Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(02-08-2012, 11:43 AM)eri4nto Wrote: pola bisnis yang aneh kalau seperti itu karena tidak mendorong orang untuk pesan jauh hari sebelumnya tapi menunggu dekat-dekat hari keberangkatan aja karena ada kemungkinan harga lebih murah.. jadi kebijakan pesan tiket H-90 sia-sia aja diterapkan..
tadinya saya berpikir pesan tiket H-90 nanti akan diiringi dengan harga tiket yang bervariasi dimana makin lama pesan makin murah sehingga orang terdorong untuk pesan tiket lebih awal.. keuntungannya adalah:
- PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa tau lebih awal jika ada over demand sehingga bisa memutuskan untuk menjalankan rangkaian tambahan dan memiliki waktu yang cukup untuk menjual seluruh rangkaian tambahan tersebut,
- PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bisa dapat cash lebih awal (menguntungkan banget ini karena seandainya cash tersebut diinapkan di bank pasti dapat bunga)
nah kalau yang terjadi adalah sebaliknya, dimana makin lama pesan makin mahal, maka keuntungan di atas gak bisa didapatkan dan sedikit banyak akan mengurangi kepercayaan penumpang pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero).. sekarang ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih aman karena dia monopolis dan punya keunggulan relatif terhadap angkutan darat lainnya, tapi coba ntar kalau tol trans jawa udah jadi dan udah ada perusahaan kereta api lain yang jadi saingan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), pasti bakal gulung tikar kalau kebijakannya seperti itu.. ah semoga itu error sistem aja..
Ikut nimbrung ya, Kang...
Kalo yg saya tau pola bisnis itu bermacam2 & ada banyak variasinya.
Maskapai penerbangan menawarkan reservasi tiket jauh2 hari harga lebih murah ketimbang saat hari keberangkatan. PO bus menawarkan pola bisnis dgn harga tiket flat, emang sich ada bbrp PO yg menerapkan pola Tarif Batas Atas (TBA) di saat weekend. Masa operator KA dlm hal ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mau niru2...? Ntar dibilang nggak inovatif....
Sebenernya lebih menguntungkan mana sich kalo cash sama2 diinapkan di Bank, misal maskapai penerbangan dpt 100 seat dgn harga 100ribu di 3 bln yg lalu dgn PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg dpt 100 seat seharga 300ribu di 3 bln yg lalu...? Kalo nggak dpt di 3 bln yg lalu, ya di 2 bln yg lalu atau malah apes2e di 1 bln yg lalu...?
Kira2 kpn ya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) merasa di posisi tdk aman...? Tol Trans Jawa jadi pun penumpang beralih ke moda roda karet, saya pikir PT. Kereta Api Indonesia (Persero) nggak ketakutan kehilangan penumpang. Lha wong perusahaan itu sdh berani pasang spanduk "Silakan menggunakan moda transportasi yg lain", berarti kan sdh dipikirkan kemungkinan terburuknya. Tol Cipularang ada, Gopar masih tetep eksis, nggak buru2 ditutup kayak Priangan Ekspress.
Posts: 1,487
Threads: 0
Joined: Jul 2009
Reputation:
5
Intinya kalo permintaan tiket tinggi ya harga dinaikkan... begitulah~
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
(03-09-2012, 12:21 AM)Logawa_ATB Wrote: Ikut nimbrung ya, Kang...
Kalo yg saya tau pola bisnis itu bermacam2 & ada banyak variasinya.
Maskapai penerbangan menawarkan reservasi tiket jauh2 hari harga lebih murah ketimbang saat hari keberangkatan. PO bus menawarkan pola bisnis dgn harga tiket flat, emang sich ada bbrp PO yg menerapkan pola Tarif Batas Atas (TBA) di saat weekend. Masa operator KA dlm hal ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mau niru2...? Ntar dibilang nggak inovatif.... 
komen saya tulis dalam konteks untuk menanggapi kebijakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang menetapkan harga yang lebih tinggi untuk pemesanan lebih awal, kebijakan itu kontraproduktif dengan kebijakan pesan tiket H-90 karena kalau polanya dijalankan seperti itu terus maka gak bakal ada penumpang yang mau beli tiket H-90.. pola harga flat itu masih mending dan umum diterapkan.. tapi kalau harga semakin menurun?? baru saya jumpai di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini..
