Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
Cinta BangetJALINAN KASIH DI GERBONG KERETA APICinta Banget
~Lanjutan~

Babak 3
Tak lama kemudian teman Nia,Aam, membantu mengajar. Suatu ketika kami sedang mengajar, beberapa orang lelaki (preman) menghampiri kami yang sedang asyik belajar. Wajah mereka tak ramah, Niapun turun dari gerbong menemui mereka.

Nia :“Maaf, ada apa yaa pak?”
Preman 1 :“Saya Cuma mau Tanya, adik ini dari yayasan mana?”
Nia : (DIAM SEJENAK) “Memangnya kenapa, pak??”
Preman 1 :“Lho, adik ini bagaimana??? Kami bertanya kok malah ditanya lagi?” (MENYENTAK).
Preman 2 :“Adik digaji berapa sih sama yayasan adik?”
Nia :“Saya bukan dari yayasan manapun.”
Preman 2 :“Dinas Sosial??” (MENEGASKAN).
Nia :“Bukan, saya mengajar anak-anak itu karena kasihan melihat mereka. Itu aja.”
Preman 2 :“Bener lhu?????…..”
Nia :“Iya……”
Preman 1 :“Ngajar sih…ngajar…., tapi hjarus ada ijinnya dong!!”
Nia :“Selama ini tak ada masalah. Saya rasa baik-baik aja????”
Preman 1 :“Gerbong-gerbong ini bukan tempat buat belajar. Jadi kalo kalian pake, harus ijin” (MENUNJUK KE ARAH GERBONG).
Nia :“Apa maksud bapak-bapak ini yang sebenarnya??? Yang saya tahu selama ini gerbong-gerbong tua ini hanya dipake untuk teler-teleran dan tempat main gaple, juga tempat prostitusi aja. Apakah itu juga pake ijin???Ijin pada siapa???” (MENEGASKAN).
Preman 1 :“Alah, sok tau lho…… ”
Nia :“Tapi benar kan yang saya katakana tadi??”
Preman 3 :“Ucup, Pulang kamu!!!” (TANGAN MENUNJUK KE ARAH UCUP).
Ucup :“Ntal Pak, belum selesai belajalnya.”
Preman 3 :“Pulang, gue bilang! Dapet pelajaran bukannya bener lhu…, malah suka nasehatin orang tua. Pulang….pulang….pulang!”

Ucup memandangku, matanya berkaca-kaca. Kemudian berlari pulang. Tak lama setelah kejadian tersebut Nia sering diteror oleh banyak lelaki.

Preman 4 :“Hey,neng….mo pulang ya??Gak usah pulang aja neng, mending ikut abang aja….”
Nia : (DIAM SAJA SAMBIL MEMPERCEPAT LANGKAH KAKINYA).
Preman 5 :“Hey, kok diam aja??kamu bisu ta atau budheg yaaa????Cantik-cantik kok bisu.(MEMEGANG TANGAN NIA DAN AAM)”
Nia :“Tolong…tolong…..”
Preman 5 :“Kurang ajar, lha wong nggak diapapin aja kok teriak-teriak minta tolong.Brisik tau????”
Aam :“Tolong lepaskan tangan kami, jangan apa-apakan kami”
Preman 5 :“Ha…..ha…ha tenang ajalah nona-nona cantik”
Nia :“Apa salah kami???”
Preman 4 :“Banyak salah kalian. (MENYENTAK)”
“Kalian telah mengganggu pekerjaan kami di sini.”
Aam :“Pekerjaan yang mana???”
Preman 4 :“Gak usahlah berlagak sok baik hati. Ngajar anak-anak sini di gerbong kereta api tua ini.”
Aam :“Kami hanya kasihan pada mereka….”
Preman 4 :“Kasihan…kasihan. Kami nggak butuh belas kasihan kalian. Pergi dari sini!!!”
Preman 5 :“e…e..e…e..tunggu dulu Bos. Kayaknya ni anak kuliahan berarti nia anak orang kaya dong..Kita kan butuh rokok Bos?” (MEMANDANG PREMAN 4).
Preman 4 :“Oke juga idemu. Sekarang serahkan uangmu!!Cepet!!Lelet banget sih???” (MENYENTAK).
Aam :“Kami nggak punya uang mas, uangku Cuma cukup buat ongkos pulang”
Preman 4 :“Alah, bohong lhu…..Ayo cepet keluarkan ”(MEMANDANG TAS YANG KUBAWA).
Nia :“Iniiiiiii…..”(MENYERAHKAN UANG DENGAN RASA TAKUT).

