Posts: 823
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
18
04-10-2009, 01:38 AM
(This post was last modified: 04-10-2009, 01:49 AM by Penjelajah.)
(03-10-2009, 09:45 AM)adif septian Wrote: (03-10-2009, 07:55 AM)Penjelajah Wrote: Mas Toto, jalur Jagalan-Tumpang itu menyimpang dari sekitar depan Masjid Sabilillah, jadi lebih ke utara sedikit dari Carrefour. Sedangkan yang terus ke utara itu berujung di Karanglo (buntu). Sayangnya sumber tentang jalur utara ini kurang jelas. Jadi tremnya pun prinsipnya sama dengan KA Pertamina Jagalan. Stasiun Blimbing sebagai tempat bertukar posisi lok. Saya asli Blimbing, rumah saya dulu sekarang sudah jadi warung Padang di timur sinyal masuk dari Tumpang. Saya bisa menyaksikan lok D11 menyuplai avtur untuk Lanud hingga saya pindah rumah, dan saat itu juga Blimbing-Lanud nonaktif tahun 1989. Nostalgia manis sekaligus tahun yang menyedihkan (tahun yang sama jalur Babat-Tuban dan beberapa jalur cabang lain juga mati). Mengikuti jejak rekan² disini, saya juga meneliti Stasiun Tumpang dan sekitarnya (foto menyusul). Beberapa rel yang saya amati tertera BOCHUM 1900 dan 1898. Tepat di depan Stasiun Tumpang masih ada bekas rumah dinas yang lumayan utuh.
Mas Penjelajah, di jalur MSM arah ke Tumpang itu kan dulunya di daerah Bunut ada percabangan, yang ke arah timur terus ke Tumpang sedangkan yang ke arah utara itu menuju Lanud. Yang pengen saya tanyain itu yang ke arah Lanud itu lengsung mentok di Lanud apa ada terusannya sampai Singosari????soalnya dulu samar-samar ada yang pernah cerita kalo itu jalurnya terus sampai Singosari. thx infonya
Dari literatur dan peta-peta lama Belanda, tak pernah ada jalur Singosari-Lanud. Selain itu kebiasaan jalur KA yang menyuplai instansi militer di Indonesia tak ada yang memiliki jalur lingkar, sama seperti Lanud Iswahyudi, Pangkalan ARMATIM Surabaya, Lanud Supadio, dll. (Saya juga penggemar tekno militer). Tapi kemungkinan itu ada, mengingat Sta. Singosari lebih dekat ke Lanud daripada Sta. Blimbing. Nanti tak telusuri lagi kebenarannya...
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
04-10-2009, 05:06 PM
(This post was last modified: 05-10-2009, 03:47 PM by Gege.)
Pak Adif dan Pak Penjelajah yang terhormat
- Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dan keterangan saksi-saksi, tram Malang sampai ke Singosari (dekat Pabrik Kulit). Karanglo dulu merupakan salah satu halte dan dikenal dengan sebutan Halte Pasar Sore. Jadi trem tersebut tidak berhenti hingga Karanglo melainkan terus ke utara hingga Singosari. Keterangan terbaru tentang hal ini saya dapatkan dari saksi atas nama Pak Tomo, warga Lawang yang berusia 80 an tahun. Saya ketemu beliau ketika Bapak ini melihat evakuasi KA BBM di Lawang tanggal 24 September lalu. Di sebelah selatan Pabrik Kulit juga terdapat perumahan PT KA. Selain itu, dari daftar stasiun KA terbitan tahun 1977, disebutkan bahwa setelah Stasiun Karanglo, terdapat Stasiun/ Halte Mondoroko, Singosari Pasar dan terakhir Singosari (lokasi dekat Pabrik Kulit).
