(10-05-2009, 07:40 PM)railway_athlete Wrote: Selama anggaran untuk perkereta-apian masih kurang, ya susah untuk mengharapkan pelayanan yang baik....
Lha terus kemana semua uang yang kita bayarkan untuk tiket itu???

Rencana Penghapusan Makanan Tuslah di KA Eksekutif Jarak Jauh?
Hari senin (27/4/2009), pas saya lagi dalam perjalanan naik Argo Wilis dari Bandung ke Surabaya, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan kondektur (dari Bandung) di perjalanan KA. Yah, pada dasarnya pak kondekturnya curhat ke saya tentang masalah yang dialami di PT KA sekarang. Dia cuman berharap, semoga manajemen sekarang lebih peduli.
Selain itu, dia juga berkata bahwa manajemen sekarang lebih aktif dalam membuat PT KA lebih efisien. Jadi banyak pengeluaran mahal dipangkas. Beberapa pemeriksaan KPK terhadap dugaan mark-up juga cukup diintensifkan, termasuk juga dugaan mark-up pengadaan spare part lokomotif di BY Pengok, Yogya. Bahkan katanya, orang-orang KPK juga datang ke BY Pengok untuk memeriksa.
Tetapi yang paling mengejutkan dari rencana program efisiensi itu adalah rencana penghapusan makanan tuslah dari atas KA Eksekutif. Jadi nantinya kalau mau makan diatas KA, anda harus membeli! Begitulah penjelasan sang kondektur.
Hal ini karena dari tiap tiket yang dijual, perusahaan penyelangara makanan-minuman mengutip Rp 25.000,- dari tiap tiket yang dijual. Wah! Rp 25.000,- ? Untuk makanan dengan porsi sekecil itu dijual dengan harga 25 ribu?
Coba lihat baik-baik gambarnya, menurut anda apakah porsi sebesar bogem bayi itu sebanding harganya? Bahkan diameter nasinya jauh lebih kecil dari tiket KA yang saya taruh untuk skala. Nasi goreng di tempat orang tua saya harganya setengahnya itu, tetapi porsinya dua kali lipat. Di warung Tegal, kalau saya memesan porsi seperti di gambar, harganya tak sampai 10 ribu.
Aduh..aduh...seperti yang saya ulas di postingan saya tentang lampu kabin LED dan lantai vinyl yang terdahulu, kapan PT KA berhenti berperan antagonis terhadap keinginan penumpang untuk mendapatkan pelayanan yang baik? (Dan juga kapan mark-up makanan tuslah diselidiki KPK).
Masak dengan memotong kualitas pelayanan, PT KA bisa sanggup bersaing dengan moda transportasi lain? Di jaman persaingan serba ketat ini, PT KA tetap seperti anak autis yang hidup di dunianya sendiri, tanpa tanggap terhadap keinginian pengguna jasanya.
Saya jadi ingat, dulu ada pejabat PT KA yang berkata bahwa ada peraingan tak sehat dengan moda transportasi lain, seperti dengan pesawat terbang dan travel. Kalau menurut saya, sebenarnya lebih pantas kalau “persaingan tak sehat†dirubah jadi “persaingan, tak sehatâ€Â, atau kalau diinterpretasikan menjadi PT KA tak suka persaingan atau mereka tak sehat menghadapi persaingan.
Wassalam.

