Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kumpulan Cerpen Kereta Api
OK deh... Tserah mas Momod...

Reply
Mengejar Kereta (Part 1)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


Pagi itu, Lukman (20), seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) bersiap pulang ke kampung halamannya di kota Purwokerto dengan menggunakan Kereta Api Kutojaya Utara. Setelah sekitar lima jam perjalanan, akhirnya kereta api itu pun tiba di jalur dua Stasiun Purwokerto. Lukman pun bergegas turun dari kereta, dan karena terburu-buru ingin ke toilet, dia pun tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tengah asyik memainkan iPad hingga iPad nya terjatuh ke lantai peron. Karena merasa bersalah, Lukman segera meminta maaf dan mengambilkan iPad milik perempuan berparas 'Cute' yang terjatuh itu.

"Maaf mbak, ini HP nya ... Sekali lagi saya minta maaf," kata Lukman sambil memberikan iPad tersebut kepada si perempuan itu.
"Ya udah nggak apa-apa mas," balas si perempuan imut-imut itu.

Sekitar dua menit kemudian, sekeluarnya Lukman dari toilet stasiun, dan akan menuju keluar peron stasiun, tidak sengaja merasakan ada sesuatu yang terinjak. Lukman perlahan-lahan mengangkat kaki kanannya yang menginjak sesuatu itu, dan kemudian dia menemukan sebuah liontin emas berbentuk 'Love' yang tergeletak di atas lantai. Lukman pun mengambil liontin emas itu dan membersihkan dengan tangan nya, dan ternyata liontin itu dapat dibuka, dan di dalamnya tampak sebuah foto ukuran kecil seorang perempuan yang sedang dipeluk seorang laki-laki dengan sangat mesra, dengan tulisan 'Love u Claudia'.

Berkat foto itu, Lukman akhirnya tahu liontin itu milik perempuan imut yang baru saja ditabraknya tadi. Tapi, anehnya Lukman tidak melihat liontin itu ketika mengambilkan iPad milik perempuan itu yang juga terjatuh. Akhirnya, Lukman mencoba mencari perempuan imut yang memakai baju biru muda dan celana jeans pensil tersebut untuk mengembalikan liontin emas yang mungkin sangat berharga dan bermakna bagi si perempuan.


--------------------------------
Karena waktu yang sempit, jadi Part 1 ini sangat singkat ...

To be continued ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
(18-10-2011, 01:27 PM)Ryzky_Widi Wrote: [spoiler=Mengejar Kereta (Part 1)]
Mengejar Kereta (Part 1)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


Pagi itu, Lukman (20), seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) bersiap pulang ke kampung halamannya di kota Purwokerto dengan menggunakan Kereta Api Kutojaya Utara. Setelah sekitar lima jam perjalanan, akhirnya kereta api itu pun tiba di jalur dua Stasiun Purwokerto. Lukman pun bergegas turun dari kereta, dan karena terburu-buru ingin ke toilet, dia pun tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tengah asyik memainkan iPad hingga iPad nya terjatuh ke lantai peron. Karena merasa bersalah, Lukman segera meminta maaf dan mengambilkan iPad milik perempuan berparas 'Cute' yang terjatuh itu.

"Maaf mbak, ini HP nya ... Sekali lagi saya minta maaf," kata Lukman sambil memberikan iPad tersebut kepada si perempuan itu.
"Ya udah nggak apa-apa mas," balas si perempuan imut-imut itu.

Sekitar dua menit kemudian, sekeluarnya Lukman dari toilet stasiun, dan akan menuju keluar peron stasiun, tidak sengaja merasakan ada sesuatu yang terinjak. Lukman perlahan-lahan mengangkat kaki kanannya yang menginjak sesuatu itu, dan kemudian dia menemukan sebuah liontin emas berbentuk 'Love' yang tergeletak di atas lantai. Lukman pun mengambil liontin emas itu dan membersihkan dengan tangan nya, dan ternyata liontin itu dapat dibuka, dan di dalamnya tampak sebuah foto ukuran kecil seorang perempuan yang sedang dipeluk seorang laki-laki dengan sangat mesra, dengan tulisan 'Love u Claudia'.

Berkat foto itu, Lukman akhirnya tahu liontin itu milik perempuan imut yang baru saja ditabraknya tadi. Tapi, anehnya Lukman tidak melihat liontin itu ketika mengambilkan iPad milik perempuan itu yang juga terjatuh. Akhirnya, Lukman mencoba mencari perempuan imut yang memakai baju biru muda dan celana jeans pensil tersebut untuk mengembalikan liontin emas yang mungkin sangat berharga dan bermakna bagi si perempuan.


--------------------------------[/spoiler]
Karena waktu yang sempit, jadi Part 1 ini sangat singkat ...

To be continued ...

Akhirnya ada sumbangan cerpen lagi dari Mas Ryzky. Ditunggu lanjutannya ya!
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
Reply
Mengejar Kereta (Part 2)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


Setelah beberapa lama, akhirnya Lukman pun tidak menemukan Claudia, perempuan imut pemilik liontin yang ditemukannya itu, padahal suasana Stasiun Purwokerto sedang sepi, dan hanya beberapa orang saja yang lalu lalang di sekitar peron stasiun. Lukman berpikir mungkin si perempuan itu sudah keluar stasiun, mengingat setelah Kereta Api Kutojaya Utara berangkat, belum ada kereta api lain yang datang, jadi tidak mungkin Claudia meninggalkan stasiun dengan naik kereta api.

Alhasil, Lukman pun terpaksa pulang dengan membawa liontin berbentuk hati emas itu dengan perasaan bersalah, karena sudah menabrak seorang perempuan hingga iPad, dan liontinnya terjatuh, sudah begitu terinjak pula. Sesampainya di rumahnya, di pinggiran kota Purwokerto, Lukman langsung istirahat, merebahkan diri di atas kasur sambil membayangkan kejadian tadi siang di stasiun.

--------------------------------

Empat hari kemudian ...

Lukman sudah bersiap untuk pergi ke Stasiun Purwokerto untuk kembali ke Jogjakarta, karena masa liburan nya sudah menjelang habis, dengan masih membawa liontin emas milik Claudia di dalam saku celana panjangnya. Sesampainya Lukman di stasiun terbesar di DAOP V tersebut dengan diantar temannya, dia bergegas membeli tiket Kereta Api Kutojaya Utara jurusan Jogjakarta yang datang pada pukul sekitar 12.45. Begitu memasuki peron stasiun, Lukman tidak sengaja melihat Claudia menaiki kereta api yang berhenti di peron tiga dari kejauhan. Begitu melihat si pemilik liontin itu, Lukman mencoba berlari menuju peron tiga, namun ternyata perlahan-lahan pintu kereta api tertutup, dan beberapa detik kemudian terdengar pengumuman dari petugas stasiun bahwa Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta diberangkatkan.

Begitu Kereta Api Taksaka bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun, Lukman mencoba berlari sekuat tenaga untuk mengejar kereta api itu sambil melambaikan liontin dari luar jendela kereta dengan berharap Claudia yang berambut sebahu itu melihatnya. Namun, usahanya sia-sia, ular besi Taksaka itu pun semakin menjauh, dan akhirnya Lukman pun berhenti mengejar sambil memandangi kereta api yang sedang melewati sinyal keluar sambil menggenggam liontin itu.

