Posts: 111
Threads: 0
Joined: Jun 2014
Reputation:
4
(26-06-2016, 11:49 AM)Bagazi Wrote: Hah, untuk K3?
Apakah ini hanya bercanda?
Kayaknya sih beneran mas karena INKA memang selain membuat rangkaian kereta kelas eksekutif K1 2016 sebanyak empat set, juga tengah membuat lima set kereta kelas ekonomi baru gitu. Di beberapa berita pernah ada dan saya juga sempat nonton video beritanya di YouTube. Ini juga ada fotonya dari Facebook sempet liat. Semoga interiornya menjadi lebih baru dan banyak perubahan/kejutan.
Posts: 203
Threads: 0
Joined: Jul 2013
Reputation:
1
Test run Madiun - Solo Balapan menggunakan lokomotif CC203 XX.
Terdapat 10 kereta yang akan diuji coba.
Interior
photo by Fernanda Ardiyanto
Posts: 1,275
Threads: 0
Joined: May 2013
Reputation:
7
(01-07-2016, 05:03 AM)Bagazi Wrote: Test run Madiun - Solo Balapan menggunakan lokomotif CC203 XX.
Terdapat 10 kereta yang akan diuji coba.
Interior
photo by Fernanda Ardiyanto
Dari Instagram @keretaapikita ini kapasitasnya 80 seat. Buat eko komersil?
Posts: 605
Threads: 0
Joined: Mar 2014
Reputation:
4
(01-07-2016, 10:08 AM)Hendra20409 Wrote: Dari Instagram @keretaapikita ini kapasitasnya 80 seat. Buat eko komersil?
Kayaknya sih buat K3 komersil (ada yang nyebutnya Ekonomi plus, soalnya ada K3 seat 2-3 yang komersil seperti K3 malabar). Populasi K3 seat 2-3 kayaknya ga bakal nambah lagi deh..
Diliat-liat semisal dalam posisi default, seatnya sepertinya ga berhadap-hadapan ya? Kalau iya syukurlah, kebutuhan privasi untuk ibu menyusui bisa terakomodasi. Btw cara ngebalik senderannya gimana ya? Kayak di K1 atau K2?
Regards,
Public Transportation Enthusiast
Posts: 1,275
Threads: 0
Joined: May 2013
Reputation:
7
01-07-2016, 10:39 AM
(This post was last modified: 01-07-2016, 10:59 AM by Hendra20409.)
(01-07-2016, 10:24 AM)Ardhani Muhad Wrote: (01-07-2016, 10:08 AM)Hendra20409 Wrote: Dari Instagram @keretaapikita ini kapasitasnya 80 seat. Buat eko komersil?
Kayaknya sih buat K3 komersil (ada yang nyebutnya Ekonomi plus, soalnya ada K3 seat 2-3 yang komersil seperti K3 malabar). Populasi K3 seat 2-3 kayaknya ga bakal nambah lagi deh..
Diliat-liat semisal dalam posisi default, seatnya sepertinya ga berhadap-hadapan ya? Kalau iya syukurlah, kebutuhan privasi untuk ibu menyusui bisa terakomodasi. Btw cara ngebalik senderannya gimana ya? Kayak di K1 atau K2?
Kalo diliat permukaan sandaran kursinya yg beda di antara kedua sisinya, kayanya ngebaliknya kaya K1 ini. Sementara diujicobakan buat KA Tambahan Lebaran KTA - PSE infonya. Btw, ini pake boogie kaya K1 16 apa pake K5 biasa ya?
Posts: 2,657
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
43
(01-07-2016, 05:03 AM)Bagazi Wrote: Test run Madiun - Solo Balapan menggunakan lokomotif CC203 XX.
Terdapat 10 kereta yang akan diuji coba.
Interior
photo by Fernanda Ardiyanto
Wew, K3 rasa K1...
Berarti sebentar lagi KA JJ bakal hanya ada 2 kelas aja ini, yaitu K3 ma K1. Sementara K3 106 kursi masih belum jelas, apa jadi lokalan atau gimana, soalnya denger2 seluruh K3 bakal pake stanformasi kayak begini...
Posts: 833
Threads: 0
Joined: Oct 2009
Reputation:
12
setau saya kursinya fix gak bisa dibalik, separo menghadap ke depan separo ke belakang (CMIIW). lumayan ini bisa selonjor dan sandarannya agak rebah gak tegak lurus kyk K3 sekarang. berharap rangkaian ini nantinya dipakai reguler buat K3 jarak terjauh (Majapahit, Krakatau, atau Jayabaya)..