Akhirnya Nia dan Aam dibiarkan melanjutkan perjalanan lagi oleh preman tersebut. Selama dalam perjalanan pulang ke rumah Nia dan Aam berdiskusi.

Aam :“Aku takut, Nia. Mereka serem banget!!!”
Nia :“Aku juga, Am”
Aam :“Kita pindah aja yuk, tempat belajarnya!”
Nia :“Dimana, Am??”
“Anak-anak akan keberatan kalo tempat belajarnya jauh, apalagi kalo pake ongkos.”
Aam :“Ada nggak yaa rumah teman kita atau musholla sekitar Stasiun Senen yang bisa kita pake ya??”
Nia : (SAMBIL MELAMUN) “Sebenarnya penggunaan gerbong-gerbong itu untuk tempat belajar telah mengurangi kemaksiatan yang terjadi di gerbong-gerbong itu, kan???”

Kejadian terror terjadi lagi, ketika Nia sedang mengajar di gerbong kereta api.

Nia :“Ayo…ini dibaca apa, Udin???” (MENUNJUKKAN TEKS BACAAN).
Udin :“A…K…U…Ku, aku.”
Tiba-tiba preman-preman menghampiri anak-anak yang sedang belajar di dalam gerbong.
Preman 4 : (NYLONONG MASUK GERBONG TANPA PERMISI)
“Hei…hei….”
“Ayo bubar….bubar….bubar belajar apaan ini??? Buang-buang waktu aja.”
Preman 5 :“Mending kalian tu cari duit.”
“Ngamen sana!!!”
“Ngapain kalian susah ngajar mereka????” (MEMANDANG NIA DAN AAM).
Preman 4 :“Apa sebenarnya tujuan kalian melakukan ini semua???? Paling kalian Cuma mau memamerkan kepinteran kalian ke anak-anak. Iya kan? Jujur aja dech” MENARIK-NARIK JILBAB AAM).
Nia :“Astaghfirulloh, Pak….”(MENGELUS DADA).
“Kami nggak ingin pamer, tapi hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka karena kasihan pada mereka….”
Preman 5 :“Ahhh…bohong lhu.Dasar orang kaya sukanya ngibul orang gak punya seperti kita-kita ini. Bukan begitu anak-anak???”
Udin :“Nggak Pak” (MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA).
“Bu Guru Nia dan Bu Guru Aam baik pada kami”
Preman 5 :“Kamu tu masih kecil. Tau apa kamu???Kalian dah kemakan omongan wanita-wanita ini” (MENENDANG UDIN).
Udin :“Aduuuhhhh…sakit Pak” (MERINGIS KESAKITAN).
Rita :“Pak, jangan sakiti temanku, Udin.”
“Emang, Bu Guru dan Bu Guru Aam baik pada kami. Mereka mengajari kami belajar membaca dan mengaji.” (MEMELUK NIA).
Preman 5 : (MENARIK RITA DARI PELUKAN NIA) “Kamu tu tau apa??”
Rita :“Kalian mengganggu belajar kami.”
Preman 5 :“Apa lhu bilang???” (MENJEWER TELINGA RITA).

Beberapa diantara anak-anak itu menangis keras.

Babak 3
Setelah beberapa bulan berlalu, kami sepakat untuk pindah belajar ke Musholla An-Nur.Eman, Rita, Adi belajar bersama.

Nia :“Alkhamdulillah…..ya anak-anak kita masih diberi kesempatan oleh Allah tuk belajar membaca dan mengaji lagi di tempat baru kita.”
“Bagaimana kabar kalian, anak-anak???”
Anak-anak :“Baik Buuuuu…..”
Adi :“Ayo belajar Buuu. Aku sudah pingin belajar sekarang Bu!!! ”
Nia :“Iya…iya…sabar dulu……”
“Baiklah anak-anak mari kita mulai belajar kita dengan berdo’a terlebih dahulu. Mari membaca surat Al-Ikhlas bersama-sama…Setuju???”
Anak-anak :“Setujuuu…..”
Nia :“Satu…Dua…Tiga…”
Anak-anak :“Qul huwallohu ahad. Allohushomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahukufuwan ahad.”
Aam :“Pinter semuanya…….”
“Bu Guru bangga dan senang pada kalian. Kalian tambah pinter aja.”
Anak-anak : (TERSENYUM BANGGA).

