18-01-2012, 07:16 AM
|
PerPres 83 Th.2011 Penugasan Kepada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Untuk KRL Loop Line dan Bandara
|
|
19-01-2012, 03:48 PM
19-01-2012, 05:10 PM
23-01-2012, 09:17 PM
27-01-2012, 01:39 PM
Jumlah Penumpang KRL di Indonesia Tertinggal dari Negara Lain
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Jumat, 27 Januari 2012 | 10:34 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, mengatakan, jumlah penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek jauh tertinggal dari sejumlah negara lain. Penyebabnya, jarak waktu kedatangan antar rangkaian kereta api (headway) yang lama karena banyaknya perlintasan sebidang. "Panjang KRL Jabodetabek sekitar 150 kilometer dengan 67 stasiun hanya dapat mengangkut 400 ribu penumpang per hari karena ada kendala headway dan perlintasan sebidang," kata Djoko kepada Kompas.com, Jumat ( 27/1/2012 ). Sementara di kota Berlin panjang lintasan KRL hanya 147 kilometer dengan 195 stasiun bisa mengangkut 1,4 juta penumpang per hari, di Osaka panjang lintasan 138 kilometer dengan 133 stasiun bisa mengangkut 2,3 juta penumpang, dan di Saint Petersburg panjang lintasan sebesar 110 kilometer dengan 64 stasiun bisa mengangkut hingga 2,3 juta penumpang. Bahkan Singapura, sebut dia, dengan panjang lintasan kereta sepanjang 130 kilometer dengan 87 stasiun mampu mengangkut 1,8 juta penumpang per harinya. Menurut Djoko, banyaknya perlintasan sebidang yang mencapai 80 titik di Jabodetabek menjadi hambatan bagi kereta untuk bisa mengurangi headway di bawah 5 menit. Sebagai solusi, Djoko berharap titik potong lintasan kereta api dengan jalan ini bisa dibangunkan rel layang atau underpass. Pembangunan satu rel layang atau underpass sekitar Rp 75 miliar. Dengan begitu, jika dikalikan dengan jumlah titik perlintasan sebidang tersebut maka dana pembangunan rel layang atau underpass menjadi Rp 6 triliun. "Ada pilihan membuat jadi tak sebidang atau membangun jaringan kereta api melayang seluruhnya," tuturnya. Sekarang ini, kata dia, jumlah perlintasan sebidang yang krusial untuk diperbaiki hanya 24 titik dari 80 titik yang ada. Untuk sumber dananya, ia menyebutkan, pemerintah bisa mengambilnya dari dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tahun lalu menelan dana sebesar Rp 96,8 triliun. Ini karena Pemda DKI Jakarta sendiri hanya sanggup memperbaiki 2 perlintasan sebidang per tahunnya. Seperti diwartakan, PT Kereta Api Indonesia sendiri memasukkan kondisi perlintasan sebidang sebagai salah satu masalah yang harus diselesaikan demi menuju target pengangkutan 1,5 juta penumpang untuk KRL Jabodetabek pada tahun 2018 . Namun, KAI sendiri belum berencana membangun rel layang untuk mengatasi perlintasan ini seiring dengan besarnya dana yang dibutuhkan. "Biayanya sangat besar. Untuk 1 kilometer rel layang dibutuhkan biaya Rp 180-200 miliar," ujar Direktur Utama PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan, beberapa waktu lalu. Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...egara.Lain
10-02-2012, 08:56 PM
14-03-2012, 11:02 AM
Rabu, 14 Maret 2012 | 05:42 WIB
Tahun Ini, Bandara Segera Memiliki Kereta TEMPO.CO , Jakarta-Pembangunan jalur kereta dari Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, diharapkan rampung tahun ini. “Dengan adanya kereta khusus, beban kapasitas di bandara dikurangi,†kata juru bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat, di Istana Wakil Presiden, Selasa 13 Maret 2012. Menurut Yopie, dengan kehadiran kereta tersebut, proses check-in bisa dilakukan di stasiun-stasiun di dalam kota. “Sehingga tidak semua orang harus bertumpuk melakukan check-in di terminal,†kata dia setelah mendampingi Wakil Presiden Boediono bertemu dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Dahlan Iskan datang bersama Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo, serta Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto. Ia menyatakan Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan menjanjikan proyek pembangunan rel, terutama yang menghubungkan Stasiun Tangerang ke bandara, segera rampung. Pembangunan ini membutuhkan dana Rp 1,7 triliun yang sudah diposkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011. Dana itu merupakan patungan di antara kedua kementerian tersebut. Nantinya, dua jenis kereta yang beroperasi adalah komuter bandara (Commuter Line) dan ekspres bandara (Express Line). Selain itu, kata dia, akses utama dari dan menuju terminal penumpang akan diperlebar, apron ditambah, high speed rapid exit taxiway juga dibangun. Kapasitas boarding lounge Terminal 1A dan 1B akan ditambah. Sebelumnya diberitakan pembangunan jalur kereta bandara ditargetkan rampung pada 2013. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang Ervan, menyatakan proyek jalur kereta ke bandara dilakukan melalui skema kerja sama antara pemerintah dan swasta yang dimulai pada 10 November tahun lalu. Jalur lain, yaitu melewati Tangerang, yang sekarang sudah terdapat single track, akan diperbarui menjadi double track. "Itu dikerjakan oleh Kementerian Perhubungan dan dimulai tahun ini," katanya. Panjang jalur yang dikerjakan kementerian sekitar 20 kilometer. Sedangkan pada jarak 5-6 kilometer dari bandara, pengerjaan dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Juru bicara PT. Kereta Api Indonesia (Persero), Sugeng Priyono, menyatakan pihaknya sedang merampungkan kajian rancangan pembangunan, meliputi studi finansial, teknis, dan kelayakan jalur. Pembangunan fisik, kata dia, dimulai pada semester tahun ini. "Yang jelas, antara Stasiun Duri dan Tangerang arah ke bandara. Kan ada Poris dan lain-lain," katanya tanpa memerinci. Biaya proyek jalur kereta ini Rp 1,7 hingga Rp 2 miliar. Proyek tersebut dikerjakan oleh anak perusahaan KAI, yaitu PT Railing, dan melibatkan pula PT Angkasa Pura. "Selain pembiayaan, Angkasa Pura terlibat dalam soal teknis," kata dia. Ia mengatakan jalur akan selesai dan dapat dipakai pada 2014. Saat itu penumpang akan bisa melakukan check-in keberangkatan dari stasiun. Ia menyatakan KAI sudah bercita-cita membangun jalur tersebut sejak 2006. Dengan adanya jalur tersebut, kata dia, penumpang dapat memperkirakan waktu tempuh mereka ke bandara. "Prediksi perjalanan dari Jakarta ke bandara bisa dihitung," ia berujar. Menurut dia, waktu tempuh sampai ke bandara dengan kereta ini hanya 60 hingga 70 menit. "Ada sekitar 32 kereta per hari." Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Tundjung Inderawan, mengatakan pembangunan jalur kereta api sesuai dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2010-2030. Pendanaan pembangunan rencana induk sebesar Rp 605 triliun, yang berasal dari investasi pemerintah 30 persen dan swasta 70 persen. EZTHER LASTANIA | ATMI PERTIWI | MARTHA WARTA S Sumber: tempo.co.id
09-04-2012, 09:41 PM
Quote:Tender Proyek KA Bandara Juli 2012. Sumber : kontan.co.id |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|
Users browsing this thread: 1 Guest(s)



