Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Hidupku di Stasiun Saradan 2 (PART 1)

By : Ryzky Widi Atmaja


Enam bulan setelah aku menjadi masinis Bima ...

"Adi, maaf sepertinya aku nggak bisa ikut dampingi kamu besok," kata Dimas, mantan teman sepermainanku sejak kecil yang sampai sekarang masih menemaiku di dalam kabin lokomotif selama menjalankan kereta api, sambil menepuk pundakku pelan.
"Kenapa Dimas ...?"
"Ibuku sakit, dan aku harus pulang ke Madiun nanti malam," katanya berbisik pelan di depan telinga kananku.

Aku pun mengerti perasaannya dan kenapa dia akhir-akhir ini sepertinya bersedih. Dia harus kembali ke Saradan, Madiun, untuk menjenguk ibunya yang sakit, dan dia sudah mendapat izin dari stasiun besar Surabaya Gubeng untuk 'cuti' beberapa hari. Dalam hati aku menawarkan dia untuk menjadi asisten masinis Bima yang akan berangkat malam nanti, namun tidak mungkin Bima berhenti di Stasiun Saradan hanya untuk menurunkan seseorang, meskipun pegawai PT. KA sendiri, atau seandaninya berhenti di Madiun pun sudah terlalu malam dan terlalu jauh untuk menuju rumahnya. Akhirnya, Dimas pun mencoba pulang dengan menggunakan Sri Tanjung yang dalam perjalannya akan berhenti di Stasiun Caruban.

Jam stasiun menunjukkan pukul 15.15, Sri Tanjung tengah bersiap meninggalkan peron stasiun Surabaya Gueng setelah sebelumnya berpindah lokomotif. Dimas yang berpakaian casual dibalut celana jeans masih memperlihatkan raut kesediahan, dan dengan sedikit tersenyum dia melambaikan tangan kearahku dan beberapa petugas stasiun sesaat sebelum kereta api berangkat. Aku ingat sewaktu remaja dulu, Dimas ingin sekali bisa menjadi masinis kereta api karena kecintaannya pada dunia kereta api, namun sang ibu melarangnya dan memerahinya. Mungkin ibunya mengharapkan dia menjadi penerus keluarga mengingat ayahnya sudah meninggal semenjak dia masih kecil, dengan bekerja yang gajinya lebih dari cukup karena dia juga mempunyai adik perempuan. Dia sangat dilema ketika itu, sehingga harus curhat dengan pak Soedirman, kepala Stasiun Saradan kala itu. Pak Soedirman tidak bisa memutuskan karena itu akan menjadi jalan hidup Dimas sendiri, jadi Dimaslah dia yang harus memutuskan sendiri.

Tiga jam setelah kepergian Dimas ke Madiun, aku mempersiapkan sesuatunya untuk memulai tugasku sebagai masinis Bima. Dan pada kesempatan kali ini, aku mendapat bantuan asisten masinis yang masih muda juga, sepertinya calon masinis yang sedang dimagangkan oleh pihak Stasiun Surabaga Gubeng. Sebelum menaiki lokomtoif CC 203 38, aku sempatkan berkenalan dengannya. Ternyata namanya adalah Wahyu. Dan benar, dia ternyata calon masinis. Aku pun mengobrol dengannya sembari menunggu perintah berangkat dari PPKA. Berbeda denganku, Wahyu menjadi pegawai PT. KA melalui lowongan yang dibuka pada dua tahun sebelumnya, dan dia memilih sebagai masinis, sementara aku dipanggil karena pengabdianku sebagai PPKA di Staisun Saradan.