Dengan niat tulus untuk mengembalikan liontin yang ditemukannya empat hari yang lalu itu, Lukman berbalik dan berlari keluar stasiun.

"Man, kamu mau kemana ...?" tanya teman Lukman yang masih di tempat parkir stasiun.
"Aku mau mengejar kereta yang baru berangkat itu," balas Lukman.
"Kamu ketinggalan kereta itu ta ...?" tanya balik teman Lukman sambil memacu sepeda motornya mendekati Lukman.
"Bukan, sulit untuk menjelaskan."
"Ya udah, ayo aku antarkan mengejar kereta itu," kata teman Lukman.
"Nggak apa-apa ta Ris ...?" balik Lukman bertanya kepada Haris, temannya itu.
"Udah nggak apa-apa kok, memangnya kamu mau ngejar naik apa. Ayo."

Akhirnya, Lukman yang dibonceng Haris mencoba mengejar kereta yang sedang melaju kencang demi mengembalikan liontin berharga milik Claudia, yang mungkin kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Tak berselang lama, Kereta Api Taksaka tujuan Jakarta berbelok menikung mengikuti kontur perbukitan Purwokerto yang membuat Lukman dan Haris terpisah dari kereta api itu, karena pandangan mereka tertutup oleh perbukitan.

"Gawat, kita tidak bisa melihat kereta itu lagi."
"Ris, stasiun terdekat dari sini mana ...?" tanya Lukman.
"Karang Gandul."
"Baiklah, bisa kita ke sana Ris ...?"
"Oke, tidak begitu jauh dari sini," balas Haris sambil menambah kecepatan hingga speedometer melebihi 80 km/jam


--------------------------------
To be continued ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Mengejar Kereta (Part 3)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


Begitu Lukman dan Haris mendekati Stasiun Karang Gandul, Kereta Api Taksaka ternyata tidak berhenti meskipun memperlambat kecepatan.

"Ternyata kereta nya tidak berhenti Man, bagaimana selanjutnya ...?" tanya Haris ketika melihat kereta api terus melewati stasiun.
"Setelah ini stasiun apa Ris ...?" tanya balik Lukman.
"Karang Sari. Apa kita akan ke sana untuk mendahului kereta itu ...?"
"Karang Sari setahuku jauh sekali dari sini."
"Lumayan sih. Apa kamu mau ke sana, akan aku kencengin biar tiba lebih dulu daripada kereta itu," kata Haris sembari melirik sedikit ke arah Lukman.
"Tapi, apa nggak ngerepotin kamu Ris ...?"
"Nggak kok," balas Haris singkat.

Haris memacu sepeda motornya menuju Stasiun Karang Sari yang berjarak sekitar 15 km dari Stasiun Karang Gandul. Mereka berdua harus melalui jalanan sepi yang mengelilingi Gunung Slamet dan juga cuaca mendung gelap yang diperkirakan akan hujan deras.

"Man, aku ingin tahu kenapa kamu mengejar kereta itu ...? Apakah kamu ketinggalan kereta ...?"
"Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu kepada pemiliknya," balas Lukman dengan sayup-sayup karena hembusan angin dari depan yang kencang.
"Maksudnya ...?" tanya Haris balik sembari membuka penutup helm.
"Aku ingin mengembalikan barang yang aku temukan empat hari yang lalu di stasiun, dan tadi yang punya barang, naik kereta itu."
"Aku ngerti maksudmu, tapi bukankan kapan-kapan bisa kamu kembalikan, kenapa harus mengejar kereta itu segala ...?"
"Kamu nggak ngerti Ris, benda yang aku temukan mungkin sangat berharga buat dia, dan aku tidak tahu kapan bertemu dia lagi."
"Iya aku ngerti kok Man, karena itu aku sangat senang bisa berteman dengan orang jujur sepertimu."
"Makasih Ris, dan maaf kalau ngerepotin sampai sejauh ini."

Lukman dan Haris sudah menempuh sekitar 10 km perjalanan dengan kecepatan sekitar 80 km/jam menembus udara dingin pegunungan, namun mereka tidak melihat Kereta Api Taksaka, karena jalur kereta ada di belakang gunung Slamet yang hijau. Haris hanya memperkirakan kecepatan untuk menyalip kereta api itu, dimana kecepatan kereta api di jalur ini sekitar 50 km/jam mengingat lintasan yang dilintasi berkelok-kelok. Dan tak lama kemudian, gerimis turun dari langit yang gelap menggantung di atas pegunungan Purwokerto. Dan, Haris pun memperlambat laji sepeda motornya menjadi 60 km/jam karena jalanan licin.


--------------------------------
To be continued ...
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
Mengejar Kereta (Part 4 - End)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


Dua puluh menit kemudian ditengah guyuran hujan ...

Haris dan Lukman berhasil tiba lebih dulu di Stasiun Karang Sari meskipun harus kehujanan dan melalui jalanan berkelok-kelok. Setelah tiba, Lukman turun dan langsung menuju ke ruang kepala stasiun, sedangkan Haris berteduh di dalam bangunan stasiun yang sangat sepi itu.

"Permisi bapak," kata Lukman sembari mengetuk pintu ruang kepala stasiun.
"Ya ada apa mas ...?" balas kepala stasiun.
"Maaf bapak, apa sekiranya saya boleh meminta bantuan ...?"
"Silahkan, selama saya bisa bantu."

Lukman menghela nafas sejenak, kemudian ...

"Bapak sebagai yang berwenang di stasiun ini, dapatkah bapak menghentikan kereta api jurusan Jakarta yang sebentar lagi akan lewat sini ...?"
"Sebentar lagi ...?" kata kepala stasiun sambil melihat jam tangannya, lantas, "Taksaka maksudnya ...?"
"Iya."
"Maaf mas kereta itu tidak berhenti di sini, karena eksekutif," kata kepala stasiun.
"Ya mungkin dihentikan sejenak begitu bapak ...?"
"Sulit mas kalau tidak ada sesuatu yang penting, seperti bersilang dengan kereta lain, ataupun masalah teknis."
"Begitu ya," kata Lukman sembari menunduk lesu.

Hujan semakin deras dan dari kejauhan tampak sorot lampu Lokomotif yang mendekati stasiun.

"Memangnya ada keperluan apa mas sampai mas ingin kereta itu berhenti ...?" tanya kepala stasiun.
"Ini bapak," balas Lukman sambil mengeluarkan liontin emas dari dalam saku celana dalamnya yang basah. Kemudian dia menjelaskan masalahnya secara cepat.

Akhirnya, kepala stasiun itu pun mengerti dan menolong Lukman untuk memberhentikan Kereta Api Taksaka yang semakin dekat dengan meminta petugas PPKA untuk menguningkan sinyal masuk stasiun, dan menyalakan lampu merah pada sinyal keluar jalur satu.

"Cepat ya mas, saya tidak bisa menghentikan kereta itu terlalu lama, karena akan mengacaukan jadwal beberapa kereta," kata kepala stasiun.
"Terima kasih bapak, beri saya waktu sekitar dua menit saja."

Begitu kereta api eksekutif tujuan Jakarta itu berhenti di jalur satu, Lukman bergegas naik dan mencari kereta dimana Claudia duduk, sementara petugas PPKA masih kontak-kontakan dengan masinis kereta api tersebut.

