27-05-2010, 07:09 PM
ga setuju...soalnya sering ngadat juga diselnya....apa lagi diesel model sekarang sering cepat panas....
|
Jabodetabek Semua KRD, Setuju?
|
|
27-05-2010, 07:09 PM
ga setuju...soalnya sering ngadat juga diselnya....apa lagi diesel model sekarang sering cepat panas....
29-05-2010, 08:00 AM
(This post was last modified: 29-05-2010, 08:02 AM by Dana Komuter.)
Menyinggung ketidak setujuan KRD, semua tentu sudah pada tahu satu2nya petak rel yang masih dipijaki perjalanan komuter berupa Kereta diesel cuma lintas Rangkas Bitung - Tanah Abang - Jakarta Kota / Ps. Senen pp. Memang sih... berasa banget waktu masih jadi komuter Serpoing - Jakarta betapa lamanya nunggu tibanya si KD3 di stasiun Kebayoran ketika hendak masuk ke stasiun Pd. Ranji. Sudah 5 menitan gitu... pintu kereta KRL masih saja belum menutup. Kata si KS Kebayoran masih menunggu masuk Langsam di Pd. Ranji. Waduh... Dengan berharap di tiap petak stasiun Serpong - Tn. Abang punya rel cabang, kayaknya semua perjalanan KRL bisa ngebablasin semua KD3 yg selalu berlaju kelamaan. Malah yg ngeselin kalo si sepuh BB 304 mogok...
Sebetulnya alangkah lebih efisiennya petak rel Serpong - Tn. Abang dikembalikan lagi dg dilalui KRD lagi atau KD3 aja yah selagi menunggu proses elektrifikasi yang konon bakal sampai ek Maja bahkan ke Rangkas Bitung. Bagaimana menurut teman2? Sebagai mantan rockers wilayah barat Jakarta masih terasa menjemukkan menunggu terus si KD3 Langsam tiba di tiap stasiun yg seharusnya bisa disusul semua KRL kalau saja tiap stasiun persinggahan ada rel percabangan... Itu pun dg asumsi si KD3 gak berjumlah 12 K3. Memang sih... kelebihannya di petak rel Tn. Abang - Serpong jarang banget gangguan listrik atau pun juga wessel. Apalagi gangguan sinyal. Tapi kalao udah terganggu sama si Langsam.... Kenapa juga gak mending diberangkatin aja, terus nunggu di sinyal masuk stasiun yah?
29-05-2010, 02:04 PM
(29-05-2010, 08:00 AM)Dana Komuter Wrote: Menyinggung ketidak setujuan KRD, semua tentu sudah pada tahu satu2nya petak rel yang masih dipijaki perjalanan komuter berupa Kereta diesel cuma lintas Rangkas Bitung - Tanah Abang - Jakarta Kota / Ps. Senen pp. Memang sih... berasa banget waktu masih jadi komuter Serpoing - Jakarta betapa lamanya nunggu tibanya si KD3 di stasiun Kebayoran ketika hendak masuk ke stasiun Pd. Ranji. Sudah 5 menitan gitu... pintu kereta KRL masih saja belum menutup. Kata si KS Kebayoran masih menunggu masuk Langsam di Pd. Ranji. Waduh... Dengan berharap di tiap petak stasiun Serpong - Tn. Abang punya rel cabang, kayaknya semua perjalanan KRL bisa ngebablasin semua KD3 yg selalu berlaju kelamaan. Malah yg ngeselin kalo si sepuh BB 304 mogok... menurut ane kang,,solusinya agar perjalanan KRL tidak terganggu KA langsam ( "langsam" adalah bahasa jerman yg artinya "lamban", bahasa belandanya langzaam), ya sebaiknya dibuat quadraple track ( Double-Double track)..dan dipisah antara jalur KRL dan KA antar kota,
Silence Is Golden
But My Eyes Still See
31-05-2010, 03:27 PM
(29-05-2010, 02:04 PM)Adolph Wrote:(29-05-2010, 08:00 AM)Dana Komuter Wrote: Menyinggung ketidak setujuan KRD, semua tentu sudah pada tahu satu2nya petak rel yang masih dipijaki perjalanan komuter berupa Kereta diesel cuma lintas Rangkas Bitung - Tanah Abang - Jakarta Kota / Ps. Senen pp. Memang sih... berasa banget waktu masih jadi komuter Serpoing - Jakarta betapa lamanya nunggu tibanya si KD3 di stasiun Kebayoran ketika hendak masuk ke stasiun Pd. Ranji. Sudah 5 menitan gitu... pintu kereta KRL masih saja belum menutup. Kata si KS Kebayoran masih menunggu masuk Langsam di Pd. Ranji. Waduh... Dengan berharap di tiap petak stasiun Serpong - Tn. Abang punya rel cabang, kayaknya semua perjalanan KRL bisa ngebablasin semua KD3 yg selalu berlaju kelamaan. Malah yg ngeselin kalo si sepuh BB 304 mogok... Yang jadi masalahnya kali ini adalah lahan yang cukup terbatas untuk memisahkan perjalanan KRL dengan KA langsam/Ban-ex/Rangkas Jaya di lintas THB-SRP-RK-MRK, bagaimana solusi untuk mengatasi masalah ini?