"Priiittt ..."
Suara peluit panjang dibunyikan oleh petugas Stasiun Surabaga Gubeng untuk memberiku perintah berangkat. Dengan sigap aku menggeser tuas dan tidak lama kemudian roda kereta api mulai menggelinding. Aku melihat seklias Wahyu memperhatikan bagaimana tanganku bekerja memainkan tuas-tuas serta panel-panel di kabin. Sesekali aku melihatnya membalas isyarat semboyan satu dari para petugas perlintasan yang kami lalui. Aku berpikir mungkin Wahyu pernah magang sebelumnya, sehingga dia tahu tentang semboyan. Perjalanan Bima ini entah kenapa aku merasakan bahwa mungkin ini awal perjalananku tanpa Dimas. Tapi, semoga saja perasaan ini salah ...


Berlanjut ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
(14-08-2012, 11:18 AM)Ryzky_Widi Wrote: Kereta Hantu


*Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, tempat, serta kejadian yang sebenarnya


----- @@@@@ -----


"Sis, besok jadi nggak ke rumahnya Lita ...?" Seorang cewek remaja berambut panjang kecokelatan bertanya kepada temannya melalui HP Nokia 5130 Express Music miliknya.
"Jadi dong, aku sudah persiapkan semuanya."
"Oke deh, kita ketemu besok ya di stasiun." Si cewek akhirnya melemparkan HP-nya ke atas ranjang empuk, dan kemudian dia rebahan.

* * * * *

Keesokan harinya ...

Di sebuah stasiun besar di Propinsi Yogyakarta, Stasiun Lempuyangan. Tiga orang gadis berusia 22 tahun, Fransiska, Ayudia, dan Lita, tampak ramai berguyonan di dalam kereta api Pasundan. Mereka bertiga adalah mantan sahabat karib ketika masih SMU, dan Lita hendak mengajak kedua temannya itu untuk reuni dengan mengunjungi rumahnya di daerah Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Fransiska dan Lita duduk berhadapan dengan Ayudia. Karena kondisi gerimis, mereka tidak berani membuka jendela di samping mereka, tapi untunglah ada kipas angin yang menyala, sehingga mereka dan para penumpang lain tidak sumuk.

Dua menit kemudian, kereta api berjalan meninggalkan stasiun, dan bergerak ke arah barat dengan perlahan-lahan. Karena memerlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai di Stasiun Banjar, maka mereka mencoba menghabiskan waktu dengan caranya sendiri-sendiri. Fransiska mendengarkan musik dari HP sambil menikmati pemandangan di luar kereta, Ayudia mencoba meredupkan matanya untuk tidur, dan Lita membaca sebuah novel.

Empat jam lebih lima menit kemudian ...

"Akhirnya, kita sampai teman-teman. Yuk turun, coz kereta api ini nggak berhenti lama ..." Kata Lita sembari beranjak dari tempat duduknya, mengingat sudah tiba di Stasiun Banjar. Kemudian, mereka bertiga turun dari kereta, dan berjalan menuju pintu keluar stasiun. Namun sebelum meninggalkan stasiun, Ayudia menuju ke kamar kecil dahulu, mengingat dia sebelumnya enggan untuk menggunakan toilet di kereta.

"Ayudia, cepat ..." Kata Fransiska sambil mengetuk pintu kamar kecil stasiun, mengingat dia juga ingin buang air. Ealah ...

Pukul 20.35, mereka tiba di rumah Lita. Karena di pedesaan dan di kaki perbukitan, maka penerangan disekitarnya sangat minim. Meskipun begitu, rumah Lita adalah rumah paling bagus, namun terpencil, mengingat orang tuanya adalah kepala desa dua puluh tahun yang lalu. Rumah Lita dikepung hutan cemara, oleh karena itu meskipun di kaki perbukitan, udara tetap dingin dan berembun.

"Hufff ... Sampai juga," Gumam Lita sembari meletakkan tas ranselnya diatas 'mantan' meja belajarnya dulu.
"Rumahmu bagus juga Lit," sambung Ayudia setelah memandangi sekeliling interior rumahnya yang memang bagus. Terpampang foto Lita ketika SD beserta keluarganya, serta beberapa ornamen berupa lukisan pemandangan alam dan beberapa tanaman hias masih terlihat segar.
"Iya, aku udah lama banget nggak ke sini. Rumah ini aja dirawat sama pak dhe yang tinggal di seberang sungai sana, selama aku dan keluargaku ngungsi di Yogyakarta."
"Pantesan ini rumah bagus dan terawat," Potong Fransiska.

