21-10-2012, 07:54 PM
(This post was last modified: 30-01-2016, 10:00 PM by Ryzky_Widi.)
Mohon maaf, post dihapus.
- R y z k y W i d i A T m a j a -
|
Kumpulan Cerpen Kereta Api
|
|
21-10-2012, 07:54 PM
(This post was last modified: 30-01-2016, 10:00 PM by Ryzky_Widi.)
Mohon maaf, post dihapus.
- R y z k y W i d i A T m a j a -
08-12-2012, 10:44 PM
Hidupku di Stasiun Saradan 2 (PART 1)
By : Ryzky Widi Atmaja Enam bulan setelah aku menjadi masinis Bima ...
"Adi, maaf sepertinya aku nggak bisa ikut dampingi kamu besok," kata Dimas, mantan teman sepermainanku sejak kecil yang sampai sekarang masih menemaiku di dalam kabin lokomotif selama menjalankan kereta api, sambil menepuk pundakku pelan. "Kenapa Dimas ...?" "Ibuku sakit, dan aku harus pulang ke Madiun nanti malam," katanya berbisik pelan di depan telinga kananku. Aku pun mengerti perasaannya dan kenapa dia akhir-akhir ini sepertinya bersedih. Dia harus kembali ke Saradan, Madiun, untuk menjenguk ibunya yang sakit, dan dia sudah mendapat izin dari stasiun besar Surabaya Gubeng untuk 'cuti' beberapa hari. Dalam hati aku menawarkan dia untuk menjadi asisten masinis Bima yang akan berangkat malam nanti, namun tidak mungkin Bima berhenti di Stasiun Saradan hanya untuk menurunkan seseorang, meskipun pegawai PT. KA sendiri, atau seandaninya berhenti di Madiun pun sudah terlalu malam dan terlalu jauh untuk menuju rumahnya. Akhirnya, Dimas pun mencoba pulang dengan menggunakan Sri Tanjung yang dalam perjalannya akan berhenti di Stasiun Caruban. Jam stasiun menunjukkan pukul 15.15, Sri Tanjung tengah bersiap meninggalkan peron stasiun Surabaya Gueng setelah sebelumnya berpindah lokomotif. Dimas yang berpakaian casual dibalut celana jeans masih memperlihatkan raut kesediahan, dan dengan sedikit tersenyum dia melambaikan tangan kearahku dan beberapa petugas stasiun sesaat sebelum kereta api berangkat. Aku ingat sewaktu remaja dulu, Dimas ingin sekali bisa menjadi masinis kereta api karena kecintaannya pada dunia kereta api, namun sang ibu melarangnya dan memerahinya. Mungkin ibunya mengharapkan dia menjadi penerus keluarga mengingat ayahnya sudah meninggal semenjak dia masih kecil, dengan bekerja yang gajinya lebih dari cukup karena dia juga mempunyai adik perempuan. Dia sangat dilema ketika itu, sehingga harus curhat dengan pak Soedirman, kepala Stasiun Saradan kala itu. Pak Soedirman tidak bisa memutuskan karena itu akan menjadi jalan hidup Dimas sendiri, jadi Dimaslah dia yang harus memutuskan sendiri. Tiga jam setelah kepergian Dimas ke Madiun, aku mempersiapkan sesuatunya untuk memulai tugasku sebagai masinis Bima. Dan pada kesempatan kali ini, aku mendapat bantuan asisten masinis yang masih muda juga, sepertinya calon masinis yang sedang dimagangkan oleh pihak Stasiun Surabaga Gubeng. Sebelum menaiki lokomtoif CC 203 38, aku sempatkan berkenalan dengannya. Ternyata namanya adalah Wahyu. Dan benar, dia ternyata calon masinis. Aku pun mengobrol dengannya sembari menunggu perintah berangkat dari PPKA. Berbeda denganku, Wahyu menjadi pegawai PT. KA melalui lowongan yang dibuka pada dua tahun sebelumnya, dan dia memilih sebagai masinis, sementara aku dipanggil karena pengabdianku sebagai PPKA di Staisun Saradan. "Priiittt ..." Suara peluit panjang dibunyikan oleh petugas Stasiun Surabaga Gubeng untuk memberiku perintah berangkat. Dengan sigap aku menggeser tuas dan tidak lama kemudian roda kereta api mulai menggelinding. Aku melihat seklias Wahyu memperhatikan bagaimana tanganku bekerja memainkan tuas-tuas serta panel-panel di kabin. Sesekali aku melihatnya membalas isyarat semboyan satu dari para petugas perlintasan yang kami lalui. Aku berpikir mungkin Wahyu pernah magang sebelumnya, sehingga dia tahu tentang semboyan. Perjalanan Bima ini entah kenapa aku merasakan bahwa mungkin ini awal perjalananku tanpa Dimas. Tapi, semoga saja perasaan ini salah ... Berlanjut ... - R y z k y W i d i A T m a j a -
09-12-2012, 04:31 AM
(14-08-2012, 11:18 AM)Ryzky_Widi Wrote: Kereta Hantu ini cerita nyata kan ? (kecuali bagian kereta hantu menampakan dirinya) kalo soal PLH nya beneran kan ? di jembatan selepas terowongan Wilhelmina
09-12-2012, 11:57 AM
(This post was last modified: 30-01-2016, 10:00 PM by Ryzky_Widi.)