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) emang harus inovatif, tapi bukan inovasi mundur
(03-09-2012, 12:21 AM)Logawa_ATB Wrote: Sebenernya lebih menguntungkan mana sich kalo cash sama2 diinapkan di Bank, misal maskapai penerbangan dpt 100 seat dgn harga 100ribu di 3 bln yg lalu dgn PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yg dpt 100 seat seharga 300ribu di 3 bln yg lalu...? Kalo nggak dpt di 3 bln yg lalu, ya di 2 bln yg lalu atau malah apes2e di 1 bln yg lalu...? ya tentu lebih menguntungkan yang 300ribu.. tapi kalau ada tiket pesawat seharga 100 ribu sementara tiket kereta 300 ribu, tentu saja si pesawat bakal penuh 100% dan kemungkinan nambah penerbangan sementara kereta gak laku sama sekali atau kalaupun laku paling rangkaiannya pendek sekali, bisa-bisa malah nombok tuh.. jadi mana yang untung? heheheh
(03-09-2012, 12:21 AM)Logawa_ATB Wrote: Kira2 kpn ya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) merasa di posisi tdk aman...? Tol Trans Jawa jadi pun penumpang beralih ke moda roda karet, saya pikir PT. Kereta Api Indonesia (Persero) nggak ketakutan kehilangan penumpang. Lha wong perusahaan itu sdh berani pasang spanduk "Silakan menggunakan moda transportasi yg lain", berarti kan sdh dipikirkan kemungkinan terburuknya. Tol Cipularang ada, Gopar masih tetep eksis, nggak buru2 ditutup kayak Priangan Ekspress. memang gopar masih ada tapi bukankah gopar itu berasal dari merger parahyangan dan argo gede yang terpaksa dilakukan karena kalah bersaing dengan cipularang? PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mungkin tidak pernah merasa di posisi tidak aman, tapi bagi saya setiap kemungkinan buruk harus diantisipasi dengan kebijakan yang pintar..
sekarang ini kalau saya minta pendapat anda, anda lebih pilih mana: beli tiket jauh hari dengan harga mahal atau beli tiket ntar aja mendekati hari keberangkatan karena harganya lebih murah?
KA Sumber Kentjono
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
Ah, sekali lagi terbukti benar teori buatan seseorang dalam buku terjemahan yang saya baca ... PT. Sepur lagi dalam fase Rabun jauh persaingan, pengingkaran tingkat tinggi, dan fase-fase penghancur bisnis lainnya .... *udah lupa sisanya, bukunya terselip entah kemana dalam sebulan terakhir ini  * ckckckckck
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(03-09-2012, 01:05 PM)eri4nto Wrote: komen saya tulis dalam konteks untuk menanggapi kebijakan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang menetapkan harga yang lebih tinggi untuk pemesanan lebih awal, kebijakan itu kontraproduktif dengan kebijakan pesan tiket H-90 karena kalau polanya dijalankan seperti itu terus maka gak bakal ada penumpang yang mau beli tiket H-90.. pola harga flat itu masih mending dan umum diterapkan.. tapi kalau harga semakin menurun?? baru saya jumpai di PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini..
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) emang harus inovatif, tapi bukan inovasi mundur
Lanjut lagi diskusinya ya, Kang.... nyruput kopi susu dulu ah...
Baru menjumpai ya, Kang....? Ya kenalan dulu dgn pola bisnis kayak gini lah.... 
Kalo pola ini dibilang sistemnya salah & inovasi mundur berarti penjual cabai di pasar melakukan hal yg sama dong...