Menjelang pukul 21.00 malam, Lita keluar ke rumah pak dhe untuk memberitahu kehadirannya dan teman-temannya, sekalian mengambil air di sumur untuk mandi mereka bertiga. Alhasil, Franskiska dan Ayudia pun menunggu di dalam rumah yang sederhana namun asri. Kedua gadis itu mencoba rebahan di matras kasur yang sudah disediakan Lita, sambil menunggu Lita kembali. Lantas, sepuluh menit kemudian ...

Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ...

Sebuah suara gemuruh kereta api sayup-sayup terdengar, serta menggetarkan perabotan yang ada di dalam kamar. Sontak, itu membuat Fransiska dan Ayudia terkejut, namun mereka tidak ambil pusing dengan getaran kereta api melaju itu, dan mereka berdua kembali rebahan di atas matras sambil memandangi langit-langit kamar. Mereka berdua sebenarnya ingin menonton TV namun karena TV-nya rusak, jadinya mereka hanya bisa tidur-tiduran sambil menunggu temannya yang cantik itu kembali.

"Aneh ya, kenapa ada kereta api semalam ini ...?" Tanya Fransiska merasa aneh.
"Yah ... Mungkin kereta api malam. Kamu kan tau Sis, kereta api malam itu kan banyak, seperti Bima yang dulu pernah aku naiki bersama keluargaku, terus apalagi ya aku lupa ..." Balas Ayudia sambil mencoba mengingat-ingat kenangannya.
"Tapi, Nggak mungkin ada kereta di sini ...?" Fransiska bertanya kembali dengan penasaran.
"Benarkah ...?"



----- @@@@@ -----


Tak berselang lama, Lita akhirnya kembali.

"Girls, mandi yuk ...! Airnya udah siap nih, tinggal dipanasin aja," Teriak Lita kepada kedua temannya yang berada di dalam kamar.
"Iyaaaa bentar ...!" Fransiska dan Ayudia membalas teriakan kompak.

Fransiska dan Ayudia pun akhirnya menuju kamar mandi kecil di sebelah rumah Lita, sederhana sekali dengan pancuran air dan terasa ndeso banget. Sambil mandi bersama dengan air panas yang diambil dari sumur di depan rumah Lita, mereka pun ngobrol. Maklum cewek ... Hehe ...

"Lit, ada kereta malam yang lewat sini ya ...?" Tanya Ayudia. Dan, Lita pun mengerutkan dahinya pertanda ada yang aneh dengan pertanyaan temannya itu. Kemudian ...
"Kereta malam ...?" Balas Lita bertanya kepada Ayudia dengan sedikit heran.
"Iya."
"Maksudmu apa Yu, nggak pernah ada kereta api lewat sini." Lita pun menjawab dengan pasti sambil menggelengkan kepala.

Deennggg ... Jawaban Lita membuat hati Fransiska dan Ayudia menjadi gemetar, dan ada yang aneh dengan suara gemuruh yang mereka dengan tadi. Kedua gadis cantik bagai model majalah itupun mencoba menerangkan apa yang sudah mereka dengar kepada Lita, yang dahulu pernah hidup dan tinggal di sini.

"Kamu nggak salah Sis ...? Mungkin bukan suara kereta api."
"Nggak kok, aku tahu itu suara kereta api yang berjalan, benarkan Yu ...?" Tandas Fransiska sambil bertanya pada Ayudia untuk menguatkan kebenarannya itu. Ayudia pun mengangguk kecil. Lantas, karena sedikit ketakutan, mereka berdua, Fransiska dan Ayudia, mentas dan segera menuju kamar lain selain kamar Lita tadi karena masih merinding. Lita pun mengikutinya, dan dia yang sudah sejak kecil tinggal di rumahnya ini tidak yakin apa yang didengar kedua temannya semasa SMU itu.

