23-08-2016, 10:58 AM
Lama ngga posting terus tiba-tiba pengen buat cerpen 
Deru kereta masih di telinga
Pagi itu adzan shubuh masih di telinga. Kabut masih menguar seiring gema tadaruz saling bersahutan. Dalam bosan kretek terakhir kusulut. Di sela-sela kepulannya sinar mentari menyeruak. Aku masih disini, di stasiun kecil ditengah pegunungan yang asri. Menanti kereta api dari arah timur yang menjadi prioritas dalam persilangan ini. Pesona Parahyangan Timur begitu memukau. Samar pegunungan terlihat di antara asap tembakau. Celoteh para pedagang menambah riuh suasana. Romantisme yang selalu berulang. Seperti denting koin yang dilempar keluar jendela saat beberapa bocah melambaikan tangan dekilnya. Jendela-jendela dengan kaca yang penuh garis tak beraturan. Hasil ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Aku ingat betul beberapa waktu lalu nyaris saja terkena lemparan batu. Untung saja batu sebesar kepalan tangan itu hanya mengenai pintu lokomotif ini.
Kulihat arloji tuaku, jam masih menunjukkan pukul 06.00. Kereta sialan itu belum juga tampak. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Ah kereta ekonomi selalu menjadi nomor sekian. Lengkap dengan desak penumpangnya yang penuh dengan perjuangan. Lamunanku buyar oleh lapar yang mulai menerpa. Kuhampiri pedagang nasi kuning dibawah tiang sinyal yang masih juga menunjukkan aspek tidak aman. Wanita paruh baya itu tersenyum, ramah melayaniku dengan logat sundanya yang kental. Seiring tersaji seporsi nasi kuning lengkap dengan sesendok sambal.
Aku bersandar didepan lokomotif yang berderu tersendat. Warna merah dengan kombinasi birunya mulai tampak memucat. Entah kapan benda uzur ini akan mendapatkan perawatan yang memadai. Peduli setan, kusantap sarapan pagiku yang mulai dingin. Diterpa kabut yang semakin menipis. Samar kudengar suara mesin diesel yang berderap terengah, menanjak payah menuju ke arahku. Stasiun Cipeundeuy, tempat kami akan bersua. Menuntaskan segala jenuh yang mulai mendera.
Pagi saat kemarau memang menusuk, setidaknya begitulah yang kurasakan. Angin berhembus dari jendela lokomotif yang merayap pelan menyusuri rel yang menurun tajam. Penumpang mulai riuh, obrolannya memenuhi kabin yang sempit ini. Sudah hal yang lumrah jika kereta rakyat ini begitu diminati. Oleh mereka dengan penghasilan pas-pasan, seperti seseorang yang tengah mengantar mereka ketujuannya ini. Apakah dia mengerti kerja kerasku ini? Sepucuk surat yang kuterima minggu lalu tak juga menunjukkan pengertiannya. Ia hanya sibuk menanyakan soal bagaimana masa depan kami. Yang semakin lama semakin kabur. Seperti masa depan kereta ini yang semakin uzur.
Hari semakin terang. Tak sabar rasanya untuk mengakhiri tugas ini. Membalas suratmu minggu lalu. Entah apa yang akan kutuliskan. Memori masa SMA tujuh tahun yang lalu begitu gamblang berkelebat dalam ingatanku. Usai pengumuman kelulusan aku menemuimu. Berwacana perihal keberangkatanku untuk merantau. Kau tampak tak begitu setuju dengan keputusanku. Aku hanya ingin merubah nasib agar menjadi lebih baik lagi. Aku tak ingin meneruskan ladang milik orangtuaku, tetapi bukan karena aku meremehkan profesi mereka sebagai petani tembakau. Profesi yang setia menghidupiku hingga bisa mengenyam pendidikan yang cukup layak. Melampaui jargon pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun. Aku hanya ingin mengejar mimpiku untuk bisa menjadi seorang masinis kereta api. Impianku sejak kecil saat kereta api uap masih menyambangi kota Temanggung. Kota tempat aku lahir dan tumbuh besar hingga bisa mengenalmu. Mimpi itu telah kuraih saat ini. Meskipun ternyata semua di luar ekspetasi, aku tetap bersyukur karena tinggal satu impian lagi yang belum bisa terwujud. Segera meminangmu dengan seperangkat alat shalat.
Derit roda yang kupaksa berhenti ini cukup memekakkan telinga. Nyaris saja aku melewati sinyal yang menunjukkan aspek tidak aman. Aku tertegun, beberapa hari terakhir memang aku sering melamun tentang banyak hal. Ingin rasanya mengambil cuti yang hanya tersisa beberapa hari saja, tetapi rasanya cukup untuk membeli ketenangan dikampung halaman. Sudah lebih tujuh bulan lamanya aku tak bersua dengannya. Ah, lagi-lagi aku melamun. Kereta api yang kukendalikan akan disusul oleh kereta api lain. Aku menggeser gagang throttle dengan perlahan. Menyusuri rel kereta api yang berbelok masuk stasiun Sumpiuh untuk mempersilahkan kereta api eksekutif melaju terlebih dahulu. Mendahuluiku dan kenangan akan tempat ini. Dari stasiun inilah untuk pertama kalinya aku mengendalikan lokomotif. Waktu itu jabatanku masih sebagai asisten masinis. Sang masinis yang merasa kelelahan mempersilahkanku untuk mengambil alih kendali. Aku merasa senang sekaligus gugup saat berhadapan langsung dengan berbagai panel dihadapanku. Beberapa sudah tampak tak terawat. Semboyan 35 kubunyikan. Pertanda kereta api akan diberangkatkan. Beberapa penumpang langganan lokomotif yang mulai terlelap tampak kaget dibuatnya. Mulai hari itu aku merasa telah disahkan untuk memulai lembaran baru. Dihadapan rel yang membentang panjang.