Ilustrasi saya kyk gini :
Ada penjual cabai nggelar dagangannya di waktu pagi, cabainya masih fresh... lalu datang para pembeli, si penjual pasang harga A & nggak boleh ditawar. Akhirnya si pembeli mau ambil / beli & akhirnya pulang. Trus bbrp jam berlalu ada pembeli lagi, si penjual pasang harganya 0,8A. Tanpa tawar menawar si pembeli ternyata setuju, akhirnya dibeli & pulang. Setelah animo pembeli berkurang, si penjual iseng2 ngitung pendapatan dr jualan cabainya eh ternyata udah balik modal & udah dpt laba / untung. Trus pas jam kukudan pasar / jam bubaran pasar (udah siang menjelang sore hari), eh datang pembeli lagi, si penjual langsung ngasih harga 0,5A dgn kondisi cabai masih cukup fresh serta layak konsumsi & si penjual ini bilang buat penglaris lah... akhir si pembeli setuju, dibeli & pulang.
Eh ternyata pembeli pertama & terakhir ini tetanggaan, terjadi obrolan hangat soal cabai & harga yg dibeli oleh mereka tadi. Si pembeli pertama kaget saat dengar cerita si pembeli terakhir. Mau komplain si penjual cabai ini udah pulang.
So apakah salah pola penjualan seperti ini...?
Oh ya, sepengamatan saya nggak selalu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menjual harga tiketnya mahal di H-90 & murah di hari-H. Ada rute2 tertentu yg mana harga tiket saat H-90 dijual lebih hemat ketimbang saat hari-H. Random !
(03-09-2012, 01:05 PM)eri4nto Wrote: ya tentu lebih menguntungkan yang 300ribu.. tapi kalau ada tiket pesawat seharga 100 ribu sementara tiket kereta 300 ribu, tentu saja si pesawat bakal penuh 100% dan kemungkinan nambah penerbangan sementara kereta gak laku sama sekali atau kalaupun laku paling rangkaiannya pendek sekali, bisa-bisa malah nombok tuh.. jadi mana yang untung? heheheh
Yg saya maksudkan seperti ini, Kang...
1. Maskapai A menjual murah tiket di H-90 misal harga 100ribu, sampai H-60 bs mendapatkan 100 seat.
2. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menjual mahal tiket di H-90 misal 300ribu, sampai H-60 bs mendapatkan 100 seat juga.
Pd H-59 ke-dua perusahaan ini sama2 menginapkan uang pendapatannya di Bank, kebetulan Banknya sama. Sampai hari-H nomer brpkah yg mendapatkan bunga tertinggi...? 1 atau 2...?
(03-09-2012, 01:05 PM)eri4nto Wrote: memang gopar masih ada tapi bukankah gopar itu berasal dari merger parahyangan dan argo gede yang terpaksa dilakukan karena kalah bersaing dengan cipularang? PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mungkin tidak pernah merasa di posisi tidak aman, tapi bagi saya setiap kemungkinan buruk harus diantisipasi dengan kebijakan yang pintar..
sekarang ini kalau saya minta pendapat anda, anda lebih pilih mana: beli tiket jauh hari dengan harga mahal atau beli tiket ntar aja mendekati hari keberangkatan karena harganya lebih murah?
Kalo saya dimintai pendapat, tentu saja saya pilih harga yg murah. Tapi kalo saya saat itu jadi korbannya saya melihat kondisi saya seperti apa.
Kondisi 1 : Saya punya duit banyak, dompet tebal isinya duit bukan struk ATM. Baik saya tau ataupun nggak tau pola penjualan kyk gini, saat hari H keberangkatan saya cuek saja, tetep berangkat naik KA & menikmati fasilitas yg disajikan KA.
Kondisi 2 : Saya punya duit pas2an & serba eman2. Saya tau pola penjualan kyk gini, tau ada harga yg lebih hemat ya saya buru2 refund. Toch masih dpt uang pengembalian / reward meskipun kepotong 25%. Ikhlasin....
Saran saya : kalo Anda masih nggondok / sakit hati dgn pola penjualan kyk gini ya naiklah K3, dijamin tarifnya FLAT. :p
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
^ Lah, analoginya kok jadi tukang cabe mas?? Tentu saja rata-rata pedagang di pasar itu menerapkan harga lebih murah di sore hari daripada di pagi hari. Itu bukan semata karena udah untung juga kan, melainkan karena barangnya mungkin kualitasnya sudah berkurang dan penjual akan lebih sulit mencari pembeli kalo menjual barang itu pada esok hari .... hehehehe. Lah kalo PT. Sepur kan makin berjalan waktunya, makin "berharga" sepur nya. Tuh sampe pada rela beli H-90 lebaran karena takut kehabisan tiket lebaran. Dan bener kan, antriannya waktu cari tiket lebaran tuh luar biasa.
