Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(13-03-2010, 10:41 AM)eko winarno Wrote: (13-03-2010, 08:05 AM)ady_mcady Wrote: jangan persimis dulu. kalo masalah menghidupkan jalur mati biayanya tergantung juga dari apa yang nanti mau lewat diatasnya. kalo yang mau lewat itu kelas railbus, lrt, trem, ya gak usah pake r54 dan bantalan beton. jadi biayanya bisa lebih murah.
lain halnya kalo angkutan barang kelas berat, mau gak mau harus di ganti rel dan bantalannya.
Sinkron kang...berarti biaya bisa ditekan karena jalur - jalur yang mati sekarang kebanyakan cuma light train bukan heavy duty berati bisa menggunakan R.42 bantalan besi saja dan ini bisa memakai material yang bekas dari jalur utama, dari pada di kilokan mending bisa manfaatkan serta dengan persaratan di kalibrasi ulang supaya layak pakai lagi.
Setuju dengan pendapat Bung Ady dan Bung Eko. Sedikit lega rasanya. Namun bagaimana dengan penanganan benalu-benalu yang telah tumbuh di mana-mana?  Jika memang revitalisasi jalur mati merupakan salah satu program yang benar-benar akan direalisasikan, kiranya penanganan benalu patut dipikirkan mulai sekarang. Jika tidak, permasalahan berlarut-larut hingga ke MA maupun MK bisa timbul....he,he,he (Ini jika misalnya terjadi sengketa kepemilikan atas aset PT KA).
Salam Spoor,
Posts: 3,300
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
38
Ternyata yang baru dalam perkembangan adalah :
- Jalur Bogor - Sukabumi - Cianjur.
- Jalur Solokota - Wonogiri.
- Jalur Ambarawa - Tuntang ( dalam persiapan material )
yang lain murni jalur mati belum ada tanda-tanda kegiatan.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER
GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Posts: 436
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
7
kang, emang AMBARAWA - TUNTANG mau dibuat apa?! buat KA Uap wisata ya?!
ga skalian sampai kedungjati aja yah, hehe
Posts: 3,300
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
38
(14-03-2010, 05:26 PM)rapih_dhoho Wrote: kang, emang AMBARAWA - TUNTANG mau dibuat apa?! buat KA Uap wisata ya?!
ga skalian sampai kedungjati aja yah, hehe
Betul untuk kereta wisata karena jalur sekarang bantalan kayu sudah pada rapuh dan akan di ganti dengan bantalan besi, akan tetapi hanya sampai Tuntang...hal ini dilakukan karena kalau pas ada warga yang mau ke Ambarawa bisa naik KA.Wisata jadi lebih cepat.
Kalau untuk loko uap bisa juga menggunakan B2502/3 atau Cxx yang dalam perbaikan, tapi untuk sementara menggunakan lori diesel dan kalau lebih keren lagi menggunakan D301...
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER
GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(14-03-2010, 05:44 PM)eko winarno Wrote: (14-03-2010, 05:26 PM)rapih_dhoho Wrote: kang, emang AMBARAWA - TUNTANG mau dibuat apa?! buat KA Uap wisata ya?!
ga skalian sampai kedungjati aja yah, hehe
Betul untuk kereta wisata karena jalur sekarang bantalan kayu sudah pada rapuh dan akan di ganti dengan bantalan besi, akan tetapi hanya sampai Tuntang...hal ini dilakukan karena kalau pas ada warga yang mau ke Ambarawa bisa naik KA.Wisata jadi lebih cepat.
Kalau untuk loko uap bisa juga menggunakan B2502/3 atau Cxx yang dalam perbaikan, tapi untuk sementara menggunakan lori diesel dan kalau lebih keren lagi menggunakan D301...
Omong-omong berapa biaya perbaikan jalur Ambarawa-Tuntang ini? dan berapa KM panjangnya?
Salam spoor,
Posts: 2,014
Threads: 0
Joined: Jan 2008
Reputation:
39
Konon ada riset yang menyebutkan bahwa kemacetan lalu lintas yang terjadi di Indonesia menyebabkan terjadi potensi pemborosan sebesar 43 Triliun Rupiah setiap tahunnya.
Untuk kerugian BBM yang terbuang percuma alias cuman jadi asep dowang sekitar 14 Triliun Rupiah. Artinya setara dengan 38 Milliar Rupiah per hari atau setara dengan 1.5 Miliar Rupiah per jam.. (ini baru dari BBM thok).
Kalo dari totat potential lost angkanya akan lebih guedhe lagi.
Sementara itu pembangunan / revitalisasi jalur kereta api baru yang cuman berbiaya 20 Miliar Rupiah per KM dipermasalahkan.... mau dibawa kemana rakyat Indonesia sama pemimpinnya ??
Think again.
Posts: 3,300
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
38
16-03-2010, 06:37 AM
(This post was last modified: 16-03-2010, 06:40 AM by eko winarno.)
