Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Sta. Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (B-OS)
#21

Reply
#22
Quote:
Pada 1887, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) membuka jalur menuju Bekasi melalui tepi timur Batavia. Stasiun utamanya terletak 200 meter di selatan Stasiun Batavia NIS. Posisinya saat ini di tempat Stasiun Jakarta Kota berada. Stasiun inilah yang kemudian dikenal masyarakat Batavia sebagai Beos, yang didapat dari cara mereka melafal nama perusahaan pemilik stasiun ini, yaitu BOS.

Sepuluh tahun setelah itu, Staat Spoorwegen (SS) membeli Stasiun Beos beserta jalur BOS menuju Bekasi. Pada 1913, SS pun membeli Stasiun NIS dan seluruh jalurnya menuju Buitenzorg (Bogor). Sejak saat itu, SS mengelola sepenuhnya seluruh jalur kereta api di Batavia. Nama Stasiun Batavia NIS diganti menjadi Batavia Noord, sedangkan Batavia BOS diubah menjadi Batavia Zuid.

Dua tahun berikutnya, SS berencana membangun satu stasiun utama di Batavia, sehingga tidak ada lagi dua stasiun besar yang melayani Ibu Kota. Namun, niat ini terhambat oleh rencana pembangunan jalur layang antara Stasiun Sawah Besar dan Batavia yang tak kunjung terlaksana. Rancangan stasiun utama itu pun harus menunggu kepastian apakah jalur rel layang ini memang jadi dibangun atau tidak.

Pada 1920, tahap perancangan untuk stasiun utama di Batavia akhirnya dimulai. Rancangan ini didasarkan asumsi kalau jalur rel layang di kota ini akan dilaksanankan. Namun tiga tahun kemudian, SS menetapkan stasiun utama yang akan dibangun bukan stasiun rel kereta layang, sehingga proses perancangan pun jadi lebih cepat. Desain stasiun dikerjakan Asselbergh, Ghijsels dan Hes dari Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau (AIA).

Sebagai persiapan, pada 1923, Stasiun Batavia Zuid dirobohkan untuk dijadikan lokasi stasiun utama. Pembangunannya langsung dimulai pada tahun itu juga. Dokumentasi Stasiun Tanjung Priok mencatat, pembangunan stasiun utama ini sempat terganggu oleh skandal finansial yang terjadi setahun sesudahnya. Kasus tersebut merugikan negara hingga 40,5 juta gulden.

Di saat bersamaan, Stasiun Batavia Noord untuk sementara waktu difungsikan sebagai stasiun utama di Batavia. Kapasitasnya pun ditingkatkan. Emplasemen Batavia Noord diperluas dengan ditambahnya jumlah jalur kereta. Pada 1925, stasiun bekas milik NIS ini bahkan dilengkapi dengan jaringan listrik aliran atas (LAA). Hal ini merupakan bagian dari proyek elektrifikasi wilayah Batavia dan sekitarnya.

Setelah memakan waktu enam tahun, tepat pada 08 Oktober 1929, stasiun utama di Batavia yang baru akhirnya diresmikan. Stasiun ini diberi nama Station Batavia Benedenstad. Kendati demikian, warga Batavia tetap menggunakan nama Beos untuk stasiun tersebut.

Tak lama berselang, Stasiun Batavia Noord pun ditutup dan kemudian dibongkar. Tidak ada yang tersisa dari stasiun pertama ini, kecuali nama.

Sumber : republika.co.id
Reply
#23
yang saya nggak habis pikir ialah, itu kaca pemisah peron/platform yang membagi 2 area di peron maksudnya apa ya? terutama di peron/platform jalur 9-10. karena dibuat kaca pemisah, area peron jadi makin sempit. dulu waktu nggak ada kaca pemisah, peron lumayan lega.

kasus yang sama terjadi juga di stasiun pasar senen. hanya saja, kalau di pse masih mendingan. karena peronnya lebar banget kira2 sampai 15 m, dibagi 2 pun masih cukup lapang buat penumpang untuk menunggu. kasus di beos, lebar peron cuma 5m dibagi 2, jadi penumpang jalur 10 hanya kebagian jatah 2.5m area. sangat sempit apalagi krl yang singgah di jalur 10 lumayan banyak.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#24
(17-04-2012, 05:31 PM)ady_mcady Wrote: yang saya nggak habis pikir ialah, itu kaca pemisah peron/platform yang membagi 2 area di peron maksudnya apa ya? terutama di peron/platform jalur 9-10. karena dibuat kaca pemisah, area peron jadi makin sempit. dulu waktu nggak ada kaca pemisah, peron lumayan lega.