Kalo PT. Sepur mah jelas rada gak bener atuh. Di saat yang lain menerapkan tarif flat atau tarif progresif (menaik seiring waktu) lah ini kok malah regresif. Inovasi setengah hati kalo ini mah. Tau gitu mending balikin aja H-40 daripada ngasih harapan palsu  mbok yo jangan maruk gitu to PT. Sepur ini .... Ini nih yang namanya rabun jauh persaingan dan pengingkaran
Yang jelas, Mas Erianto jelas gondok atuh dengan kebijakan ini. Mas Erianto ini kan bisa dibilang eksekutif muda dan transportasi paling handal serta paling mengakomodasi keperluan Mas Erianto ini ya Kereta Api Komersial (K3 jelas tidak mengakomodasi banget). Bisa dibilang beliau ini kan pelanggan tetap tuh. Kalo harganya udah labil kayak ABG gini, apa PT. Sepur ndak "mengecewakan" Pelanggan tetap itu namanya? Ingat lho mas, yang komplain masalah harga ini gak cuma RF thok sekarang. Di media-media cetak sudah bertebaran keluhan dan aduan terkait tarif tiket yang labil ini ... Kalo ndak segera diperbaiki atau minimal dikasih konprensi pers kek ngasih tau kenapa kok harganya labil gini, dan bukan malah bilang "itu sudah rezeki penumpang lain" kayak pengalaman salah satu calon penumpang, Bisa berkurang lagi loh ntar pelanggannya
Ah, tapi apa mau ya .... wong PT. Sepur sendiri juga udah mengusir calon penumpangnya sih ya ... dengan jargon baru nya "silahkan mencari moda transportasi lain" ....
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
@hungry soul
jiaahhh, eksekutif muda.. preeett.. wkwkwkwk.. padahal cuma babu negoro hehehe
@logawaATB
walah saya ini gak nggondok atau sakit hati, cuma menanggapi beberapa posting sebelumnya yang bilang kalau ada harga tiket ABA akhir agustus kemarin yang harga pesan di awal jauh lebih mahal dibanding harga ketika beli mendekati hari keberangkatan... saya sih blm pernah mengalami hal seperti itu dan berharap gak akan mengalami hal seperti itu.. heheheh
memang pnp yang tidak terima dengan harga tersebut bisa refund.. tapi kalau solusinya seperti itu ya ngrepotin pnp dan gak customer oriented.. lagian masa pola bisnis transportasi ngikutin pola bisnis jual cabe di pasar, secara nature ya beda banget..
dan lagi kalau sampe harga semakin menurun kayak gitu berarti ada yang salah dengan bagian pricing.. dia salah memperkirakan supply and demand sehingga mengkoreksinya dengan menurunkan harga.. masa kesalahan tersebut bisa dianggap sebagai bagian dari sebuah kebijakan atau pola bisnis yang wajar? saya pikir seharusnya tidak demikian..
oya akhir-akhir ini saya mengamati pergerakan harga tiket, ternyata emang harga tiket semakin mendekati hari keberangkatan semakin mahal atau flat.. hal ini normal.. semoga ke depan polanya akan seperti itu terus dan kasus yang diungkapkan di beberapa posting sebelumnya tidak terulang lagi..
okay demikian tangapan dari saya, selebihnya udah dijawab tuntas sama hungry soul si eksekutif muda sejati hehehe
KA Sumber Kentjono
Posts: 2,186
Threads: 0
Joined: Aug 2011
Reputation:
34
^ weleh mas, at least njenengan kan udah terbukti dan teruji dalam mbabu kepada negoro (saya make istilah njenengan sendiri lho yaa ....  ). Boleh lah disebut eksekutif muda. Atau mau disebut Bisnis muda atau ekonomi muda aja nih???? hehehehe
Lha saya sendiri kan masih digodog di kawah Jurangmangu di bawah tekanan "bos besar pengganti" yang tampaknya kurang sreg dengan para jebolan kawah Jurangmangu yang "cuma" dididik 3 tahun .... wekekekek .... sampe-sampe gak ada kadet baru gitu taun ini ...  Jadi ya jangan sebut saya eksekutif muda dunk. Ekonomi muda ajha boleh deh  *njenengan kira-kira ngerti maksud tersirat dan tersurat posting saya ini gak ya?? Hehehehe*
BTT dikit lah ....