Berarti itu pemborosan BBM yang legal...tapi merasa untung...dan kalau sudah begitu bisa masuk kurikulum baru di Perguruan tinggi
itu baru kerugian BBM belum lagi kerugian pencemaran udara yang lebih mengerikan..yang efeknya bukan finansial lagi melainkan misi bunuh diri massal yang tidak di sadari.
Ma'af OOT-nya dan BtT, nuwun.
Jangan matikan aku bila perlu tambah dan panjangkan jalurku, biarkan kereta melaju di punggungku....SPOR RAIDER
GREEN LIVING
Salam Kereta, Nuwun
Posts: 2,344
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
8
16-03-2010, 08:40 AM
(This post was last modified: 16-03-2010, 01:42 PM by bonbon.)
(15-03-2010, 11:22 PM)hedwigus Wrote: Konon ada riset yang menyebutkan bahwa kemacetan lalu lintas yang terjadi di Indonesia menyebabkan terjadi potensi pemborosan sebesar 43 Triliun Rupiah setiap tahunnya.
Untuk kerugian BBM yang terbuang percuma alias cuman jadi asep dowang sekitar 14 Triliun Rupiah. Artinya setara dengan 38 Milliar Rupiah per hari atau setara dengan 1.5 Miliar Rupiah per jam.. (ini baru dari BBM thok).
Kalo dari totat potential lost angkanya akan lebih guedhe lagi.
Sementara itu pembangunan / revitalisasi jalur kereta api baru yang cuman berbiaya 20 Miliar Rupiah per KM dipermasalahkan.... mau dibawa kemana rakyat Indonesia sama pemimpinnya ??
Think again.
Salah rakyatnya yg milih pemimpinya atau pemimpinnya yang salah ngurus rakyat ?
38 Milliar Rupiah per hari <--- bisa bikin jalur baru atau hidupin jalur mati 2 km per hari
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(15-03-2010, 11:22 PM)hedwigus Wrote: Konon ada riset yang menyebutkan bahwa kemacetan lalu lintas yang terjadi di Indonesia menyebabkan terjadi potensi pemborosan sebesar 43 Triliun Rupiah setiap tahunnya.
Untuk kerugian BBM yang terbuang percuma alias cuman jadi asep dowang sekitar 14 Triliun Rupiah. Artinya setara dengan 38 Milliar Rupiah per hari atau setara dengan 1.5 Miliar Rupiah per jam.. (ini baru dari BBM thok).
Kalo dari totat potential lost angkanya akan lebih guedhe lagi.
Sementara itu pembangunan / revitalisasi jalur kereta api baru yang cuman berbiaya 20 Miliar Rupiah per KM dipermasalahkan.... mau dibawa kemana rakyat Indonesia sama pemimpinnya ??
Think again.
Kalau saya sih, sebagai rakyat, setuju saja semua rel mati dihidupkan lagi berapapun biayanya  Jadi kita tak mesti harus beli sepeda motor maupun mobil untuk ke mana-mana. Cukup naik KA atau trem atau barangkali naik AKAL (angkutan kereta api lori) saja
Tapi jika pemimpinnya tidak bisa menikmati KA..... pasti lain cerita
Betul kan Pak?
Salam Spoor,
Posts: 341
Threads: 0
Joined: Sep 2008
16-03-2010, 10:54 PM
(This post was last modified: 16-03-2010, 10:54 PM by JaY.)
Memang benar bahwa merevitalisasi jalur KA itu memang mahal seperti peningkatan jalur, menghidupkan jalur mati, dan pembangunan. Seperti peningkatan jalur Sukabumi-Bogor yang semula bertipe rel R33 akan diganti menjadi R54 memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dimana harus memperbaiki jembatan, tubuh baan, stasiun, bantalan, dll. Tapi setidaknya hal itu mungkin bisa mengurangi kerusakan dan kepadatan jalan. Mungkin pemerintah berpikir seperti ini " daripada membeli barang murah namun daya tahannya sebentar mending beli yang mahal sekalian ". Logikanya jika pemerintah terus menambal aspal yang memang biayanya murah tapi cepat rusaknya mending an beli rel dan bantalan yang memang mahal tapi tahan lama.
Memang benar bahwa merevitalisasi jalur KA itu memang mahal seperti peningkatan jalur, menghidupkan jalur mati, dan pembangunan. Seperti peningkatan jalur Sukabumi-Bogor yang semula bertipe rel R33 akan diganti menjadi R54 memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit dimana harus memperbaiki jembatan, tubuh baan, stasiun, bantalan, dll. Tapi setidaknya hal itu mungkin bisa mengurangi kerusakan dan kepadatan jalan. Mungkin pemerintah berpikir seperti ini " daripada membeli barang murah namun daya tahannya sebentar mending beli yang mahal sekalian ". Logikanya jika pemerintah terus menambal aspal yang memang biayanya murah tapi cepat rusaknya mending an beli rel dan bantalan yang memang mahal tapi tahan lama.
|