KA Sumber Kentjono
Posts: 2,236
Threads: 0
Joined: Dec 2008
Reputation:
14
penyederhanaan kelas??
sekarang ada ekonomi 2-3 PSO, ada ekonomi 2-3 non-PSO, ada ekonomi seat tegak 2-2, yg terbaru ini ekonomi "seat agak miring 2-2" (saya lebih suka menyebutnya "cheap bisnis", karena walopun judulnya ekonomi tp harganya pasti tidak akan ekonomis)
jaman sblumnya ada eksekutif livery bisnis (warna biru), eksekutif satwa (livery kaya bisnis tapi warna abu2) & eksekutif argo (saya lupa detail perbedaannya, kayanya di jumlah kursi dalam 1 kereta)
ada pula kereta wisata "pembonceng" statusnya kelas "premium" (mungkin akan ada kelas "pertalite" & kelas "  "  )
jaman perumka, ada kelas ekonomi, bisnis & eksekutif. (TITIK)
jerit peluit iringi putaran cakram membelai batang baja
. . . . .
Posts: 605
Threads: 0
Joined: Mar 2014
Reputation:
4
(01-07-2016, 10:39 AM)Hendra20409 Wrote: Kalo diliat permukaan sandaran kursinya yg beda di antara kedua sisinya, kayanya ngebaliknya kaya K1 ini. Sementara diujicobakan buat KA Tambahan Lebaran KTA - PSE infonya. Btw, ini pake boogie kaya K1 16 apa pake K5 biasa ya?
(01-07-2016, 07:58 PM)eri4nto Wrote: setau saya kursinya fix gak bisa dibalik, separo menghadap ke depan separo ke belakang (CMIIW). lumayan ini bisa selonjor dan sandarannya agak rebah gak tegak lurus kyk K3 sekarang. berharap rangkaian ini nantinya dipakai reguler buat K3 jarak terjauh (Majapahit, Krakatau, atau Jayabaya)..
Liat foto-foto yang beredar di medsos ternyata separo menghadap ke depan & separonya lagi menghadap ke belakang, kirain bisa dibalik kayak K1 & K2 
Sementara dipake untuk tambahan PSE-KTA/PP, kira-kira kedepan mau dicap dipo mana ya?
Ngeliat Bogo yg dimutasi ke Daop 6 & Kutut lebaran yang juga dimutasi ke Daop 6 lalu berubah nama jadi Joko Tingkir, apakah rangkaian ini juga bakal dicap dipo SLO/YK?
(04-07-2016, 04:20 PM)nino Wrote: penyederhanaan kelas??
sekarang ada ekonomi 2-3 PSO, ada ekonomi 2-3 non-PSO, ada ekonomi seat tegak 2-2, yg terbaru ini ekonomi "seat agak miring 2-2" (saya lebih suka menyebutnya "cheap bisnis", karena walopun judulnya ekonomi tp harganya pasti tidak akan ekonomis)
jaman sblumnya ada eksekutif livery bisnis (warna biru), eksekutif satwa (livery kaya bisnis tapi warna abu2) & eksekutif argo (saya lupa detail perbedaannya, kayanya di jumlah kursi dalam 1 kereta)
ada pula kereta wisata "pembonceng" statusnya kelas "premium" (mungkin akan ada kelas "pertalite" & kelas " " )
jaman perumka, ada kelas ekonomi, bisnis & eksekutif. (TITIK)
Bau-baunya kedepan cuma ada 2 kelas yaitu Eksekutif & Ekonomi, bisa dilihat sampai sekarang belum terbit rangkaian K2 terbaru
IMO, judul ekonomi ga musti selalu harganya ekonomis, contohnya harga tiket kelas ekonomi pesawat yang harganya ga "merakyat" hehe
Regards,
Public Transportation Enthusiast
Posts: 4,227
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
83
maksud awal mau merespons postingan di thread soal rencana penghapusan K2, tapi setelah dibaca lagi, ternyata ocehan saya berikut ini lebih tepat kalo diposting di thread yang ngebahas soal kereta secara umum...
ini adalah quote dari postingan yang pengen di-reply:
(25-07-2016, 10:09 AM)stasiunkastephanie Wrote: (25-07-2016, 09:35 AM)Ardhani Muhad Wrote: (25-07-2016, 09:15 AM)stasiunkastephanie Wrote: Yg di- bold: itu salah ketik tuh, harusnya Kutojaya Utara aka Kutut... 
Ada yg mau ane analisis soal penghapusan K2:
1. Kelas yg akan berlaku nantinya bukan hanya ekonomi & eksekutif, tapi ada tambahan kelas premium (Kawis Jawa, Sumatera, Imperial, Priority, Nusantara, Bali, Toraja).
2. Semua KA JJ nantinya gak ada lagi yg menggunakan tarif subsidi, tapi pake tarif komersil, mengingat banyak masyarakat yg sudah tergolong mampu dari segi ekonominya.