Tiba-tiba datanglah Udin, Ucup dan Tia yang berlari-lari, tergesa-gesa membuka pintu musholla.

Udin + Ucup :“Bu Guru!Bu Guru Nia.” (TERENGAH-ENGAH MENARIK NAFAS CEPAT).
Nia :“Iya….iya…tenang dulu…tenang dulu…. ” (MENGELUS BADAN UDIN).
Setelah agak tenang kondisi anak-anak itu, Nia menanyai mereka.
Nia :“Ada apa?? Kok terlambat.”
Udin :“Aduh Buu.., kacau.”
Nia :“Kacau, bagaimana????”
Ucup :“Lumah Tia dibongkal !!Kami diucil!! ”
Udin :“Semua dibongkar, Bu! Sekarang orang-orang pada bingung mau pergi kemana?? Bapak Ucup ngelawan, tapi malah ditangkap sama petugas.”
Nia :“Innalillahi..” (BERPANDANGAN DENGAN AAM).

Anak-anak yang sedang belajar mulai panik, gaduh.

Nia :“Jadi pada mau pindah kemana???”
Udin :“Nggak tahu, Buuu. Disana masih rame!”
Tia :“Gerbong-gerbong udah dikosongin. Nggak boleh ditempatin lagi.”
Udin :“Kami boleh pulang, Bu?? Anak-anak pada ditanyain ama emaknye!!!”
Nia :“Ya, boleh (SUARA NIA TERSEKAT DI KERONGKONGAN)”
Anak-anak berbaris menyalami Nia dan Aam. Satu persatu anak dipeluk Nia.
Nia :“Ini alamat Ibu (MEMBERIKAN KARTU NAMA)”
“Kalian sudah bisa menulis, kan?? Tulislah surat pada Ibu yaaa!!! ”
Mereka berebut menerima kartu nama dari Nia.
Tia :“Rita mungkin pulang ke Jawa, Bu.”
Nia :“Yaaa….kalo Ucup gimana???”
Ucup :“Ucup nggak tahu gimana???”
Nia :“Narti…???”
Narti :“Aku juga, Buu”
Nia : (TERSENYUM) “Dimanapun kalian, kalau kalian menjadi anak yang saleh, allah akan selalu melindungi kalian.”
Aam :“Jangan lupa untuk selalu belajar, berusaha dan berdo’a.”

Kami semua saling berpelukan sambil menangis keras.

Bye ByeTAMATBye Bye

Sekian Cerpen yang saya sajikan
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !

[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Reply
Dilanjut lagi semua ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Kira2 capek ga ya nulis cerpen panjang kayak gini Bingung
Reply
(29-06-2012, 03:37 PM)Maulana Malik Wrote:
Kira2 capek ga ya nulis cerpen panjang kayak gini Bingung

Ya capek sih capek, cuma kalau lagi bersemangat nulis dan ada ide, semua itu seakan tidak terasa ... Ngiler
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Ayo, mas, LANJUTKANN !!!!
Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Halo Tersenyuum saya baru disini,gimana caranya ngeposting ?
Reply
Kereta Hantu


*Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, tempat, serta kejadian yang sebenarnya


----- @@@@@ -----


"Sis, besok jadi nggak ke rumahnya Lita ...?" Seorang cewek remaja berambut panjang kecokelatan bertanya kepada temannya melalui HP Nokia 5130 Express Music miliknya.
"Jadi dong, aku sudah persiapkan semuanya."
"Oke deh, kita ketemu besok ya di stasiun." Si cewek akhirnya melemparkan HP-nya ke atas ranjang empuk, dan kemudian dia rebahan.

* * * * *

Keesokan harinya ...