"Kenapa kalian di kamar ortuku, yuk ke kamar, kita ganti baju," Kata Lita mencoba menenangkan Fransiska dan Ayudia yang menggigil ketakutan plus kedinginan meskipun sudah berbalut handuk putih.

Setelah diyakinkan sang empunya rumah, kedua cewek itu akhirnya mau kembali masuk ke kamar Lita untuk ganti baju. Setelah mereka bertiga ganti baju, mereka memutuskan untuk tidur agar bisa bangun pagi-pagi untuk jalan-jalan. Setengah jam kemudian, sekitar pukul 22.50, lampu di kamar Lita tiba-tiba mati-hidup-mati-hidup. Tentu hal tersebut membuat Fransiska dan Ayudia yang sebelumnya ketakutan jadi semakin takut. Lita selaku empunya rumah mencoba meyakinkan kembali kedua temannya bahwa mungkin lampunya sudah aus. Tapi, kejadian berkata lain ...

Suuuiiiittttt ...!!! Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ...

Suara peluit yang melengking tinggi disertai suara gemuruh kembali terdengar dari kejauhan. Begitu terkejutnya sang gadis berambut separuh lurus separuh bergelombang itu mendengar suara yang memang tidak asing, yaitu suara gemuruh kereta api berjalan. Fransiska dan Ayudia sontak menempel pada Lita dan menggenggam kedua lengannya yang mulus itu.

"Lit, dengar kan sekarang. Itu jelas suara kereta api ..." Kata Ayudia lirih sambil menggenggam lengan kanan Lita dan jari-jari tangannya gemetaran.

Makin dekat, suara gemuruh kereta api pun semakin keras. Untuk meyakinkan, Lita mencoba membuka tirai jendela dan mengintipnya dengan bantuan senter. Bagai jantung lepas dari tempatnya, Lita dan kedua temannya melihat dengan mata kepala sendiri, sebuah kereta api melintas di kegelapan, dengan enam kereta yang semuanya lampunya menyala. Namun yang membuat bulu kuduk ketiga gadis itu berdiri adalah seluruh jendela keretanya dipenuhi oleh darah serta di dalam kereta tampak banyak orang berlalu lalang, dan ada yang tanpa kepala. Serta di kereta urutan terakhir, terlihat beberapa orang yang sedang menggedor-gedorkan jendela dan meninggalkan jejak telapak tangan berdarah.

Setelah pemandangan mengerikan itu berlalu dan suara gemuruh kereta api juga tak terdengar lagi di gendang telinga, lampu kamar tiba-tiba mati, dan begitu juga di seluruh ruangan di dalam rumah Lita. Dengan berbekal senter, Lita dan kedua temannya mencoba keluar dari kamar, namun pintunya seakan terkunci. Akhirnya, Ayudia pingsan, dan Lita beserta Fransiska menggedor-gedor pintu dengan keras.

* * * * *

Keesokan harinya ...

Lita, Fransiska, dan Ayudia sudah berada di sebuah kamar yang asing bagi Fransiska dan Ayudia, namun tidak asing bagi Lita. Ya, mereka berada di salah satu kamar keluarga pak dhe Lita. Ternyata pak dhe Lita yang bernama Toekimin Soeharjo itu membawa ketiga cewek-cewek perawan itu ke rumahnya dengan bantuan beberapa warga desa, setelah pak dhe Toekimin kaget melihat Lita dan kedua temannya tergelatak tidak wajar di lantai kamar Lita.

Akhirnya, pak dhe Toekimin membenarkan dan menjelaskan apa yang dialami oleh Lita beserta temannya itu.

