04-01-2010, 01:21 PM
RANGKAIAN DUA KERETA API ANJLOK, 14 TEWAS, 71 LUKA BERAT
BANDUNG -- Dua rangkaian kereta api, masing-masing KA Galuh Stasiun
Pasar Senen Jakarta-Banjar dan KA Kahuripan Bandung-Kediri, itu
berangkat dari titik yang berbeda -- dari Jakarta dan Bandung. Karena
KA Galuh mengalami kerusakan, akhirnya bak penganten keduanya harus
saling bergandengan. Dua rangkaian menyatu, menciptakan iringan
panjang: 2 loko dan 13 gerbong, dengan muatan total 728 penumpang. Ini
belum termasuk awak kedua KA.
Di sebuah trek yang menurun, rem salah satu KA tak berfungsi normal.
Insiden, tak terelakkan, terjadi.
Hasil pemantauan Republika mengungkapkan, empat gerbong masing-masing
bernomor K 66545 R, K 3381761, K 36451 dan KMP 380501 terlempar ke
bagian kanan rel. Gerbong terakhir ini berada di bawah jurang sedalam
10 meter. Sementara gerbong bernomor seri K 393505 terlempar ke arah
kiri rel yang jaraknya sekitar 10 meter. Tiga gerbong lainnya
masing-masing K 393559, K 361502 dan K 3667105 berada di atas rel.
Lima gerbong yang selamat, berhasil diangkut ke Stasiun Cibatu Garut.
Insiden berlangsung pada pukul 00:03 Selasa dinihari.
Lokasi kejadian berada di Km 241, tepat di tikungan jembatan sungai
Cibahayu yang panjangnya sekitar 100 meter. Selain menikung, lokasi
kejadian pun menurun. Kampung Sarapat terletak sekitar 2 Km dari jalan
Raya Ciawi. Dari arah Tasikmalaya sekitar 30 Km arah Barat.
Hingga kemarin, diberitakan 14 penumpang tewas, 71 orang luka berat.
Yang juga tewas: masinis kedua KA itu.
Dari 14 korban meninggal dunia, baru enam orang yang berhasil
diketahui identitasnya. Mereka diantaranya, Herman, Supardi (masinis),
Tukiyem penduduk Genengan, Jatikawung, Jateng, Dedeh warga Cianjur dan
Faruq asal Blitar, Jatim, Siti Hodijah (65) asal Kediri. Korban yang
mengalami luka berat hingga kini masih dirawat di RSU Tasikmalaya.
Korban meninggal dunia, umumnya tergencet badan gerbong. Kondisi
mereka umumnya mengenaskan. Petugas yang mengevakuasi korban, ada yang
menemukan bagian tubuh korban. Diantaranya sebuah tangan yang terpisah
dari tubuh. "Saya tak kuasa melihatnya," ujar seorang petugas dari
Polres Tasikmalaya, yang terlibat dalam pengangkatan jenazah.
Seluruh jenazah, baru bisa dievakuasi sekitar pukul 16.00 WIB. Korban
terakhir seorang remaja putri. Korban mengenakan baju warna merah.
Posisinya berada di pintu gerbong nomor seri K 381761. Untuk
mengangkat tubuh korban dari himpitan badan gerbong, petugas harus
mengerahkan sejumlah petugas las.
Emuh Muhyidin (30) warga Kampung Sarapat Palumbungan, dalam
penuturannya kepada Republika menyebutkan, malam saat kejadian ia
tengah tertidur lelap. Tiba-tiba ia mendengar suara benturan keras.
Tak lama kemudian, menyusul suara tangis dan jeritan. "Tadinya saya
ragu untuk keluar," kata Emuh yang rumahnya berjarak sekitar 25 meter
dari TKP.
Hampir sebagian besar warga kampung Sarapat Palumbungan yang berjumlah
sekitar 14 kepala keluarga, itu mendengar suara benturan tersebut.
Mereka keluar rumah untuk memberikan pertolongan. Sebagian dari mereka
melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa setempat. "Sebagian
besar warga tengah tertidur lelap. Namun karena suara benturan itu
terlalu keras mereka terbangun," tutur Somantri, Kades Dirgahayu.
Para penumpang yang selamat, kata Emuh, berhasil keluar dari gerbong
tersebut. Karena paniknya, mereka memecah kaca jendela untuk keluar
dari dalam gerbong. "Rasanya seperti kiamat. Kami menjerit minta
tolong," aku Tikiyem (20) asal Nganjuk Jatim.
Diperkirakan para korban berasal dari gerbong bernomor seri K 381761.
