Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
#41
Maksud mas Dana, cerita saya ... yang tentang penjaga perlintasan ...? Saya buat cerita dan tokohnya itu kan langsung tulis, sesuai apa yang terlintas dipikiran saya, jadi istilahnya ndak sempat mikir2 dulu ... Dan, itu DAOP IX Jember mas Dana, bukan Madiun ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#42
"Lho, mana si Soni?" tanya Bobby ketika dia kembali ke kursinya.
"Lagi di WC," jawab Ari.
"Trus, ini kue beli di mana?" tanya Bobby lagi. "Jangan bilang muka gue bakal belepotan kue lagi.
"Jangan berisik!" seru Abby. "Ini hari ultahnya Soni, jadi tadi di Semarang gue ama si Ari turun beli kue, mo ngajak lu tapi lagi asyik ngobrol."

Tidak lama kemudian pintu otomatis terbuka. Muncul sesosok pemuda lelaki cukup tinggi. Sesampainya di kursinya, ketiga orang di sekitarnya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

"Makasih ya teman-teman," kata Soni.
"Kapan makan-makannya?" tanya Ari.
"By, mana kuenya? Dipotong sekarang yuk!" kata Bobby.

Maka Abby mengeluarkan kue ulang tahun itu dari kotak kue. Tapi, tiba-tiba kereta berhenti mendadak. Tak terelakkan, kue yang dipegang Abby terlempar ke muka Bobby yang ada di depannya. Lagi, Bobby belepotan seperti anak kecil. Tidak jauh berbeda dengannya, seorang anak kecil di kursi 7 A juga harus mengakhiri santap siangnya karena piring mi goreng yang sedang dilahapnya terjatuh ke atas T-shirt putihnya. Sang ibu membantu anaknya membersihkan tumpahan mi, sedangkan ayahnya memarahi seorang prami yang sedang berada di gerbong tersebut.

"Mbak, koq keretanya ngerem mendadak?" tanya bapak tersebut dengan nada tinggi.
"Maaf Pak, ada penumpang iseng menarik tuas rem darurat di gerbong 3," jelas si prami.

Sementara itu, bukannya membersihkan, Abby mengeluarkan BlackBerry-nya untuk memotret Bobby yang lagi-lagi belepotan kue.

"By, bantuin gue donk, jangan difoto!" pinta Bobby.
"Tuh, ada si Ari, atau Soni, kenapa harus gue?" tanya Abby balik.
"Kalo cewek lebih telaten," jawab Bobby.
"Ya udah deh, gue bantuin," kata Abby seraya menaruh BlackBerry-nya kembali ke kantong celananya. "Manja banget sih!"

Kereta mulai berjalan lagi. Tidak lama kemudian, pukul 13:50, KA 001 tiba di Stasiun Pekalongan. Anehnya, belum ada tanda kehadiran KA ABA dari Jakarta. Lima menit kemudian, kereta kembali berjalan. Lewat Stasiun Sragi dan Comal, tempat biasanya kedua KA ABA Pagi bersilangan, tetap belum terlihat rangkaian dari arah barat.

Tidak lama kemudian, ABA dari Surabaya tiba di Stasiun Petarukan. Disitulah, di suatu Sabtu subuh, tanggal 02 Oktober 2010 jam 02:45, rangkaian KA ABA Malam dari Jakarta dengan lokpen CC 203 40 menabrak rangkaian KA Bisnis Senja Utama relasi Jakarta-Semarang yang sedang menunggu untuk disusul kereta kelas Eksekutif relasi Jakarta-Surabaya tersebut.

"Wah, sudah di Petarukan!" seru Bobby.
"Mbak, mo kress kereta apa?" tanya Ari kepada prami.
"Katanya ABA dari Jakarta, telat banget," jelas prami. "Makanya kita yang ngalah."
"Boleh turun buat motret ga?" tanya Abby.
"Boleh, saya sampaikan ke masinis ya," jawab prami. "Jangan jauh-jauh dari rangkaian!"

Mereka pun turun ke peron untuk memotret "momen langka" tersebut. Di sana berdiri seorang petugas yang memberi sinyal semboyan 2C, yang mengharuskan KA ABA Pagi dari Jakarta tersebut untuk berjalan pelan. Ternyata KA 002 hari itu ditarik CC 204 18 membawa 4 K1 - M1 - 2 K1 - BP, semuanya pinjaman dari rangkaian KA Eksekutif Malam Sembrani relasi Jakarta-Surabaya. Setelah rangkaian tersebut lewat, mereka berpamitan dengan petugas tersebut dan kembali naik ke dalam rangkaian ABA. Masinis membunyikan S35 dan berangkat meninggalkan Stasiun Petarukan.

... TBC ...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#43
Jam menunjukkan pukul 3 sore, Ari dan Soni sudah tertidur seperti kebanyakan penumpang lainnya. Saat itu Abby dan Bobby, yang duduk berdampingan di depan mereka, mulai mengungkapkan rasa ingin tahu mereka.

"Bobby, boleh gue tanya sesuatu?" tanya Abby.
"Iya, ada apa?" tanya Bobby balik.
"Gue kayak pernah liat lu, tapi lupa dimana."
"Iya, gue juga penasaran. Omong-omong lu sekolah dimana?"
"Di SMA Nusantara."
"Hah, yang bener?"
"Iya, emang kenapa?"
"Berarti lu ketua OSIS tahun ini donk."

Mendengar itu keduanya lantas terdiam sejenak.

