Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kereta Api tidak "merakyat" lagi......
Pindahan dari thread sebelah...
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).

analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....
Sudah dilakukan kan. Pernah saya liat iklan di dalam KRL. Tapi iklan di stasiun dan kereta kan cuma bisnis sampingan. Dapet syukur, kalau ngga dapet ya ngga apa-apa. Sama halnya dengan bus yg bodinya dicat sama iklan, emangnya tarif bus tersebut turun? Juga taksi yg jadi "papan reklame berjalan"? Tarif taksi tersebut turun ngga? Ngga spt koran dan televisi, ngga ada iklan ya siap-siap bangkrut(ngga berlaku buat TVRI).
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.

Arahnya mau kesono kang. Kan maunya pak Dirut, kereta api jadi mirip pesawat. Besok-besok bisa jadi nyetak tiket sendiri kayak pesawat gitu.

Itu yang saya bold kok aneh yak. Kata "kec" itu maksudnya kecuali kan. Artinya kalimat tersebut KRL bablas di GMR(ngga mungkin bablas di JAKK) tapi berhenti di PSE gitu. Ah apapun maksudnya, yg jelas ini berkaitan dengan sistem boarding yg belum "matang" tapi dipaksakan untuk diimplementasikan. Masih perlu banyak perbaikan.

Terus KRL yg dari bekasi ya jelaslah ngga berhenti di PSE. Gimana mau berhenti, lewat aja juga kagak malah moment langka kalau berhenti/lewat di PSE.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
(02-04-2013, 04:04 AM)zmidth Wrote: [spoiler]Pindahan dari thread sebelah...
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).

analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....
[/spoiler]
Sudah dilakukan kan. Pernah saya liat iklan di dalam KRL. Tapi iklan di stasiun dan kereta kan cuma bisnis sampingan. Dapet syukur, kalau ngga dapet ya ngga apa-apa. Sama halnya dengan bus yg bodinya dicat sama iklan, emangnya tarif bus tersebut turun? Juga taksi yg jadi "papan reklame berjalan"? Tarif taksi tersebut turun ngga? Ngga spt koran dan televisi, ngga ada iklan ya siap-siap bangkrut(ngga berlaku buat TVRI).

Hihihi, kalo perusahaan transportasi diibaratkan dengan perusahaan koran atau tivi, rada sulit itu ketemunya .... Ngikik Perusahaan koran atau tivi kan salah satu core businessnya (bisnis utamanya) dalam hal cari duit sebenernya kan memang melalui iklan. Nah, untuk tipi biar dapet iklan banyak ya bikin atau tayangin deh program acara yang laris (bukan yang bagus ya, melainkan yang laris dan disukai mayoritas masyarakat seperti Tukang Bubur buka cabang di Mekkah itu). Kalau Acaranya laris, ya pengiklan berbondong-bondong pasang di jamnya Tukang Bubur karena itu saat penonton tipi lagi banyak-banyaknya sehingga jadi waktu promosi produk yang ampuh. Nah tipinya tinggal pasang tarif luar biasa tinggi deh buat ngiklan di jam nya tukang bubur. Untung besar deh. Hehehe.

Lha kalo perusahaan transportasi, core business nya ya tentu saja buat ngangkut orang maupun barang. Ya jor-jorannya tentu di bagian pengangkutan. Bagian lain ya ndak jor-joran karena itu termasuk supporting process (bisnis pembantu, bisnis sampingan). Namanya bisnis sampingan ya pendapatannya ya gak se wah bisnis utama. Hahaha. Seperti kata Mas zmidth (susah amat sih Mas namanya Nyengir ), ada pendapatan syukur, gak ada juga gak apa-apa. Jadi ya gak terlalu serius ditekuni dan digencarkan. Tapi ya ndak ditelantarkan. Ya pokok'e yang sedang-sedang saja lah ya, hehehe.