Gerbong ini mengalami rusak berat. Dinding bagian kiri terkelupas
hingga ke belakang. Kursi di dalam gerbong ini sebagian besar
terlepas. Darah dan serpihan daging berceceran di tempat tersebut.
Sementara darah dan serpihan daging manusia tercecer di sekitar tempat
tersebut. Posisi gerbong ini miring ke kanan tertahan tebing
berketinggian sekitar lima meter.
Di gerbong lainnya, sejumlah barang milik para korban diantaranya tas,
jaket, baju, sandal, termos, gelas hancur berantakan. Nasib serupa
menimpa dua lokomotif yang menarik rangkaian gerbong tersebut.
Lokomotif dengan nomor seri CC 20501 menabrak tebing sehingga bagian
depannya hancur. Lokomotif bernomor seri CC 20175 terbalik. Bagian
roda lokomotif itu berada di atas, sementara dindingnya terkelupas.
"Kecelakaan diduga akibat tidak normalnya fungsi pengereman KA
Kahuripan, nomor Lok 8076," jelas Neni St. Hasanah, Kepala Seksi
Hubungan Eksternal Humas Perumka.
Rangkaian KA yang ada di depan adalah KA Galuh -- sebuah KA K3+, yaitu
KA kelas ekonomi yang dijalankan malam hari. Kereta ini mengalami
kerusakan di Cibatu. KA Galuh, yang dimasinisi Herman, terdiri atas
enam gerbong dengan 300 penumpang.
Di belakangnya, KA Kahuripan (Bandung-Kediri) berangkat dari Stasiun
Bandung pada 21:30 WIB. Kereta ini berangkat 30 menit setelah KA Galuh
-- KA jurusan Stasiun Pasar Senen Jakarta-Banjar -- meninggalkan
stasiun Bandung menuju Banjar. KA Kahuripan, dengan masinis Supardi,
terdiri atas tujuh gerbong dengan 428 penumpang.
Ketika sampai di Cibatu, kedua KA digandengkan. "Pertimbangan
penggabungan ini untuk memperlancar perjalanan kedua kereta api,
karena KA Galuh sudah sangat terlambat. Penggandengan ini sudah biasa
dilakukan dan secara teknis tidak berbahaya," jelas Neni.
Sampai di jembatan Trowek, dengan trek rel yang agak menurun, fungsi
pengereman KA Kahuripan ternyata tidak normal, dan kereta meluncur
tanpa dapat dikendalikan.
Dirjen Perhubungan Darat, Soejono, juga mengutarakan penggabungan itu
sebagai hal yang biasa. "Barangkali PPKA (pemimpin perjalanan kereta
api) di Bandung mempunyai pertimbangan tertentu yang memang
dimungkinkan untuk menggabungkan dua rangakaian kereta api,"
komentarnya, ketika ditanya wartawan, kemarin.
Sebagaimana lazimnya, penggabungan dua KA tersebut hanya akan
berlangsung hingga Kroya. Selanjutnya, KA Kahuripan akan meneruskan
perjalanan menuju Jawa Tengah dan Madiun. Sedangkan KA Galuh menuju ke
arah Banjarnegara.
Dia menolak kemungkinan kecelakaan terjadi karena kereta terlalu cepat
melaju. Menurut dirjen, baik Galuh dan Kahuripan bukanlah KA
berkecepatan tinggi. Karena itu, hampir mustahil -- sesaat sebelum
musibah terjadi -- KA tersebut melaju melebihi ukuran normal.
Lokasi musibah dikabarkan agak terpencil. Karena itu, komunikasi dari
dan menuju tempat kecelakaan amat sulit. "Saya menerima informasi
kecelakaan baru pukul 04:00 dini hari. Dan petugas yang di sana
mengaku sulit memberi informasi akibat keterbatasan sarana
telekomunikasi," kata dirjen.
Masinis Supardi dimakamkan di Tasikmalaya dan dihadiri pejabat-pejabat
Perumka pada pukul 14:30 WIB, kemarin. Sedangkan jenazah Herman
diberangkatkan ke Banjar pada pukul 17:30. Selain itu Neni menerangkan
bahwa sampai kemarin sore terdapat 13 penumpang tewas, 45 orang luka
berat, 37 orang luka ringan dan 18 orang yang luka sudah dipulangkan.
Sedangkan penumpang yang lain dioper ke kereta api berikutnya ataupun
pindah ke bis. "Semua biaya ditanggung Perumka," kata Neni.
Pagi hari kemarin, sekitar pukul 07:30, Menhub Haryanto Dhanutirto
langsung terbang dengan helikopter meninjau lokasi kecelakaan.