"Lu Bobby yang agak 'nakal' itu, mantan ketua OSIS juga?" tanya Abby kembali.
"Iya," jawab Bobby. "Koq ingetnya malah gue yang 'nakal', bukan gue yang 'baik'?"
"Ya iyalah. Gimana enggak? Lu ga pernah masukin baju, pasti selalu disuruh push-up. Pantes aja ototan gitu. Terus tiap ada yang ultah di kelas lu pasti dibanjur, diceplokin kue ama telur. Akhirnya lu dicorat-coret pake pylox. Gimana ga satu sekolah tahu lu gara-gara itu..." lanjut Abby. Mendengar itu, Bobby tiba-tiba tertawa kecil.
"Iya sih, emang gue sedikit nakal," kata Bobby. "Tapi gue juga anak baik, sering nolongin guru, terus juara umum lagi. Sebenernya gue disuruh push-up cuma pas di luar kelas aja, di dalem gue bebas buat ngeluarin baju, soalnya ga bikin susah guru. Malah yang ada gue sering jadi asisten. Tapi bukannya lu juga sering disuruh bending gara-gara baju keluar juga?"
"Iya, iya. Hehehe. Ternyata kita banyak kesamaan ya."

Tiba-tiba mereka terdiam dan memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Abby. Banyak kesamaan...

"Abby, ada yang gue mo omongin," kata Bobby gugup. "Mau ga lu jadi pacar gue?" tembak si cowok.

Tidak ada seorangpun yang angkat bicara. Hening di seluruh gerbong. Akhirnya, setelah cukup lama terhenti, Abby memberikan jawabannya.

"Boleh aja, kenapa enggak?" jawab si cewek.

Mendengar itu Bobby langsung berteriak kesenangan sampai semua orang di gerbong itu, termasuk Soni, terkaget-kaget dan menoleh ke arahnya. Hanya Ari yang tidurnya tidak terganggu teriakan Bobby.

"Hehehe. Maaf Pak, Bu, saya minta maaf," kata Bobby.

Akhirnya semua kembali tidur. Saat itu sudah pukul 15:40, tapi belum terlihat kereta api akan memasuki Stasiun Kejaksan, Cirebon. Menurut data yang diperoleh Bobby, KA ABA dari Surabaya seharusnya tiba di Cirebon pukul 15:09. Beruntung lok yang dipakai, CC 201 100, dapat memberi tenaga yang cukup besar untuk membawa rangkaian tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tepat jam 4 sore KA sudah melintasi daerah Losari di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saat itu Abby mulai tertidur, menyandarkan kepalanya di bahu Bobby.

"Bobby, gue ngantuk," kata Abby. "Boleh ga naro kepala di bahu lu?"
"Boleh aja," jawab Bobby. "Tapi entar kalo gue mo jalan-jalan apa bangunin lu dulu atau gimana?"
"Bangunin aja," jawabnya.

Akhirnya Abby kembali tertidur. Tinggal Bobby yang masih terbangun, menunggu detik-detik ABA tiba di Cirebon sambil mendengarkan musik lewat iPod-nya.

... TBC ...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#44
[spoiler]
(21-01-2011, 04:49 PM)dtRAiNeR Wrote: Jam menunjukkan pukul 3 sore, Ari dan Soni sudah tertidur seperti kebanyakan penumpang lainnya. Saat itu Abby dan Bobby, yang duduk berdampingan di depan mereka, mulai mengungkapkan rasa ingin tahu mereka.

"Bobby, boleh gue tanya sesuatu?" tanya Abby.
"Iya, ada apa?" tanya Bobby balik.
"Gue kayak pernah liat lu, tapi lupa dimana."
"Iya, gue juga penasaran. Omong-omong lu sekolah dimana?"
"Di SMA Nusantara."
"Hah, yang bener?"
"Iya, emang kenapa?"
"Berarti lu ketua OSIS tahun ini donk."

Mendengar itu keduanya lantas terdiam sejenak.

"Lu Bobby yang agak 'nakal' itu, mantan ketua OSIS juga?" tanya Abby kembali.
"Iya," jawab Bobby. "Koq ingetnya malah gue yang 'nakal', bukan gue yang 'baik'?"
"Ya iyalah. Gimana enggak? Lu ga pernah masukin baju, pasti selalu disuruh push-up. Pantes aja ototan gitu. Terus tiap ada yang ultah di kelas lu pasti dibanjur, diceplokin kue ama telur. Akhirnya lu dicorat-coret pake pylox. Gimana ga satu sekolah tahu lu gara-gara itu..." lanjut Abby. Mendengar itu, Bobby tiba-tiba tertawa kecil.
"Iya sih, emang gue sedikit nakal," kata Bobby. "Tapi gue juga anak baik, sering nolongin guru, terus juara umum lagi. Sebenernya gue disuruh push-up cuma pas di luar kelas aja, di dalem gue bebas buat ngeluarin baju, soalnya ga bikin susah guru. Malah yang ada gue sering jadi asisten. Tapi bukannya lu juga sering disuruh bending gara-gara baju keluar juga?"
"Iya, iya. Hehehe. Ternyata kita banyak kesamaan ya."

Tiba-tiba mereka terdiam dan memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Abby. Banyak kesamaan...

"Abby, ada yang gue mo omongin," kata Bobby gugup. "Mau ga lu jadi pacar gue?" tembak si cowok.

Tidak ada seorangpun yang angkat bicara. Hening di seluruh gerbong. Akhirnya, setelah cukup lama terhenti, Abby memberikan jawabannya.

"Boleh aja, kenapa enggak?" jawab si cewek.

Mendengar itu Bobby langsung berteriak kesenangan sampai semua orang di gerbong itu, termasuk Soni, terkaget-kaget dan menoleh ke arahnya. Hanya Ari yang tidurnya tidak terganggu teriakan Bobby.

"Hehehe. Maaf Pak, Bu, saya minta maaf," kata Bobby.

Akhirnya semua kembali tidur. Saat itu sudah pukul 15:40, tapi belum terlihat kereta api akan memasuki Stasiun Kejaksan, Cirebon. Menurut data yang diperoleh Bobby, KA ABA dari Surabaya seharusnya tiba di Cirebon pukul 15:09. Beruntung lok yang dipakai, CC 201 100, dapat memberi tenaga yang cukup besar untuk membawa rangkaian tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tepat jam 4 sore KA sudah melintasi daerah Losari di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saat itu Abby mulai tertidur, menyandarkan kepalanya di bahu Bobby.