- Stasiun Blimbing (Staatsporwegen) mulai berfungsi sebagai tempat bertukar lok pada tahun 1960 an. Sebelumnya Malang Stoomtram memiliki stasiun sendiri yang berlokasi 15 meter di Timur stasiun Blimbing SS itu. Saat ini bangunan stasiun trem relatif masih utuh dan dijadikan rumah dinas. Satu saksi penting adalah Bpk. Pairin pensiunan KA yang menempati bangunan eks Stasiun Trem Blimbing tersebut. Perlu diingat, Stasiun Trem di Malang selalu dibangun terpisah dengan stasiun milik SS. Bagaimanapun juga dua perusahaan ini beda manajemen. SS milik pemerintah dan tram milik swasta. Inilah mengapa di Kepanjen juga terdapat dua stasiun: Stasiun KA Kepanjen (SS) dan Stasiun Trem Kepanjen (jalur Gondanglegi-Kepanjen) yang sudah dibongkar dan dulu berlokasi di SMP Islam, Jl Sultan Agung (Tepi Kali Molek). Saksi keberadan Stasiun Trem Kepanjen: Pak Munawar warga dekat lokasi dan Pak Satimo yang tinggal di dekat lokasi Stasiun Trem Sengguruh.
- Di depan stasiun Tumpang memang ada satu bangunan rumah dinas dan sekarang ditempati oleh Bpk. Sujatno yang pernah berdinas sebagai KA Stasiun Trem Tumpang.
Demikian keterangan yang saya peroleh. Jika ada saksi dan bukti-bukti yang lebih kuat maupun otentik, mohon dibagi-bagi juga.
[spoiler=Foto-foto bangunan Stasiun Trem di Blimbing, Malang:]
Bekas peron stasiun trem Blimbing
kapanlagi
20091005154438_2e_4ac9b1f645b3c.jpeg
Stasiun trem Blimbing dilihat dari sisi selatan
kapanlagi
20091005154438_63_4ac9b1f65bbad.jpeg
Bekas rel trem di depan Stasiun Trem Blimbing
kapanlagi
20091005154438_84_4ac9b1f660905.jpeg
Stasiun Trem tampak depan
kapanlagi
20091005154438_4a_4ac9b1f657139.jpeg
[/spoiler]
Salam,
Toto
Posts: 823
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
18
(04-10-2009, 05:06 PM)Toto Wrote: Pak Adif dan Pak Penjelajah yang terhormat
1) Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dan keterangan saksi-saksi, tram Malang sampai ke Singosari (Pabrik Kulit). Karanglo dulu merupakan salah satu halte dan dikenal dengan sebutan Halte Pasar Sore. Jadi trem tersebut tidak berhenti hingga Karanglo melainkan terus ke utara hingga Singosari. Keterangan terbaru tentang hal ini saya dapatkan dari saksi atas nama Pak Tomo, warga Lawang yang berusia 80 an tahun. Saya ketemu beliau ketika Bapak ini melihat evakuasi KA BBM di Lawang tanggal 24 September lalu. Di sebelah selatan Pabrik Kulit juga terdapat perumahan PT KA.
2) Stasiun Blimbing (Staatsporwegen) mulai berfungsi sebagai tempat bertukar lok pada tahun 1960 an. Sebelumnya Malang Stoomtram memiliki stasiun sendiri yang berlokasi 15 meter di Timur stasiun Blimbing SS itu. Saat ini bangunan stasiun trem relatif masih utuh dan dijadikan rumah dinas. Satu saksi penting adalah Bpk. Pairin pensiunan KA yang menempati bangunan eks Stasiun Trem Blimbing tersebut. Perlu diingat, Stasiun Trem di Malang selalu dibangun terpisah dengan stasiun milik SS. Bagaimanapun juga dua perusahaan ini beda manajemen. SS milik pemerintah dan tram milik swasta. Inilah mengapa di Kepanjen juga terdapat dua stasiun: Stasiun KA Kepanjen (SS) dan Stasiun Trem Kepanjen (jalur Gondanglegi-Kepanjen) yang sudah dibongkar dan dulu berlokasi di SMP Islam, Jl Sultan Agung (Tepi Kali Molek). Saksi keberadan Stasiun Trem Kepanjen: Pak Munawar warga dekat lokasi dan Pak Satimo yang tinggal di dekat lokasi Stasiun Trem Sengguruh.
