pengalaman gila yang pernah saya lakukan sewaktu masih SMP kelas 1, waktu itu masih jaman-jamannya PT.KAI sebelum menjadi persero di tahun 1995.
ngambing KA Babarandek dari kebayoran menuju cisauk. selama naik si babarandek yang di tarik si mbah loko roti tawar. tarikannya membuat adrenalin saya bertambah. apalagi saya hanya duduk di pipa (salah satu bagian bodi gerbong kosong tanpa muatan batubara) belum lagi melihat coupler yang saling melonggar, tarik menarik dan apajadinya kalau sampe kejepit di coupler tersebut.

taspat si babarandek ini hampir mendekati 90 kmpj, mungkin kalo di tarik si puong 206 udah lain cerita taspatnya, bisa mendekati 100 kmpj.

setelah sampai di cisauk, saya memutuskan untuk turun di stasiun ini ketika si babarandek silangan dengan KA Lokal dari rangkasbitung.
Stasiun cisauk ini dulunya ada 4 jalur, 3 jalur utama dan 1 jalur baduk (cmiiw). belum lagi bentuk bangunan stasiunnya hampir sama dengan bangunan stasiun kebayoran. pokoknya masih terasa khas jaman belandanya.
Ketika KA lokal berhenti di jalur 2 sedangkan si babarandek berada di jalur 3.
KA lokal ini ditarik dengan loko berseri BB 300 warna merah dengan K3 warna merah strip putih dan biru. tanpa pikir panjang saya langsung memutuskan naik dan ngebordes sepanjang perjalanan menuju Kebayoran.
tetapi apesnya, ketika saya hendak pindah rangkaian, tiba-tiba sang kondektur datang dan menagih tiket kepada saya.
sepontan saya langsung dag dig dug der karena tidak punya tiket sama sekali. (istilahnya ngambing lagi). padahal umur saya masih 14 tahun, bahkan uang yang saya bawa waktu itu cuma 100 perak. sedangkan tiket cisauk - kebayoran cuman 250 perak, akhirnya saya pura-pura kepada si kondektur kalo tiketnya sudah di bolongin ketika di dalam kereta. (ngibul kepada petugas kereta sambil berkeringat)

akan tetapi si kondektur tersebut tidak percaya dengan omongan anak kecil yang masih cupu ini..... alhasil dia tetap maksa kepada saya dan dengan terpaksa tiket (masih model domino) yang saya kumpulkan sebelumnya dari kebayoran, langsung saya keluarkan. "Kok tiketnya kotor begini ?" tanya si kondektur. "Ini tiket bekas ya ?"
dengan gugupnya saya langsung bicara "Itu tiket baru pak, emang tadinya enggak kotor, hanya saja tiketnya jatuh ke injak orang"
bayangkan saja. padahal tiket yang saya keluarkan itu adalah tiket yang sudah berwarna coklat dan sangat kotor sekali (apalagi tiket ini selalu saya temui dan saya ambil di tengah rel stasiun kebayoran).
tanpa banyak bicara, si kondektur langsung pergi begitu saja dan membiarkan saya terus naik sampai kebayoran.
note : Padahal tiket kotor yang saya kasih itu, relasinya dari sudimara sampai dengan palmerah.
itulah pengalaman saya yang gila hingga saya menjadi RF sampai sekarang.