"Bobby, gue ngantuk," kata Abby. "Boleh ga naro kepala di bahu lu?"
"Boleh aja," jawab Bobby. "Tapi entar kalo gue mo jalan-jalan apa bangunin lu dulu atau gimana?"
"Bangunin aja," jawabnya.

Akhirnya Abby kembali tertidur. Tinggal Bobby yang masih terbangun, menunggu detik-detik ABA tiba di Cirebon sambil mendengarkan musik lewat iPod-nya.

... TBC ...
[/spoiler]

lanjutannya mana? Big Grin
jadi penasaran ama mantan ketum n ketum sekarang yang ga kenal hehe...

Reply
#45
(21-01-2011, 05:31 PM)sochdi Wrote: [spoiler]
(21-01-2011, 04:49 PM)dtRAiNeR Wrote: Jam menunjukkan pukul 3 sore, Ari dan Soni sudah tertidur seperti kebanyakan penumpang lainnya. Saat itu Abby dan Bobby, yang duduk berdampingan di depan mereka, mulai mengungkapkan rasa ingin tahu mereka.

"Bobby, boleh gue tanya sesuatu?" tanya Abby.
"Iya, ada apa?" tanya Bobby balik.
"Gue kayak pernah liat lu, tapi lupa dimana."
"Iya, gue juga penasaran. Omong-omong lu sekolah dimana?"
"Di SMA Nusantara."
"Hah, yang bener?"
"Iya, emang kenapa?"
"Berarti lu ketua OSIS tahun ini donk."

Mendengar itu keduanya lantas terdiam sejenak.

"Lu Bobby yang agak 'nakal' itu, mantan ketua OSIS juga?" tanya Abby kembali.
"Iya," jawab Bobby. "Koq ingetnya malah gue yang 'nakal', bukan gue yang 'baik'?"
"Ya iyalah. Gimana enggak? Lu ga pernah masukin baju, pasti selalu disuruh push-up. Pantes aja ototan gitu. Terus tiap ada yang ultah di kelas lu pasti dibanjur, diceplokin kue ama telur. Akhirnya lu dicorat-coret pake pylox. Gimana ga satu sekolah tahu lu gara-gara itu..." lanjut Abby. Mendengar itu, Bobby tiba-tiba tertawa kecil.
"Iya sih, emang gue sedikit nakal," kata Bobby. "Tapi gue juga anak baik, sering nolongin guru, terus juara umum lagi. Sebenernya gue disuruh push-up cuma pas di luar kelas aja, di dalem gue bebas buat ngeluarin baju, soalnya ga bikin susah guru. Malah yang ada gue sering jadi asisten. Tapi bukannya lu juga sering disuruh bending gara-gara baju keluar juga?"
"Iya, iya. Hehehe. Ternyata kita banyak kesamaan ya."

Tiba-tiba mereka terdiam dan memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Abby. Banyak kesamaan...

"Abby, ada yang gue mo omongin," kata Bobby gugup. "Mau ga lu jadi pacar gue?" tembak si cowok.

Tidak ada seorangpun yang angkat bicara. Hening di seluruh gerbong. Akhirnya, setelah cukup lama terhenti, Abby memberikan jawabannya.

"Boleh aja, kenapa enggak?" jawab si cewek.

Mendengar itu Bobby langsung berteriak kesenangan sampai semua orang di gerbong itu, termasuk Soni, terkaget-kaget dan menoleh ke arahnya. Hanya Ari yang tidurnya tidak terganggu teriakan Bobby.

"Hehehe. Maaf Pak, Bu, saya minta maaf," kata Bobby.

Akhirnya semua kembali tidur. Saat itu sudah pukul 15:40, tapi belum terlihat kereta api akan memasuki Stasiun Kejaksan, Cirebon. Menurut data yang diperoleh Bobby, KA ABA dari Surabaya seharusnya tiba di Cirebon pukul 15:09. Beruntung lok yang dipakai, CC 201 100, dapat memberi tenaga yang cukup besar untuk membawa rangkaian tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tepat jam 4 sore KA sudah melintasi daerah Losari di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saat itu Abby mulai tertidur, menyandarkan kepalanya di bahu Bobby.

"Bobby, gue ngantuk," kata Abby. "Boleh ga naro kepala di bahu lu?"
"Boleh aja," jawab Bobby. "Tapi entar kalo gue mo jalan-jalan apa bangunin lu dulu atau gimana?"
"Bangunin aja," jawabnya.

Akhirnya Abby kembali tertidur. Tinggal Bobby yang masih terbangun, menunggu detik-detik ABA tiba di Cirebon sambil mendengarkan musik lewat iPod-nya.

... TBC ...
[/spoiler]

lanjutannya mana? Big Grin
jadi penasaran ama mantan ketum n ketum sekarang yang ga kenal hehe...

Sabar, lagi disusun. Kemungkinan yang berikutnya ini bakal jadi ending dari seluruh cerita. Kan keretanya sudah hampir sampai Cirebon, tinggal 2-3 jam perjalanan...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#46
Singkat kata, jam 16:15 KA tiba di Stasiun Kejaksan, masuk jalur 2. Terlihat KA Cirebon Ekspres dari Jakarta juga baru tiba di jalur 3. Terjadi penumpukan penumpang yang cukup banyak karena, selain penumpang Cirebon Ekspres, cukup banyak juga penumpang ABA yang turun di sana. Akhirnya, pukul 16:25 kereta berangkat kembali menuju Jakarta. Terlihat Bobby mengeluarkan HP-nya untuk membuka forum S35. Beberapa dari hasil pengamatannya sepanjang perjalanan ia tuliskan di forum tersebut. Tetapi ia masih mempersiapkan bagian yang terpenting: laporan perjalanan. Tidak hanya sekedar laporan seperti jam keberangkatan dan kedatangan di setiap stasiun pemberhentian, tapi juga foto-foto dan paket-paket pengalaman yang ia telah hadapi, dan yang masih akan dia hadapi, sepanjang perjalanan menggunakan KA ABA.

