08-05-2009, 09:16 PM
Another Manggarai Design Gone Wrong:
![[Image: 20090508211512_argo_silau_4a043e70ecac7-t.jpg]](http://upload.kapanlagi.com/images/thumb/20090508211512_argo_silau_4a043e70ecac7-t.jpg)
Kapan hari pernah saya pulang naik KA Argo Gede jam 19.30 dari Gambir menuju Bandung. Setelah capai seharian main-main, sayapun sudah merasa sangat letih dan ingin menghabiskan waktu perjalanan pulang saya ke Bandung dengan tidur.
Tetapi waktu saya naik KA kali ini, saya menemui satu “inovasi†dari Manggarai di KA Argo Gede. Dan yang membuat kesal, seperti halnya lantai vinyl, barang baru ini alih-alih membuat nyaman penumpang, malah cenderung menyengsarakan penumpang. Barang baru ini tak lain adalah lampu interior LED. Lampu ini umum ditemui di daerah bordes, atau lampu semboyan. Tapi tak semestinya menjadi lampu interior seperti ini.
Bahkan yang lebih parah dari lantai vinyl, lampu LED ini benar-benar mengurangi kenyamanan penumpang. Karena intensitas lampunya yang sangat silau, saya dan beberapa penumpang kesulitan tidur. Biasanya kalau naik Argo Gede, selepas Bekasi (atau bahkan Jatinegara) saya bisa langsung tertidur pulas, kali ini saya baru bisa tertidur pulas selepas Purwakarta. Itupun setelah mata saya tutup rapat-rapat dengan bantal.
Selain karena intensitas lampu yang kuat, penempatannya yang tepat di tengah langit-langit gerbong otomatis membuat cahaya lampu langsung mengenai mata penumpang. Kalau desain yang asli, lampu interior posisinya tersembunyi di balik panel di langit-langit.
Seandainya posisi lampu LED ini seperti lampu yang lama, maka orang tak akan begitu meributkannya.
Tetapi seperti halnya lantai vinyl, desain baru ini sepertinya dibuat untuk memudahkan petugas perawatan untuk memperbaiki lampu jika ada yang rusak. Karena kurang lebih jika di desain lama, mekanis harus mencopot panel dulu, baru mengganti lampu.
Tapi sampai kapan para penumpang yang nota bene membayar dan memberikan income kepada PT KA, bukannya diperhatikan keinginannya, malah diminta untuk memahami kekurangan PT KA?
Di era persaingan usaha yang makin tajam, dimana konsumer mengharapkan pelayanan maksimal, PT KA sepertinya cenderung memainkan peran antagonis terhadap keinginan pengguna jasa kereta api. Makanya tak heran, sudah banyak pengguna jasa kereta api beralih ke moda transportasi lain jika ada alternatif yang terlihat lebih baik bagi mereka.
Wassalam.
Kapan hari pernah saya pulang naik KA Argo Gede jam 19.30 dari Gambir menuju Bandung. Setelah capai seharian main-main, sayapun sudah merasa sangat letih dan ingin menghabiskan waktu perjalanan pulang saya ke Bandung dengan tidur.
Tetapi waktu saya naik KA kali ini, saya menemui satu “inovasi†dari Manggarai di KA Argo Gede. Dan yang membuat kesal, seperti halnya lantai vinyl, barang baru ini alih-alih membuat nyaman penumpang, malah cenderung menyengsarakan penumpang. Barang baru ini tak lain adalah lampu interior LED. Lampu ini umum ditemui di daerah bordes, atau lampu semboyan. Tapi tak semestinya menjadi lampu interior seperti ini.
Bahkan yang lebih parah dari lantai vinyl, lampu LED ini benar-benar mengurangi kenyamanan penumpang. Karena intensitas lampunya yang sangat silau, saya dan beberapa penumpang kesulitan tidur. Biasanya kalau naik Argo Gede, selepas Bekasi (atau bahkan Jatinegara) saya bisa langsung tertidur pulas, kali ini saya baru bisa tertidur pulas selepas Purwakarta. Itupun setelah mata saya tutup rapat-rapat dengan bantal.
Selain karena intensitas lampu yang kuat, penempatannya yang tepat di tengah langit-langit gerbong otomatis membuat cahaya lampu langsung mengenai mata penumpang. Kalau desain yang asli, lampu interior posisinya tersembunyi di balik panel di langit-langit.
Seandainya posisi lampu LED ini seperti lampu yang lama, maka orang tak akan begitu meributkannya.
Tetapi seperti halnya lantai vinyl, desain baru ini sepertinya dibuat untuk memudahkan petugas perawatan untuk memperbaiki lampu jika ada yang rusak. Karena kurang lebih jika di desain lama, mekanis harus mencopot panel dulu, baru mengganti lampu.
Tapi sampai kapan para penumpang yang nota bene membayar dan memberikan income kepada PT KA, bukannya diperhatikan keinginannya, malah diminta untuk memahami kekurangan PT KA?
Di era persaingan usaha yang makin tajam, dimana konsumer mengharapkan pelayanan maksimal, PT KA sepertinya cenderung memainkan peran antagonis terhadap keinginan pengguna jasa kereta api. Makanya tak heran, sudah banyak pengguna jasa kereta api beralih ke moda transportasi lain jika ada alternatif yang terlihat lebih baik bagi mereka.
Wassalam.