3) Di depan stasiun Tumpang memang ada satu bangunan rumah dinas dan sekarang ditempati oleh Bpk. Sujatno yang pernah berdinas sebagai KA Stasiun Trem Tumpang.
Demikian keterangan yang saya peroleh. Jika ada saksi dan bukti-bukti yang lebih kuat maupun otentik, mohon dibagi-bagi juga.
deleted ...
Salam,
Toto
 
Duhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh... pikunnya saya. Ngaku asli Blimbing tapi lupa dengan kawasan timur Sta. Blimbing itu! Padahal disitu tempat main saya, rumah teman² SD saya. Bahkan sudah membuat denah jalur stasiun itu dan Sta. Malang saat itu. Memang masa kecil hanya dipenuhi bermain paku untuk digilas D11 atau nggandol kereta yang lagi langsir, kadang sampai ke Kotalama dan Singosari. Waktu itu saya hanya berpikir itu dulunya mungkin bagian emplasemen parkir gerbong atau tangki BBM dari Lanud.
Sudah tak terbantahkan lagi foto² mas Toto ini. Juga saya perkuat dengan status daerah itu. Gang tempat eks. Stasiun Blimbing MSM ini disebut Satria Baru. Bahkan kampung di utara stasiun ini juga disebut kampung anyar (kampung baru, red). Sebagaimana beberapa eks. lahan PJKA dan DKA yang menjadi kampung di tempat lainnya, sebutan seperti itu sering saya dengar. Dengan begitu muncul jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Percabangan dari utara Carrefour saya duga melintasi lahan pabrik Gang Satria (selatan stasiun) dan bersilang dengan jalur utama. Lalu masuk melewati ruko area stasiun Blimbing sekarang (ilustrasi menyusul). Ada 4 jalur di Sta. Blimbing MSM. Dua spoor dan 2 langsiran.
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(05-10-2009, 03:53 PM)Penjelajah Wrote: (04-10-2009, 05:06 PM)Toto Wrote: Pak Adif dan Pak Penjelajah yang terhormat
1) Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dan keterangan saksi-saksi, tram Malang sampai ke Singosari (Pabrik Kulit). Karanglo dulu merupakan salah satu halte dan dikenal dengan sebutan Halte Pasar Sore. Jadi trem tersebut tidak berhenti hingga Karanglo melainkan terus ke utara hingga Singosari. Keterangan terbaru tentang hal ini saya dapatkan dari saksi atas nama Pak Tomo, warga Lawang yang berusia 80 an tahun. Saya ketemu beliau ketika Bapak ini melihat evakuasi KA BBM di Lawang tanggal 24 September lalu. Di sebelah selatan Pabrik Kulit juga terdapat perumahan PT KA.
2) Stasiun Blimbing (Staatsporwegen) mulai berfungsi sebagai tempat bertukar lok pada tahun 1960 an. Sebelumnya Malang Stoomtram memiliki stasiun sendiri yang berlokasi 15 meter di Timur stasiun Blimbing SS itu. Saat ini bangunan stasiun trem relatif masih utuh dan dijadikan rumah dinas. Satu saksi penting adalah Bpk. Pairin pensiunan KA yang menempati bangunan eks Stasiun Trem Blimbing tersebut. Perlu diingat, Stasiun Trem di Malang selalu dibangun terpisah dengan stasiun milik SS. Bagaimanapun juga dua perusahaan ini beda manajemen. SS milik pemerintah dan tram milik swasta. Inilah mengapa di Kepanjen juga terdapat dua stasiun: Stasiun KA Kepanjen (SS) dan Stasiun Trem Kepanjen (jalur Gondanglegi-Kepanjen) yang sudah dibongkar dan dulu berlokasi di SMP Islam, Jl Sultan Agung (Tepi Kali Molek). Saksi keberadan Stasiun Trem Kepanjen: Pak Munawar warga dekat lokasi dan Pak Satimo yang tinggal di dekat lokasi Stasiun Trem Sengguruh.
