26-09-2009, 11:53 AM
lebih jelasnya, K3 di atur tarifnya oleh pemerintah dan mewajibkan PT. Kereta Api (Persero) untuk menyediakan layanan publik dengan harga terjangkau (disebut PSO=Public Service Obligation, kewajiban melayani rakyat seperti amanat UUD 45 pasal 33) sehingga PT. Kereta Api (Persero) harus "menerima" kerugian dari mengangkut penumpang K3. selanjutnya pemerintah akan membayar selisih/kekurangan tersebut di periode waktu tertentu. oleh karena itu, PT. Kereta Api (Persero) menyiasati kekurangan biaya operasional yang ada dengan melakukan subsidi silang dengan pendapatan dari KA kelas bisnis dan Eksekutif/Satwa. dan kenyataannya memang pelunasan dari pemerintah tidak pernah 100% sehingga PT. Kereta Api (Persero) selalu merugi mengangkut penumpang K3 yang ironisnya menempati lebih dari 70% jumlah penumpang total KA. tapi mau bagaimana lagi karena UUD 45 yang bicara.
usaha maksimal untuk melayani penumpang K3 juga tak sembarangan. tiap tahun berpuluh-puluh unit kereta baru di datangkan dan puluhan juga yang diremajakan. tetapi karena pola perkembangan penduduk+urbanisasi dan pengembangan ekonomi pemerintah/pemda yang buruk (terutama di kota besar seperti Jakarta), pengguna K3 tiap tahun selalu bertambah dan selalu tidak tertampung dalam sarana KA. ditambah lagi perilaku dan pola pikir mayoritas penumpang K3 yang belum maju mengakibatkan perjalanan K3 semakin amburadul. dan ujung-ujungnya, untuk membuat peningkatan pelayanan tentunya butuh dana yang tak sedikit. dan fakta membuktikan: kereta api menjadi sarana transportasi favorit pemudik karena harganya yang sangat murah (bayangkan, dengan harga setara 2 bungkus rokok+1 bungkus kacang sudah bisa mengantar anda dari Jakarta sampai Madiun?). jadi tak heran kalo ketersediaan sarana tidak pernah mencukupi terhadap jumlah penumpang K3
PT. Kereta Api (Persero) pun berpikir dan berkaca dari pengalaman tahun ketahun, sampai pada kesimpulan bahwa mencetak tiket tanpa tempat duduk adalah salah satu solusi paling jitu untuk diterapkan dalam pola operasi K3
usaha maksimal untuk melayani penumpang K3 juga tak sembarangan. tiap tahun berpuluh-puluh unit kereta baru di datangkan dan puluhan juga yang diremajakan. tetapi karena pola perkembangan penduduk+urbanisasi dan pengembangan ekonomi pemerintah/pemda yang buruk (terutama di kota besar seperti Jakarta), pengguna K3 tiap tahun selalu bertambah dan selalu tidak tertampung dalam sarana KA. ditambah lagi perilaku dan pola pikir mayoritas penumpang K3 yang belum maju mengakibatkan perjalanan K3 semakin amburadul. dan ujung-ujungnya, untuk membuat peningkatan pelayanan tentunya butuh dana yang tak sedikit. dan fakta membuktikan: kereta api menjadi sarana transportasi favorit pemudik karena harganya yang sangat murah (bayangkan, dengan harga setara 2 bungkus rokok+1 bungkus kacang sudah bisa mengantar anda dari Jakarta sampai Madiun?). jadi tak heran kalo ketersediaan sarana tidak pernah mencukupi terhadap jumlah penumpang K3
PT. Kereta Api (Persero) pun berpikir dan berkaca dari pengalaman tahun ketahun, sampai pada kesimpulan bahwa mencetak tiket tanpa tempat duduk adalah salah satu solusi paling jitu untuk diterapkan dalam pola operasi K3