3. Untuk K3 (kelas ekonomi), nantinya bakal kayak si Kutut tambahan itu, jadi gak peduli ex-K3 PSO, K3 komersil, K2, nantinya pake K3 macam itu.
4. Untuk K1 (kelas eksekutif), nantinya bakal kayak K1 0 16 xx yg wira-wiri ke mana2 itu. Tapi, ada pengurangan fasilitas daripada K1 sekarang (cerita dari forum sebelah).
5. Untuk Kawis (kelas premium), fasilitas yg digunakan jelas luxurious, mewah, deelel. yg biasanya dimiliki oleh K1. Jadi, kalo mau menikmati fasilitas kereta yg mewah, suruh naik Kawis aja.
6. Kereta K3 PSO nantinya akan dialihkan untuk KA lokal/komuter/jarak dekat, untuk memberdayakan masyarakat naik kereta.
Sekian analisisnya... 
Oh iya baru nyadar nulisnya Kutowijaya
----
Mungkin nanti pembagian kelasnya jadi kayak maskapai pesawat full service ya? K3 setara Economy Class, K1 setara Business Class, & Kawis setara First Class. Berarti ada peluang Kawis dioperasikan secara reguler?
Btw, pengurangan fasilitas K1 bentuknya seperti apa? seat pitch makin sempit ato pembatasan berat-dimensi bawaan yang dibawa ke kabin?
Kurang lebih dibuat sama kayak pesawat begitulah nantinya. Pengurangan faslitas yg dmaksud itu, misal pintu masuk ke kabin (dari bordes) dibuat manual, trus disetting gak pake AVOD (Audio-Video on Demand), seatpitch yg standar K1 ajah, pokoknya semua kemewahan yg dulu sempat disematkan ke K1, dipindah ke Kawis istilahnya, begituu... 
dan berikut tanggapan dari saya:
Waktu K3 0 16 ** mulai rame dibicarakan di medsos rekan-rekan RF, saya memposting sebuah artikel di blog saya yang berisi tentang wajah kereta Ekonomi terbaru itu, berikut prediksi bakal naiknya harga tiket kelas Ekonomi. Sepertinya, kalo membaca analisanya mbak Stephanie, harga tiket kelas Ekonomi memang bakal naik, entah berapa persentasenya dari harga sekarang (mungkin disetarain dengan tiket K3 non-PSO di rute yang udah dilalui kereta nonsubsidi itu).
Di bagian akhir dari artikel di blog pribadi, saya menuliskan kalo perubahan wajah K3 itu sejalan dengan rencana Pak Ignasius Jonan sewaktu masih menjabat Dirut PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yaitu menghapus kelas Bisnis dan digantikan dengan kelas Ekonomi non-PSO. Dengan hilangnya K2, konfigurasi kelas layanan penumpang KA di Indonesia bakal menyerupai konfigurasi yang sudah berjalan di Eropa, yaitu hanya ada dua kelas layanan penumpang: kelas 1 dan kelas 2 (kecuali di Rusia, masih tersedia kelas 3, ditambah Eurostar yang menyediakan tiga kelas layanan: Business Premier, Standard Premier, dan Standard). Seluruh rangkaian kereta yang beroperasi di Eropa terdiri dari kereta kelas 1 dan kereta kelas 2 (belum termasuk sleeping dan couchette car, yang adalah perwujudan ‘kelas 1’ dan ‘kelas 2’ pada sistem kereta tidur). Hal yang kemudian membedakan antara rangkaian satu dengan lainnya adalah pada masalah batas kecepatan, yang terbagi atas high-speed, medium-speed, dan low-speed untuk kereta jarak jauh, ditambah commuter (kalo nggak salah, di beberapa negara, commuter train ada yang dibagi atas kelas 1 dan kelas 2).
Dari pengalaman pribadi juga ditambah baca-baca buat mencari update terbaru, yang membedakan antara kelas 1 dan kelas 2 di kereta-kereta Eropa ada pada lebar kursi dan pitch, persis seperti sistem yang berlaku di pesawat komersial. Kelas 1 tentu punya lebar kursi dan pitch yang lebih luas, sehingga kapasitas maksimum per kereta juga menjadi terbatas. Konfigurasi kursi di kelas 1 adalah 2-1 (sama dengan kelas Spesial era Perumka dulu), sedangkan di kelas 2 adalah 2-2 (seperti kelas Eksekutif dan Ekonomi buatan INKA sejak 2010). Hanya saja, posisi kursi di kereta kelas 1 versi Eropa tidak bisa diputar. Arah hadap kursi sama seperti pada K3 0 16 **: sebagian baris menghadap searah laju kereta, bagian baris lainnya menghadap berlawanan arah laju kereta...