(02-04-2013, 04:04 AM)zmidth Wrote:
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.

Arahnya mau kesono kang. Kan maunya pak Dirut, kereta api jadi mirip pesawat. Besok-besok bisa jadi nyetak tiket sendiri kayak pesawat gitu.

Itu yang saya bold kok aneh yak. Kata "kec" itu maksudnya kecuali kan. Artinya kalimat tersebut KRL bablas di GMR(ngga mungkin bablas di JAKK) tapi berhenti di PSE gitu. Ah apapun maksudnya, yg jelas ini berkaitan dengan sistem boarding yg belum "matang" tapi dipaksakan untuk diimplementasikan. Masih perlu banyak perbaikan.

Terus KRL yg dari bekasi ya jelaslah ngga berhenti di PSE. Gimana mau berhenti, lewat aja juga kagak malah moment langka kalau berhenti/lewat di PSE.

Kalo berdasarkan teori siklus produk yang biasanya diajarkan di Pelajaran atau kuliah Manajemen, menurut saya Garuda Indonesia ini setelah jatuh bangun sudah mencapai tahap maturity (kedewasaan), jadinya sekarang ini mereka sudah mencapai top performance / puncak mereka, benar-benar telah mencapai pelayanan prima tingkat tinggi. Selain itu, image mereka di mata masyarakat secara umum sekarang kan sudah bagus banget walaupun tiketnya mahal. Soalnya ya itu tadi, mereka udah mencapai tahap Maturity, top performance, dst. Jadinya image mereka sekarang kurang lebih itu kan "Garuda itu Maskapai yang elegan, high class, lux, dan seterusnya" gitu lah ya. Ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa. Playboy

Kalo PT. Sepur ya beluuum, masih jauh dari itu. Hahaha. Ono rego durung mesti ono rupo. Ada harga tapi belum tentu ada rupa. Mungkin mereka masih ada dalam tahap growth (pertumbuhan), masih melakukan pembenahan sana-sini. Kalo dikaitkan dengan postingnya Mas Logawa, dengan adanya pembenahan dan biaya-biaya, akibatnya harga sekarang jadi melonjak, jadinya mereka terpaksa bikin slogan "Silakan menggunakan moda Transportasi lain" Ngikik

Kalo diingat-ingat, Ya mungkin mereka pernah mencapai tahap Maturity pas zamannya ada tuslah, snack dan sebagainya itu. Tapi kalo ndak salah kan di internal nya sendiri kacau balau ya waktu itu? Hihihi. Katanya rugi terus kan? Hahaha. Jadinya setelah era Pak IJ ini mungkin mereka "mulai dari awal" lagi gitu ...

Kalau tentang boarding Pass ini setuju deh sama Om Zmidth (duh susahnya nulis, hehehehe. Peace ya mas'e). Sebenernya boarding belum terlalu siap untuk langsung diimplementasikan. Jadinya sekarang bukannya memudahkan calon penumpang, melainkan malah memudahkan pegawainya Nyengir

Ya moga-moga ke depannya KRL kembali lagi berhenti di GMR dan PSE lagi kalo udah siap beneran.

(bercanda alert)
Oh, btw tentang kata "kec" dan KRL Bekasi yang nyasar ke PSE itu, mungkin karena Cikini lagi banjir lokal karena diatur sama Avatar Sang Penguasa Keempat Elemen, jadinya ndak bisa dilewatin KRL. Akibatnya KRL dari Bekasi harus lewat jalur Jatinegara - Pasar Senen - Kampung Bandan Ngakak
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
Mas arwah, emang nama zmidth susah ya?
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
(02-04-2013, 07:50 PM)CC-201-23 Wrote:
Mas arwah, emang nama zmidth susah ya?