Menyusul kemudian, sekitar pukul 11:00, Dirjen Hubdat Soejono menuju
lokasi yang sama.
Di tempat yang sama pada 1990, menurut Neni, pernah terjadi kecelakaan
yang menimpa kereta barang yang menempuh perjalanan ke timur. "Kereta
barang ini juga anjlok, dan masuk ke jurang. Satu penumpang gelap
waktu itu meninggal dunia," jelas Neni.
Kecelakaan kemarin tidak mempengaruhi jadwal keberangkatan KA lain --
kecuali KA Cisadane nomor Lok 312 jurusan Kediri-Bandung untuk
sementara keberangkatannya dibatalkan. Sedangkan KA Turangga
(Bandung-Surabaya - dari Bandung 19:00 WIB) dan KA Mutiara
(Bandung-Surabaya - berangkat 17:00 WIB), diputar lewat
Kroya-Cirebon-Cikampek. Sementara KA Mataram (Bandung-Solo) yang
berangkat 07:30 WIB pada 24 Oktober, penumpangnya dialihkan dengan
bus.
Kemudian, perjalanan KA Pajajaran (Surakarta-Bandung - dari Surakarta
20:30) dilewatkan Yogyakarta-Purwokerto-Cirebon-Cikampek. KA
Badrasurya (Bandung-Surabaya - berangkat 06:30 WIB) dilewatkan
Cikampek-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. "Kepada masyarakat
kami mohon maaf, jika akibat pengalihan jalur ini kereta mengalami
keterlambatan tiba di tujuan selama empat jam," tutur Neni. Karcis,
menurut Neni tidak dinaikkan. Dalam waktu 2 x 24 jam, ujar Neni, jalur
ini diharapkan sudah pulih kembali.
Perumka, menurut Neni menanggung biaya perawatan para korban dan
menerima asuransi jiwa. Demikian juga korban meninggal. Jumlah
kerugian material, menurut Neni belum diketahui.
di kutip dari http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata
BANDUNG -- Dua rangkaian kereta api, masing-masing KA Galuh Stasiun
Pasar Senen Jakarta-Banjar dan KA Kahuripan Bandung-Kediri, itu
berangkat dari titik yang berbeda -- dari Jakarta dan Bandung. Karena
KA Galuh mengalami kerusakan, akhirnya bak penganten keduanya harus
saling bergandengan. Dua rangkaian menyatu, menciptakan iringan
panjang: 2 loko dan 13 gerbong, dengan muatan total 728 penumpang. Ini
belum termasuk awak kedua KA.
Di sebuah trek yang menurun, rem salah satu KA tak berfungsi normal.
Insiden, tak terelakkan, terjadi.
Hasil pemantauan Republika mengungkapkan, empat gerbong masing-masing
bernomor K 66545 R, K 3381761, K 36451 dan KMP 380501 terlempar ke
bagian kanan rel. Gerbong terakhir ini berada di bawah jurang sedalam
10 meter. Sementara gerbong bernomor seri K 393505 terlempar ke arah
kiri rel yang jaraknya sekitar 10 meter. Tiga gerbong lainnya
masing-masing K 393559, K 361502 dan K 3667105 berada di atas rel.
Lima gerbong yang selamat, berhasil diangkut ke Stasiun Cibatu Garut.
Insiden berlangsung pada pukul 00:03 Selasa dinihari.
Lokasi kejadian berada di Km 241, tepat di tikungan jembatan sungai
Cibahayu yang panjangnya sekitar 100 meter. Selain menikung, lokasi
kejadian pun menurun. Kampung Sarapat terletak sekitar 2 Km dari jalan
Raya Ciawi. Dari arah Tasikmalaya sekitar 30 Km arah Barat.
Hingga kemarin, diberitakan 14 penumpang tewas, 71 orang luka berat.
Yang juga tewas: masinis kedua KA itu.
Dari 14 korban meninggal dunia, baru enam orang yang berhasil
diketahui identitasnya. Mereka diantaranya, Herman, Supardi (masinis),
Tukiyem penduduk Genengan, Jatikawung, Jateng, Dedeh warga Cianjur dan
Faruq asal Blitar, Jatim, Siti Hodijah (65) asal Kediri. Korban yang
mengalami luka berat hingga kini masih dirawat di RSU Tasikmalaya.
Korban meninggal dunia, umumnya tergencet badan gerbong. Kondisi
mereka umumnya mengenaskan. Petugas yang mengevakuasi korban, ada yang
menemukan bagian tubuh korban. Diantaranya sebuah tangan yang terpisah
dari tubuh. "Saya tak kuasa melihatnya," ujar seorang petugas dari
Polres Tasikmalaya, yang terlibat dalam pengangkatan jenazah.