Tak terasa sudah pukul 17:15 dan Bobby ingin beranjak ke bordes. Dari dulu ia ingin memotret moment saat KA yang ditumpanginya berpapasan dengan kereta malam legendaris, Bima tujuan Surabaya Gubeng. Ia pun membangunkan Abby, yang masih tertidur dengan kepala di bahu Bobby.

"By, sorry ganggu," kata Bobby. "Gue pengen ke bordes, siap-siap motret Bima. Mo nemenin ga?"
"Boleh aja," kata Abby.

Maka mereka beranjak dari kursi mereka ke bordes, meninggalkan Soni dan Ari yang masih tertidur pulas. Di bordes itulah mereka kembali mengobrol.

"Kapan pulang ke Bandung?" tanya Bobby.
"Sebenernya sih juga mo ini malem," kata Abby. "Gue pikir bakal jalan sendiri, tapi..."
"Mo gue temenin?" tanya Bobby.
"Lho, bukannya emang lu mo pulang ni malem?"
"Iya. Maksudnya duduk bareng lagi?"
"Yup, aku mo duduk bareng kamu."

Terlihat mulai ada pergantian kata sapa diantara mereka. Tidak lama kemudian, kereta melewati Stasiun Cikampek, tempat KA lintas utara dan selatan berpisah dengan KA tujuan Bandung. Saat itu jam menunjukkan pukul 17:15. Terlihat dari arah barat KA Argo Parahyangan tujuan Bandung menunggu di jalur 6 untuk bersilang dengan KA ABA, yang berjalan terus mengejar keterlambatan. Tidak lama setelah itu muncul sebuah lokomotif CC 204 membawa rangkaian kelas Eksekutif. Itulah yang ditunggu-tunggu Bobby selama ini. Diapun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dinilainya cukup langka itu. Apalagi, KA yang ditumpanginya itu memiliki nilai historis yang cukup tinggi: Argo Bromo Anggrek.

Jam 6 tepat kereta Argo Bromo Anggrek melintasi Stasiun Bekasi. Pemandangan langit, yang tadinya cerah sepanjang perjalanan, mulai berubah menjadi gelap. Selain itu, mulai terlihat rentangan kabel listrik di atas rel kereta api; pemandangan yang saat itu hanya ditemukan di daerah Jabodetabek. Saat itu Ari terbangun dari tidurnya dan, melihat kursi di depannya ditinggal pemiliknya, ia pergi mencari ke mana teman-temannya itu pergi. Ternyata dugaannya benar, Bobby dan Abby sedang nongkrong di bordes, berduaan saja.

"Udah dibilangin, kalo mo pacaran di dalem aja. Di bordes ga ada AC!" kata Ari.
"Ih, siapa yang pacaran?" tanya Abby pura-pura bukan pacar Bobby.
"Ya, biasanya kan kalo cowok-cewek duaan kan namanya pacaran," jawab Ari.
"Udah, lu siap-siap aja. Udah lewat Bekasi nih," kata Bobby.
"OK, OK!" kata Ari.

Maka Ari kembali ke tempat duduknya. Sepeninggalan Ari...

"By, biasa-biasa aja ya, jangan sampe ketauan mereka, kalo kita udah jadian," pinta Bobby.
"Sip deh!" jawab Abby singkat.

Jam 18:20 akhirnya KA ABA lewat di Stasiun Cipinang, sebelum tiba di Stasiun Jatinegara, telat sekitar 30 menit dari jadwal seharusnya sekitar jam 17:40. Melihat waktu yang tinggal 40 menit dari jam keberangkatan KA Argo Parahyangan yang ingin ditumpangi keduanya, Abby pun bertanya kepada Bobby apakah mereka akan turun di situ.

"Kamu yakin sempet naik GoPar jam 7 kalo turun di Gambir?" tanya Abby.
"Sempet lah," jawab Bobby. "Kan masih setengah jam lebih. Masih bisa beli makanan lagi. Yuk beresin barang dulu, biar bisa nunggu di bordes."

Maka, sambil menunggu keberangkatan, Bobby dan Abby kembali ke tempat duduk mereka untuk membereskan barang-barang bawaan mereka: satu koper kecil, satu backpack, dan satu camera bag milik Bobby dan satu koper milik Abby. Semuanya dibawa ke bordes. Ari juga ikut membereskan barangnya dan membangunkan Soni.

"Lu mo tinggal di kereta, jadi cleaning service?" tanya Ari.
"Emang udah di Jatinegara?" tanya Soni.
"Iya, tuh si Bobby ama ceweknya aja udah siap-siap di bordes."
"Eh, jadian juga mereka akhirnya?"
"Iya tuh keliatannya."

Akhirnya, lima menit sesudahnya KA ABA kembali melanjutkan perjalanannya ke stasiun terminusnya, Stasiun Gambir. Melewati percabangan ke Stasiun Pasar Senen, lalu melintasi Stasiun Manggarai, tempat bertemunya kereta dari dan ke Bogor, Tanah Abang, dan Stasiun Jakarta Kota via Gambir. Disini juga kereta-kereta tujuan Gambir mulai naik ke atas jembatan rel kereta api yang menghubungkan Stasiun Manggarai dengan Stasiun Jakarta Kota. Singkat kata, jam 18:35 KA Argo Bromo Anggrek dari Stasiun Surabaya Pasar Turi mengakhiri perjalanan panjangnya di jalur 2 Stasiun Gambir. Walau terlambat hampir satu jam, tapi yang namanya railfan, semakin lama naik kereta semakin senang.

Perhatikan jalur 2 dari selatan masuk kereta api Argo Bromo Anggrek dari Surabaya.