3) Di depan stasiun Tumpang memang ada satu bangunan rumah dinas dan sekarang ditempati oleh Bpk. Sujatno yang pernah berdinas sebagai KA Stasiun Trem Tumpang.
Demikian keterangan yang saya peroleh. Jika ada saksi dan bukti-bukti yang lebih kuat maupun otentik, mohon dibagi-bagi juga.
deleted ...
Salam,
Toto
 
Duhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh... pikunnya saya. Ngaku asli Blimbing tapi lupa dengan kawasan timur Sta. Blimbing itu! Padahal disitu tempat main saya, rumah teman² SD saya. Bahkan sudah membuat denah jalur stasiun itu dan Sta. Malang saat itu. Memang masa kecil hanya dipenuhi bermain paku untuk digilas D11 atau nggandol kereta yang lagi langsir, kadang sampai ke Kotalama dan Singosari. Waktu itu saya hanya berpikir itu dulunya mungkin bagian emplasemen parkir gerbong atau tangki BBM dari Lanud.
Sudah tak terbantahkan lagi foto² mas Toto ini. Juga saya perkuat dengan status daerah itu. Gang tempat eks. Stasiun Blimbing MSM ini disebut Satria Baru. Bahkan kampung di utara stasiun ini juga disebut kampung anyar (kampung baru, red). Sebagaimana beberapa eks. lahan PJKA dan DKA yang menjadi kampung di tempat lainnya, sebutan seperti itu sering saya dengar. Dengan begitu muncul jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Percabangan dari utara Carrefour saya duga melintasi lahan pabrik Gang Satria (selatan stasiun) dan bersilang dengan jalur utama. Lalu masuk melewati ruko area stasiun Blimbing sekarang (ilustrasi menyusul). Ada 4 jalur di Sta. Blimbing MSM. Dua spoor dan 2 langsiran.
Iya, bener Sam. Kata orang-orang Gang Satria dulu bekas jalur trem. Yang saya penasaran, halte Glintung tuh di mana ya kira-kira? Keunikan jalur ini yang lain adalah, trem dan lori Kebonagung bersilang. Lori lewat terowongan di selatan Carrefour itu  Coba bayangin dulu gimana ramainya kalau loko trem dan loko lori sama-sama lewat bersilangan di situ
Salam,
Posts: 823
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
18
Saya menebak ada di sekitar Glintung gang II. Kenapa? Tiap hari sekolah PP jalan kaki lewat sana (Rumah di Blimbing pindah ke Bantaran) melihat ada setumpuk roda kereta di kampung situ. Sayangnya saya sudah lupa itu roda kereta lori atau tram.
Selain itu idealnya sebuah halte atau stasiun kan berada di pusat keramaian. Di sebelah utara Jl. Bantaran tahun 50an dulunya Sekolah Taman Siswa (sebelumnya MULO di era Belanda). Ada korelasi?
Soal gang Satria (lama), bangunan pabrik terpisah oleh jalan kecil yang disebut Gang Industri. Masuk saja gang Satria dari pertigaan Sabillillah, di belokan gang ada jembatan kecil yang saya curigai, mengingat kampung Satria itu munculnya juga sebenarnya belum terlalu lama. Tembok pembatasnya terlihat tua dibandingkan tembok rumah di sekitarnya.
Buat saya foto paling atraktif adalah foto mister Rob Dickinson di jalur Ponorogo-Madiun. Momen yang sangat tepat dimana kereta di jalur itu berdampingan dengan rangkaian rel lori, hanya dipisah jalan raya!.