"Mas ..." sapa seorang perempuan yang duduk sendirian di kursi dua dari belakang, dekat pintu sambungan antar kereta.

Lukman pun terkejut, ternyata yang menyapanya adalah ...

"Claudia ..." balas Lukman yang kemudian tersenyum kecil.
"Mas juga mau ke Jakarta juga ...?" tanya Claudia.
"Oh bukan, aku cuma ingin ..." kata Lukman terpotong sambil mengeluarkan liontin milik Claudia dari dalam saku celana panjangnya.

Claudia terpana melihat liontin emas yang berkilauan karena pembiasan dengan air hujan yang membasahinya.

"Liontin ku,"
"Ya, aku temukan liontin mu beberapa saat setelah aku menabrak mu beberapa hari yang lalu," kata Lukman sambil menyerahkan liontin itu ke pada Claudia.
"Makasih ya ..."
"Tapi maaf kalau sebelumnya liontin itu terinjak oleh ku saat itu, dan sekarang basah karena kehujanan."
"Nggak apa-apa mas, yang penting aku sudah temukan penggantinya,"
"Maksudnya ...?" tanya Lukman singkat.

Tiba-tiba saja Claudia beranjak dari kursi dan memeluk Lukman sambil meneteskan air mata karena terharu akan perjuangan Lukman yang susah payah kehujanan mengejar kereta demi mengembalikan liontin perempuan berparas imut yang akan pergi ke Australia itu.

Tak lama kemudian, genta peron stasiun dibunyikan agar Lukman tahu bahwa waktunya sudah habis.

"Lukman, ini ..." kata Claudia sembari mengeluarkan sebuah handuk pink bergambar 'Love' dan bertuliskan Claudia, berukuran 15 cm x 15 cm.

Lukman pun ragu-ragu untuk menerima handuk kecil itu.

"Ambilah handuk kesayangan ku ini sebagai tanda terima kasih ku, dan semoga kita bisa bertemu lagi," lanjut Claudia.

Akhir cerita, Lukman pun berpisah dengan Claudia. Kereta Api Taksaka yang akan mengantarkan Claudia ke Jakarta untuk terbang ke Australia itu pun perlahan-lahan meninggalkan stasiun diiringi lengkingan Lokomotif dan suara gaduhnya hujan. Kepala stasiun, PPKA, bahkan Haris pun tak kuasa menahan haru ketika Claudia melambaikan tangan di pintu bordes kereta, dan Lukman pun membalas dengan melambaikan handuk pink yang kini telah berpindah tangan. Kejujuran pasti akan dibalas kebahagiaan, itulah yang dipercayai oleh Lukman seumur hidup, dan kini dia telah membuktikannya.

Lukman pun ke Jogjakarta dengan Kereta Api Kutojaya Utara yang berhenti di Stasiun Karang Sari lima menit kemudian dengan menggunakan tiket yang dia beli di Stasiun Purwokerto sebelumnya. Sementara Haris kembali ke Purwokerto.


-------------------------------- Selesai --------------------------------
-  R y z k y   W i d i   A T m a j a  -
Reply
KSATRIA SEPUR
Episode 1
Maraknya pemberitaan anjlokan dan tergulingnya rangkaian KA akhir2 ini membuat Menteri Perhubungan menjadi merasa was - was akan kembali terulangnya tragedi maha dahsyat yang pernah terjadi. Sebuah bentukan tim khusus mengatasi tragedi telah dibangun. Bersama pihak Kepolisian, intelijen dan militer cara ini ditempuh cukup sulit mengingat medannya yang terjal dan kontur tanah yang landai mengingat tipe - tipe R33 masih ada di mana - mana. Tanpa ingin memberi rasa was - was kepada publik, tim bentukan ini benar - benra dirahasiakan oleh negara dengan tidak menjadi bahan konsumsi publik.

Pagi itu di sebuah petak rel sedang dilakukan proses pembangunan rel ganda. Sosok pemuda tangguh yang hanya bermodalkan kemampuannya yang serabutan menjadikan dirinya 'terdampar' sebagai pekerja kasar selama beberapa tahun ini. Dirinya yang tiap malam berusaha menenangkan diri dari rasa lelahnya itu bersender dengan sekedar meneguk kopi menikmati indahnya lalu lalang KA yang melintas. Namun, jauh dari lokasi ada beberapa orang pria yang sangat mejengkelkan di mana mereka berusaha untuk mencuri beberapa baut dan sebagian menggergaji batangan rel. Tak mau terlacak oleh keberadaan Polisi dan militer, mereka berusaha secepat mungkin. Namun, apa daya tiba - tiba tangan menjadi berat dan kaki sulit melangkah saat diri mereka merasa ada yang membuntuti. Heran mereka, kenapa bisa menjadi berat. Padahal lampu terang sudah menyala dan semakin mendekat dengan sirine Semboyan 35-nya. Di dalam bisikan batin mereka, terdengar kata - kata yang menyayat hati tatkala alam pikiran mereka diingatkan tentang kilas balik tragedi Bintaro, tragedi stasiun Ketanggungan dan langsiran lok Cireks vs KA Empu Jaya di Cirebon Kejaksan.

Seketika itu pula tubuh mereka bisa lepas dan sang ular besi pun bisa melaju begitu tubuh mrk tergeletak terbujur kaku begitu terpental dari pinggir rel KA. Dengan mengucurkan air mata, mereka berraut wajah yang sedih. Entah apa di jalan pikiran mereka. Seketika bayangan sosok berkostum putih dengan wajah mirip seperti para tokoh pejuang tokusatsu ala pahlawan fiksi Jepang sana pun muncul seperti penampakkan bunglon yang bisa menghilang dan muncul begitu saja.

Pagi menjelang, sang pejuang berkostum putih itu pun berjalan di atas rel KA dengan ekspresi tegang seperti orang yang melakukan inspeksi. Jauh sekitar 100 km dari lokasi di mana dirinya berada, tiba - tiba muncul lagi kejadian di mana sebuah perlintasan liar terdapat sosok anak muda yang tertidur terlelap. Dengan bisikan dari batinnya sang anak muda itu pun terbangun heran dan melihat kemacetan luar biasa di atas rel KA. Merasa terkejut melihat waktu sudah jam berapa di arlojinya, seketika si anak muda itu berusaha menyingkirkan banyaknya kendaraan bermotor dari atas rel. Namun, apa daya upayanya sia - sia karena KA semakin mendekat. Banyak warga yang bahu - membahu mengatasi kemacetan di depannya. Lagi - lagi... kemacetan itu disebabkan oleh kekusutan pertigaan tanpa lampu lalu lintas yang tak kunjung terurai. Si anak muda itu pun paniknya luar biasa sekalipun upaya meniupkan peluit sambil mengibaskan bendera merah dilakukannya.

