25-01-2010, 10:16 AM
saya nggak tau pak
Salam dari Purwokerto
|
Jalur KA Kediri-Pare-Jombang
|
|
14-02-2010, 10:00 PM
(21-01-2010, 06:24 AM)Semutsdt Wrote: Ntar Fotonya menyusul bro... ![]() Tandon Stasiun Pare, bangunan atap tinggi sebelah kiri itu dulunya Dipo Lok PE ![]() Sepanjang jalan ini adalah Sepur 1 Stasiun PE ![]() Jl. Pangrango (dulu Jl. PJKA) disebelah kiri jalan ini Eks Komplek perumahan PJKA, sedangkan sebelah kanan jalan adalah area Stasiun PE ma'af sodara.. kemarin waktu pulang belum sempat hunting lama karna masih ada keperluan, dalam waktu dekat foto lainnya menyusul..
14-02-2010, 10:20 PM
Wah mantap mas
dokumentasinya jalur mati top markotop
16-02-2010, 04:59 PM
(16-02-2010, 02:03 PM)asep_0907 Wrote: pengen blusukan di jalur ini.... Asal tak mendadak, saya dan Anak Negeri bisa menemani.. BTT deh.. ![]()
20-02-2010, 10:11 PM
Di sekeliling St Pare adakah rumah atau aset lain yang ditempeli plakat berbunyi: ASET PT KA atau tidak yaaaa....? Atau ada atau tidak yang masih ada capnya PNKA?
Salam Spoor,
16-03-2010, 12:57 AM
(This post was last modified: 16-03-2010, 01:16 AM by Anak Negeri.)
(20-02-2010, 10:11 PM)Toto Wrote: Di sekeliling St Pare adakah rumah atau aset lain yang ditempeli plakat berbunyi: ASET PT KA atau tidak yaaaa....? Atau ada atau tidak yang masih ada capnya PNKA? Ada mas, papan namanya.. ![]() jalan sebelah kanan warung ini eks. sepur 1 Stasiun Pare (PE). ![]() Loket Karcis
![]() Bentuk Pintu
![]() Desain Tembok
![]() Eks. Peron ruang tunggu
![]() Bagian dalam yang masih asli dibuat jual sate gule
![]() Eks. Tandon Air
![]() Bentuk ornamen Tembok stasiun
![]() Eks. Dipo Lok PE
![]() Sisa Rel arah Jombang, di depan RS HVA Pare
Salam kenal buat para railfan senior ...
Menanggapi posting dari Mas Gajayana ( saya menggunakan nama sapaan user aja ya ... ), saya bisa menambahkan informasi di sisi kota Jombang ( karena kebetulan saya memang wong Jombang ) Memang benar seperti yang dikatakan Mas Azu, bahwa jalur ini sepertinya "mati" karena kalah bersaing dengan angkutan jalan yang kala itu ( sekitar tahun 1980-an ) mulai diramaikan dengan oplet dan mobil barang ( entah waktu itu mobil jenis apa saja, saya sendiri terus terang kurang paham ). Kenapa saya mengatakan tahun 1980-an? Karena dari beberapa orang yang sempat saya tanya ( paman dan beberapa tetangga saya ), jalur Kediri-Pare-Jombang yang melewati Jombang-Pare mulai "habis" ( baca : berhenti ) beroperasi sekitar tahun 1980-an, mungkin tepatnya tahun 1981. Jika mungkin informasi ini kurang tepat ( maklum yang saya tanya kebetulan juga lupa dan cenderung mengira-ngira ), mungkin railfans senior bisa mengkoreksi... Jalur ini menurut saya sempat menjadikan Jombang kota yang istimewa, karena menjadi perempatan jalur KA masa itu, yaitu jalur menuju Pare-Kediri yang ke arah selatan, menuju Ploso-Babat ( Kab. Lamongan ) yang ke arah utara, ke arah Mojokerto-Surabaya yang ke arah timur, dan ke arah Kertosono-Madiun, yang ke arah barat. Jalur yang menuju arah selatan dan timur seperti diketahui saat ini sudah tidak beroperasi. Sempat