Seluruh jenazah, baru bisa dievakuasi sekitar pukul 16.00 WIB. Korban
terakhir seorang remaja putri. Korban mengenakan baju warna merah.
Posisinya berada di pintu gerbong nomor seri K 381761. Untuk
mengangkat tubuh korban dari himpitan badan gerbong, petugas harus
mengerahkan sejumlah petugas las.
Emuh Muhyidin (30) warga Kampung Sarapat Palumbungan, dalam
penuturannya kepada Republika menyebutkan, malam saat kejadian ia
tengah tertidur lelap. Tiba-tiba ia mendengar suara benturan keras.
Tak lama kemudian, menyusul suara tangis dan jeritan. "Tadinya saya
ragu untuk keluar," kata Emuh yang rumahnya berjarak sekitar 25 meter
dari TKP.
Hampir sebagian besar warga kampung Sarapat Palumbungan yang berjumlah
sekitar 14 kepala keluarga, itu mendengar suara benturan tersebut.
Mereka keluar rumah untuk memberikan pertolongan. Sebagian dari mereka
melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa setempat. "Sebagian
besar warga tengah tertidur lelap. Namun karena suara benturan itu
terlalu keras mereka terbangun," tutur Somantri, Kades Dirgahayu.
Para penumpang yang selamat, kata Emuh, berhasil keluar dari gerbong
tersebut. Karena paniknya, mereka memecah kaca jendela untuk keluar
dari dalam gerbong. "Rasanya seperti kiamat. Kami menjerit minta
tolong," aku Tikiyem (20) asal Nganjuk Jatim.
Diperkirakan para korban berasal dari gerbong bernomor seri K 381761.
Gerbong ini mengalami rusak berat. Dinding bagian kiri terkelupas
hingga ke belakang. Kursi di dalam gerbong ini sebagian besar
terlepas. Darah dan serpihan daging berceceran di tempat tersebut.
Sementara darah dan serpihan daging manusia tercecer di sekitar tempat
tersebut. Posisi gerbong ini miring ke kanan tertahan tebing
berketinggian sekitar lima meter.
Di gerbong lainnya, sejumlah barang milik para korban diantaranya tas,
jaket, baju, sandal, termos, gelas hancur berantakan. Nasib serupa
menimpa dua lokomotif yang menarik rangkaian gerbong tersebut.
Lokomotif dengan nomor seri CC 20501 menabrak tebing sehingga bagian
depannya hancur. Lokomotif bernomor seri CC 20175 terbalik. Bagian
roda lokomotif itu berada di atas, sementara dindingnya terkelupas.
"Kecelakaan diduga akibat tidak normalnya fungsi pengereman KA
Kahuripan, nomor Lok 8076," jelas Neni St. Hasanah, Kepala Seksi
Hubungan Eksternal Humas Perumka.
Rangkaian KA yang ada di depan adalah KA Galuh -- sebuah KA K3+, yaitu
KA kelas ekonomi yang dijalankan malam hari. Kereta ini mengalami
kerusakan di Cibatu. KA Galuh, yang dimasinisi Herman, terdiri atas
enam gerbong dengan 300 penumpang.
Di belakangnya, KA Kahuripan (Bandung-Kediri) berangkat dari Stasiun
Bandung pada 21:30 WIB. Kereta ini berangkat 30 menit setelah KA Galuh
-- KA jurusan Stasiun Pasar Senen Jakarta-Banjar -- meninggalkan
stasiun Bandung menuju Banjar. KA Kahuripan, dengan masinis Supardi,
terdiri atas tujuh gerbong dengan 428 penumpang.
Ketika sampai di Cibatu, kedua KA digandengkan. "Pertimbangan
penggabungan ini untuk memperlancar perjalanan kedua kereta api,
karena KA Galuh sudah sangat terlambat. Penggandengan ini sudah biasa
dilakukan dan secara teknis tidak berbahaya," jelas Neni.
Sampai di jembatan Trowek, dengan trek rel yang agak menurun, fungsi
pengereman KA Kahuripan ternyata tidak normal, dan kereta meluncur
tanpa dapat dikendalikan.
Dirjen Perhubungan Darat, Soejono, juga mengutarakan penggabungan itu
sebagai hal yang biasa. "Barangkali PPKA (pemimpin perjalanan kereta
api) di Bandung mempunyai pertimbangan tertentu yang memang
dimungkinkan untuk menggabungkan dua rangakaian kereta api,"
komentarnya, ketika ditanya wartawan, kemarin.