Dari kejauhan, datanglah KA dengan kecepatan tinggi.... "Tamat deh riwayat...!!"keluh si anak muda. "Apa??!!!!"kaget masinis dari kejauhan. Mana gitu di atas rel ada truk kontainer dan di belakangnya ada truk tangki dengan muatan bensin Pertamina yang banyak. Tak terbayangkan kalau terjadi tabrakan akan mengakibartkan ledakan seperti apa yah??? "Akkkhhhh....!!!! Eggghhhhh!!!!!"seketika sang masinis berusaha melakukan pengereman. Namun, pengereman yang sia - sia itu terjadi. Eh.... sang ksatria berjubah putih itu pun muncul dengan samarannya yang tiba - tiba muncul bagaikan makhluk gaib. Si ksatria melakukan penghadangan dengan menahan bagian depan lokomotif dengan sangat luar biasa dengan kedua tangannya. Oleh karena kekuatan lokomotif yang melaju, kaki si ksatria mengeluarkan percikan api.

Persis di depan mobil truk yang hampir naas itu rangkaian KA berhenti. Si anak muda penjaga palang pinbtu perlintasan liar terheran - heran melihat sosok ksatria berjubah putih dengan wajah ditutupi topeng dengan balutan ikatan kepalanya seperti para ksatria kolosal di film2 Indonesia tempoe doeloe. Siapa sosok dirinya itu?? Seketika media massa meliput sosok dirinya itu meski beberapa sempet mengabadikan tapi pas sosok dirinya mulai dengan tampilan buram atau siap menghilang kembali. Di lokasi yang berbeda terdapat peristiwa penodongan di sebuah KA klas Ekonomi. Banyak harta benda yang siap diambil berlaga bak pencopet. Tapi si ksatria berhasil menghadangnya dengan membuat kaku tangan - tangan para tersangka di padatnya setiap jengkal Klas Ekonomi tersebut. Belum lagi sempet terjadi perlawanan cukup sengit saat sebuah KA Klas Ekonomi dibajak oleh gerombolan bandit yang dengan nekadnya menodongkan pisau ke hadapan para penumpang.

--BERSAMBUNG--
[Image: overstappen.png]
(20-10-2011, 10:37 AM)Ryzky_Widi Wrote: Mengejar Kereta (Part 4 - End)
--------------------------------

Cerita fiksi, tidak ada hubungan dengan nama, cerita, dan waktu kejadian


............................
Edan.... Demi liontin dan kecintaannya ke gadis belia itu sampai nekad ngorbanin tenaga dan waktu yah... Memangnya liontin itu semahal apa sih yah? Trus si Cluaida cantiknya seberapa sih??? Sampai nekad ngejar barang berharga gituan... Mengapa? Karena semahal apapun meski itu berlian, emas dan apapun itu wujudnya, tapi karena kecerobohan dari si pemilik yah mending kita anggap aja dah berpindah tangan jadi si penemu aja deh... Aku berpikir sih gitu aja... Kecuali kalo secara kebetulan tak diduga bisa ketemuan lagi.

Kita gak tau si Claudia ini orang Purwokerto, Yogya, Jakarta apa bukan. Yang jelas kala itu ketemu di stasiun Purwokerto khan... Pasti intinya kalau bukan karena cinta, kayaknya sulit utk melakukannya yah... sampai ngorbanin tenaga juga... heheh....

Reply
Dari Cerpen Karya Sayuri Yosiana
KERETA HANTU


Aku terkantuk-kantuk disudut bangku stasiun tua. Disebuah kota kecil yang kuno. Kota lama di perbatasan ibukota. Senyumku lama menghilang. Betapa tidak? Nyaris dua jam aku menanti kereta terakhir tiba. Lelah setelah seharian membantu keluarga sahabatku yang mengadakan pesta tunangan dengan kekasihnya. Berkali-kali mataku melirik jam tangan. Hatiku lelah sudah. Jadwal kereta api negeri ini sudah kadung semrawut. Masyarakat hanya mampu menggerutu untuk setiap keterlambatan datang dan perginya kereta. Tak mampu berbuat lain. Para pejabat berwenang agaknya sudah lama terkena penyakit tuli. Hingga suara masyarakat pemakai jasa setia kereta apipun tak lagi terdengar. Aku menghela nafas berkali-kali. Malam makin larut. Sudah jam sembilan ! Astaga, aku nyaris berdiri saking kagetnya. Mundar mandir tak karuan. Baru kusadari sekelilingku mulai sepi. Beberapa orang yang tadi tampak masih menunggu sepertiku, entah kemana perginya. Mungkin mereka pulang lagi. Atau ke kamar kecil. Penjaja makanan juga sudah sejam lalu membereskan dagangannya dan kembali pulang. Berarti sekarang tinggal aku sendirian di stasiun kecil ini. Aku menoleh berkeliling. Sepi. Tiba-tiba dari arah belakang ada suara serak menegur. Membuatku nyaris terperanjat. Lho, tadi tak ada siapa-siapa? Seorang kakek berseragam pegawai kereta api tersenyum seraya mengepulkan asap rokoknya. Perlahan menghampiriku. Matanya menyipit memperhatikanku. Aku samasekali tak gugup, meski sempat kaget tadi. Dia tersenyum menganggukan kepala. “Masih bertahan menunggu keretanya, mba?” tanyanya dengan suara serak yang lembut. Aku tersenyum. “Ya, pak. Soalnya cuma naik kereta saya bisa sampai dengan cepat kerumah. Kendaraan umum malam begini sudah jarang. Dan kurang aman” jawabku. Dia mengaggukan kepala. Lalu memandang jauh kearah lajur datangnya kereta. Pandangannya tampak menerawang jauh. Sejauh pandangannya. Wajahnya tampak pias. Terbatuk kecil di berkata lagi. ”Mba, mungkin sebentar lagi kereta terakhir akan tiba. Tenang saja. Pasti mba akan segera sampai kerumah dengan selamat. Kereta terakhir ini sudah lama tak beroperasi. Tapi kecepatannya tak kalah dengan yang biasa beroperasi”


[Image: 36677_1147175535038_1697057858_275146_106739_n.jpg]