Ya pokok'e syukur kalo harganya udah progresif .... semoga gak kejadian lagi keluhan baik dari RF maupun non RF tentang tarif sepur labil layaknya ABG. Iya kalo njelasinnya ke pelanggan bener, lah ini karena gak tau musti jelasin gimana (kurang koordinasi pusat, daerah, dan pelaksana kayaknya yah), sampe ada yang bilang "itu sudah rezeki penumpang lain" Wadooooh
Seperti alunan detak jantungku,
tak bertahan, melawan waktu
dan semua keindahan, yang memudar
atau cinta, yang tlah hilang
==========
My latest TR: here Tawang Alun, 30 Juni 2013
Posts: 436
Threads: 0
Joined: May 2009
Reputation:
7
BTW ane udah lama banget ga pesen tiket KA baik KA 1,2, atau 3. Pesennya sekarang tambah mudah atau sulit? Kalo pesen dari Indomaret/Alfamart tukarnya di stasiun sulit ga?
Maklum sekarang beli tiket ke Jakarta kalo pas dibayarin negoro aja. Pasti mas @Hungry Soul dan @Eri4anto ngerti maksudnya, hehe
Posts: 426
Threads: 0
Joined: Aug 2012
Reputation:
5
(04-09-2012, 05:11 AM)Hungry Soul Wrote: ^ Lah, analoginya kok jadi tukang cabe mas?? Tentu saja rata-rata pedagang di pasar itu menerapkan harga lebih murah di sore hari daripada di pagi hari. Itu bukan semata karena udah untung juga kan, melainkan karena barangnya mungkin kualitasnya sudah berkurang dan penjual akan lebih sulit mencari pembeli kalo menjual barang itu pada esok hari .... hehehehe. Lah kalo PT. Sepur kan makin berjalan waktunya, makin "berharga" sepur nya. Tuh sampe pada rela beli H-90 lebaran karena takut kehabisan tiket lebaran. Dan bener kan, antriannya waktu cari tiket lebaran tuh luar biasa.
Kalo PT. Sepur mah jelas rada gak bener atuh. Di saat yang lain menerapkan tarif flat atau tarif progresif (menaik seiring waktu) lah ini kok malah regresif. Inovasi setengah hati kalo ini mah. Tau gitu mending balikin aja H-40 daripada ngasih harapan palsu, mbok yo jangan maruk gitu to PT. Sepur ini .... Ini nih yang namanya rabun jauh persaingan dan pengingkaran.
Yang jelas, Mas Erianto jelas gondok atuh dengan kebijakan ini. Mas Erianto ini kan bisa dibilang eksekutif muda dan transportasi paling handal serta paling mengakomodasi keperluan Mas Erianto ini ya Kereta Api Komersial (K3 jelas tidak mengakomodasi banget). Bisa dibilang beliau ini kan pelanggan tetap tuh. Kalo harganya udah labil kayak ABG gini, apa PT. Sepur ndak "mengecewakan" Pelanggan tetap itu namanya? Ingat lho mas, yang komplain masalah harga ini gak cuma RF thok sekarang. Di media-media cetak sudah bertebaran keluhan dan aduan terkait tarif tiket yang labil ini ... Kalo ndak segera diperbaiki atau minimal dikasih konprensi pers kek ngasih tau kenapa kok harganya labil gini, dan bukan malah bilang "itu sudah rezeki penumpang lain" kayak pengalaman salah satu calon penumpang, Bisa berkurang lagi loh ntar pelanggannya
Ah, tapi apa mau ya .... wong PT. Sepur sendiri juga udah mengusir calon penumpangnya sih ya ... dengan jargon baru nya "silahkan mencari moda transportasi lain" ....