kasus yang sama terjadi juga di stasiun pasar senen. hanya saja, kalau di pse masih mendingan. karena peronnya lebar banget kira2 sampai 15 m, dibagi 2 pun masih cukup lapang buat penumpang untuk menunggu. kasus di beos, lebar peron cuma 5m dibagi 2, jadi penumpang jalur 10 hanya kebagian jatah 2.5m area. sangat sempit apalagi krl yang singgah di jalur 10 lumayan banyak.

Bener banget om . Tapi kalo di PSE juga ribet om jadinya
[spoiler]
[Image: 15052012060.jpg] [/spoiler]
Reply
#25
(17-04-2012, 05:31 PM)ady_mcady Wrote: yang saya nggak habis pikir ialah, itu kaca pemisah peron/platform yang membagi 2 area di peron maksudnya apa ya? terutama di peron/platform jalur 9-10. karena dibuat kaca pemisah, area peron jadi makin sempit. dulu waktu nggak ada kaca pemisah, peron lumayan lega.

kasus yang sama terjadi juga di stasiun pasar senen. hanya saja, kalau di pse masih mendingan. karena peronnya lebar banget kira2 sampai 15 m, dibagi 2 pun masih cukup lapang buat penumpang untuk menunggu. kasus di beos, lebar peron cuma 5m dibagi 2, jadi penumpang jalur 10 hanya kebagian jatah 2.5m area. sangat sempit apalagi krl yang singgah di jalur 10 lumayan banyak.

mencoba menganalisa,Oom

jalur 10 itu KRL jalur Bekasi kan ya?
Jalur 9 itu kalo nggak salah dipake KA AKAP macam Gajayana

mungkin untuk membatasi gerak gerik Kambingers oom..
demi 100%
693-5073-893-673
Reply
#26
Ada yg tau gak gimana KA berlokomotif berbalik arah di stasiun Jakarta kota?Bingung kan stasiun ini stasiun ujung & tidak ada jalur untuk memindahkan lok dari satu ujung KA ke ujung lainnya, ni gambarnya
[Image: 120px-Stasiunkotaakhir_Hariadhi.jpg]
Reply
#27
Ga ada lokomotif yg balik arah di sta jakk (beos)...secara jakk adalah stasiun ujung. Ka lokal rangkas/ merak mundur dulu ke sta kpb baru kemudian maju menuju sta angke, ka lokal pwk n ka akap didorong dulu ke arah dipo baru lepas lok terus pakai lok langsir ditarik ke peron sta jakk baru kemudian sambung dengan lok aslinya...
Reply
#28
(14-08-2012, 06:44 PM)kuli bangunan Wrote: Ga ada lokomotif yg balik arah di sta jakk (beos)...secara jakk adalah stasiun ujung. Ka lokal rangkas/ merak mundur dulu ke sta kpb baru kemudian maju menuju sta angke, ka lokal pwk n ka akap didorong dulu ke arah dipo baru lepas lok terus pakai lok langsir ditarik ke peron sta jakk baru kemudian sambung dengan lok aslinya...

oh gitu ya caranya, terima kasih atas infonya
Reply
#29
dulu sekitar dekade 80 an waktu saya masih kecil, saya pernah lihat disetiap ujung rel dekat sepur baduk ada wessel silangnya. persis dengan yang ada di stasiun tanjung priuk atau surabaya kota. jadi lok2 bisa putar tanpa ada gerakan mundur dari seluruh rangkaian.

ada yang tahu kapan wesel2 silang itu dicabut?
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#30
Dicabut sktr th 95an mas wkt itu ada wesel kan krn Parahiyangan brkt dr kota stlh brktnya dr Gambir weselnya dicabut bareng sm pemasangan sinyal elektrik
RF bambangwitjak, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Nov 2010.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)