Aku merasa heran. Memang kereta seperti apa yang akan membawaku pulang ini? Apa bukan yang biasa? Seolah mengerti isi benakku, si petugas stasiun ini tertawa kecil. ” Keterlambatan ini memang karena kereta terakhir biasa ada sedikit masalah, mba. Jadi kami sedang mencoba mengoperasikan kembali yang lama. Tak perlu banyak tanya, mba. Naik saja dengan nyaman. Dan selamat berkumpul kembali dengan keluarga”, jelasnya sambil melengos pergi. Aku hanya menganggukan kepala. Lalu menatap kepergiannya sampai membelok kepintu samping. Kini aku benar-benar sendiri. Menunggu kereta terakhirku. Mata yang kantuk kucoba menahannya sekuat mungkin. Aku berjalan mundar mandir. Beberapa saat kemudian telingaku seperti mendengar peluit dikejauhan. Peluit? Tak sempat berfikir lebih jauh, buru-buru kukemasi barangku yang terdiri dari ransel, payung dan jacket malam serta topi pet pemberian abangku. Benar saja, dikejauhan tampak sebuah sosok hitam muncul. Derunya menggetarkan jantung. Rel-rel kereta didepanku seolah bersiap-siap untuk menyambut kereta yang sempat membuatku marah karena keterlambatannya yang tak kira-kira ini. Meskipun tentu saja bukan keretanya yang salah. Tapi faktor human errornya. Aku merasa sedikit aneh. Kereta yang pelan-pelan tiba dihadapanku ini agak lain dari yang lain. Tampak berkilau. Seluruhnya berwarna hitam berkilau. Baru kali ini kulihat dengan jelas sosoknya. Tampak seperti sepur jaman dulu kala. Aku ternganga. Ini sih memang sepur jaman kemerdekaan seperti yang sering kubaca dibuku atau kulihat di film-film. Astaga ! Jadi ini kereta terakhirku? Oh no ! tidak. ih serem. Mana mungkin aku mau naik kereta jaman silam ini. Tak berlampu pula. Masinisnya mana? Penumpangnya? Astaga. jangan-jangan cuma aku sendiri. Aku melangkah mundur menjauhi keretaku. Kereta itu tampak anggun menunggu. Aku masih ternganga memperhatikan benda hitam didepanku ini. Naik tidak, naik tidak? batinku bertanya ragu. Akhirnya aku berlari kecil menuju pintu samping. Barangkali petugas kereta itu masih ada. Aku akan minta pendapatnya. Tapi pintu itu telah terkunci. Aku sedikit panik. Tak lagi bisa keluar dari stasiun ini. Sungguh aneh. Menurut beberapa petugas stasiun yang biasa aku temui, biasanya sepi atau ramainya penumpang terakhir, pintu gerbang samping stasiun tak pernah dikunci. Tetap dibiarkan terbuka. Karena memang tak ada kuncinya, alias sudah lama tak pernah dikunci. Entahlah..aku merasa sedikit merinding. Kereta itu tampaknya akan segera meninggalkanku. Aku bingung. Kalau tak naik berarti aku akan disini sampai pagi. Kalau ada orang jahat bagaimana? Aku jadi gelisah. Akhirnya dengan berdoa aku naiki sepur aneh itu. Sedikit kaget karena dipintu kereta ternyata ada petugas berdiri tersenyum. Astaga, nyaris jantungku copot. Aku tak membalas senyumnya. Hanya memberikan karcis kereta tanpa sadar meski dia tak menagihnya. Wong aku baru naik. Tapi aku sudah tak sabar lagi ingin cepat agar kereta ini berangkat. Digerbong yang kumasuki, ternyata ada beberapa orang tampak tertidur. Pakaian mereka tampak lusuh. Aku menarik nafas lega. Setidaknya aku tidak sendirian di gerbong aneh ini. Tak ada lampu, Hanya pelita kecil berkelip-kelip disudut gerbong. Aneh ! benar-benar seperti kembali keabad lalu. Sempat terfikir aku setengah memasuki lorong waktu. Kutepis pikiran gila itu. Lelah membuat fikiranku mulai tak waras agaknya.
Kuletakkan ranselku didekat kaki. Lalu kusandarkan kepala dikaca jendela. Memandang keluar. Ke peron yang sepi. Kereta mulai berjalan perlahan. Tiba-tiba aku melihat si kakek petugas stasiun nampak duduk di bangku ujung dekat pintu samping tempat dia menghilang tadi. Kami saling tatap. Kulihat dia melambaikan tangannya dan mengacungkan jempol sambil tersenyum. Aku hanya mampu terpana sambil terus memandangnya semakin menjauh. Aku merasa benar-benar aneh malam ini.


Halusinasikah? Baru kusadari sepertinya aku memang belum pernah melihat petugas itu sebelumnya. Siapa dia? petugas barukah? entahlah, aku mulai didera lagi kantuk yang tadi sempat menyerangku berkali-kali. Rasanya aku mulai tertidur. Aku terbangun karena pundakku serasa didorong-dorong. Aku mengerjapkan mata dan terduduk. Kulihat petugas kereta tersenyum padaku. “Sebentar lagi sampai, mba. Siap-siap ya. Jangan ada yang ketinggalan” bisiknya perlahan. Kuucapkan terimakasih. Ah, rasanya baru saja aku tertidur sebentar, tahu-tahu sudah sampai. Diluar tampak lampu-lampu kota. Keretapun memasuki stasiun kotaku. Suasana stasiun sama sepinya malam ini. Yah tentu saja, jam segini siapa pula yang akan naik kereta? batinku kesal. Seharusnya aku sudah sampai rumah jam tujuh tadi. Kubersiap turun. Sempat kulirik arah kursi yang selagi aku naik, masih ada penumpangnya. Tapi kursi itu kosong. Tak ada penumpangnya yang terdiri dari seorang ibu tua, seorang anak kecil dan seorang gadis muda. Kemana mereka? Sudah lebih dulu turunkah? Ah, masa bodolah. Di pintu kereta sempat kutanyakan pada petugas. Kemana penumpang-penumpang yang tadi satu gerbong bersamaku. Petugas itu tersenyum. “Mereka tidak turun kemanapun , mba. Mereka adalah penumpang abadi kami. Seperti juga saya petugas abadi kereta ini sejak lama. Hanya dikereta ini kami bertugas dan berjaga. Dan menjemput penumpang yang kemalaman, tapi masih setia menunggu kehadiran kami untuk membawa kembali kekeluarganya”. Mendengar penjelasannya, aku seperti merasakan ada sesuatu yang tak beres. Tapi logikaku lebih mendominasi. “Apa mereka keluarga bapak, atau masinisnya?” tanyaku iseng. Dia cuma tertawa. “Mereka dan saya adalah petugas khusus yang mengurusi kereta ini bagi penumpang yang sabar menunggu hingga larut. Penumpang seperti itu adalah bagian kami. ” ujarnya tersenyum. Mengulangi lagi penjelasannya. Aku masih tak memahami. Tapi petugas itu segera mendorongku keluar. Aku nyarus terjungkal. Baru saja kakiku menginjak lantai peron, aku terkejut setengah mati karena kereta tiba-tiba langsung berangkat dengan kecepatan tinggi. Nyaris terbang. Aku menjerit kecil. Jantungku rasa lepas. Kakiku lemas tak terkira. Aku terduduk di lantai peron. Tak mampu berdiri. Rasanya ingin berteriak. Tapi mulutku terkunci. Semakin terkejut karena tanganku seolah ada yang menarik untuk berdiri. Aku melongo, ternyata abangku yang tampak pias . Aku amat lega. Aduh aku ketakutan sekali tadi melihat kereta ajaib itu kabur begitu saja. Serasa mimpi rasanya. Abangku tak mengatakan sepatah katapun sementara aku bercerita. Membimbingku berjalan melewati lorong stasiun hingga pintu keluar. Kotaku selalu ramai duapuluhempat jam. Masih banyak orang nongkrong-nongkrong di warung kopi sekitar stasiun. Abangku hanya bertanya apa aku baik-baik saja? Aku menganggukan kepala. Tenggorokanku rasa kering. Abangku pergi kesebuah warung dan membelikanku minuman dingin. Tenggorokanku terasa lega.
“Aku tak bisa mengantarmu sampai rumah, karena aku mau kerumah bude. Numpang nginap karena besok ada ujian skripsi. Aku takut kesiangan. Jadi kau pulang sendiri ya. Dekat ini kan?” kata abangku


