Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Sta. Tawang
#11
big bro Wrote:
eling Wrote:seandainya IRPS sudah ada sejak 1980'an, mungkin stasiun Gambir masih bisa diselamatkan bentuk aslinya Nangis

kalo JAKK-Mri gak pake jalan layang, bisa macet di mana2 mas...... Lolol Lolol

lagian KRL ekpress gak bisa ngebut.... Depok Express

paling tidak di modif gaya eropa tempo dulu, jgn dibongkar total, inget sejarah bro.....
itu bangunan bersejarah....
kasian kan anak-anak generasi sekarang,udah gak tau bentuknya stasiun gambir jaman dulu

Reply
#12
Atas nama modernisasi, bangunan lama dihancurken Nangis
Ironis...
Tragis...

Ke Sta. Tawang lagih yoek...

:ewink:

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#13
pertahankan bentuk asli Sta Tawang....
merrrdeeekkkkaaaaaa...... :gembira:

Reply
#14
Stasion Semarang Tawang (SMT) selalu terkena banjir pasang / rob, karena posisinya yang rendah. Apalagi jika turun hujan yang cukup lebat, mulai dari parkiran, hall hingga peron biasanya terendam air.
Saat banjir menerjang, rangkaian yang ditarik oleh lokomotif Diesel Electric pasti langsung nyerah (katanya toleransi DE menerabas air hanya sampai ketinggian 5cm saja) karena tentu saja, listrik dan air gak pernah hidup dengan rukun Wink.

Karena SMT merupakan stasion dengan jalur kereta api yang padat, rob tentu saja menjadi kendala yang sangat-sangat mengganggu. Saya ingat ada railfans Semarang yang memposting sebuah photo seorang penumpang naik becak sampai masuk ke dalam hall. Dan di dalam peron telah disusun kayu-kayu untuk digunakan orang menyeberang agar dapat mencapai rangkaian.

Proses revitalisasi SMT tentu saja akan memakan korban, tinggal semua pihak berlaku bijak untuk mencegah kerusakan lebih parah apalagi menghancurkan bangunan sangat bersejarah.

Caranya macam-macam, ada yang mengusulkan pemindahan stasion bergeser ke arah Selatan ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang mengusulkan membangun rel layang dengan tetap mempertahankan bentuk stasion.. dan macam-macam.

Semoga keputusan yang nanti diambil akan banyak manfaatnya dan kerusakan yang ditimbulkan seminimal mungkin.

salam
:hedwig:

Reply
#15
kenapa gak stasiunny aja yang ditinggiin????

bangunan lamanya tetep?????
Reply
#16
Kalo gitu, brarti tiap rob tasiunnya tetep selamet tapi bangunan lamanya malah tergenang dwongs....

Yang jadi culture heritage pan bangunan lamanya itu loh Le....

Ato any better idea?
Terutama yang dari teknik Sipil?
:gembira:

:ewink:

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#17
yg punya link internet kenceng,mohon bisa difoto dari google erath posisi Sta Tawang terhadap laut jawa
thanks :ewink:

Reply
#18
eling Wrote:seandainya IRPS sudah ada sejak 1980'an, mungkin stasiun Gambir masih bisa diselamatkan bentuk aslinya Nangis

Iya.. saya masih inget, sekitar akhir 1980-an kalo nganter almarhumah eyang saya naik Senja Utama Solo, pasti dari Gambir. Saya inget dulu di Sta. Gambir depannya ada pintu besinya, kaya ruko-ruko jaman sekarang, jadi bisa dibuka/tutup sesuai kebutuhan....

Gambir sudah tinggal kenangan... mumpung belum terlambat, Sta. Tanjung Priok perlu segera mendapat perhatian pencinta sepur tanah air Lok Merah Biru

Kembali ke Sta Tawang di Semarang... Menurut saya bagusnya ditinggikan saja.. ya jadikan mirip Gambir aja, sehingga KA-nya lewat atas sehingga paling nggak penumpang tidak terlalu direpotkan.
I am infamous and like my bad boy image but don't tell anybody it's all an act... Tersenyuum
Reply
#19
trus kalo mau di layangin kayak mri-kota, berapa jaraknya? apa dari poncol sampe alastuwa, apa cuma di tawang doang?

kayaknya nanggung kalo cuma segitu. mending sekalian aja bikin rel layang yang ke arah demak. kali aja bisa buat komuter sekalian hidupin rel nya. Big Grin
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#20
Sekiranya orang Teknik Sipil Indonesia pake teknologi ini bisa ngga yah?

Quote:Pernah terpikir oleh saya, ini bangunan kuno. Biasanya plafondnya tinggi minimal 4-5m, kusennya juga tinggi (lubangnya), minimal 3m. Banjir SMT/Rob biasanya terbatas dibawah atau sampai 50 cm.
Opsinya, (butir) pemikiran saya:
  1. lantainya di urug minimal 50 cm tetapi dng. menyelamatkan tegel lama (kalau masih asli) unt dipasang kembali hati2 (ketelitian spt pekerjaan Arkeologi). [/*:m]
  2. pengurukan dng. tanah biasa TIDAK AKAN menyelesaikan masalah. Dengan beban tanah urug setebal 50 cm akan bertambah beban mati sekitar 700-800 kg/m2, akibatnya amblas lagi-amblas lagi. Jadi jangan pakai tanah urug.[/*:m]
  3. Yg lebih baik dipakai ialah penggunaan Styrofoam (gabus putih bungkus TV). Styrofoam dibentuk dan dijadikan alas bekisting plat beton cor2-an yg diperkuat dng. Rib. Setelah beton bertulang dan balok Rib nya mengeras, maka styrofoam tadi akan tinggal selamanya didalam tetapi SANGAT RINGAN, hampir tidak mempunyai berat. Jadi tebal plat 15cm plus styrofoam hanya akan berberat sekitar 350-400 kg/m, alias cuma maximum 50 (limapuluh) persen saja dari berat Tanah Urug. Teknologi Styrofoam ini sudah sangat dikenal di pembuatan jalan tol melalui rawa2 atau membuat rumah lantai beton di atas tanah lunak tanpa pondasi di LN.
    Terlampir contoh (photo) dimana Styrofoam dipakai sebagai dasar cetakan beton sehingga TANPA PONDASI apapun, bisa bikin rumah, alias rumahnya cuma numpang duduk diatas tanah. Gak tahu apakah ada Insinyur Sipil di Indo yg. sudah pakai cara ini.[/*:m]
  4. Dng. meninggikan minimal 50cm Lantai dan Tracknya, maka SMT akan berubah jadi "pulau" yg tak tenggelam, walaupun sekitarnya tergenang rob. Lumayan daripada ikut tenggelam. Sekitarnya (kalau mau) silakan ikut2an, dng biaya dari masing2 pihak, bukan tanggungjawab PTKA.[/*:m]
  5. Kalau mau lebih dari 50 cm tinggal dihitung teliti, berapa cm mau diangkat. Berapa maximum beban tanpa amblas. Tugas para jagoan Ahli Teknik Sipil. Monggo didiskusikan diantara para profesor di Univ dan Jagoan Teknis Sipil[/*:m][/list:o]
    Salam
    Susanto

    [Image: 20080912152823_styrofoamasformworksmall_...5969-t.jpg]

Ada yang berani mencoba?
Minimal buat Skripsi ato TA-nya...

:ewink:

[Image: spammingsj0.gif]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)