Mohon maaf, post dihapus.
- R y z k y W i d i A T m a j a -
09-12-2012, 07:56 PM
Hidupku di Stasiun Saradan 2 (PART 2)
by : Ryzky Widi Atmaja Dua hari sudah aku melalui hari tanpa Dimas. Aku masih merindukannya berada disampingku baik ketika dinas ataupun diluar dinas. Dimas juga lebih mengerti tentang Surabaya, karena dia lebih lama berada di kota pahlawan tersebut. Akhir-akhir ini aku sering dihibur oleh ulah kocak pak Harjo, salah satu pegawai Stasiun Surabaya Gubeng yang sudah berusia 60 tahun. Pak harjo memang sangat dihormati oleh seluruh anggota stasiun, sampai satpam stasiun pun mengenali dan menaruh hormat padanya. Beliau memang senang melontarkan joke-joke bagaikan komedian, seingga banyak orang yang tadinya sedih menjadi gembira olehnya, termasuk aku.
"Adi, bagaimana keadaan ibunda Dimas ...?" Tanya pak Sugeng, kepala administrasi Stasiun Surabaga Gubeng kepadaku ketika aku hendak keluar stasiun untuk pulang setelah dinas dengan kereta api Bima dari Jakarta. "Saya belum tahu pak, belum ada kabar dari Dimas. Bahkan sms saya juga belum dibalas." "Mungkin dia sibuk merawat dan menunggui ibunya yang sakit, jadi belum sempat membalas atau kasih kabar," Pak Sugeng mencoba menghiburku dengan berpikir positif. Kemudian, beliau kembali ke ruangannya, dan aku berjalan meninggalkan gerbang stasiun. Sesampainya di kontrakan, aku meneleponnya, tapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya aku mencoba mengirimkan kembali sms untuk kedua kali dengan harapan semoga Dimas membalas dan memberi kabar tentang kondisi kesehatan ibunya. Hingga menjelang malam, ternyata tidak ada sms balasan dari Dimas. Namun, aku mencoba berpikir positif, bisa jadi dia kehabisan pulsa, jadi tidak bisa membalas, atau memang seperti yang dikatakan pak Sugeng tadi pagi. ----- @@@@@ ----- Dua hari kemudian ... Pukul 12.25 ... Dalam istirahat di sebuah mess khusus masinis di Jakarta, aku kaget begitu HP Nokia milikku berdering. Begitu aku memeriksanya, ternyata sms dari Dimas. Akhirnya dia sms setelah empat hari tidak memberi kabar. Namun, begitu aku membuka sms tersebut, aku merasa aneh dengan apa yang ditulisnya. "Di, maaf ya sepertinya aku nggak bisa dinas bersamamu lagi," tulisnya dalam sms yang dia kirim padaku. Karena merasa heran dengan balasan smsnya, maka aku mengirim sms kembali untuk menanyakan apa maksud dari tulisan tersebut. Namun, hingga menjelang malam, menjelang aku berdinas membawa Bima kembali ke Surabaya, dia tidak mengirimkan sms balasan. Aku jadi semakin terpikir apa yang ditulisnya, apakah dia pindah dinasan kereta api, ataukah pindah ke stasiun besar lain, karena aku mengenal Dimas adalah orang yang berdedikasi tinggi pada setiap apa yang dikerjakannya. Tapi aku tidak bisa berspekulasi tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Akhirnya keesokan harinya, setelah selesai dinas membawa Bima, aku terkejut dengan seseorang yang berdiri bersandar di salah satu pilar stasiun dengan tas ransel yang diletakkan di bawah kakinya. Dengan tangan dilipat dan disilangkan di dada, dia seolah-olah sedang menungguku. "Dimas," kataku pelan sambil berlari menuju arahnya tanpa menyerahkan dahulu lembar laporan perjalanan ke pihak stasiun. Aku melihat ekspresi datar dari wajahnya, itu membuatku semakin bingung. "Gimana dinas mu selama empat hari ini ...?" Tanyanya dengan nada ingin tahu. "Fine-fine aja, tapi aku masih merasakan perbedaan suasana di kabin tanpa kamu meskipun asisten masinis penggantinya lumayan bagus dan sering membantuku juga." Aku mencoba menjelaskan apa yang kurasakan selama dinas empat hari tanpa dia, dan dia hanya mengangguk saja. Adi melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi disliangkan di depan dadanya, dan menepuk pundakku. "Kumpulkan laporan perjalananmu dulu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu setelah itu," katanya dengan nada sedikit bersedih. Akhirnya aku meninggalkannya sebentar untuk menuju ruang PPKA, memberikan laporan perjalanan dinasku semalam. Lantas, aku kembali ke tempat Dimas berada. Dimas menghela nafas sejenak. "Adi, maaf ya aku tidak bisa membalas sms selama beberapa hari. Aku ingin merahasiakan sesuatu darimu hingga tiba waktu yang tepat, yaitu