seraya memberiku ongkos pulang. Aku jadi kesal. Kok sempat-sempatnya menjemputku, tapi tak mau mengantarku pulang sekalian? protesku. “Dari tadi aku menunggumu. Ternyata keretamu telat ya. Aku sungguh harus segera pergi. Itu ada angkot. Cepatlah naik.” Badanku didorongnya masuk angkot tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Abangku melambaikan tangan saat angkot berangkat. Lima menit kemudian, aku sudah sampai halaman rumah. Ayah ibuku sudah duduk diteras depan. Mereka segera menyambutku dan sibuk bertanya mengapa aku begitu terlambat. Aku jelaskan sambil berjalan masuk rumah. Sempat kulihat wajah kedua orangtuaku pias. Lalu saling lirik satu sama lain. Aku merasa konyol telah menceritakan semua pengalaman anehku distasiun malam ini. Tapi orangtuaku tak bertanya lagi. Mereka menyuruhku segera mandi dan istirahat. Aku merasa kebetulan tak lagi ditanya-tanya. Segera kuganti baju tanpa istirahat lagi, mandi dan berganti pakaian. Duduk dikamar sendiri, merenungi pengalaman tadi. Entah kenapa perasaanku menjadi tak enak hati. Aku merasa tak percaya seperti yang kulihat diwajah orangtuaku tadi. Setelah mandi fikiranku agak segar. Namun aku sempat merinding dan tak percaya bahwa yang kunaiki tadi adalah sebuah sepur jaman dulu. Masa kereta seperti itu masih beroperasi sih di jalur kereta ibukota? Aku keluar kamar dan menghampiri kedua orangtuaku yang sedang asyik nonton tivi. Ibuku bertanya apa aku baik-baik saja. Aku hanya mengangguk lalu mulai bertanya tentang pengalamanku yang aneh itu. Apakah aku memang tidak sedang bermimpi? Ayah menepuk pundakku. Lalu berdehem. ” Sepertinya kau termasuk salah satu orang dikota ini yang akhirnya terpilih untuk ikut menikmati kereta hantu itu, nak”, jawab ayahku tenang. Tapi aku melotot mendengar jawabannya. Kereta hantu? Mana mungkin aku bisa naik kereta hantu? Itukan hanya cerita karangan masyarakat saja yang pernah aku dengar sebelumnya. Ayah melanjutkan. ” Dulu Erry abangmu juga sempat mengalaminya. Itu saat dia masih SMA loh. Maka sekarang dia faham apa yang terjadi padamu. Tak mungkin kau naik kendaraan umum setelah lewat jam delapan belum pulang. Pasti kau nekad menunggu kereta. Maka dia mungin berinisiatif menjemputmu. Mengingat pengalamannya dulu, mungkin dia takut kereta hantu itu akan menjemput adiknya pula. Dan ternyata perasaannya tepat, bukan? “Tapi dia mengatakan akan kerumah bude yah. Jadi aku disuruh pulang sendiri.” gerutuku. ”Ya, memang. sekalian jalan , jawab ayah santai. Ibu tertawa. Yang penting kau selamat nak. Lain kali jangan terlalu larut pulang. Terutama penggemar kereta sepertimu. Ingat nak, kereta terakhir itu sudah jadi legenda dikotanya sebagai pengantar terakhir orang-orang yang kepulangan malam. Tanya saja abangmu nanti kalau dia sudah pulang.” “Ah, kereta itu bukan kereta hantu, ayah. Petugasnya sendiri yang cerita padaku bahwa itu kereta sengaja dioperasikan karena kereta lainnya sudah tidur semua malam ini”, jawabku mangkel. Ibu cekikikan sambil mengelus tanganku. Ayah tetap tenang dengan cerutunya.” Petugas yang kau temui sudah almarhum, nak. Itulah mengapa dia masih ada disekitar situ malam begini. Percayalah nak, hal-hal seperti ini bukan yang pertamakalinya. Hanya saja kau terlalu percaya diri. Terlalu asyik dengan duniamu yang realistis. Tak mampu menangkap pesan alam yang disampaikan udara malam”, jelas ayahku membuatku makin keki. Ah, ayah dari dulu kebanyakan berkhayal. Hingga lebih sering menakut-nakuti anaknya yang mencoba berfikir secara logika. Ayah adalah seorang dalang yang juga penyair setingkat kecamatan.


Sedangkan ibuku sinden terkenal dikota kelahirannya dulu. Namun aku tak ingin ikut pola pikir mereka yang suka menghubungkan segala sesuatunya dengan hal-hal yang diluar nalar. Aku bergegas masuk kamar setelah pamit pada kedua orangtuaku. Diranjang, aku berfikir keras. Benarkah pengalamanku ini, ya Gusti? Ah, baru kali ini aku tak sabar menunggu kepulangan abangku. Selama ini aku tak pernah menggubris cerita tentang kereta hantu yang konyol itu. Padahal sudah lama terdengar dari mulut kemulut. Termasuk kisah abangku yang sebenarnya justru tak pernah diceritakannya padaku. Aku justru baru tahu dari penuturan ayah tadi. Lalu aku terkenang kembali tentang petugas yang datang dan pergi tanpa jejak itu. Tentang pintu gerbang yang tiba-tiba terkunci. Hingga aku tak bisa melarikan diri keluar stasiun saat takut melihat bentuk kereta yang akan membawaku pulang. Aku tersentak. Ya, kereta itu memang layak diberi julukan kereta hantu karena aneh bentuknya, dan tiba-tiba pergi dengan kecepatan tinggi begitu saja setelah mengantarku. Juga penumpang dan petugas kereta dengan ceritanya yang mendirikan bulu romaku sekarang. Mereka adalah penumpang dan petugas abadi? Astaga, berarti mereka juga hantu dong. Aku tiba-tiba merasa merinding juga malu sendiri karena merasa logikaku mulai goyah. Setelah kurangkai-rangkai kejadian di stasiun tadi, rasanya aku mulai mempercayai apa kata ayah. Yang kunaiki kereta hantu! Aku mengkerukan kening tak habis fikir. Soalnya semua tampak begitu nyata, terlepas dari yang aneh-anehnya tadi. Jadi malam ini aku telah menaiki kereta hantu, dengan penumpang hantu dan petugas hantu? Kecuali aku sendiri yang manusia?. Aku masih tak mampu percaya. Namun toh sejak saat itu aku nyaris tak pernah pulang malam dengan kereta lagi. Cukup naik kendaraan umum saja. Naik kereta hanya kalau hari masih siang atau sorei. Good bye kereta hantuku. Good bye Sepur jadulku! Semoga itu benar-benar kereta hantu terakhirku.

