Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
#11
Makasih comment-nya, tapi masih kalah dengan penulis2 cerita lain. Xie Xie
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#12
Cerpennya top bgt. Top Banget

Ditunggu cerpen2 lainnya. Hehe.
Reply
#13
(12-05-2010, 10:25 AM)Agus Riyanto Wrote: Nih ceritanya fiksi atau non fiksi ????

Ya Allah ya tuhan kami, ampunilah dosa2 kami, dosa-dosa keluarga kami, dosa-dosa pemimpin-pemimpin bangsa kami, jauhkanlah mereka ya Allah dari azab yang pedih, jauhkanlah dari segala mara bahaya segala macam penyakit yang menimpa di wilayah kami.

Berikanlah kami iman dan ihsan kekuatan dalam menghadapi segala cobaan yang engkau berikan dalam bentuk apapun sehingga kami sanggup menghadapinya dengan segala ketabahan, kekuatan keihlasan. Amin!Pasrah Aja DahYarabal "alamin
Reply
#14
bali kaset msts ny dmn kk
Reply
#15
(17-09-2010, 03:10 PM)vamboedi_VII Wrote: bali kaset msts ny dmn kk

Topiknya diperhatikan, Gan...!
Back to topic
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#16
(13-05-2010, 12:31 PM)Ryzky_Widi Wrote: Makasih comment-nya, tapi masih kalah dengan penulis2 cerita lain. Xie Xie

Top Banget ceritanya, kenapa gk dibukukan saja dan coba dijual ! siapa tau laku
Bye Bye SALAM RF DAOP VI YOGYAKARTA
Reply
#17
Kebahagiaan Seorang Penjaga Lintasan (Part 1)

* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka


Siang itu, disebuah perlintasan kereta api di jalan Mawar, kota Jember. Tampak seorang pemuda dengan peluh dan keringat membasahi wajahnya. pemuda itu bernama Ridwan, 25 Tahun, sedang sibuk membersihkan sepeda onthelnya disamping rumah perlintasan. Tiba-tiba suara bel genta berbunyi 5x dan beberapa detik kemudian disusul telepon dari dalam rumah perlintasan yang ditempatinya. Dengan bergegas Ridwan masuk ke dalam rumah perlintasan dan menjawab telepon berdering itu.

Tak lama kemudian, sirine perlintasan berbunyi meraung-raung menyaingi deru mesin kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Pintu perlintasan jalan Mawar pun ditutup, dan Ridwan berdiri bersandar pada dinding rumah perlintasan, menghadap ke arah barat, dimana kereta api akan lewat. Semenit kemudian, KA Mutiara Timur siang dari Surabaya melaju kencang dan meninggalkan jejak-jejak angin yang menghempaskan rambut Ridwan yang berada dekat dengan tepi ReL. Setelah pintu perlintasan dibuka, Ridwan kembali membersihkan sepeda onthel kesayangannya.

Menjelang pergantian petugas perlintasan, sekitar 12.45 siang, datanglah pak Wijiono, 45 Tahun, petugas perlintasan selanjutnya, dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam. Dan, diletakkannya bungkusan plastik hitam itu pada sebuah meja kecil di samping meja layanan persinyalan lintasan.

"Ini Ridwan, makanlah dulu," kata pak Wijiono sembari memberikan sebuah bungkusan yang diambil dari plastik hitam tadi, kepada Ridwan.
"Apa ini pak Wiji ...?"
"Nasi campur buatan istri saya," balas pak Wijiono dengan tersenyum.
"Terima kasih pak," kata Ridwan sambil menerima bungkusan itu.

Kemudian, mereka berdua pun makan nasi campur itu bersama-sama sambil mendengarkan lagu-lagu campur sari dari sebuah radio kecil nan usang serta ditemani sebuah kipas angin yang menyejukkan mereka dikala siang menyengat. Meski dalam keterbatasan, mereka sangat gayeng dan senang. 15 menit kemudian, Ridwan pamit dan pulang dengan mengendarai sepeda onthel melintasi perlintasan jalan Mawar, beradu kencang dengan mobil dan sepeda motor di sisi kanannya.

Dalam perjalanan pulangnya, sirine perlintasan berbunyi dari perlintasan jalan Dahlia, Kota Jember, 2 km dari perlintasan jalan Mawar. Dan ...

"Mbak, jangan berhenti ditengah perlintasan, kereta akan segera lewat ...!!!," teriak seorang petugas perlintasan.