Sedangkan untuk kelas 2, posisi kursinya ada yang berhadap-hadapan seperti pada K3 di Indonesia selama ini (contoh foto pertama di bawah), dan ada pula yang modelnya seperti pada K3 0 16 ** (termasuk di dalamnya kelas 2 TGV, contoh foto kedua di bawah)...
Untuk mendapatkan kursi yang searah dengan laju kereta tentunya butuh keberuntungan besar: entah apakah kursi yang dipesan kebetulan menghadap searah dengan laju kereta, atau membeli global pass dan asal naik ke dalam kereta dan berharap masih ada kursi kosong yang menghadap depan. Pengecualian hanya terdapat pada perjalanan TGV (di rute tertentu) dan Eurostar, yang menawarkan kesempatan bagi penumpang untuk bisa memilih kursi yang searah dengan laju kereta pada seluruh kelas (contoh denah kereta Eurostar bisa dilihat di website ini).
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) boleh jadi bisa dibilang operator KA yang lebih ‘baik’ dibandingkan rekan sejawatnya di benua Eropa, di mana seluruh kursi kelas Eksekutif dan Bisnis dipastikan menghadap ke depan; hanya mereka yang naik kelas Ekonomi yang harus menebak-nebak posisi kursi. Tapi, dengan rencana dihapusnya K2 dan (rencana) pengurangan fasilitas pada K1, kok saya jadi curiga ya, apakah K1 buatan INKA kedepannya akan muncul dengan posisi kursi yang tidak bisa diputar? Kesannya memang seperti menjiplak konfigurasi kursi di KA-KA Eropa, tapi dengan adanya rencana pengurangan fasilitas pada K1 yang dibarengi dengan pengoperasian kereta wisata secara reguler (apalagi Imperial dan Priority interiornya dibuat mirip K1, dan bukan seperti pendahulunya yang menyediakan sofa hingga kamar tidur), bisa jadi kecurigaan itu menjadi kenyataan. Tapi, semoga saja pengurangan fasilitas K1 bukan pada posisi kursi yang dipatenkan...
Oh ya, sedikit tambahan... kalo memang PT. Kereta Api Indonesia (Persero) pengen mengadaptasi perkeretaapian di Indonesia menjadi seperti yang wara-wiri di Eropa, sudah seharusnya disediakan pula gerbong angkutan sepeda. Caranya? Unit K2 yang bakal dihapus jangan cuma dikonversi jadi gerbong barang biasa, tapi ada pula yang dikonversi jadi gerbong angkutan sepeda. Jadi kan, para bikers yang selama ini direpotkan dengan regulasi dimensi bagasi dan harus membongkar sepeda mereka sebelum naik kereta, nantinya bakal lebih nyaman ketika akan bepergian naik kereta membawa sepedanya. Sekalipun harus bayar tambahan ongkos untuk mengangkut sepeda, tapi kan tidak perlu repot bongkar-pasang sepeda sebelum dan sesudah naik kereta. Di Eropa juga begitu kok, mereka yang mau bawa sepeda di gerbong khusus tiketnya lebih mahal dibandingkan mereka yang cuma bawa badan, dengan atau tanpa tas/koper/paket yang masih dalam ukuran wajar.
Bahkan, sewaktu baca Kompas cetak edisi kemarin (Minggu, 24/07), kabarnya sejak enam bulan yang lalu sudah ada yang buat petisi untuk Pak Jonan supaya disediakan gerbong angkutan sepeda. Ide pembuat petisi memang bagus, selain dari segi fasilitas memberi kemudahan bagi mereka yang senang ngegowes, dari segi penampilan juga membuat kereta di Indonesia semakin mirip dengan kereta di Eropa (walaupun HSR pertama di Indonesia masih berjarak entah berapa tahun lagi). Hanya saja, ada satu pertanyaan yang muncul di benak saya, yaitu penyediaan gerbong angkutan sepeda jadi kewajiban siapa: Kemenhub selaku regulator atau PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai operator? Takutnya, petisi yang sebenarnya bagus itu malah ternyata salah alamat...
Oh iya, baru ingat kalo di Eropa itu gerbong sepedanya nggak cuma ngangkut sepeda, tapi dicampur dengan kompartemen untuk penumpang. Sepertiga sampai setengah dari kereta didesain untuk tempat penyimpanan sepeda, dan sisanya diperuntukkan kabin penumpang kelas 2. Jadi, biasanya penumpang yang membawa sepeda dialokasikan ke kelas 2, dan ditempatkan di gerbong/kereta khusus itu...
sekian ocehan dari saya...
|