Lumayan susah, soalnya 2 jari tangan kiri dan 2 jari tangan kanan saya harus bergerak ke 4 penjuru mata angin untuk mengetik kata zmidth Ngikik *lebaaay*

Mas zmidht, zmidth, bercanda lho mas Nyengir

Btw tuh di grup FB Semboyan 35 rame-rame tentang rencana e-ticketing CL mulai Juni 2013. Jadinya bayarnya berdasarkan jauh dekatnya perjalanan. Nah, tuh CL nya mulai "sedikit" merakyat .... Ngiler
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
(02-04-2013, 08:32 PM)Hungry Soul Wrote:
(02-04-2013, 07:50 PM)CC-201-23 Wrote:
Mas arwah, emang nama zmidth susah ya?

Lumayan susah, soalnya 2 jari tangan kiri dan 2 jari tangan kanan saya harus bergerak ke 4 penjuru mata angin untuk mengetik kata zmidth Ngikik *lebaaay*

Mas zmidht, zmidth, bercanda lho mas Nyengir

Btw tuh di grup FB Semboyan 35 rame-rame tentang rencana e-ticketing CL mulai Juni 2013. Jadinya bayarnya berdasarkan jauh dekatnya perjalanan. Nah, tuh CL nya mulai "sedikit" merakyat .... Ngiler

Om C123, itu artinya si arwah baru belajar ngetik. ngetik nama saya aja nyari huruf satu per satu. Itu kan nama impor, cuma ditengah jln ada badai jadinya kayak gitu... Ngakak
Back to topic...
Bagus bgt kalo e-ticketing diterapkan, seharusnya ngga hanya CL aja, tapi juga KA jarak jauh #semoga realisasinya bayarnya per petak, mumpung punya kartu prabayar dr slh satu bank yg skrg bs dipake sama "Jalan Bus"
Jadi kalo perpetak kan naik dari Pasar Minggu ke Tebet ngga bakal diitung penuh walaupun pake tarif non subsidi. Begitu juga yg di KA Jarak Jauh dipake kayak gitu bagus tuh. Naik dari GB turun di KA ngga diitung penuh. #wooy ngarepnya jgn ketinggian...
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply
(02-04-2013, 10:09 PM)zmidth Wrote: Om C123, itu artinya si arwah baru belajar ngetik. ngetik nama saya aja nyari huruf satu per satu. Itu kan nama impor, cuma ditengah jln ada badai jadinya kayak gitu... Ngakak
Back to topic...
Bagus bgt kalo e-ticketing diterapkan, seharusnya ngga hanya CL aja, tapi juga KA jarak jauh #semoga realisasinya bayarnya per petak, mumpung punya kartu prabayar dr slh satu bank yg skrg bs dipake sama "Jalan Bus"
Jadi kalo perpetak kan naik dari Pasar Minggu ke Tebet ngga bakal diitung penuh walaupun pake tarif non subsidi. Begitu juga yg di KA Jarak Jauh dipake kayak gitu bagus tuh. Naik dari GB turun di KA ngga diitung penuh. #wooy ngarepnya jgn ketinggian...

Hehehe, meragukan kemampuan mengetik saya ini ... padahal saya udah kenyang makan dari Karbon mesin ketik jedok-jedok bekas sampe keyboard rusak dari jamannya masih berseragam putih-biru lho mas ... (ini ngetik apa nDebus? Ngikik )

Kalo soal ticketing, yang perlu segera di-jauhdekat-kan Ekonomi Ashee Split tuh. Kasian penumpang stasiun tengah atau stasiun antara, gak menikmati full trayek tapi kudu bayar full. Contohnya penumpang Brantas SK - TPK / sebaliknya yang sebenernya lumayan banyak. Kalo pake tarip full KD - TPK, ya yang dari SLO jadi lari ke bus deh, hehehe. Atau contoh lain Kahuripan KD - LPN / LPN - KAC atau sebaliknya.