Tentunya perempuan di dalam mobil itupun panik, mencoba menghidupkan mesin mobil berkali-kali, namun gagal. Ridwan yang melihat hal itu, bergegas turun dari sepeda onthel dan berlari mendekati mobil Avanza merah tersebut. Tanpa pikir panjang, Ridwan memecahkan kaca jendela depan dengan batu kricak yang lumayan besar, membuka pintu mobil dan menarik perempuan muda itu keluar dari mobil. Selang beberapa detik, sorot lampu kereta api mendekat, dan kemudian ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#18
(01-12-2010, 02:52 PM)Ryzky_Widi Wrote:
Kebahagiaan Seorang Penjaga Lintasan (Part 1)

* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka


Siang itu, disebuah perlintasan kereta api di jalan Mawar, kota Jember. Tampak seorang pemuda dengan peluh dan keringat membasahi wajahnya. pemuda itu bernama Ridwan, 25 Tahun, sedang sibuk membersihkan sepeda onthelnya disamping rumah perlintasan. Tiba-tiba suara bel genta berbunyi 5x dan beberapa detik kemudian disusul telepon dari dalam rumah perlintasan yang ditempatinya. Dengan bergegas Ridwan masuk ke dalam rumah perlintasan dan menjawab telepon berdering itu.

Tak lama kemudian, sirine perlintasan berbunyi meraung-raung menyaingi deru mesin kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Pintu perlintasan jalan Mawar pun ditutup, dan Ridwan berdiri bersandar pada dinding rumah perlintasan, menghadap ke arah barat, dimana kereta api akan lewat. Semenit kemudian, KA Mutiara Timur siang dari Surabaya melaju kencang dan meninggalkan jejak-jejak angin yang menghempaskan rambut Ridwan yang berada dekat dengan tepi ReL. Setelah pintu perlintasan dibuka, Ridwan kembali membersihkan sepeda onthel kesayangannya.

Menjelang pergantian petugas perlintasan, sekitar 12.45 siang, datanglah pak Wijiono, 45 Tahun, petugas perlintasan selanjutnya, dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam. Dan, diletakkannya bungkusan plastik hitam itu pada sebuah meja kecil di samping meja layanan persinyalan lintasan.

"Ini Ridwan, makanlah dulu," kata pak Wijiono sembari memberikan sebuah bungkusan yang diambil dari plastik hitam tadi, kepada Ridwan.
"Apa ini pak Wiji ...?"
"Nasi campur buatan istri saya," balas pak Wijiono dengan tersenyum.
"Terima kasih pak," kata Ridwan sambil menerima bungkusan itu.

Kemudian, mereka berdua pun makan nasi campur itu bersama-sama sambil mendengarkan lagu-lagu campur sari dari sebuah radio kecil nan usang serta ditemani sebuah kipas angin yang menyejukkan mereka dikala siang menyengat. Meski dalam keterbatasan, mereka sangat gayeng dan senang. 15 menit kemudian, Ridwan pamit dan pulang dengan mengendarai sepeda onthel melintasi perlintasan jalan Mawar, beradu kencang dengan mobil dan sepeda motor di sisi kanannya.

Dalam perjalanan pulangnya, sirine perlintasan berbunyi dari perlintasan jalan Dahlia, Kota Jember, 2 km dari perlintasan jalan Mawar. Dan ...

"Mbak, jangan berhenti ditengah perlintasan, kereta akan segera lewat ...!!!," teriak seorang petugas perlintasan.

Tentunya perempuan di dalam mobil itupun panik, mencoba menghidupkan mesin mobil berkali-kali, namun gagal. Ridwan yang melihat hal itu, bergegas turun dari sepeda onthel dan berlari mendekati mobil Avanza merah tersebut. Tanpa pikir panjang, Ridwan memecahkan kaca jendela depan dengan batu kricak yang lumayan besar, membuka pintu mobil dan menarik perempuan muda itu keluar dari mobil. Selang beberapa detik, sorot lampu kereta api mendekat, dan kemudian ...


Wah ceritanya bagus mas bikin deg deggan
Lanjutkan ya mas ceritanya biar gak penasran
Reply
#19
Kebahagian Seorang Penjaga Lintasan (Part 2)

* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka


Bruuaakkk ... Suara hantaman keras terdengar

KA Mutiara Timur siang dengan Lokomotif CC 20320 dari Banyuwangi menabrak mobil Avanza nahas tersebut dengan keras, dan terseret 100 meter ke arah barat perlintasan jalan Dahlia. Kereta api itupun berhenti setelah melakukan pengereman mendadak. Alhasil, mobil Avanza merah tersebut hancur berantakan dan tidak berbentuk. Sontak, kejadian itu membuat pengendara sepeda motor turun dan melihat ada dua orang sedang tergeletak di pinggir ReL kereta api.