Terlihat sekilas oleh Bobby, Abby, Ari dan Soni bahwa di jalur 4 telah tersedia rangkaian kereta api Argo Parahyangan tujuan Bandung. Maka keempat pemuda tersebut turun ke lantai dasar bangunan bernuansa hijau tersebut. Disanalah mereka berpisah; Ari dan Soni berangkat ke rumah Soni bersama ayah Soni, yang baru pulang kerja, sedangkan Abby dan Bobby pergi ke loket penjualan karcis Argo Parahyangan tujuan Bandung.

"Kapan-kapan kalo mo joyride lagi infoin kita-kita ya!" seru Ari.
"Oke bos!" jawab Bobby.

Setelah itu Bobby dan Abby membeli tiket Argo Parahyangan, kelas Eksekutif.

"Gerbong 2, 7 C-D. 130 ribu," kata petugas loket.
"Udah, aku aja yang bayar," kata Bobby.
"Bener nih? Makasih ya," kata Abby.

Setelah membayar, keduanya kembali naik ke peron Stasiun Gambir. Tepat pukul 7 malam, kereta diberangkatkan. Kejutannya, lokomotif yang berdinas lagi-lagi CC 201 100, seakan tidak lelah menunaikan tugasnya. Tepat jam 10 malam, rangkaian KA Argo Parahyangan tersebut tiba di Stasiun Bandung. Itulah akhir perjalanan Abby dan Bobby menggunakan kereta api, tapi permulaan dari masa pacaran mereka berdua.

Setiba di rumah, Abby menulis diary mengenai perjalanan hari itu dan memberinya judul: "ABA - Argo Bobby-Abby". Setelah selesai, disimpannya baik-baik untuk kemudian diberikan kepada Bobby. Selain itu, esoknya, ketika ia dan kawan-kawannya diberi tugas membuat karangan tentang liburan mereka, Abby mengumpulkan diary tersebut dan mendapat nilai yang terbaik.

Setelah pertemuan di atas kereta Argo Bromo Anggrek itu, Bobby dan Abby jadi sering terlihat ngobrol berduaan, seperti di sekolah saat waktu istirahat, atau di luar sekolah, seperti ketika nongkrong di Stasiun Bandung sambil memperhatikan lalu lintas KA disana.

THE END
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#47
^^

baru ngerapet ke rumah abis naek 143 dikasih cerpen ABA..
cakep kang..
haha..

*tapi ngeri juga awalnya, cerita 2 orang pemuda (saya kira maho)Ngakak
Reply
#48
(22-01-2011, 11:32 AM)omaniax Wrote: ^^

baru ngerapet ke rumah abis naek 143 dikasih cerpen ABA..
cakep kang..
haha..

*tapi ngeri juga awalnya, cerita 2 orang pemuda (saya kira maho) [Ngakak

Hehe, jadi usul bagus nih. Rencananya entar (kalo sempet) bakal bikin cerita lagi, re-gathering keempat tokoh ini (kemungkinan di BD awal ceritanya) dan setiap cowok yang masih single (Ari dan Soni) sudah punya cewek masing-masing (tapi tema cerpennya bakal ganti, bukan cuma jatuh cinta di atas kereta api)...

Ayo ditunggu cerpen-cerpen dari RF yang lainnya!
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
#49
KARENA DIRIKU YANG TERPENJARA
Kisah ini kisah fiktif belaka yang aku karang bukan bermaksud menyudutkan sesuatu yang tanpa kita sangka ada sebuah kasus yang memang salah satunya sempet dijalani oleh ybs, tapi yang jelas gak terkait dengan KA sama sekali. Kisah fiktif ini juga ingin aku utarakan kepada teman – teman sekalian yang memang mungkin belum tahu dengan perkembangan KA belakangan ini bagaimana asalnya muncul dan terjadi. Kalau memang ada kesalahan dari aku tolong diralat yah…

20 tahun sudah aku mendekam di sebuah tahanan yang berada di sebuah kota. Oleh karena sebuah kasus aku mendekam dengan segala tuntutan yang telah kujalani, ditambah pula masa grasi yang dating mengalir bagaikan air yang kering. Tidak membawa suatu keberuntungan bahwa kesalahan yang kujalani harus kuterima balasannya yang setimpal. 20 tahun sudah usiaku digeruguti dalam jeruji besi, mendalami banyak cobaan dari sanak kerabat yang kukenali, mulai dari yang kelas teri hingga kelas kakap.

Puji syukur atas kehadiran Illahi bahwa pada hari ini pun aku telah disambut oleh keluarga tercinta meski beberapa sudah tidak dapat kutemui hanya dengan prasasti yang bertuliskan nama “bin” dan “binti” di tengahnya. Satu – persatu kurenungi kenapa harus terjadi sebelum dapat menatapku bebas. Udara segar ibukota di saat kukembali tak ubahnya Jakarta tempo dulu. Banyak kutemui segala perubahan yang pernah kulihat 20 tahun silam, di tahun 1991 tepatnya. Yang kutahu hanyalah sebuah restoran cepat saji yang kala itu baru dibuka di bilangan Thamrin dengan kemegahan gedung pencakar langitnya yang konon sebagai ikon bangunan masa kini pada kala itu. Masyarakat remaja tak kujumpai lagi dengan belaian rambutnya ala Sandra Bullock atau pun juga Demi Moore Melainkan dengan rambut poninya dan juga tidak lagi kujumpai dengan rambut ala spike dengan setelan kemeja yang dimasukkin membawa papan skate boardnya melainkan penampilan konon kata masyarakat tertentu dinamai model harajuku.

Itulah sekilas gambaran yang kuterima di saat perjalanan pulangku ke rumah yang pernah menaungiku sepanjang hidupku. Istirahat disambut sanak kerabat yang berbahagia tatkala ketiban durian runtuh dari pohonnya. Walah… seperti inikah para anggota keluargaku kini? Wajah yang menua dikala dekade remaja ber-break dance kini telah beruban dan yang dahulu ditontoni serial Unyil dan si kecil Jordi kini telah beranjak remaja. Istirahat dan panjatan do’a syukuran dengan iringan sebuah pengajian digelar di halaman depan rumahku.