01-06-2010, 01:38 PM
Sedikit pencerahan... Maksud aku bukannya aku ngarepin cuma dilalui KRD atau KD3 lagi yah, tapi maksud aku tetap dilalui KRL juga. Yang jadi pertanyaan, apakah yang skarang dilalui KD3 baiknya jadi KRD aja misal dg meminjam KRD yg udah ada di bbrp Daops... gitu...? Pokoknya jgn sampai ada kalimat dr suara pengeras stasiun "KRL menunggu Langsam masuk stasiun 'anu'" lagi...
01-06-2010, 02:25 PM
tetep gan, walau si langsam di tarik pake cc204 atau yg terbaru nanti cc205 sekalipun, langsam sama KRD sama2 lemod waktu akselerasinya, belom biaya HSDnya, ampun beibeh...
Untuk skrg KRD mau yg H atau E udah nggak cocok lagi di wilayah komuter, keculai LAA mati total ![]() Kalo misalnya untuk KRD lintas Bekasi - Purwakarta atau Serpong - Rangkasbitung perlu di pertimbangkan, jarak stasiun nggak terlalu dekat dan jarang-jarang
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
01-06-2010, 05:14 PM
KRD = Solar Industri... lebih mahal daripada Solar Subsidi yang dipakai metromini. Mugkin jadi tidak effisien, dan angka subsidi terlalu tinggi.
Untuk effesiensi lebih baik menggunakan KRL. Selain KRL memiliki bobot yang lebih ringan dan distributed engine sehingga akselerasi akan lebih baik. Untuk jarak menengah (misal Jakarta - Bandung), sebenarnya KRL juga akan lebih effisien. Asal pemerintah RI mau mbikinin LAA. Jadi sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi menggunakan teknologi KRD untuk melayani angkutan komuter.
01-06-2010, 07:11 PM
(This post was last modified: 01-06-2010, 07:27 PM by adlian_1090.)
wah gak setuju saiah. untuk masalah kommuter yang paling efektif mah emang KRL
![]() (29-05-2010, 08:00 AM)Dana Komuter Wrote: Menyinggung ketidak setujuan KRD, semua tentu sudah pada tahu satu2nya petak rel yang masih dipijaki perjalanan komuter berupa Kereta diesel cuma lintas Rangkas Bitung - Tanah Abang - Jakarta Kota / Ps. Senen pp. Memang sih... berasa banget waktu masih jadi komuter Serpoing - Jakarta betapa lamanya nunggu tibanya si KD3 di stasiun Kebayoran ketika hendak masuk ke stasiun Pd. Ranji. Sudah 5 menitan gitu... pintu kereta KRL masih saja belum menutup. Kata si KS Kebayoran masih menunggu masuk Langsam di Pd. Ranji. Waduh... Dengan berharap di tiap petak stasiun Serpong - Tn. Abang punya rel cabang, kayaknya semua perjalanan KRL bisa ngebablasin semua KD3 yg selalu berlaju kelamaan. Malah yg ngeselin kalo si sepuh BB 304 mogok... mas dana, kalo masalah ini kyknya lebih ke masalah signalling lintas THB-SRP deh menurut saya. disana kan sistemnya blom pake sistem blok seperti lintas BOO-JAKK, BKS-JNG dan rel lingkar. kalau di lintas yg udah pake sistim blok kan petak antar stasiun bisa 2-3 kereta kalo lagi full. sementara untuk THB-SRP blm pake sinyal blok, jadi antara 2 stasiun cuma bisa 1 kereta. jadi kapasitas lintas THB-SRP masih kecil. kalo ada penyusulan kereta bisa lebih lama dibanding seperti penyusulan di pasar minggu. contoh di lintas dengan sinyal blok: KRL eko masuk rel buat penyusulan, nunggu KRL express (1-3 menit tergantung jarak kedua KRL, KRL express lewat, 10 detik setelahnya udah bisa di "release" KRL eko nya. contoh di lintas bukan dengan sinyal blok: KA yg akan disusul masuk rel penyusulan, KA yg menyusul lalu berangkat dari stasiun sebelumnyan (bisa 5 menit - 10 menit, tergantung petaknya), KA yg menyusul lewat stasiun, KA yang disusul harus menunggu sampai KA yg menyusul sampai di stasiun berikutnya (bisa 5 menit - 10 menit, tergantung petaknya). ya mungkin segitu ilustrasi dari saya. hhe kalo "katanya" sih lintas SRP-THB mau di jadikan sistem blok... <-- tapi bahas di tempat lain jadi kalo urusan yg di atas gak ada sangkut pautnya dengan pemilihan KRL/KRD. untuk komuter ya yg paling effisien itu KRL hehe
ketika dunia aviasi dan kereta api menyatu di tubuhku
![]()
04-06-2010, 08:13 PM
Make KRD? Kecuali sudah ada lintas tersendiri terpisah dari jalur KA yang datang/pergi dari/ke luar kota mungkin ga akan menjadi masalah, tetapi KRL juga masih diperlukan, khususnya di jam-jam sibuk yang pastinya akan penuh dengan orang
|
|
« Next Oldest | Next Newest »
|