasana di luar benar-benar penuh dengan kabut tebal. Begitu tebalnya sampai sayap pesawat tak kelihatan sama sekali. Dan tahu-tahu saja, pesawat sudah mendarat di bandara Zurich yang tertutup kabut ekstra tebal di saat subuh.

Begitu sampai di gerbang, para penumpang turun dari pesawat. Kesan pertama saya terhadap bandara Zurich adalah, seperti ciri khas bandara Eropa di tahun 1970an. Membosankan, tak menarik, desainnya ketinggalan jaman. Bahkan petugas imigrasi dan bea cukai menggunakan seragam yang terkesan ketinggalan jaman.

Yang menarik, rupanya pesawat saya datangnya bersamaan dengan pesawat El Al dari Israel. Sehingga pada saat kami mengambil bagasi, saya bisa melihat beberapa rabi Yahudi dengan penampilannya yang khas, serta sorotan matanya yang tajam, walau mereka terlihat capek dan mengantuk sekalipun.

Seusai urusan imigrasi dan pabean, saya sekeluarga menunggu di salah satu hall di bagian bawah bandara Zurich. Walaupun saat itu adalah musim dingin, tapi tak terlihat ada salju. Yang ada adalah hawa sangat dingin, serta embun yang keluar dari mulut orang-orang di luar, serta asap tebal dari kendaraan.
Walaupun hall tersebut cukup luas, dan berjendela besar, tapi saya tak bisa bebas melihat pemandangan ke luar, karena tertutup oleh jembatan layang di depan hall. Sambil menunggu kami memakan bekal yang kami beli di Surabaya (ironisnya croissant sosis dan keju yang dibeli di Dunkin Donuts jalan Ahmad Yani Surabaya).

Sekitar 30 menit kemudian kakak sayapun datang dan menyambut kami semua. Kakak saya waktu itu sedang menempuh kuliah perhotelan di Luzern, dan kami kesana untuk menghadiri acara wisudanya.
Kami kemudian langsung mengemasi barang-barang kami dan berangkat menuju ke Luzern. Namun perjalanan menuju ke Luzern (dan perjalanan jarak jauh lainnya) adalah bukti kalau Eropa itu adalah pusat kereta api nomor 1 di dunia...menurut saya.

Dari hall tadi kami langsung menuju ke stasiun kereta api bandara Zurich yang terletak di bawah terminal bandara. Pembelian tiketnya sangat praktis, cukup memasukkan uang ke mesin otomat, tiket langsung keluar. Di stasiun Kakak saya bertemu dengan pacarnya (waktu itu) yang sedang dalam perjalanan menuju konsulat UAE di Zurich untuk pengurusan ijin kerja di sana.

Kesan klaustrofobik cukup menghinggapi saya, karena rasanya dari sejak turun dari pesawat hingga ke peron saya tak banyak melihat langit diluar. Namun syukurlah, di peron ada sedikit bagian terbuka, sehingga saya tahu kalau matahari sudah terbit. Tak lama kemudian KA kami datang.
Saya agak lupa jenis kereta yang kami naiki, tapi kalau nggak salah waktu itu keretanya adalah KA double decker buatan Swiss.

Pada awal-awal perjalanan, kereta berjalan di dalam terowongan, tapi kemudian kereta keluar terowongan, dan saya bisa melihat pemandangan perkotaan ala Swiss. Kalau saya lihat suasananya mirip seperti layout model KA Marklin, hanya kali ini yang saya lihat betulan!

Kota-kota kecil di sepanjang jalur KA antara bandara Zurich dengan kota Zurich mulai menggeliat. Walaupun Zurich adalah kota terbesar di Swiss (dan pusat perdagangan) tetapi suasananya terlihat sangat lengang dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia. Memang ada keramaian, tapi tak ada kepadatan. Dan walaupun saat itu adalah puncak musim dingin, dan Swiss terkenal karena musim saljunya, tapi saya tak melihat salju sepeserpun.


[Image: 2lsv97l.jpg]

Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya kami sampai juga di stasiun besar Zurich. Staiun ini adalah stasiun buntu seperti stasiun Beos dan Priok di Jakarta. Yang unik dari stasiun ini adalah peronnya tak tertutup sama sekali. Jadi begitu keluar dari KA anda bisa langsung naik mobil.

Dan walaupun peron dan bangunan utama stasiun adalah satu kesatuan, tetapi terkesan seakan-akan peronnya terpisah dari bangunan stasiun, karena dipisahkan oleh plaza diantara keduanya. Dan tempat ini merupakan pusat keramaian yang signifikan di kota Zurich, mengalahkan shopping center (yang kecil-kecil).

Di sini kakak saya membantu mengurusi tiket terusan untuk KA ke Luzern. Walaupun jadwal banyak, tapi KA ke Luzern baru berangkat dua jam lagi. Kamipun mengisi waktu dengan berjalan-jalan keliling Zurich sekaligus menitipkan barang-barang kami ke locker umum di stasiun.