Saya punya tambahan tips untuk mencari bekas jalur kereta, yang sebenarnya sudah sering dipraktekkan oleh rekan². Penekanan saya, kadang lebih memilih menelusuri sungai atau selokan daripada bangunan dan jalan. Selenyap apapun suatu jalur, setidaknya pondasi jembatan adalah yang paling terakhir hilang.
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
06-10-2009, 04:41 PM
(This post was last modified: 07-10-2009, 09:40 AM by Gege.)
(06-10-2009, 01:08 AM)Penjelajah Wrote: Saya menebak ada di sekitar Glintung gang II. Kenapa? Tiap hari sekolah PP jalan kaki lewat sana (Rumah di Blimbing pindah ke Bantaran) melihat ada setumpuk roda kereta di kampung situ. Sayangnya saya sudah lupa itu roda kereta lori atau tram.
Selain itu idealnya sebuah halte atau stasiun kan berada di pusat keramaian. Di sebelah utara Jl. Bantaran tahun 50an dulunya Sekolah Taman Siswa (sebelumnya MULO di era Belanda). Ada korelasi?
Soal gang Satria (lama), bangunan pabrik terpisah oleh jalan kecil yang disebut Gang Industri. Masuk saja gang Satria dari pertigaan Sabillillah, di belokan gang ada jembatan kecil yang saya curigai, mengingat kampung Satria itu munculnya juga sebenarnya belum terlalu lama. Tembok pembatasnya terlihat tua dibandingkan tembok rumah di sekitarnya.
Buat saya foto paling atraktif adalah foto mister Rob Dickinson di jalur Ponorogo-Madiun. Momen yang sangat tepat dimana kereta di jalur itu berdampingan dengan rangkaian rel lori, hanya dipisah jalan raya!.
Saya punya tambahan tips untuk mencari bekas jalur kereta, yang sebenarnya sudah sering dipraktekkan oleh rekan². Penekanan saya, kadang lebih memilih menelusuri sungai atau selokan daripada bangunan dan jalan. Selenyap apapun suatu jalur, setidaknya pondasi jembatan adalah yang paling terakhir hilang.
Kalau berdasarkan pengalaman mblusukan saya, menelusuri sungai tak selalu membantu. Terutama untuk Malang Raya yang juga memiliki jembatan lori panjang seperti di Krebet Senggrong, Balak Bumiayu maupun bekas jembatan lori Pabrik Goni (skg Yon Zipur 5) di Kepanjen (sekitar Sanggrahan), kita bisa tersesat karena jembatan-jembatan itu sekilas mirip trem.
Dalam kasus trem Malang juga, menyusur sungai saja akan sulit dilakukan untuk menelusuri jalur Gondanglegi-Kepanjen yang sudah lenyap sejak jaman Jepang. Memang ada jembatan Afiat di perbatasan Pagelaran-Kepanjen, namun untuk mencari informasi tentang lokasi jembatan inipun tidak mudah. Kebanyakan orang Gondanglegi, Pagelaran dan Kepanjen tidak tahu jembatan ini, Kalaupun ada yang tahu, mereka ada yang menganggap sebagai jembatan lori.
Foto jembatan Afiat eks jembatan jalur Gondanglegi-Kepanjen (petak jalan Jambegedhe (Kec. Pagelaran)-Sengguruh);
kapanlagi
20091007093934_show_4acbff66920f6.jpg
Selain jembatan itu, satu artefak lain tentang jalur Gdlegi-Kepanjen, saya temukan di dekat Mangir, Kepanjen. Inipun saya temukan setelah dalam beberapa kali saya lewat daerah itu.