Hari esoknya naluriku berkata ingin sekali melihat rangkaian KA di stasiun Gambir. Aku amat sangat terkejut dengan segala yang ada. Apa yang dikatakan temanku ini bahwa “Sekarang dari Kota kalo ke Manggarai lewat atas!”katanya. Benar saja, stasiun kini telah berubah wajah dari yang terakhir kulihat. Terus apa itu lokomotif yang mukanya gepeng kayak wajah TGV? Jawabnya itu lok CC 203 yang telah diresmiin oleh Presiden kita alm. Soeharto. Aku memang sudah mengetahui kalau pak Harto telah wafat karena kala itu disiarkan dari layar TV rutan. Lebih terkejutnya lagi kalau si bodi K9 ini telah ngalur kidul di Gambir yang ternyata lemayani rut eke Surabaya sebagai Argo Bromo Anggrek. “Perasaan koq KRL Ekonomi berhenti di mari deh??”heranku bertanya-tanya. “Wah… iya lupa aku kasih tau kalau KRL Ekonomi udah gak berhenti lagi di Gambir, termasuk juga KRL Ekonomi AC!”terangnya. “Ekonomi AC??? Apa itu?”tanyaku lagi. Pas mau dijawab melintas pula KRL Ekonomi AC dengan rangkaian Serie Tokyu 1000. Wajahku seperti terheran koq bisa ada rangkaian yang mirip seperti yang aku naikin waktu berada di kota Tokyo. Ternyata dijelasin oleh temanku itu kalau rangkaian KRL AC imporan dari Jepang dating bertahap sejak pertengahan tahun 2000 silam. Hingga pada akhirnya di tahun 2007 jelang akhir dioperasiin rangkaian KRL AC yang berhenti di tiap stasiun. Oleh pak Akhmad Sujudi kala itu selaku Kahumas Daops I Jakarta dinamain KRL Ekonomi AC.

Tanpa banyak komentar lagi, aku pun kembali ke lantai dasar untuk membeli karcis lembaran yang uheranin di loket. Mengapa? Karena dimaklumin kala aku sebelum masuk penjara tampilan karcisnya itu masih yang hijau muda, begitu pun KRL Bisnis Pakuan dengan harga Rp 4.000,00-nya per orang 1x jalan. Ternyata sudah banyak stasiun persinggahan selepas Gambir menuju Manggarai. Yang diheraninku juga kenapa jelang sinyal masuk Manggarai nih KRL berhenti lama? Ternyata ada KA Argo Parahyangan melintas dari Bandung. Lepas dari itu barulah langsir di stasiun Manggarai. Perjalanan sungguh cepat dan aku menikmati dinginnya AC seperti yang kurasakan waktu di kota Tokyo. Saat perjalanan menempuh arah Jatinegara aku pelototin terus pembangunan rel dwiganda seperti yang dituturkan oleh temanku itu. GILA!!!! Begitulah yang mampu kututurkan. Ternyata PJKA banyak kemajuannya. Eitss….. temanku mengelaknya dengan nama PT. KA. Oiya??? PT sekarang?? Pemandangan yang sama seperti 20 tahun silam menyelimuti pikiranku. Hanya saja ada jembatan layang di sisi barat stasiun Klender Baru yang ternyata bikin aku cukup terkejut. Dahulu kukenal dengan kemacetannya tiap ada KA lewat. Apalagi dengan banyak KRL yang melintas. Aku masih mengira akan berpapasan dengan KRD baik itu Ekonomi dengan 3 K3nya maupun Bisnis. Lupa aku jumlahnya berapa di tiap rangkaiannya.

Tiba di stasiun Bekasi aku diserbu dengan banyaknya tukang ojek yang aku kira masih ada tukang becak menawari para penumpangnya. Dimaklumin karena kala itu terakhir aku ke stasiun Bekasi pada tahun 1988 masih belum ada ojek tuh… Banyak KA yang melintas, aku potret satu – persatu dengan handphone milikku. Aku sudah mengenal handphone terlebih yang bisa memotret karena lingkungan di penjara memang beberapa rekannya bahkan bapak sipir memiliki handphone. Tapi tentu tidak dipergunakan saat sedang dinas menjaga aku dan kawan – kawan 1 penjara. Melintaslah rangkaian KA yang dinamain Argo Muria di jalur 5 stasiun Bekasi. Tentu dibuatnya aku takjub karena kecepatan dan jumlah rangkaiannya. Maklum siaran di TV penjara jarang sekali memutar KA. Stasiun Bekasi cukup banyak perubahan yang kala itu peronnya masih rendah.

Kembali ke Jakarta dengan menggunakan KRL Ekonomi AC. Lha koq kayak gini yah… “Kenapa para calon penumpangnya seperti kayak naik KA Ekonomi dari daerah aja? Pada berebut masuk saling keinjek – injek kedorong dan yang mau keluar jadi pada susah?”heranku dengan sangat. “Yah… beginilah budaya kita kawan!!”tegasnya dengan penuh curahan hati. Teman – teman komunitasku sudah pernah mencoba dengan segala cara, tapi yah… gini deh kalau sudah membudaya yang sulit dihapus… Sekilas aku pun membayangkan bagaimana aku waktu di kota Zurich di Swiss yag pada tertib naik – turun KA. Di dalam perjalanan AC agak kurang dingin sehingga di antara kami cukup kepanasan. Kondisi penuh dan berdiri begini tidak kusangka kalau Indonesia bisa menikmati perjalanan KRL Jabodetabek yang ber-AC sambil berdiri. Dimaklumin karena sebelum masuk penjara cuma ada KRL Pakuan Bisnis itupun dijatahi joknya sesuai nomor tempat duduk dan cuma 2x pp tiap harinya. Sempet terheran melihat stasiun – stasiun persinggahan kecuali Kramat yang bisa dijangkau oleh rangkaian paling belakang untuk keluar masuk penumpang. Padahal waktu KRD Ekonomi masih jaya – jayanya dengan jumlah 3K3 panjang peronnya ngepas banget. Oya lalu ke mana sisa rel percabangan di stasiun Klender? Itu dia… sudah berubah jadi cuma 2 saja, jawab temanku. “Begitu juga stasiun Kalibata juga 2 rel KA saja…”jelasnya.