Tapi beberapa waktu ke depan ini kayaknya kalo diminta kayak yang di atas itu, jawabannya Mr. Jon masih "Ndak puas? Silakan menggunakan moda transportasi lain" deh Nyengir
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
(02-04-2013, 11:14 PM)Hungry Soul Wrote:
(02-04-2013, 10:09 PM)zmidth Wrote: Om C123, itu artinya si arwah baru belajar ngetik. ngetik nama saya aja nyari huruf satu per satu. Itu kan nama impor, cuma ditengah jln ada badai jadinya kayak gitu... Ngakak
Back to topic...
Bagus bgt kalo e-ticketing diterapkan, seharusnya ngga hanya CL aja, tapi juga KA jarak jauh #semoga realisasinya bayarnya per petak, mumpung punya kartu prabayar dr slh satu bank yg skrg bs dipake sama "Jalan Bus"
Jadi kalo perpetak kan naik dari Pasar Minggu ke Tebet ngga bakal diitung penuh walaupun pake tarif non subsidi. Begitu juga yg di KA Jarak Jauh dipake kayak gitu bagus tuh. Naik dari GB turun di KA ngga diitung penuh. #wooy ngarepnya jgn ketinggian...

Hehehe, meragukan kemampuan mengetik saya ini ... padahal saya udah kenyang makan dari Karbon mesin ketik jedok-jedok bekas sampe keyboard rusak dari jamannya masih berseragam putih-biru lho mas ... (ini ngetik apa nDebus? Ngikik )

Kalo soal ticketing, yang perlu segera di-jauhdekat-kan Ekonomi Ashee Split tuh. Kasian penumpang stasiun tengah atau stasiun antara, gak menikmati full trayek tapi kudu bayar full. Contohnya penumpang Brantas SK - TPK / sebaliknya yang sebenernya lumayan banyak. Kalo pake tarip full KD - TPK, ya yang dari SLO jadi lari ke bus deh, hehehe. Atau contoh lain Kahuripan KD - LPN / LPN - KAC atau sebaliknya.

Tapi beberapa waktu ke depan ini kayaknya kalo diminta kayak yang di atas itu, jawabannya Mr. Jon masih "Ndak puas? Silakan menggunakan moda transportasi lain" deh Nyengir


Untuk tiket Ekonomi Ashe Split saya melihat kenapa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetap mempertahankan single tarifnya pada 2 hal, pertama adalah untuk penumpang yang menuju/dari stasiun antara yang tdk menikmati full trayek ada kereta "lokal asli" yang menampungnya, contoh seperti yang disebutkan om Arwah di stasiun SK kan ada Bengawan, jadi disarankan untuk penumpang stasiun antara memakai kereta Bengawan terlepas dari jadwal yang gak enak. Kalaupun sudah tidak tertampung Bengawan ya alternatifnya ada 2, ambil kereta yang melewati stasiun antara tersebut dengan resiko harganya ngikutin harga full rute terjauh, atau kalau gak mau ya sudah silakan cari moda transportasi lainnya Playboy (sebenarnya ada 3 sih alternatifnya, 1 lagi yaitu ambil kelas yg lebih tinggi dan mahal ex Dwipangga..Ngeledek). Yang kedua adalah lebih kepada strategi kepastian pemasukan yang maksimal dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu sendiri, andaikan pada satu hari keberangkatan semua seat terjual tentu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah bisa ambil semua pendapatan harga maksimum penjualan tiket dengan pasti. Syukur-syukur banyak yang turun di tengah dan seatnya diisi lagi di tengah jalan (jadi dobel pemasukan kan kalo gitu)...Nah kalau berdasarkan jauh dekat turunnya kan walaupun tiket terjual semua tapi pendapatannya tidak bisa dimaksimalkan kalau penumpangnya banyak yang turun di stasiun antara, dan keretanya kosong glondangan sampai stasiun akhir...