Kemudian, seorang perempuan yang tergeletak di pinggir ReL itu perlahan-lahan membuka matanya.

"Mbak, anda tidak apa-apa ...?," tanya penjaga perlintasan jalan Dahlia, yang kemudian dibalas dengan gelengan kepala oleh si perempuan manis itu.

Akhirnya, perempuan manis berembut panjang sebahu itu dibawa oleh petugas perlintasan menuju rumah perlintasan jalan dahlia, untuk menenangkan diri. Sementara Ridwan yang terluka parah dan tidak sadarkan diri di pinggir ReL, dibawa ke rumah sakit oleh mobil seseorang. Sementara, setelah mendapat izin dari pihak stasiun Jember dan petugas penjaga lintasan, KA Mutiara Timur itu berjalan kembali menuju Stasiun Jember yang berjarak 12 km arah barat dari TKP.

-----------------------------------

Pukul 21.30 Malam, RSUD Jember ...

Di kamar 203, tampak seorang perempuan dengan memakai baju warna orange, berdiri disamping Ridwan yang sedang tidur di ranjang dengan selang infus yang menggantung, serta sebuah bingkisan buah-buahan yang berada di atas sebuah meja kecil berbentuk bundar, di pojok kamar 203, berdekatan dengan tiang selang infus. Akhirnya, perlahan-lahan Ridwan membuka mata, dan melihat ada seorang perempuan di sampingnya.

"Hai ...," sapa perempuan itu yang melihat Ridwan sudah siuman.
"Hai juga. Dimana ini ...?," balas Ridwan dengan nada yang pelan.
"Di rumah sakit."
"Kenapa aku ada di sini, apa yang terjadi ...?," tanya Ridwan yang masih linglung.
"Lupa ya dengan kejadian tadi siang ...?," tanya balik perempuan manis itu.
"... Kejadian tadi siang ...?," sambil mengingat ingat. Kemudian, "Oh ya, kalau tidak salah, mbak kan yang di dalam mobil merah itu ...?."
"Yup ... Aku yang tadi kamu selamatkan dari tabrakan kereta api."
"Iya, aku ingat warna baju mbak tadi siang berwarna biru muda," kata Ridwan sambil memandang paras manis perempuan yang dia selamatkan itu.
"Masih ingat ternyata. Ehm ... maaf, namamu siapa ...? Boleh aku tahu," tanya si perempuan.
"Ridwan. Kalau situ ...?," tanya balik Ridwan.
"Sherly." balas perempuan itu singkat.

Akhirnya, mereka berdua ngobrol-ngobrol. Perempuan manis yang bernama Sherly itu akhirnya tahu kalau Ridwan adalah seorang penjaga lintasan kereta api, dan anak dari keluarga tidak mampu. Dalam percakapan itu, Sherly juga tahu kalau tiap hari Ridwan harus mengonthel sepeda dari rumahnya di Ledokombo untuk menjadi penjaga lintasan di daerah Gurah sari, dimana perlintasan jalan Mawar, Dahlia, dan Anggrek berada, 10 km dari Ledokombo. Terkadang dia harus melawan kantuk, ketika bertugas jaga lintasan pada malam hari. Sungguh keberanian dan pengabdian yang luar biasa dari seorang yang biasa-biasa saja.


Be continued ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
#20
Kebahagian Seorang Penjaga Lintasan (Part 3)

* Cerita fiksi, nama, tempat, dan kejadian, hanya karangan belaka



Dua hari kemudian ...

Pak Wijiono, serta pak Syamsuri datang untuk menjenguk Ridwan di RSUD Jember, kamar 203.

"Ridwan, bagaimana keadaanmu ...?" tanya pak Wijiono sambil didampingi pak Syamsuri.
"Baik - baik saja pak, hanya tangan dan kaki saya masih terasa sakit kalau digerakkan."
"Bersabarlah, nanti juga sembuh sendiri," balas pak Wijiono.
"Iya pak. Lantas, bagaimana dengan kondisi perlintasan Gurah Sari yang saya tinggalkan 2 hari ini ...?" tanya Ridwan.
"Tenang saja, sudah ada yang menangani. Teman saya mau menjadi penjaga perlintasan secara sukarela samapi nak Ridwan sembuh," tandas pak Syamsuri, penjaga perlintasan jalan Dahlia.
"Syukurlah, saya bisa sedikit tenang. Saya hanya tidak enak saja pada kepala Stasiun Kalisat. Karena saya meninggalkan tugas sebagai penjaga perlintasan daerah Gurah Sari."
"Tidak apa - apa, mereka sudah dengar tentang kejadian itu, dan memaklumi keadaanmu sekarang ini," kata pak Syamsuri.