Kami mampir ke pinggur danau Zurich serta melihat banyaknya angsa dan burung camar yang beterbangan. Burung camar ini hanya muncul di daerah yang berhawa dingin saja.


[Image: zjxjkl.jpg]

Tapi yang menarik tentu saja tram Zurich. Trem barwarna putih biru ini memutari hampir seluruh pelosok Zurich. Bisa dibilang di semua jalan utama di Zurich pasti ada jalan trem ini. Sayapun mencoba menaiki trem ini. Rasanya tak ubahnya seperti naik bus, hanya yang beda jalannya lebih stabil dan mulus, serta tak banyak belok. Selain itu beberapa rutenya melewati pedestrian walk yang tak boleh dimasuki kendaraan bermotor, kecuali trem. Selain itu rutenya juga melewati beberapa trek khusus trem, serta “stasiun trem”.

Naik trem ini juga merupakan kesempatan untuk melihat cewek-cewek Swiss yang super putih itu. Tapi sayangnya, nampaknya mayoritas orang Swiss yang saya lihat terdiri dari orang tua dan anak-anak kecil. Para pemuda-pemudinya entah pada kemana. Katanya kalau musim dingin mereka malah pergi ke luar negeri, ke tempat yang agak hangat. Apalagi, kata kakak saya, jatah liburnya orang Swiss itu lumayan banyak.

Seusai memutari Zurich, kami kembali ke stasiun untuk mengambil tas dan berangkat ke Luzern. Kereta yang kami naiki adalah kereta biasa, yang interiornya mengingatkan dengan interior KA eksekutif tahun 1980an, hanya bersihnya luar biasa. Rupanya di sepanjang perjalanan dari Zurich ke Luzern, mulai terlihat banyak salju. Sayangnya, begitu masuk Luzern, lagi-lagi saljunya hilang.

Yang unik, di sekeliling Luzern, banyak sekali perkampungan para penduduk kelas menengah ke bawah, yang terletak di pinggir sungai. Tapi jangan bandingkan dengan kampung kumuh yang biasa anda temui di kota-kota besar di pulau Jawa. Kampung kelas bawah Swiss ini bersih sekali! Tak ada tanda-tanda sampah atau kekumuhan sama sekali. Yang ada hanyalah rumah-rumah caravan yang di depannya terdapat taman kecil serta pot-pot tanaman yang tertata rapi. Sungainya saja mengalir lancar tanpa ada sedikitpun sampah diatasnya.

Beberapa menit kemudian, kamipun sampai di Luzern. Luzern ini adalah kota yang lebih kecil daripada Zurich. Tapi yang unik, di sini tidak ada trem. Yang ada hanyalah “trolley bus” yaitu semacam bis bertenaga listrik, yang ada pantograph diatasnya. Seperti halnya trem, dia mengambil sumber tenaga dari LAA diatasnya, dengan menggunakan pantograph.

Saya juga naik trolley bus ini dari stasiun Luzern menuju ke hotel saya. Hotel ini terletak di tengah areal kota tua Luzern, sehingga suasan a klasiknya sangatlah terasa. Kebetulan hotel itu adalah salah satu hotel yang menyediakan diskon bagi pemegang “Euro Rail Pass”.

BERSAMBUNG....
Reply
#4
Jadi iri melihat kecanggihan di negara lain terutama trem kotanya.yang bisa mengakomodasi seluruh ruang kota...mantap kang..!
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#5
Padahal ini cerita di tahun 1999 silam....
Reply
#6
(20-04-2010, 09:15 PM)bagus70 Wrote: Padahal ini cerita di tahun 1999 silam....

Pengetahuahan tidak mengenal waktu semakin lama semakin bertuah..
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply
#7
Sayang juga sih per posting batasan foto adalah 5 biji. Kalau lebih sedikit mungkin saya masukkan foto trolley bus yang di Luzern itu. Total saya menyiapkan 5 cerita perjalanan ini.

Berarti masih ada 4 cerita lagi yang harus saya garap.
Reply
#8
SABAR MENANTI
Regards,

Hilmi Irawan W.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

"Selamatkan Muka Orang Lain - Dale Carnegie"
Reply
#9
Okeh ... ditunggu lanjutannya mas Bagus ...
Reply
#10
(21-04-2010, 10:52 AM)bagus70 Wrote: Sayang juga sih per posting batasan foto adalah 5 biji. Kalau lebih sedikit mungkin saya masukkan foto trolley bus yang di Luzern itu. Total saya menyiapkan 5 cerita perjalanan ini.

Berarti masih ada 4 cerita lagi yang harus saya garap.

Trolley bus bisa di lanjut ya..Kapan ya...
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER

GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)