Perjalanan berakhir di stasiun Jatinegara. Kebetulan ada KRL Ekonomi AC Ciliwung yang berada di jalur 3. Tanpa membeli karcis langsung saja kami naikin. Kondisinya amat sangat penuh yang kami pantau. Lama sekali koq ini berangkatnya??? Sama aja seperti waktu masih dekadenya PJKA. Ternyata ada KA Taksaka dulu yang baru dating dari Yogyakarta karena ada rinja atau rintangan perjalanan. Betapa bagusnya rangkaian dengan bodi sebagian K8, begitulah temanku menuturkannya kepadaku. Si Taksaka itu berlaju, kami pun gak lama juga berangkat menuju stasiun Manggarai. Rute kami akhiri di stasiun Manggarai untuk kemudian berlanjut menuju halte busway Manggarai. “Kita lagi enggak di luar negeri khan nih?”tanyaku terheran – heran karena dinginnya bus dengan kenyamanan posisi duduk yang paralel dan suara pemberitahuan shelter mana saja yang disinggahin. Mantap deh!! Meski sempet lama nunggu di halte Manggarai, tapi enggak berhenti membuatku takjub dengan Jakarta sekarang ini meski kemacetan parah selalu ada di beberapa ruas jalan raya. Di dalam perjalanan aku melihat kemegahan gedung Landmark yang terakhir kulihat ada 1 saja. Sekarang ada 2, ditambah di seberangnya ada bangunan menjulang tinggi dengan sudut lancip di puncaknya. Namanya pun BNI ’46. Sambil dalam perjalanan temanku membicarakan sosok para artis yang belum gitu lama meninggal. Sebut saja itu yang bikin akau terkejut macem Taufik Savalas, Leysus, Timbul, Tino Karno dan Basuki. Duh… waktu mereka begitu cepat yah buat menghibur masyarakat…

Tiba di stasiun Tanah Abang aku terkejut bukan main dengan tampilan stasiun yang bertingkat dan peronnya yang tinggi. Jauh banget dari yang kulihat sekitar 23 tahun silam. Bersama temanku, aku pun sama – sama beli karcis Rp 1.500,00 ke arah Serpong. Lho koq??? “Apa gak baiknya beli Ciujung aja supaya gak desek2an sampai ke atap?”heranku. “Itu kalau naik Langsam seperti yang pernah kamu naikin waktu itu..”jawabnya. Saat KRL Ekonomi tiba di peron 6 memang jumlah yang keluar sangat membeludak. Makanya aku berdua agak menepi ke sisi peron 5. -+ ½ jam kemudian kami pun diberangkatin ke arah Serpong dengan pemandangan yang bagiku tidak wajar. Gak kusangka petak rel ke Serpong sudak elektrifikasi dan ganda pula. Di ruas Pejompongan ada jembatan layang tol dan arterinya yang sulit kukata – kata. Sambil berdiri di pintu KRL, selepas stasiun Palmerah aku menyaksikan ruas jalan raya Jl. Tentara Pelajar yang terbentang sepanjang pinggir rel KA yang dulu masih berupa pemukiman kumuh. Apalagi PJL Permata Hijau yang nan indah namun ramai arus kendaraan bermotor. Saat melintasi kawasan Tanah Kusir takjub melihat KRL Ekonomi AC melintas dari arah Serpong karena sebelum dipenjara, aku belum pernah melihat KA melintas dari lawan arah karena masih tunggal. Apalagi PJL di Ulujami kini sudah ada palang lampu dan pintu perlintasan resmi meski terlihat kemacetan yang cukup parah. WAH!!! Di sini lokasi kejadian Tragedi Bintaro yang aku dengar yah??? Persis ada bangunan SMAN 87 di mana konon yang aku dengar pernah anak – anak muridnya memabtu menolong para korban.

Reply
#50
Bagian 2:
Tibalah aku di stasiun Pondok Ranji sebagai akhir perjalananku berdua untuk ke pinggiran Jakarta. Aku pun diajaknya ke Plaza Bintaro di mana kami siap bersantap siang. Dengan ojek bertarif Rp 5.000,00 saja per orangnya kami ke perbelanjaan di Bintaro Jaya ini. Cukup takjub melihat bangunan seperti Plaza Bintaro karena ada bangunan modern yang baru kumasukin di Jakarta dan sekitarnya ini. Terakhir aku cuma sebatas menikmati Gajah Mada Plaza dan Ratu Plaza. Kami santap siang di sebuah restoran siap saji yang tentunya sudah sangat aku rindukan. Kami ngobrol sejenak dengan apa itu Mal Pondok Indah. Mal ini lebih bergengsi ketimbang Plaza Bintaro yang mungkin cuma dikenal oleh warga Jakarta dan sekitarnya saja. Bahkan kalau perlu cuma warga Tangerang dan Jakarta saja. Mal yang diresmiin pada bulan Oktober 1992 itu pun telah banyak perubahan. Kelar itu kami keliling sesaat dan sedikit berbelanja Breadtalk buat sekedar cemilan di perjalanan nantinya.