Dahulu, sekitar tahun 1960-an, di belakang rumah yang sekarang ditempati Lita dan kedua temannya ada sebuah jalur kereta api dari Banjar menuju Cijulang. Namun jalur itu ditutup oleh PJKA mengingat kejadian tragis dari sebuah kereta api yang terjun ke dalam jurang yang tidak jauh dari rumah keluarga Lita. Dari ratusan penumpang kereta api tersebut, hanya empat yang berhasil hidup, salah satunya adalah pak dhe Toekimin tersebut. Dan, menurut pengusutan polisi pada saat itu, penyebab kecelakaan maut itu adalah sabotase rel kereta api, namun tidak diketahui siapa yang melakukannya. Setelah beberapa tahun, pak dhe Lita yang lain, Samidjan Soeharjo, yang kini sudah meninggal itu mengakui perbuatannya, bahwa dialah yang melakukan sabotase rel. Itu dilakukan karena pak dhe Lita yang sudah almarhum itu butuh uang, karena memang keluarga orang tua Lita orang miskin, maka dipatahkanlah beberapa meter rel kereta api yang berada sekitar sepuluh meter di belakang rumahnya. Sebenarnya sejak tahun 1960-an sampai 1990-an, kereta hantu itu selalu melintas, hanya saja Lita yang masih bayi yang sanggup mendengar gemuruhnya, namun tidak didengar oleh anggota keluarga lain. Namun, setelah tahun 1990-an, sepeninggalan pak dhe Samidjan, kereta hantu itu menampakkan secara jelas kepada seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu hanya keluarga Lita yang selalu diperlihatkan kereta hantu tersebut, karena yang menyebabkan terbunuhnya ratusan penumpang itu adalah ulah Samidjan, yang merupakan salah satu anggota keluarga besar Lita. Maka itulah sebabnya mengapa Lita dan keluarganya pindah menuju Yogyakarta dua pulun tahun silam. Dan meskipun Lita sering 'bermain' ke rumahnya ini, itu selalu dilakukan siang hari, dan begitu menjelang malam, pak dhe Toekimin mengajaknya ke rumah pak dhenya itu untuk melindungi Lita dari melintasnya kereta hantu tersebut. Namun, kali ini Lita menyaksikannya sendiri ...



----- SELESAI -----

ini cerita nyata kan ? (kecuali bagian kereta hantu menampakan dirinya) kalo soal PLH nya beneran kan ?
di jembatan selepas terowongan Wilhelmina
Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Hidupku di Stasiun Saradan 2 (PART 2)

by : Ryzky Widi Atmaja


Dua hari sudah aku melalui hari tanpa Dimas. Aku masih merindukannya berada disampingku baik ketika dinas ataupun diluar dinas. Dimas juga lebih mengerti tentang Surabaya, karena dia lebih lama berada di kota pahlawan tersebut. Akhir-akhir ini aku sering dihibur oleh ulah kocak pak Harjo, salah satu pegawai Stasiun Surabaya Gubeng yang sudah berusia 60 tahun. Pak harjo memang sangat dihormati oleh seluruh anggota stasiun, sampai satpam stasiun pun mengenali dan menaruh hormat padanya. Beliau memang senang melontarkan joke-joke bagaikan komedian, seingga banyak orang yang tadinya sedih menjadi gembira olehnya, termasuk aku.

"Adi, bagaimana keadaan ibunda Dimas ...?" Tanya pak Sugeng, kepala administrasi Stasiun Surabaga Gubeng kepadaku ketika aku hendak keluar stasiun untuk pulang setelah dinas dengan kereta api Bima dari Jakarta.
"Saya belum tahu pak, belum ada kabar dari Dimas. Bahkan sms saya juga belum dibalas."
"Mungkin dia sibuk merawat dan menunggui ibunya yang sakit, jadi belum sempat membalas atau kasih kabar," Pak Sugeng mencoba menghiburku dengan berpikir positif. Kemudian, beliau kembali ke ruangannya, dan aku berjalan meninggalkan gerbang stasiun.