Di sebuah stasiun besar di Propinsi Yogyakarta, Stasiun Lempuyangan. Tiga orang gadis berusia 22 tahun, Fransiska, Ayudia, dan Lita, tampak ramai berguyonan di dalam kereta api Pasundan. Mereka bertiga adalah mantan sahabat karib ketika masih SMU, dan Lita hendak mengajak kedua temannya itu untuk reuni dengan mengunjungi rumahnya di daerah Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Fransiska dan Lita duduk berhadapan dengan Ayudia. Karena kondisi gerimis, mereka tidak berani membuka jendela di samping mereka, tapi untunglah ada kipas angin yang menyala, sehingga mereka dan para penumpang lain tidak sumuk.

Dua menit kemudian, kereta api berjalan meninggalkan stasiun, dan bergerak ke arah barat dengan perlahan-lahan. Karena memerlukan waktu sekitar empat jam untuk sampai di Stasiun Banjar, maka mereka mencoba menghabiskan waktu dengan caranya sendiri-sendiri. Fransiska mendengarkan musik dari HP sambil menikmati pemandangan di luar kereta, Ayudia mencoba meredupkan matanya untuk tidur, dan Lita membaca sebuah novel.

Empat jam lebih lima menit kemudian ...

"Akhirnya, kita sampai teman-teman. Yuk turun, coz kereta api ini nggak berhenti lama ..." Kata Lita sembari beranjak dari tempat duduknya, mengingat sudah tiba di Stasiun Banjar. Kemudian, mereka bertiga turun dari kereta, dan berjalan menuju pintu keluar stasiun. Namun sebelum meninggalkan stasiun, Ayudia menuju ke kamar kecil dahulu, mengingat dia sebelumnya enggan untuk menggunakan toilet di kereta.

"Ayudia, cepat ..." Kata Fransiska sambil mengetuk pintu kamar kecil stasiun, mengingat dia juga ingin buang air. Ealah ...

Pukul 20.35, mereka tiba di rumah Lita. Karena di pedesaan dan di kaki perbukitan, maka penerangan disekitarnya sangat minim. Meskipun begitu, rumah Lita adalah rumah paling bagus, namun terpencil, mengingat orang tuanya adalah kepala desa dua puluh tahun yang lalu. Rumah Lita dikepung hutan cemara, oleh karena itu meskipun di kaki perbukitan, udara tetap dingin dan berembun.

"Hufff ... Sampai juga," Gumam Lita sembari meletakkan tas ranselnya diatas 'mantan' meja belajarnya dulu.
"Rumahmu bagus juga Lit," sambung Ayudia setelah memandangi sekeliling interior rumahnya yang memang bagus. Terpampang foto Lita ketika SD beserta keluarganya, serta beberapa ornamen berupa lukisan pemandangan alam dan beberapa tanaman hias masih terlihat segar.
"Iya, aku udah lama banget nggak ke sini. Rumah ini aja dirawat sama pak dhe yang tinggal di seberang sungai sana, selama aku dan keluargaku ngungsi di Yogyakarta."
"Pantesan ini rumah bagus dan terawat," Potong Fransiska.

Menjelang pukul 21.00 malam, Lita keluar ke rumah pak dhe untuk memberitahu kehadirannya dan teman-temannya, sekalian mengambil air di sumur untuk mandi mereka bertiga. Alhasil, Franskiska dan Ayudia pun menunggu di dalam rumah yang sederhana namun asri. Kedua gadis itu mencoba rebahan di matras kasur yang sudah disediakan Lita, sambil menunggu Lita kembali. Lantas, sepuluh menit kemudian ...

Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ...

Sebuah suara gemuruh kereta api sayup-sayup terdengar, serta menggetarkan perabotan yang ada di dalam kamar. Sontak, itu membuat Fransiska dan Ayudia terkejut, namun mereka tidak ambil pusing dengan getaran kereta api melaju itu, dan mereka berdua kembali rebahan di atas matras sambil memandangi langit-langit kamar. Mereka berdua sebenarnya ingin menonton TV namun karena TV-nya rusak, jadinya mereka hanya bisa tidur-tiduran sambil menunggu temannya yang cantik itu kembali.