Dari Plaza Bintaro kami naik angkot 09 ke arah persimpangan penyeberangan motor di perbatasan antara Sektor 7 dengan Sektor 9. Bayar Rp 2.500,00 per orang, kami lanjut naik angkot lagi ke arah stasiun Jurang Mangu. Setelah lama menunggu ramainya penumpang angkot, kami pun berangkat dengan menempuh perjalanan yang lancar sampai tiba di turunan jembatan layang di atas petak rel KA. Kami ke stasiun tersebut menanyakan jam berapa ada lagi rangkaian KA yang melintas. Sekilas aku sungguh takjub melihat kemegahannya dan kerapihannya. Dengan mengusung gaya modern minimalis dan sedikit permainan unsur gaya Post Modern stasiun ini memang masih tergolong sepi, karena kenapa? Warga masyarakat Jabodetabek yang berduit banyak masih mengandalkan kendaraan peribadi. "Berbeda dengan kita yang hidup pas - pasan tergolong dengan angkutan umum yah... dan lagi khan... kita penggila KA..."curhatnya. Emang bener... Kalau sampai mengandalkan banyak angkutan umum pasti bus Trans Bintaro beroperasi tiap 1/4 jam 1x deh... karena saking banyak peminatnya. Berhubung KD3 Langsam gak singgah di stasiun ini, maka kami pun menunggu cukup lama sambil makan si roti Breadtalk yang kubeli itu.

-+ 3/4 jam kemudian diumumin lewat pengeras suara kalau KRL Ekonomi dari Serpong baru saja melewati stasiun Sudimara. Saatnya untuk beranjak... Benar saja KRL pun tiba, kami pun dibawanya ke arah stasiun Tanah Abang. Sambil di dalam perjalanan, temanku ngejelasin kalau kesalahan dari PT. KA itu mengenai pelayanan para penumpang KRL Jabodetabek. Seringnya gangguan sinyal, wessel yang bermasalah, jam - jam pengoperasian KRL Ekonomi AC macem Ciliwung sebagai Lingkar Jakarta dan masih banyak lagi menjadi kendala dalam persaingan dengan bus Trans Jakarta yang notabene enggak perlu bayar lagi jika gonta - ganti Koridor. PT. KA Daops I Jakarta dalam hal ini PT. KCJ belum menerapkan cara kayak begitu meski sudah sejak tahun 2007 ticketing dipajang. "Seperti yang kamu lihat, di pintu keluar - masuk peron saja berdiri tegap khan ticketing-nya itu?"tanyanya. Hujan pun mengguyur selama di dalam perjalanan menuju Jakarta. Praktis kami yang sudah cukup kelelahan dan duduk di dekat pintu KRL merasa rada kebasahan. Yang jualan, yang ngemis, yang ngamen dan yang menyapu lantai masih mewarnai rangkaian KA Klas Ekonomi seperti yang kurasain langsung di dekade tahun 1980-an. Blom ada peningkatan yang berarti. Apalagi warna catnya si KRL Ekonomi yang kami naikin ini berubah menjadi putih bergaris merah. Padahal dulu catnya merah keseluruhannya. Rangkaian masih sama seperti yang kunaikin terakhir kalinya.

Tiba di stasiun Tanah Abang, kami terheran - heran dengan rangkaian KD3 Langsam yang tidak biasanya berada di jalur 5. Usut punya usut ternyata di Kampung Bandan terjadi rob. Si Langsam yang harusnya ke Ps. Senen justru harus melewati petak rel Manggarai lanjut Jatinegara dan Ps. Senen. "Tadi ada yang harusnya ke Kota dialihin ke Manggarai trus lewat Gambir..."komen salah seorang calon penumpang. Wah... kebetulan donk kita bisa ke Ps. Senen!! "Ayo buruan masuk, tuh udah diumumin bentar lagi mau berangkat!"suruhnya dia. Alih - alih tiket suplisi Rp 5.000,00 per penumpang kami pun dibawanya ke arah Ps. Senen. Perjalanan sih rada tersendat karena padatnya perjalanan KA meski itu sudah siang. Kenapa? Karena cukup banyak perjalanan KA lintas selatan yang masih kena rinja seperti Taksaka kemarin. Kabarnya ada banjir besar lahar dingin di antara petak rel KA antara Kutoarjo - Yogyakarta yang membuat sebagian besar perjalanan KA harus berlaju < 70 km per jam sepanjang sekitar 1 km. Belum lagi di pantura banjir bandang karena rob di stasiun Semarang Tawang. Praktis sebagian besar perjalanan KA luar kota yang jarak jauh terganggu. -+ 1 jam kemudian hehe... kami baru tiba di stasiun Jatinegara.

Karena kondisiku cukup lelah pasca keresidivisan diriku ini, maka aku menyuruh temanku agar turun saja di stasiun Jatinegara. Aku ingin secepatnya pulang dulu ke rumah. Eits... ternyata pemandangan pun sudah cukup banyak yang berubah begitu keluar dari stasiun x-Meester Cornelis tersebut. Taksi pun berlaju di ruas jalan yang cukup macet itu. Aku naikin taksi yang telah berubah wajah yang dulu tampilannya cuma sekedar warna merah oranye dan hijau daun (Kosti Jaya) kini banyak merk taksi berkeliaran. Bingung aku memilihnya. Saat menempuh perjalanan cukup jauh, kami melewati Jl. Matraman Raya tepat di kolong jembatan KA. Selain catnya berubah menjadi tampilan warna krem, wajah sudut ruas jalan di tengah - tengah pun berubah pula karena buat kepentingan laju kendaraan bus Trans Jakarta. "Ada yang gandeng pula yah?"tanyaku. Aku terheran - heran kenapa bus tingkat PPD gak melintas juga, dijawablah oleh termanku kalau bus tingkat sejak tahun 1997 sudah dihapus dari peredarannya. Bahkan se-Indonesia sudah enggak ada bus tingkat. Sedihlah aku... Padahal aku masih mengenang saat berada di dalam bus itu, apalagi di Zurich dan Amsterdam sempat merasakan rangkaian KA komuter double decker.

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)