Foto fondasi jembatan trem dekat Dusun Mangir, Kepanjen dikuatkan statusnya sebagai situs KA oleh Pak Dulani, penduduk setempat.
kapanlagi
20091007093934_show1_4acbff669e342.jpg
Metode yang tepat untuk menelusuri jalur mati KA maupun trem adalah gabungan antara penelusuran sungai, rujukan otentik pada literatur maupun peta serta google earth, mendengarkan keterangan saksi dan cerita tutur penduduk setempat. Ini tentu mesti ditambah pula dengan daya pikir kritis serta kejelian kita sebagai railfans
Salam,
Posts: 332
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
0
(06-10-2009, 04:41 PM)Toto Wrote: ............
Metode yang tepat untuk menelusuri jalur mati KA maupun trem adalah gabungan antara penelusuran sungai, rujukan otentik pada literatur maupun peta serta google earth, mendengarkan keterangan saksi dan cerita tutur penduduk setempat. Ini tentu mesti ditambah pula dengan daya pikir kritis serta kejelian kita sebagai railfans
Ilmu saya jadi bertambah nih! Menarik sekali thread ini, coba aja qta bayangkan seandainya jalur itu hidup semua, Malang mungkin bisa disebut sebagai pusat perkeretaapian kali..!!
Posts: 101
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
1
Kalau lihat di sekeliling situs ini kemungkinan besar dulu di Blimbing ini penuh dengan rel yg malang melintang. Bisa dikatakan termasuk stasiun yg sibuk. Pas aku mblusukkan di situs stasiun trem blimbing ini ada menara airnya juga dan banyak ditemukan juga bekas kayu bantalan yg dijadikan tiang jemuran. Apa mungkin di sini juga ada bekas diponya?
Posts: 823
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
18
(08-10-2009, 02:59 PM)VAN_DER_SPOOR Wrote: Kalau lihat di sekeliling situs ini kemungkinan besar dulu di Blimbing ini penuh dengan rel yg malang melintang. Bisa dikatakan termasuk stasiun yg sibuk. Pas aku mblusukkan di situs stasiun trem blimbing ini ada menara airnya juga dan banyak ditemukan juga bekas kayu bantalan yg dijadikan tiang jemuran. Apa mungkin di sini juga ada bekas diponya?
Itu gak menutup kemungkinan. Saya juga membayangkan antara dua stasiun perusahaan yang berbeda dan berdekatan, ada banyak rel langsir dan emplasemen.
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
08-10-2009, 10:39 PM
(This post was last modified: 09-10-2009, 11:29 AM by Gege.)
(08-10-2009, 10:26 PM)Penjelajah Wrote: (08-10-2009, 02:59 PM)VAN_DER_SPOOR Wrote: Kalau lihat di sekeliling situs ini kemungkinan besar dulu di Blimbing ini penuh dengan rel yg malang melintang. Bisa dikatakan termasuk stasiun yg sibuk. Pas aku mblusukkan di situs stasiun trem blimbing ini ada menara airnya juga dan banyak ditemukan juga bekas kayu bantalan yg dijadikan tiang jemuran. Apa mungkin di sini juga ada bekas diponya?
Itu gak menutup kemungkinan. Saya juga membayangkan antara dua stasiun perusahaan yang berbeda dan berdekatan, ada banyak rel langsir dan emplasemen.
Menara air di Stasiun Trem Blimbing sudah digusur. Rel-relnya sudah tertimbun tanah. Depo loko trem belum pernah saya temukan di Blimbing. Saya malah menemukan reruntuhan depo loko trem di Stasiun Gondanglegi. Sesuatu hal yang menarik untuk ditelusuri karena kantor dan stasiun utama trem Malang ada di Jagalan.
Foto reruntuhan Depo Loko di Gondanglegi:
kapanlagi
20091008223008_n689528260_1570528_4758128_4ace0580dea69.jpg
Foto kantor Malang Stoomtram Mij di sudut Jl. Halmahera dan Jl. Irian Jaya:
kapanlagi
20091009112839_show_4acebbf77c5be.jpeg
Photo taken in 1923. Copyright Prentenkabinet Leiden/ Anonymous. downloaded from www.geheugenvannederland.nl, on 13 September 2009
|