"Aneh ya, kenapa ada kereta api semalam ini ...?" Tanya Fransiska merasa aneh.
"Yah ... Mungkin kereta api malam. Kamu kan tau Sis, kereta api malam itu kan banyak, seperti Bima yang dulu pernah aku naiki bersama keluargaku, terus apalagi ya aku lupa ..." Balas Ayudia sambil mencoba mengingat-ingat kenangannya.
"Tapi, Nggak mungkin ada kereta di sini ...?" Fransiska bertanya kembali dengan penasaran.
"Benarkah ...?"



----- @@@@@ -----


Tak berselang lama, Lita akhirnya kembali.

"Girls, mandi yuk ...! Airnya udah siap nih, tinggal dipanasin aja," Teriak Lita kepada kedua temannya yang berada di dalam kamar.
"Iyaaaa bentar ...!" Fransiska dan Ayudia membalas teriakan kompak.

Fransiska dan Ayudia pun akhirnya menuju kamar mandi kecil di sebelah rumah Lita, sederhana sekali dengan pancuran air dan terasa ndeso banget. Sambil mandi bersama dengan air panas yang diambil dari sumur di depan rumah Lita, mereka pun ngobrol. Maklum cewek ... Hehe ...

"Lit, ada kereta malam yang lewat sini ya ...?" Tanya Ayudia. Dan, Lita pun mengerutkan dahinya pertanda ada yang aneh dengan pertanyaan temannya itu. Kemudian ...
"Kereta malam ...?" Balas Lita bertanya kepada Ayudia dengan sedikit heran.
"Iya."
"Maksudmu apa Yu, nggak pernah ada kereta api lewat sini." Lita pun menjawab dengan pasti sambil menggelengkan kepala.

Deennggg ... Jawaban Lita membuat hati Fransiska dan Ayudia menjadi gemetar, dan ada yang aneh dengan suara gemuruh yang mereka dengan tadi. Kedua gadis cantik bagai model majalah itupun mencoba menerangkan apa yang sudah mereka dengar kepada Lita, yang dahulu pernah hidup dan tinggal di sini.

"Kamu nggak salah Sis ...? Mungkin bukan suara kereta api."
"Nggak kok, aku tahu itu suara kereta api yang berjalan, benarkan Yu ...?" Tandas Fransiska sambil bertanya pada Ayudia untuk menguatkan kebenarannya itu. Ayudia pun mengangguk kecil. Lantas, karena sedikit ketakutan, mereka berdua, Fransiska dan Ayudia, mentas dan segera menuju kamar lain selain kamar Lita tadi karena masih merinding. Lita pun mengikutinya, dan dia yang sudah sejak kecil tinggal di rumahnya ini tidak yakin apa yang didengar kedua temannya semasa SMU itu.

"Kenapa kalian di kamar ortuku, yuk ke kamar, kita ganti baju," Kata Lita mencoba menenangkan Fransiska dan Ayudia yang menggigil ketakutan plus kedinginan meskipun sudah berbalut handuk putih.

Setelah diyakinkan sang empunya rumah, kedua cewek itu akhirnya mau kembali masuk ke kamar Lita untuk ganti baju. Setelah mereka bertiga ganti baju, mereka memutuskan untuk tidur agar bisa bangun pagi-pagi untuk jalan-jalan. Setengah jam kemudian, sekitar pukul 22.50, lampu di kamar Lita tiba-tiba mati-hidup-mati-hidup. Tentu hal tersebut membuat Fransiska dan Ayudia yang sebelumnya ketakutan jadi semakin takut. Lita selaku empunya rumah mencoba meyakinkan kembali kedua temannya bahwa mungkin lampunya sudah aus. Tapi, kejadian berkata lain ...

Suuuiiiittttt ...!!! Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ... Gredeg ...

Suara peluit yang melengking tinggi disertai suara gemuruh kembali terdengar dari kejauhan. Begitu terkejutnya sang gadis berambut separuh lurus separuh bergelombang itu mendengar suara yang memang tidak asing, yaitu suara gemuruh kereta api berjalan. Fransiska dan Ayudia sontak menempel pada Lita dan menggenggam kedua lengannya yang mulus itu.

"Lit, dengar kan sekarang. Itu jelas suara kereta api ..." Kata Ayudia lirih sambil menggenggam lengan kanan Lita dan jari-jari tangannya gemetaran.