Just my 2 cents...
Thomas, James, Percy, Gordon, Emily, Henry, Edward, Toby
Reply
(02-04-2013, 11:41 PM)MakSaa Wrote: Untuk tiket Ekonomi Ashe Split saya melihat kenapa PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tetap mempertahankan single tarifnya pada 2 hal, pertama adalah untuk penumpang yang menuju/dari stasiun antara yang tdk menikmati full trayek ada kereta "lokal asli" yang menampungnya, contoh seperti yang disebutkan om Arwah di stasiun SK kan ada Bengawan, jadi disarankan untuk penumpang stasiun antara memakai kereta Bengawan terlepas dari jadwal yang gak enak. Kalaupun sudah tidak tertampung Bengawan ya alternatifnya ada 2, ambil kereta yang melewati stasiun antara tersebut dengan resiko harganya ngikutin harga full rute terjauh, atau kalau gak mau ya sudah silakan cari moda transportasi lainnya Playboy (sebenarnya ada 3 sih alternatifnya, 1 lagi yaitu ambil kelas yg lebih tinggi dan mahal ex Dwipangga..Ngeledek). Yang kedua adalah lebih kepada strategi kepastian pemasukan yang maksimal dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu sendiri, andaikan pada satu hari keberangkatan semua seat terjual tentu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sudah bisa ambil semua pendapatan harga maksimum penjualan tiket dengan pasti. Syukur-syukur banyak yang turun di tengah dan seatnya diisi lagi di tengah jalan (jadi dobel pemasukan kan kalo gitu)...Nah kalau berdasarkan jauh dekat turunnya kan walaupun tiket terjual semua tapi pendapatannya tidak bisa dimaksimalkan kalau penumpangnya banyak yang turun di stasiun antara, dan keretanya kosong glondangan sampai stasiun akhir...

Just my 2 cents...

Hihihi, tapi memang pangsa pasarnya Brantas itu dari KD sampe SK loh mas'e. Tiga besar Penyumbang penumpang terbanyak ada di stasiun KD, MN, dan SK (not in particular order). Jadi Brantasnya baru beneran full tuh selepas SK. Di arah sebaliknya juga lumayan ngglondang juga selepas SK menuju Madiun, hahaha. Dan setau saya pangsa pasar KA lain juga ndak melulu kota awal. Kayak Matarmaja yang lahan utamanya dari ML, BL, TA, dan KD; Serayu pagi ke Kroya yang penyumbang penumpang terbesarnya malah ada di Kiaracondong, dst (kalo yang ini belum diashee sih, dan masih lama juga kayaknya, hahaha). Ya makanya moga-moga ntar kalo Pak Jojon sudah rada mapan dalam ngatur sepur, didiskon dikit lah ya buat penumpang stasiun tengah. Ndak usah banyak-banyak, ya pokoknya di bawah tarip penuh, hehehe.

Kalo sekarang, berhubung masih baru dan eker-ekeran three way battle antara penumpang - PT. KAI - Pemerintah, ya let them do their best dulu deh, pake single tarif dulu atau gimana yo monggo, hihihi.... Nyengir
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang

==========

My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013

Lok Merah Biru
Reply
(01-04-2013, 09:26 PM)big bro Wrote: sebenernya inti permasalahannya itu pelayanan, namanya perusahaan ya cari untung, kalo gak cari untung namanya BLU kaya transjakarta. PT KA sebagai perusahaan jasa memang seharusnya kasih pelayanan maksimal, harap dicatat cari keuntungan bukan cuma dari tiket. tapi juga dari iklan, sewa lahan, serta pemasukan-pemasukan lainnya. Kalo mau dibilang PT KA ini punya peluang yang besar sekali dalam hal pemanfaatan aset. contohnya PJL ada berapa ratus di pulau jawa, kalo kreatif bisa dimanfaatkan jadi spot iklan (sayangnya gak kreatif). sayang kayaknya PT KA cuma bilang keuntungan itu dari tiket (atau sebenernya tau cuma gak mau kasih tau).