Wah, pake ilustrasi penjual cabai ternyata belum bisa diterima, belum bisa dipahami & dibilang secara nature beda banget....
Saya nyruput teh jahe dulu yak biar perut anget, AC jg udah nyala biar kepala & isi kepala bisa adem buat mikir. Minta bantuannya utk berpikir dgn logika, bukan dgn emosi ya, Kang....
OK, kalo pake ilustrasi belon nangkep langsung pake itung2an sederhana saja.... saya siapin Excel buat bantu ngitung....
Misal saja, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) menjual jasa transportasinya utk rute Argo Bromo Anggrek GMR - SBI utk 1 kereta sebesar Rp 18.000.000,00 (harga pokok + profit) sekali jalan.
Skenario 1 :
Tarif FLAT : Rp 18.0000.000,00 / 50 seat = Rp 360.000,00 (tarif FLAT pada umumnya dipake PO Bus, hot seat & tempat duduk dekat toilet harga SAMA)
Skenario 2 :
Tarif fluktuatif, bagian pricing kayaknya kreatif banget nich...sampai dibagi 5 :
1. 5 seat @ Rp 200.000,00
2. 5 seat @ Rp 250.000,00
3. 20 seat @ Rp 300.000,00
4. 10 seat @ Rp 325.000,00
5. 10 seat @ Rp 650.000,00
Total tetap 50 seat kan... Sampun mudeng...?
Trend yg sudah2, maskapai penerbangan memberikan penawaran harganya di Lowest Cost, jauh2 hari sebelum hari H & memasang Highest Cost di hari H. Lha yg saya tangkap dari pola penjualan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) saat H-90 sebelum Lebaran adalah dibalik karena trend yg terjadi masyarakat mau mudik, butuh KA & animo besar. Masyarakat ber-bondong2 beli tiket dgn pemikiran takut keabisan bila mendekati hari H. Transaksi sukses sampai ke pembeli yg dpt Lowest Cost. Di website PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tertulis tiket ABA habis. Di-total2 pendapatan yg diraih Rp 18.000.000,00 kan...? Udah untung 1 kereta....
Apa perlu sampe bikin konprensi pers....? Apa pola penjualannya dibilang labil....?
Calon penumpang yg dpt harga tertinggi pasti mencak2 kalo lihat ada harga terendah yg ditawarkan. Yg paling dahsyat mencak2nya kyk gini : "Wah, PT Sepur bener2 profit oriented sekarang...., tiketnya mahal nggak sesuai fasilitas & nggak dpt makan pula..."
Kenapa mesti nyalahin PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yak...?
Bukankah PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebelumnya sdh memberikan himbauan "Silakan menggunakan moda transportasi lainnya" ? Pesan yg tersirat dr jargon itu yg saya pahami kan kyk gini : Kalo Anda suka dgn harga tiketnya, silakan naik KA, akan kami antar menuju tempat tujuan. Kalo nggak setuju dgn harga tiketnya ya jgn memaksakan diri utk naik KA. KA bukanlah satu2nya moda transportasi utk mengantarkan Anda sampai ke tempat tujuan. Masih ada sepeda, sepeda motor, bajaj, mobil, bis, kapal & pesawat koq.
Saran saya buat temen2 Anda yang komplain masalah shocking price ini, diikhlasin ajah... toch abis Puasa udah dpt pahala, bagi yg dpt Highest Cost harusnya bersyukur karena sdh bisa mendermakan duitnya buat yg dpt Lowest Cost. Apalg sebelumnya bs zakat jg. Tambah banyak pahala yg diterima.
Finally, saya bermaksud menyarankan kembali :
1. Kalo pingin hati tentrem, ayem, nggak nggondok atau kecewa dgn shocking price, ya naiklah K3, dijamin harganya FLAT.
2. Sering2 ajah mantengin website PT. Kereta Api Indonesia (Persero) & tiket.com siapa tau beruntung dpt yg Lowest Cost. Ya itung2 latihan main saham....
Apa sdh ada pencerahan mas Hungry Soul...? Semoga
|