Sesampainya di kontrakan, aku meneleponnya, tapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya aku mencoba mengirimkan kembali sms untuk kedua kali dengan harapan semoga Dimas membalas dan memberi kabar tentang kondisi kesehatan ibunya. Hingga menjelang malam, ternyata tidak ada sms balasan dari Dimas. Namun, aku mencoba berpikir positif, bisa jadi dia kehabisan pulsa, jadi tidak bisa membalas, atau memang seperti yang dikatakan pak Sugeng tadi pagi.


----- @@@@@ -----


Dua hari kemudian ... Pukul 12.25 ...

Dalam istirahat di sebuah mess khusus masinis di Jakarta, aku kaget begitu HP Nokia milikku berdering. Begitu aku memeriksanya, ternyata sms dari Dimas. Akhirnya dia sms setelah empat hari tidak memberi kabar. Namun, begitu aku membuka sms tersebut, aku merasa aneh dengan apa yang ditulisnya.

"Di, maaf ya sepertinya aku nggak bisa dinas bersamamu lagi," tulisnya dalam sms yang dia kirim padaku.

Karena merasa heran dengan balasan smsnya, maka aku mengirim sms kembali untuk menanyakan apa maksud dari tulisan tersebut. Namun, hingga menjelang malam, menjelang aku berdinas membawa Bima kembali ke Surabaya, dia tidak mengirimkan sms balasan. Aku jadi semakin terpikir apa yang ditulisnya, apakah dia pindah dinasan kereta api, ataukah pindah ke stasiun besar lain, karena aku mengenal Dimas adalah orang yang berdedikasi tinggi pada setiap apa yang dikerjakannya. Tapi aku tidak bisa berspekulasi tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Akhirnya keesokan harinya, setelah selesai dinas membawa Bima, aku terkejut dengan seseorang yang berdiri bersandar di salah satu pilar stasiun dengan tas ransel yang diletakkan di bawah kakinya. Dengan tangan dilipat dan disilangkan di dada, dia seolah-olah sedang menungguku.

"Dimas," kataku pelan sambil berlari menuju arahnya tanpa menyerahkan dahulu lembar laporan perjalanan ke pihak stasiun. Aku melihat ekspresi datar dari wajahnya, itu membuatku semakin bingung.
"Gimana dinas mu selama empat hari ini ...?" Tanyanya dengan nada ingin tahu.
"Fine-fine aja, tapi aku masih merasakan perbedaan suasana di kabin tanpa kamu meskipun asisten masinis penggantinya lumayan bagus dan sering membantuku juga." Aku mencoba menjelaskan apa yang kurasakan selama dinas empat hari tanpa dia, dan dia hanya mengangguk saja.

Adi melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi disliangkan di depan dadanya, dan menepuk pundakku.

"Kumpulkan laporan perjalananmu dulu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu setelah itu," katanya dengan nada sedikit bersedih. Akhirnya aku meninggalkannya sebentar untuk menuju ruang PPKA, memberikan laporan perjalanan dinasku semalam. Lantas, aku kembali ke tempat Dimas berada.

Dimas menghela nafas sejenak.

"Adi, maaf ya aku tidak bisa membalas sms selama beberapa hari. Aku ingin merahasiakan sesuatu darimu hingga tiba waktu yang tepat, yaitu sekarang, karena aku ingin mengatakan padamu langsung," katanya yang semakin membuatku penasaran, apa yang dirahasiakannya dan apa yang akan dikatakannya padaku.
"Nggak apa-apa Dimas, aku bisa mengerti. Lantas, apa yang akan kamu bicarakan ...?"

Sebelum dia panjang lebar menjelaskan segala sesuatunya, sebuah kereta api ekonomi datang dari arah utara dan memasuki jalur satu stasiun. Kemudian, Dimas mengangkat tas ranselnya, dan membawa dibelakang punggungnya, tidak berselang lama, dia memberikan secarik kertas yang terlipat kepadaku. Aku tidak mengerti maksud dari tindakannya tersebut.