analis ane tentang masalah ini, kalo PT KA ibarat perusahaan koran. cost per trip dianggap ongkos produksi, apa tiket disamakan dengan harga jual koran? kalo iya harga jual koran bisa mahal banget, gak mungkin kisaran 1000-3500 kayak sekarang. Darimana koran bisa semurah itu padahal kalo diitung pemasukan dari harga jual koran gak mungkin nutup ongkos produksi? iklan di koran yang bikin harga koran bisa semurah itu. kasarnya kalau mau dibilang harga jual koran itu cuma buat ongkos distribusi aja bukan ongkos produksi. IMHO Disini pendekatan yang gak diambil sama PT KA. harga tiket gak melibatkan element-element lainnya, cuma cost per trip dibagi jumlah penumpang. jumlah penumpangnya juga gak jelas diambil jumlahnya berapa....

walau gak bisa disamain, tapi liat deh Garuda, tiket mahal, tapi pelayanan sangat memuaskan, penumpang puas. emang PT KA sekarang ada peningkatan, tapi belom cukup. contoh paling jelas sekarang KRL gak berenti di stasiun keberangkatan KA jarak jauh kec senen, itupun yang dari bekasi.

Selamat malam, Kang big bro... Menarik sekali dgn ulasan & pendapat sampeyan. Cuma ada yg ingin saya tanyakan nich... Kalo ada pengusaha PO bis komersial (Eksekutif, SE atau VIP), misal rute JKT (Rawamangun) ke Semarang kalo lewat jln tol Rawamangun - Cikampek, Palimanan - Pejagan & (mungkin) tol Semarang itu biaya akses jalan tolnya itu dibebankan ke penumpang atau pengusaha PO tsb malah mencari iklan buat nutup biaya akses tol tsb ya....?

Kalo menurut saya, koq saya nggak yakin (banget) kalo Dirut operator KA nggak bs ngitung cost dgn baik. Pengalaman di dunia perbankan pasti bs menentukan usaha ini profit apa nggak. Andai saja Dirut operator KA ini mencoba menawarkan tarif KA yg terjangkau agar penumpang KA meningkat dgn jalan nyari iklan atau sewa lahan, paling2 jawaban dia, "Lha..., koq enak....?" Ngakak
Ya namanya PT pasti setiap usaha mesti mendatangkan untung, nyari iklan harus untung, sewa lahan / space harus untung, bisnis jasa transportasi jg harus untung.

Seperti yg sampeyan tulis di atas, inti permasalahannya itu pelayanan. Saya sependapat, hanya saja di dunia kereta api soal pelayanan ini nggak cuma pelayanan di atas sarana (di dlm kereta api) tp jg mencakup pelayanan prasarana (kondisi track / lintas). Akan sangat berbeda bila dibandingkan dgn bis, karena biaya operasional sdh jelas baik operasional sarana (BBM, perawatan kendaraan dll) & operasional prasarana (tarif jalan tol sdh terpampang di pintu gerbang, driver tinggal bayar sj). Sedangkan di kereta api, kalo kita merunut ke pedoman pentarifan yg dikeluarkan Kemenhub (PM No 28 Tahun 2012) bahwa penentuan tarif secara garis besar terdiri dari komponen biaya operasional & keuntungan. Biaya operasional itu sendiri terdiri dari biaya operasional sarana & sewa prasarana (TAC). Nah, di sini inti permasalahan mulai muncul. Mekanisme IMO & TAC ini yg masih blm berjalan dgn baik. Saya pikir RF (pd umumnya) luput dlm memperhatikan & memahami apa itu IMO (biaya pemeliharaan prasarana) & TAC (sewa prasarana), tp malah lbh sering diskusi soalan PSO utk K3.