---- Terinspirasi dari kisah legenda kereta hantu Jakarta-Depok TENTANG PENULIS :
Sayuri Yosiana lahir dan besar di Jakarta. Hobi membaca, menulis, fotografi dan travelling. Menyukai dunia seni, sejarah dan heritage. Bersama rekannya mendirikan dan mengelola situs kesehatan holistik kabarsehat.com. Saat ini masih aktif menulis dan menerima jasa pengeditan dan pengembangan tulisan untuk naskah-naskah ringan. Dapat dihubungi melalui kontak email sy@sayuriyosiana.om
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Reply
JALINAN KASIH DI GERBONG KERETA API
Lok Merah BiruCinta MembaraCinta MembaraLok Merah Biru
[Spoiler=Identitas Cerpen]
"Sumber Berita"

Oleh :
NUR DWI AFIFAH
Diadaptasi dari buku “Ketika Mas Gagah Pergi”
Cerpen islami
Pengarang: Helvy Tiana Rosa,
Penerbit: Asy Syamil, Bandung
Penyelaras: Drs. Heru Subrata, M.Si

1. Tokoh-tokoh: Nia (aku)
2. Aam (teman si aku)
3. Mamanya Nia
4. Surti
5. Yanti
6. Pak Mar’i
7. Pak Jaya
8. Udin
9. Ucup
10. Rita
11. Eman
12. Tia
13. Preman (5 orang)
14. Adi

[/Spoiler]
Babak 1
Siang itu, udara begitu panas menyengat tubuh. Anak-anak kecil tak beralas kaki itu sejenak menatapku. Mereka cengengesan. Ada yang menggaruk-garuk kepala. Ada yang asyik membersihkan hidung. Ada yang sibuk mengusir lalat yang hinggap di koreng. Ada yang mengoceh sendiri, ada pula yang asyik memperhatikan dari ujung jilbab sanpai ujung kaki. Dengan keramahan dan senyum di wajah Nia bertanya.
Nia :“Mau nggak belajar sama ibu?”

Mereka hanya bisa cengar-cengir, saling pandang sesama. Kutegaskan pertanyaanku.

Nia :“Ibu Tanya, mau tidak kalian ibu ajari membaca dan mengaji?” (TERSENYUM LEMBUT).
Udin :“Mau” (MENGACUNGKAN JARI, KEMUDIAN MENUNDUK MALU).
Ucup :“Ibu ini, memngnya ibu gulu?”
Eman :“Kami nggak punya pensil. Nggak punya buku sih!”
Udin :“Belajarnya dimana??” (PENASARAN).
Adi :“Kita mau kayak anak sekolahan ya Bu??”

Nia terdiam dan tersenyum ramah, merekapun tersenyum malu-malu. Setiap kali melewati stasiun kereta api Senen, hati rasanya haru biru dan ngilu. Melihat pemukiman yang kumuh dan anak-anak yang dekil. Mereka bermain dengan riang gembira. Seminggu yang lalu Nia melewati stasiun dan sempat mengobrol dengan ibu muda (Surti) yang sedang menggendong anaknya.

Nia :“Sore, Bu!!!! Permisi!Boleh saya mampir, Bu???”
Surti :“Yaaa……” (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH DAN MALU-MALU).
Di seberang rel kereta api terlihat anak-anak jalanan sedang bermain dengan riang gembira di gerbong-gerbong kosong itu. Nia mengobrol dengan Surti.

Nia :“Ceria sekali mereka? Padahal mereka nggak punya mainan yang menarik?”.
Surti :“Itu adalah ungkapan kesenangan mereka sebagai obat pelepas capek”.
Nia :“Capek?????Capek karena belajar di sekolah maksud ibu????”.
Surti :“Ya enggaklah, mo sekolah dimana?”.
Nia :“Trussss????…..”.(PENASARAN).
Surti :“Ya capek karena cari duitlah”.
Nia :“Cari duit????”(MENEGASKAN).
Surti :“Iyaaaa…….”.
Nia :“Emang mereka bisa kerja apaan?????. Mereka kan masih kecil, kok nggak sekolah aja????.”
Surti :“Sekolah?????Mo sekolah pake apa?????mereka mikirnya yang penting bisa makan tiap hari itu udah beruntung sekali” (PESIMIS).
Nia :“Emang orang tua mereka nggak kerja to?masak nggak bisa mbiayai sekolah anak-anaknya???”.
Suti :“Ya kerjalah, mbak. Tapi berapa sih pemdapatan dari seorang pemulung?mereka kebanyakan pemulung dan pengemis!”.
Nia :“Oooooo…..gitu. Trus anak-anak nggak ada yang pingin sekolah to?”.
Surti itu terdiam dan sejenak berpikir.
Surti :“Ehmmmm……..ya pingin mbak!!tapi kadang mereka juga takut ma orang tua mereka.”
Nia :“Kok takutt????emang kenapa???”.
Surti :“Ya, iyalah. Soalnya mereka dipaksa untuk cari duit. Ada yang jadi pengemis ataupun pengamen. Selain itu mereka ada yang jadi penyemir sepatu, penjual es, atau pemjual Koran. ”
Nia :“Kasihan banget ya buk!!!!”

Selang beberapa langkah setelah Nia mengobrol dengan Surti tersebut. Dengan wajah memelas kupandangi anak-anak yang sedanng bermain riang gembira di gerbong kereta api tua itu. Kakek Mar’I, tukang cukur di daerah sekitar situ menyapaku dengan rasa ingin tahu.

Kakek Mar’I :“ada apa neng kok sedih banget?.”
Nia :“Kasihan mereka, pak!”(PANDANGAN MENUJU KE ARAH ANAK-ANAK).
Kakek Mar’I :“Mau kasihan gimana? Emang kadang mereka butuh belas kasihan tapi juga kadang mereka menjengkelkan.”
Nia :“Menjengkelkan????.Maksud bapak apa????”
Kakek Mar’I :“gimana nggak membuat jengkel???? Lha mereka itu kadang tega memeras pelajar SD yang lewat di daerah mereka.”
Nia :“Iya to. Pak????.”
Kakek Mar’I :“Iya, bahkan mereka berani mencuri dan merampas barang orang lain. Itu dah biasa neng……”
Nia :“Masak sih, pak??” (TIDAK PERCAYA).

Untuk mengobati rasa ketidakpercayaannya, Nia mengobrol sama pak Jaya, yang kabarnya ia adalah salah satu keamanan Pasar Senen.

Nia :“Maaf, bu guru, saya Nia (BERJABAT TANGAN)” .
Pak Jaya :“Ya….saya pak Jaya. Ada apa neng???.”
Nia :“Saya mau tanya. Apakah bener anak-anak itu bisanya mengemis atau mengemen di jalanan.”
Pak Jaya :“Iya, neng.”
Nia :“Aduh kasihan banget berarti mereka nggak sekolah dong, Pak?.”
Pak Jaya hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa ia mengiyakan pertanyaan Nia.

Nia :“Orang tua mereka dimana, pak?? Kok nggak ngurusi anak-anaknya???.”
Pak Jaya :“Wah orang tua mereka pada sibuk cari duit, neng!”
Nia :“Kerja apa, pak?”
Pak Jaya :“Ya macam-macam, neng. Ada yang jadi tukang sampah, tukang cukur, dagang kue, ngemis, jualan Koran bahkan ada juga yang jadi perrek!!!!”
Nia :“Yang terakhir tadi apa, pak???Perek ta??” (MENDEKATKAN TELINGA KE PAK JAYA).
Pak Jaya :“Ya, benar perek.”
Nia :“Astagfirulloh…..!(MENGGELENG-GELENGKAN KEPALA)”
Pak Jaya :“Malahan praktekya di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai itu, neng.”
Nia :“Memangnya gerbong-gerbong kereta api itu benar-benar nggak dipakai lagi, pak?”
Pak Jaya :“Yaaaa…., nggak tahu neng. Kayaknya sih mau dibenerin. Tapi ada juga yang udah karatan karena lama nggak dipakai.”
Nia :“Truss… apa manfaat gerbong kereta api itu bagi masyarakat itu?”
Pak Jaya :“Jadinya selama ini ya begitu, jadi tempat anak-anak main, tempat preman ngumpul, juga tempat para pelacur menjalankan aksinya. Pelakunya ya orang-orang sekitar situ, neng.”