"Bacalah Di, dan sekali lagi maaf ya, kita harus berpisah di sini ...." Dimas pun bergegas meninggalkanku dan berjalan menuju peron satu dimana kereta api Pasundan berada. Apakah Dimas memang pindah tugas ke DAOP lain. Dan lagi, dia tidak mengatakan sepatah katapun kepadaku karena terburu kereta api Pasundan yang beberapa menit lagi akan berangkat. Pasundan, apakah dia pindah ke Stasiun Bandung. Semoga secarik kertas yang dia berikan menjawab semua rasa penasaranku pada sahabat karibku itu.

Sembari menunggu keberangkatan Pasundan, aku membuka kertas yang dia berikan padaku. Setelah beberapa baris aku membaca, astaga ... Apa benar semua ini ...?

'Adi, melalui surat ini aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa ibuku sudah tiada. Dan aku merasa berdosa pada beliau mengingat aku sudah membohongi ibuku sendiri tentang pekerjaanku di Surabaya ini yang menyebabkan ibuku sakit keras hingga meninggalkanku. Aku dulu bilang pada ibu aku bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya, dan ibuku senang, tapi aku tidak sanggup untuk mengatakan bahwa aku hanya seorang masinis, mengingat ibu tidak setuju. Dan, yang membuat aku semakin terpukul adalah detik-detik meninggalnya ibu, aku tidak disampingnya karena saat itu aku berada di Stasiun Saradan untuk memberi kabar tentang ibuku. Setelah sepeninggalan ibu, aku memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari PT. KA, dan meneruskan perkebunan milik keluargaku yang sebelumnya diurus oelh ibu. Sekali lagi aku minta maaf Di, kita tidak bisa bersama lagi di dalam kabin lokomotif, serta berita ini sudah aku sampaikan ke kepala stasiun dan Kadaop 8, dan permintaan pengunduran ini diterima kemarin siang, sehingga aku bergegas menulis surat ini untuk memberitahukan hal ini padamu. Selamat jalan kawan, semoga sukses ... Aku tetap menunggumu di Saradan ketika Bima melintas ...'

Aku tidak dapat menahan air mataku yang dengan instan menetes. Ternyata ini yang dia sembunyikan padaku, kenapa harus kau rahasiakan, bukankah kita sejak dulu berjanji susah senang harus bersama-sama. Belum selesai aku melipat kertas ini kembali ...

Ting Tong Teng Tong ...

Bel stasiun berbunyi, dan tidak berselang lama Pasundan pun diberangkatkan. Aku mencoba melambaikan tangan kerahnya yang berdiri di pinggir pintu kereta, dan dia pun membalas lambaianku juga. Kami berdua saling melemparkan senyuman meskipun kami menangisi kepergian ini. Selamat jalan Dimas, semoga sukses juga ...

Beberapa menit kemudian kereta api pasundan menghilang dari pandangan, begitu juga dengan lambaian tangannya ...


----- SELESAI -----
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
bagus mas ceritanya,saya pun juga terharu membacanya.
Hanya Seorang RailFans yang juga seorang Bismania dan penggemar Jejepangan

Follow me on...
Facebook : Fajrul Lubab Haryana
YouTube : Fajrul Lubab Haryana (@FLHVideoGraph)
Instagram : @fajrul201100

AKU KESSOKU BAND ☝️




Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Ini kisah nyata mas?
Reply
Paulus : Silahkan direnungi sendiri ... Nyata ataukah Fiksi ... Xie Xie

Oiya, sedikit foto di Ryzky's Diary ...

The Virgin River Railway Bridge (175 m) - Tahun 2000 ...

Atas, sebelah kanan jembatan (Bantaran sungai) : Taman Cinta (Belum dibangun)


[Image: Virgin_River_Railway_Bridge.jpg]

-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)