Makin dekat, suara gemuruh kereta api pun semakin keras. Untuk meyakinkan, Lita mencoba membuka tirai jendela dan mengintipnya dengan bantuan senter. Bagai jantung lepas dari tempatnya, Lita dan kedua temannya melihat dengan mata kepala sendiri, sebuah kereta api melintas di kegelapan, dengan enam kereta yang semuanya lampunya menyala. Namun yang membuat bulu kuduk ketiga gadis itu berdiri adalah seluruh jendela keretanya dipenuhi oleh darah serta di dalam kereta tampak banyak orang berlalu lalang, dan ada yang tanpa kepala. Serta di kereta urutan terakhir, terlihat beberapa orang yang sedang menggedor-gedorkan jendela dan meninggalkan jejak telapak tangan berdarah.

Setelah pemandangan mengerikan itu berlalu dan suara gemuruh kereta api juga tak terdengar lagi di gendang telinga, lampu kamar tiba-tiba mati, dan begitu juga di seluruh ruangan di dalam rumah Lita. Dengan berbekal senter, Lita dan kedua temannya mencoba keluar dari kamar, namun pintunya seakan terkunci. Akhirnya, Ayudia pingsan, dan Lita beserta Fransiska menggedor-gedor pintu dengan keras.

* * * * *

Keesokan harinya ...

Lita, Fransiska, dan Ayudia sudah berada di sebuah kamar yang asing bagi Fransiska dan Ayudia, namun tidak asing bagi Lita. Ya, mereka berada di salah satu kamar keluarga pak dhe Lita. Ternyata pak dhe Lita yang bernama Toekimin Soeharjo itu membawa ketiga cewek-cewek perawan itu ke rumahnya dengan bantuan beberapa warga desa, setelah pak dhe Toekimin kaget melihat Lita dan kedua temannya tergelatak tidak wajar di lantai kamar Lita.

Akhirnya, pak dhe Toekimin membenarkan dan menjelaskan apa yang dialami oleh Lita beserta temannya itu.

Dahulu, sekitar tahun 1960-an, di belakang rumah yang sekarang ditempati Lita dan kedua temannya ada sebuah jalur kereta api dari Banjar menuju Cijulang. Namun jalur itu ditutup oleh PJKA mengingat kejadian tragis dari sebuah kereta api yang terjun ke dalam jurang yang tidak jauh dari rumah keluarga Lita. Dari ratusan penumpang kereta api tersebut, hanya empat yang berhasil hidup, salah satunya adalah pak dhe Toekimin tersebut. Dan, menurut pengusutan polisi pada saat itu, penyebab kecelakaan maut itu adalah sabotase rel kereta api, namun tidak diketahui siapa yang melakukannya. Setelah beberapa tahun, pak dhe Lita yang lain, Samidjan Soeharjo, yang kini sudah meninggal itu mengakui perbuatannya, bahwa dialah yang melakukan sabotase rel. Itu dilakukan karena pak dhe Lita yang sudah almarhum itu butuh uang, karena memang keluarga orang tua Lita orang miskin, maka dipatahkanlah beberapa meter rel kereta api yang berada sekitar sepuluh meter di belakang rumahnya. Sebenarnya sejak tahun 1960-an sampai 1990-an, kereta hantu itu selalu melintas, hanya saja Lita yang masih bayi yang sanggup mendengar gemuruhnya, namun tidak didengar oleh anggota keluarga lain. Namun, setelah tahun 1990-an, sepeninggalan pak dhe Samidjan, kereta hantu itu menampakkan secara jelas kepada seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu hanya keluarga Lita yang selalu diperlihatkan kereta hantu tersebut, karena yang menyebabkan terbunuhnya ratusan penumpang itu adalah ulah Samidjan, yang merupakan salah satu anggota keluarga besar Lita. Maka itulah sebabnya mengapa Lita dan keluarganya pindah menuju Yogyakarta dua pulun tahun silam. Dan meskipun Lita sering 'bermain' ke rumahnya ini, itu selalu dilakukan siang hari, dan begitu menjelang malam, pak dhe Toekimin mengajaknya ke rumah pak dhenya itu untuk melindungi Lita dari melintasnya kereta hantu tersebut. Namun, kali ini Lita menyaksikannya sendiri ...



----- SELESAI -----
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Mohon maaf, post dihapus.
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)