Nia hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepala sambil memahami perkataan pak Jaya. Ketika di rumah, hingga larut malam Nia tak dapat memejamkan mata meski tubuhnya sudah terbaring di tempat tidur.
Dua hari kemudian, sekitar jam 2 siang, Nia mendatangi gerbong-gerbong kereta api itu.. di gerbong 1 kulihat beberapa lelaki tertidur pulas, di gerbong 2 terdengar suara cekikikan pria dan wanita, di gerbong 3 terlihat anak-anak sedang bermain dengan riang gembira lalu kuhampiri mereka.

Nia :“Assalamu’alaikum….” (TERSENYUM)
Mereka menghentikan aktivitas mereka dan memandang Nia.
Udin :“Eh.., siapa tuh???siapa???”
Eman :“Cari siapa, Bu?”

Nia pandangi anak-anak dengan senyuman dari kejauhan.

Ucup :“Ciapa noh?? Kemali-kemali….”
Nia :“Kalian mau coklat???…..”
Udin+Ucup :“Mauuuuu” (BARENG)

Tak lama kemudian, anak-anak itu menyantap kue coklat itu dan ludes dalam sekejap.

Udin :“Wah……..enak banget yaaa….?”
Eman :“Iya…aku suka ini.” (MAKAN KUE DENGAN LAHAP).
Adi :“Memangnya itu siapa sih???
Nia :“Teman
Ha…ha….ha….masak orang yang sudah besar mo temenan dengan anak kecil seperti kami ” (MEREKA SALING MEMANDANG DAN TERTAWA).

Bye Bye Bersambung Bye Bye
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !

[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Reply
Cinta BangetJALINAN KASIH DI GERBONG KERETA APICinta Banget

~Lanjutan~


Babak 2

Setelah beberapa kali aku mengunjungi daerah itu. Mereka mau diajak belajar membaca dan mengaji. Sempat Nia keteteran karena anak-anak tadi berasal dari beberapa jenis umur (4-14 tahun). Salah seorang bapak membantu kami memasang lam,pu di gerbong untuk penerangan.

Nia :“Assalamu’alikum,nak……”
Anak-anak :“Wa’alaikum salam…..”
Nia :“Sudah siap belajar, anak-anak???????”
Udin :“Sudah……”
Nia :“Ayo.., ni huruf B ditambah U bacanya apa? (Menunjuk tulian di papan tulis)”
Udin :“Buuuuuuuu…..!
Eman :“Huruf D ditambah I.
Nia :“Jadi dibaca apa???????coba Udin! (MEMANDANG UDIN
Udin :“Ini ibu Budi.
Nia :“Lho, kok? Ini kan ibunya tidak ada? Coba ulangi.”
Tiba-tiba ada seorang anak yang datang….
Eman :”Kecelik, bu telat.”
Nia :“Ya….Eman, kenapa terlambat datang??????????
Eman :“Disuruh ngamen dulu, bu sama bapak.”
Nia :“Kalau Adi, kenapa kemarin nggak datang?????”Ibu tungguin lho…..(MEMANDANG ADI).
Adi :“ Abisnye emak sakit, pan abis nyuci noh, trus sakit.”
Ucup :“Bu Guyu,, mau pipiiissss…..”
Nia :“Iya…, kalo mau pipis biasanya dimana Eman????”
Eman :“Di kamar mandi”
Nia :“Pinter. Sekarang pergilah ke kamar mandi. Rumahnya siapa yang paling dekat?”
Eman :“Rumahnya Udin, Bu.”
Nia :“Bener ya Udin??
Udin :“Iya, Bu”
Nia :“Kalo begitu, tolong antarkan Ucup untuk pipis di kamar mandi rumahmu yaaaaa….”
Udin :“Iya, Bu” (UDIN DAN UCUP BERANGKAT KE RUMAH UDIN).

Setelah belajar sekitar 1,5 jam. Kami mengakhiri pembelajaran dan menitipkan papan tulis dan kapur di salah satu anak. Karena kesibukan kuliah dan mengajari anak-anak, ibuku sempat protes.

Mama Nia :“Kamu jangan terlalu mementingkan anak-anak itu, Nia. Kamu kan capek bolak-balik Depok-Jakarta buru-bruru seperti itu. Pergunakan waktu kamu di tempat kost. Ini kok malah sering pulang??”
Nia :“Jadi, mama nggak suka nih kalo Nia sering pulang ke rumah?”
Mama Nia :“Bukan itu, sayang.Mama kasihan lihat kamu.” (TERSENYUM).
Nia :“Jauh lebih kasihan melihat mereka, Ma. Kasihan sekali!”
Mama Nia :“Tapi kamu harus hati-hati ya, nak. Disana iu daerahnya kan lumayan rawan.”
Nia :“Ya Ma, InsyaAllah.”
Mama Nia :“Mama punya usul, gimana kalo kamu mengajak temanmu untuk membantu kamu.”
Nia :“Iya, Ma. Teman-temanku sudah tak ajak. Tapi mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri jadinya mereka gak bisa Bantu Nia.”
Hari kedua aku mengajar anak-anak tiba.
Nia :“Ayo ini dibaca A Ba Tsa Ja Da Dza Ro…”(MENUNTUN)
Tia :“Nnnnggggg……hik…..engggggggg.”
Nia :“Lho, Tia kok nangis??
“Sabar pelan-pelan. Orang sabar dan tekun diksihi Allah ya, sayang…….”(MENGELUS-NGELUS KEPALA TIA).
Ucup :“Za Sa Sya Sho Dho Dzo……
“Bu Gulu….., Bu Gulu lihat nih tulican caya.” (MENUNJUKKAN TULISAN).
Adi :“Buuu, saya permisi dulu!Mau nimba.”
Nia :“Iya, sebentar lagi yaaa…kan ni dah mo selesei.”
“Siapa diantara kalian yang melihat Dini hari ini??Mengapa ya Dini kok tidak hadir.”
Eman :“Kemarin bapaknya abis digebukin, Bu!”
Adi :“Iye, malingin jemuran orang!”
Ucup :“Dipenjala, nggak? Dipenjala nggak??”
Nia :“Husss…gak boleh bilang seperti itu.”

Senjapun tiba, aku harus segera mengakhiri pembelajaran, pulang jalan kaki sendiri.

Pemuda :“Ehm…ehm…ehm..Suit…Suit….Assalamu’alaikum, Cah Ayu……..”
Nia :“Wa’alaikumsalam (MENJAWAB DENGAN SUARA LIRIH)”

Di tengah-tengah perjalanan Nia ketemu dengan salah seorang walimurid (Yanti).

Yanti :“Maaf, Bu. Sebentar…..”
Nia :“Iya, Bu…Ada apa???”
Yanti :“Apa ibu mau menerima ini sebagai rasa trima kasih kami atas kebaikan ibu.” (MENYODORKAN SINGKONG REBUS).
Nia :“Iya, Bu gak usah repot-repot…..”
Yanti :“Ayolah, trima aja……”
Nia :“Ya udah saya trima pemberian ibu.” (MENERIMA SINGKONG REBUS).

Bye Bye~Bersambung~Bye Bye
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !

[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)