Akhrinya, setelah beberapa lama menengok Ridwan, pak Wijiono dan pak Syamsuri pulang. Menjelang malam, Sherly kembali datang menengok Ridwan sambil membawa sebuah kue Black Forest.

"Malam Ridwan. Gimana keadaanmu ...?" tanya Sherly.
"Sudah agak baikan. Kata dokter, mungkin sebentar lagi aku bisa keluar dari rumah sakit ini. Tapi ...," balas Ridwan, kemudian dia termenung sejenak, sambil menghadap ke bawah.
"Tapi apa ...?" tanya Sherly kembali.
"Apa aku bisa keluar dari rumah sakit, sementara orang tuaku tidak punya biaya untuk perawatanku selama di rumah sakit ini."

Sherly terdiam sejenak, dan kemudian tersenyum simpul ke arah Ridwan, dan kemudian berkata, "Hmm ... Tenang saja, semua biaya perwatanmu di rumah sakit sudah dibayar lunas oleh orang tuaku kemarin. Jadi kamu tenang saja."
"Benarkah ...?"
"Tentu saja. Mereka tahu kalau kamu orang tidak mampu, jadi aku dan kedua orang tuaku sepakat untuk menanggung biaya perawatanmu selama di rumah sakit ini. Itu juga karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku."
"Maaf Sherly sudah merepotkan keluargamu, dan juga terima kasih banyak," kata Ridwan.
"Ah, tidak apa - apa. Aku juga makasih, kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku berhutang budi banyak padamu, Ridwan," balas Sherly sembari memegang tangan kanan Ridwan yang masih terpasang infus.

---------------------------


Tiga hari kemudian ...

Akhirnya Ridwan keluar dari rumah sakit, meskipun tangan dan kakinya belum sembuh benar. Dengan ditemani Sherly, Ridwan menuju ke rumah perlintasan jalan Mawar untuk kembali menjalankan tugasnya. Di situ, Ridwan dan Sherly bertemu pak Syamsuri yang sekarang bertugas menjadi penjaga perlintasan jalan Mawar. Menjelang pukul 12.45, pak Syamsuri pamit pulang. Ridwan kembali diserahi tugas untuk menjadi penjaga lintasan oleh pak Syamsuri, setelah melihat semangat Ridwan untuk kembali mengabdi demi menyelamatkan banyak nyawa.

Pukul 13.25, genta perlintasan berbunyi 10x disertai dering telepon beberapa detik setelahnya. Dengan sigap, Ridwan membalas telepon itu, dan segera menuju ke depan meja layanan persinyalan perlintasan. Ditemani Sherly yang berdiri disampinnya, Ridwan membunyikan sirine perlintasan, kemudian menutup pintu perlintasan jalan Mawar. Sembari menunggu kereta api melintas, Ridwan keluar dari rumah perlintasan dan bersandar pada dinding rumah perlintasan, menghadap ke arah timur, disusul kemudian Sherly ikut keluar, dan berdiri di samping Ridwan.

Beberapa menit kemudian, sebuah KA Mutiara Timur siang dengan lokomotif CC 20196 mendekat perlahan dengan kecepatan sekitar 40 km/jam dari arah Banyuwangi. Sesampainya di dekat perlintasan, sang masinis menengok keluar sembari mengacungkan jempol untuk Ridwan sebagai tanda kepahlawanannya Ridwan. Ternyata masinis KA Mutiara Timur yang melintas ini adalah masinis KA Mutiara Timur yang menabrak mobil Avanza pada kejadian itu, dan dia melihat Ridwan meloncat sambil memeluk Sherly untuk beberapa detik sebelum tabrakan terjadi, demi menyelamatkan Sherly dari maut.

Melihat hal itu, Ridwan terharu, dan akhirnya meneteskan air matanya, sembari membalas gesture sang masinis dengan acungan jempol pula. Setelah KA Mutiara Timur lewat, Ridwan bergegas masuk ke dalam rumah perlintasan untuk membuka pintu perlintasan kembali. Kemudian, Ridwan duduk sambil melihat meja layanan persinyalan sambil menangis. Akhirnya, Sherly mencoba mengusap air mata Ridwan yang jatuh ke pipinya. Ridwan yang tidak punya apa - apa, hanya tersenyum melihat Sherly begitu perhatian padanya.


Be Continued ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)