Sebagaimana lazimnya, penggabungan dua KA tersebut hanya akan
berlangsung hingga Kroya. Selanjutnya, KA Kahuripan akan meneruskan
perjalanan menuju Jawa Tengah dan Madiun. Sedangkan KA Galuh menuju ke
arah Banjarnegara.
Dia menolak kemungkinan kecelakaan terjadi karena kereta terlalu cepat
melaju. Menurut dirjen, baik Galuh dan Kahuripan bukanlah KA
berkecepatan tinggi. Karena itu, hampir mustahil -- sesaat sebelum
musibah terjadi -- KA tersebut melaju melebihi ukuran normal.
Lokasi musibah dikabarkan agak terpencil. Karena itu, komunikasi dari
dan menuju tempat kecelakaan amat sulit. "Saya menerima informasi
kecelakaan baru pukul 04:00 dini hari. Dan petugas yang di sana
mengaku sulit memberi informasi akibat keterbatasan sarana
telekomunikasi," kata dirjen.
Masinis Supardi dimakamkan di Tasikmalaya dan dihadiri pejabat-pejabat
Perumka pada pukul 14:30 WIB, kemarin. Sedangkan jenazah Herman
diberangkatkan ke Banjar pada pukul 17:30. Selain itu Neni menerangkan
bahwa sampai kemarin sore terdapat 13 penumpang tewas, 45 orang luka
berat, 37 orang luka ringan dan 18 orang yang luka sudah dipulangkan.
Sedangkan penumpang yang lain dioper ke kereta api berikutnya ataupun
pindah ke bis. "Semua biaya ditanggung Perumka," kata Neni.
Pagi hari kemarin, sekitar pukul 07:30, Menhub Haryanto Dhanutirto
langsung terbang dengan helikopter meninjau lokasi kecelakaan.
Menyusul kemudian, sekitar pukul 11:00, Dirjen Hubdat Soejono menuju
lokasi yang sama.
Di tempat yang sama pada 1990, menurut Neni, pernah terjadi kecelakaan
yang menimpa kereta barang yang menempuh perjalanan ke timur. "Kereta
barang ini juga anjlok, dan masuk ke jurang. Satu penumpang gelap
waktu itu meninggal dunia," jelas Neni.
Kecelakaan kemarin tidak mempengaruhi jadwal keberangkatan KA lain --
kecuali KA Cisadane nomor Lok 312 jurusan Kediri-Bandung untuk
sementara keberangkatannya dibatalkan. Sedangkan KA Turangga
(Bandung-Surabaya - dari Bandung 19:00 WIB) dan KA Mutiara
(Bandung-Surabaya - berangkat 17:00 WIB), diputar lewat
Kroya-Cirebon-Cikampek. Sementara KA Mataram (Bandung-Solo) yang
berangkat 07:30 WIB pada 24 Oktober, penumpangnya dialihkan dengan
bus.
Kemudian, perjalanan KA Pajajaran (Surakarta-Bandung - dari Surakarta
20:30) dilewatkan Yogyakarta-Purwokerto-Cirebon-Cikampek. KA
Badrasurya (Bandung-Surabaya - berangkat 06:30 WIB) dilewatkan
Cikampek-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. "Kepada masyarakat
kami mohon maaf, jika akibat pengalihan jalur ini kereta mengalami
keterlambatan tiba di tujuan selama empat jam," tutur Neni. Karcis,
menurut Neni tidak dinaikkan. Dalam waktu 2 x 24 jam, ujar Neni, jalur
ini diharapkan sudah pulih kembali.
Perumka, menurut Neni menanggung biaya perawatan para korban dan
menerima asuransi jiwa. Demikian juga korban meninggal. Jumlah
kerugian material, menurut Neni belum diketahui.
di kutip dari http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata



katanya plh ini terjadi karena gagal pengereman jadi dari dua rangkaian KA Galuh ama Kahuripan ini dari 13 gerbong yang ada cuman 5 ato 8 ya aku lupa yang bisa ngerem apalagi kejadiannya setelah stasiun CPD ato treknya menurun cukup terjal,ada cerita dari pacarnya sepupuku pas baru masuk kerja di kereta api katanya dia dapet tugas buat evakuasi di lokasi trus dia nemu gitar milik salah satu penumpang gitar itu dibawa sama salah satu temennya ke rumah dan katanya pas besok malemnya si gitar ini bunyi sendiri katanya....

![[Image: 989831.png]](http://valid.canardpc.com/cache/banner/989831.png)
![[Image: 2euifjl.jpg]](http://i53.tinypic.com/2euifjl.jpg)