terpikir, seandainya jalur ini difungsikan sebagai kereta wisata, dan dilakukan kerja sama antara PT. KAI, Pemkab Jombang, Pemkab Kediri, Pemkot Kediri, dan Pemkab Lamongan, untuk wisata kereta tua ( seperti di Solo ), apakah bisa ya? Mm, atau mungkin biaya operasionalnya yang terlalu mahal dan pemandangannya yang mungkin termasuk kategori biasa-biasa saja ( karena hanya melewati pemukiman dan persawahan ). Sayangnya, mulai stasiun Jombang Kota menuju arah selatan sampai lebih kurang 7 km ( mendekati Ponpes Tebuireng Jombang ), rel ini sedikit demi sedikit mulai banyak yang dibongkar dengan alasan pelebaran jalan. Saksi bisu sejarah KA Jombang-Pare-Kediri sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh zaman. Melihat foto Stasiun Pare, wah, msih cukup terawat dan seandainya dijadikan objek wisata, mungkin bisa dijadikan salah satu andalan Pemkab Kediri di Kota Pare ![]() Monggo mas / mbak senior, tanggapannya ditunggu ... Informasi tambahan .... Jalur Jombang-Pare-Kediri ini meski melewati Pesantren Tebuireng dan sempat singgah di stasiun Cukir, konon dari beberapa cerita tetangga / saudara yang sudah sepuh, jalur ini kurang aman, terutama pada masa penghujung Orde Lama, sekitar peristiwa G30S, sampai menjelang tahun 1970-an. Menurut cerita, jalur ini sering diganggu oleh kaum komunis yang memang menjadi penentang berat kaum ( yang menurut mereka borjuis ) di kawasan Cukir ( karena terdapat PG. Tjoekir yang merupakan lambang kemajuan teknologi pengolahan gula di Desa Cukir saat itu dan adanya Ponpes Tebuireng, dimana banyak kyai yang saat itu mungkin kebetulan mempunyai banyak santri, sehingga di mata kaum komunis ini termasuk kaum borjuis ). Jalur Jombang-Cukir ( +- 8 km ) sering disabotase. Tapi cerita mengenai PLH di masa itu belum pernah saya peroleh. Saya perkirakan, mungkin resiko yang dihadapi KA yang melintas jalur tersebut adalah anjlok. Dari cerita ini, tersirat suatu kemungkinan, jalur dari Pare-Cukir juga menghadapi resiko yang sama, mengingat jalur Pare-Cukir ( +- 20 km ) mempunyai jarak lebih panjang dan melewati kawasan yang lebih jarang penduduknya ( untuk ukuran masa itu ). Memasuki kawasan Ngoro-Badas-Pare, diperkirakan masa itu masih berupa hamparan tanah persawahan yang luas. Resiko pencegatan dan sabotase KA di kawasan ini lebih tentunya lebih terbuka. Atau mungkin ada cerita PLH tempo doeloe di era 1960-1970an di jalur ini? (16-03-2010, 12:57 AM)Anak Negeri Wrote: [quote='Toto' pid='135943' dateline='1266678692'] Ada mas, papan namanya.. ![]() jalan sebelah kanan warung ini eks. sepur 1 Stasiun Pare (PE). ![]() Loket Karcis
![]() Bentuk Pintu
![]() Desain Tembok
![]() Eks. Peron ruang tunggu
Bangunannya nampak relatif masih utuh.... Mesti diawasi agar tidak dirubuhkan nih.... Sekedar catatan tambahan, dulu waktu KSM mulai memudar kegiatannya banyak karyawan yang dipindah di Malang. Ini menurut keterangan Bpk Soejatno (85 th), pensiunan KS Tumpang (trem Malang) Salam Spoor,
17-03-2010, 01:52 PM
Mantap jaya laporan mas anak negeri top markotop
|
|
« Next Oldest | Next Newest »
|