sekarang, karena aku ingin mengatakan padamu langsung," katanya yang semakin membuatku penasaran, apa yang dirahasiakannya dan apa yang akan dikatakannya padaku. "Nggak apa-apa Dimas, aku bisa mengerti. Lantas, apa yang akan kamu bicarakan ...?" Sebelum dia panjang lebar menjelaskan segala sesuatunya, sebuah kereta api ekonomi datang dari arah utara dan memasuki jalur satu stasiun. Kemudian, Dimas mengangkat tas ranselnya, dan membawa dibelakang punggungnya, tidak berselang lama, dia memberikan secarik kertas yang terlipat kepadaku. Aku tidak mengerti maksud dari tindakannya tersebut. "Bacalah Di, dan sekali lagi maaf ya, kita harus berpisah di sini ...." Dimas pun bergegas meninggalkanku dan berjalan menuju peron satu dimana kereta api Pasundan berada. Apakah Dimas memang pindah tugas ke DAOP lain. Dan lagi, dia tidak mengatakan sepatah katapun kepadaku karena terburu kereta api Pasundan yang beberapa menit lagi akan berangkat. Pasundan, apakah dia pindah ke Stasiun Bandung. Semoga secarik kertas yang dia berikan menjawab semua rasa penasaranku pada sahabat karibku itu. Sembari menunggu keberangkatan Pasundan, aku membuka kertas yang dia berikan padaku. Setelah beberapa baris aku membaca, astaga ... Apa benar semua ini ...? 'Adi, melalui surat ini aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa ibuku sudah tiada. Dan aku merasa berdosa pada beliau mengingat aku sudah membohongi ibuku sendiri tentang pekerjaanku di Surabaya ini yang menyebabkan ibuku sakit keras hingga meninggalkanku. Aku dulu bilang pada ibu aku bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya, dan ibuku senang, tapi aku tidak sanggup untuk mengatakan bahwa aku hanya seorang masinis, mengingat ibu tidak setuju. Dan, yang membuat aku semakin terpukul adalah detik-detik meninggalnya ibu, aku tidak disampingnya karena saat itu aku berada di Stasiun Saradan untuk memberi kabar tentang ibuku. Setelah sepeninggalan ibu, aku memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari PT. KA, dan meneruskan perkebunan milik keluargaku yang sebelumnya diurus oelh ibu. Sekali lagi aku minta maaf Di, kita tidak bisa bersama lagi di dalam kabin lokomotif, serta berita ini sudah aku sampaikan ke kepala stasiun dan Kadaop 8, dan permintaan pengunduran ini diterima kemarin siang, sehingga aku bergegas menulis surat ini untuk memberitahukan hal ini padamu. Selamat jalan kawan, semoga sukses ... Aku tetap menunggumu di Saradan ketika Bima melintas ...' Aku tidak dapat menahan air mataku yang dengan instan menetes. Ternyata ini yang dia sembunyikan padaku, kenapa harus kau rahasiakan, bukankah kita sejak dulu berjanji susah senang harus bersama-sama. Belum selesai aku melipat kertas ini kembali ... Ting Tong Teng Tong ... Bel stasiun berbunyi, dan tidak berselang lama Pasundan pun diberangkatkan. Aku mencoba melambaikan tangan kerahnya yang berdiri di pinggir pintu kereta, dan dia pun membalas lambaianku juga. Kami berdua saling melemparkan senyuman meskipun kami menangisi kepergian ini. Selamat jalan Dimas, semoga sukses juga ... Beberapa menit kemudian kereta api pasundan menghilang dari pandangan, begitu juga dengan lambaian tangannya ... ----- SELESAI ----- - R y z k y W i d i A T m a j a -
17-12-2012, 07:16 PM
bagus mas ceritanya,saya pun juga terharu membacanya.
Hanya Seorang RailFans yang juga seorang Bismania dan penggemar Jejepangan
Follow me on... Facebook : Fajrul Lubab Haryana YouTube : Fajrul Lubab Haryana (@FLHVideoGraph) Instagram : @fajrul201100 AKU KESSOKU BAND ☝️
22-01-2013, 12:20 PM
(This post was last modified: 30-01-2016, 10:01 PM by Ryzky_Widi.)
Mohon maaf, post dihapus.
- R y z k y W i d i A T m a j a -
22-01-2013, 06:23 PM
(This post was last modified: 30-01-2016, 10:03 PM by Ryzky_Widi.)
Mohon maaf, post dihapus.
- R y z k y W i d i A T m a j a -
22-01-2013, 09:24 PM
Ini kisah nyata mas?
23-01-2013, 08:18 PM
Paulus : Silahkan direnungi sendiri ... Nyata ataukah Fiksi ...
Oiya, sedikit foto di Ryzky's Diary ...
The Virgin River Railway Bridge (175 m) - Tahun 2000 ... Atas, sebelah kanan jembatan (Bantaran sungai) : Taman Cinta (Belum dibangun) ![]() - R y z k y W i d i A T m a j a -
|
|
« Next Oldest | Next Newest »
|