(23-12-2009, 06:50 PM)rizky354 Wrote: wah....kok banyak yg bekas yah.....
kereta di divre 1...
mksdnya bekas dari jawa...
kesimpulan: jadi jawa beli bekas dari eropa, divre 1 bekas dari jawa....
ckckckck....


Saya pernah naik kereta KA Sribilah tahun 2005.
Sudah lama memang, tapi melihat gambar-gambar yang ditampilkan sepertinya kereta ini tidak banyak mengalami kemajuan, kecuali perubahan warnanya.
Kereta yang dipakai Sribilah waktu saya menaikinya bukan kereta bekas dari Pulau Jawa. Memang keretanya sudah lama, terlihat dari nomornya yang K2-787xx dan K1-787xx. Tetapi kereta-kereta ini asli masih baru waktu didatangkan dari luar negeri.
Ceritanya waktu tahun 1978 itu kita kebanjiran kereta dari YUGOSLAVIA.
Di Pulau Jawa, datangnya kereta ini melahirkan Senja Utama Solo, dan sampai sekarang masih dipakai sebagai K2-787xx.
Di Sumatera utara, datanglah K3 (CW) dan kereta bagasi (DW) dari Yugo itu. Lahirlah KA Sribilah.
Di Kalender PJKA jaman dulu terlihat formasi KA Sribilah yang terdiri dari DW+5CW+CFW, dengan warna cat kuning-hijau. Jelas sekali Sibilah ini pakai kereta ex Yugo, ditandai dengan angin-angin di atas jendela yang berbentuk oval. Ketika itulah orang Medan bisa bilang: "Ini baru kereta", bukan lagi: "Ini kereta baru", karena biasanya kereta yang dipakai di Sumut memang bekas dari Jawa.
Belakangan kereta CW-nya Sribilah dikonversi menjadi K2 semua. Sepertinya perpindahan ini terjadi tahun 90an karena cat keretanya biru tua strip hijau (tosca).
Pas jaman ramai-ramainya kereta eksekutif, beberapa kereta CW (K3) ex Yugo di Sumut dikonversi pula menjadi K1.
Sangat menyenangkan naik kereta api Sribilah. Kecepatannya termasuk bagus. Dengan angkutan jalan raya jarak Rantauprapat-Medan bisa ditempuh 8 jam. Dulu dengan Sribilah saya berangkat dari Rantauprapat jam 08.15 dan jam 13.45 sudah sampai Medan. Sekarang rupanya lebih cepat lagi.
Salam kami
Nurcahyo
*******