Kalo yg saya amati, operator KA itu pingin menjalankan sistem seperti yg tertulis dlm UU No. 23 Tahun 2007 yaitu ada dana IMO dari Pemerintah & operator KA siap membayar TAC ke Pemerintah. Jd kasarnya, ada IMO ada TAC, kalo nggak ada IMO ya buat apa bayar TAC. Hanya sj, jalan rel beda dgn jalan aspal / jalan beton. Kalo jln rel nggak dirawat, rel goyang, ballast sdh nggak padat justru akan membahayakan perka dan malah bukan meningkatkan pelayanan. Kalo menurut versi operator KA, dlm 4 tahun ini dana IMO nggak kunjung cair dari Pemerintah. Lha bagaimana caranya operator KA bs mendapatkan dana IMO...? Feeling saya ya dari pinjaman Bank. Apa ya mungkin nyari iklan & sewa lahan bs nguber 1.5T....? Kalo sdh pinjam uang dari Bank pasti akan kena bunga, akhirnya biaya pengembalian pinjaman & bunga ini yg harus ditanggung oleh pengguna jasa transportasi KA (KA Barang & Penumpang). So, seperti yg kita lihat sekarang harga tiket KA Penumpang sdh tdk "merakyat" lg kan...? Oh ya, kalo ada yg pernah membaca operator KA nggak butuh dana IMO tolong disharing di sini ya... Xie Xie

Nah, kembali ke soalan kenapa operator KA nggak nyoba ngejar iklan atau sewa lahan sebanyak2nya agar harga tiket bs terjangkau / murah...? Feeling saya, ini bagian dari skenario "mancing teri dapat kakap". Operator KA lbh memilih kehilangan penumpang dgn membuat mahal harga tiket (krn sdh ditumpangi dgn biaya perawatan infrastruktur) tapi bs mengedukasi para calon penumpang utk bs menikmati moda transportasi yg lain. Pada saat weekday KA Penumpang banyak yg kosong itu bukan masalah buat operator KA, apalg BBM lokomotifnya sdh tdk disubsidi jd nggak membebani Pemerintah, tinggal dihitung sj secara cermat utk menutup kerugian2 tsb di hari yg lain. Tapi berbeda dgn alat2 transportasi di darat lain, bukankah masih bergantung pada BBM yg disubsidi ya...? Cara edukasi operator KA ke Pemerintah ya seperti ini, kalo masih sanggup bayari BBM yg mereka konsumsi ya silakan.... Moment long weekend & Lebaran jd sasaran, kalo udah macet kan duit dari APBN cuma jd asap. Ngeledek
Sebetulnya inti permasalahannya itu sepele (menurut saya), operator KA cuma butuh IMO (tahun 2013) sekitar 1.7T (CMIIW). Pdhal nilai tsb sangat kecil dibanding subsidi utk BBM, ya tinggal perhatian Pemerintah saja ke kereta api utk jd backbone perekonomian di negeri ini.

Kalo dibanding dgn Garuda jelas blm fair, disaat PT Kereta Api (Persero) sdg "berdarah2" PT Garuda Indonesia sdh mulai restrukturisasi di bawah kepemimpinan Emir Satar dan hasilnya semakin membaik, dan di periode ke 2 Emir Satar dipasang kembali oleh Menteri BUMN. Lha kalo nanti kondisi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) semakin membaik & Jonan dipasang kembali di Februari 2014 apa nggak makin banyak RF yg depresi & teriak2 dgn kebijakannya... Ngakak

Terima kasih.
Reply
OOT
akang smw, semoga pemerintah dan pt. kai dapat menemukan harmonisasinya dalam kepegurusanya ini, jgn sampai kereta api ditinggalkan oleh para penumpang setianya. Takutnya klo pt.kai cma kasih solusi silahkan gunakan moda transportasi lain jatuhnya meninkatnya kemacetan, orangnlebih milih kredit motor drpd beli tiket kereta api.
semoga ada solusi, buat kebaikan pt.kai dan para penggunanya.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)