Deru kereta masih di telinga
Pagi itu adzan shubuh masih di telinga. Kabut masih menguar seiring gema tadaruz saling bersahutan. Dalam bosan kretek terakhir kusulut. Di sela-sela kepulannya sinar mentari menyeruak. Aku masih disini, di stasiun kecil ditengah pegunungan yang asri. Menanti kereta api dari arah timur yang menjadi prioritas dalam persilangan ini. Pesona Parahyangan Timur begitu memukau. Samar pegunungan terlihat di antara asap tembakau. Celoteh para pedagang menambah riuh suasana. Romantisme yang selalu berulang. Seperti denting koin yang dilempar keluar jendela saat beberapa bocah melambaikan tangan dekilnya. Jendela-jendela dengan kaca yang penuh garis tak beraturan. Hasil ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Aku ingat betul beberapa waktu lalu nyaris saja terkena lemparan batu. Untung saja batu sebesar kepalan tangan itu hanya mengenai pintu lokomotif ini.
Kulihat arloji tuaku, jam masih menunjukkan pukul 06.00. Kereta sialan itu belum juga tampak. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Ah kereta ekonomi selalu menjadi nomor sekian. Lengkap dengan desak penumpangnya yang penuh dengan perjuangan. Lamunanku buyar oleh lapar yang mulai menerpa. Kuhampiri pedagang nasi kuning dibawah tiang sinyal yang masih juga menunjukkan aspek tidak aman. Wanita paruh baya itu tersenyum, ramah melayaniku dengan logat sundanya yang kental. Seiring tersaji seporsi nasi kuning lengkap dengan sesendok sambal.
Aku bersandar didepan lokomotif yang berderu tersendat. Warna merah dengan kombinasi birunya mulai tampak memucat. Entah kapan benda uzur ini akan mendapatkan perawatan yang memadai. Peduli setan, kusantap sarapan pagiku yang mulai dingin. Diterpa kabut yang semakin menipis. Samar kudengar suara mesin diesel yang berderap terengah, menanjak payah menuju ke arahku. Stasiun Cipeundeuy, tempat kami akan bersua. Menuntaskan segala jenuh yang mulai mendera.
Pagi saat kemarau memang menusuk, setidaknya begitulah yang kurasakan. Angin berhembus dari jendela lokomotif yang merayap pelan menyusuri rel yang menurun tajam. Penumpang mulai riuh, obrolannya memenuhi kabin yang sempit ini. Sudah hal yang lumrah jika kereta rakyat ini begitu diminati. Oleh mereka dengan penghasilan pas-pasan, seperti seseorang yang tengah mengantar mereka ketujuannya ini. Apakah dia mengerti kerja kerasku ini? Sepucuk surat yang kuterima minggu lalu tak juga menunjukkan pengertiannya. Ia hanya sibuk menanyakan soal bagaimana masa depan kami. Yang semakin lama semakin kabur. Seperti masa depan kereta ini yang semakin uzur.
Hari semakin terang. Tak sabar rasanya untuk mengakhiri tugas ini. Membalas suratmu minggu lalu. Entah apa yang akan kutuliskan. Memori masa SMA tujuh tahun yang lalu begitu gamblang berkelebat dalam ingatanku. Usai pengumuman kelulusan aku menemuimu. Berwacana perihal keberangkatanku untuk merantau. Kau tampak tak begitu setuju dengan keputusanku. Aku hanya ingin merubah nasib agar menjadi lebih baik lagi. Aku tak ingin meneruskan ladang milik orangtuaku, tetapi bukan karena aku meremehkan profesi mereka sebagai petani tembakau. Profesi yang setia menghidupiku hingga bisa mengenyam pendidikan yang cukup layak. Melampaui jargon pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun. Aku hanya ingin mengejar mimpiku untuk bisa menjadi seorang masinis kereta api. Impianku sejak kecil saat kereta api uap masih menyambangi kota Temanggung. Kota tempat aku lahir dan tumbuh besar hingga bisa mengenalmu. Mimpi itu telah kuraih saat ini. Meskipun ternyata semua di luar ekspetasi, aku tetap bersyukur karena tinggal satu impian lagi yang belum bisa terwujud. Segera meminangmu dengan seperangkat alat shalat.
Derit roda yang kupaksa berhenti ini cukup memekakkan telinga. Nyaris saja aku melewati sinyal yang menunjukkan aspek tidak aman. Aku tertegun, beberapa hari terakhir memang aku sering melamun tentang banyak hal. Ingin rasanya mengambil cuti yang hanya tersisa beberapa hari saja, tetapi rasanya cukup untuk membeli ketenangan dikampung halaman. Sudah lebih tujuh bulan lamanya aku tak bersua dengannya. Ah, lagi-lagi aku melamun. Kereta api yang kukendalikan akan disusul oleh kereta api lain. Aku menggeser gagang throttle dengan perlahan. Menyusuri rel kereta api yang berbelok masuk stasiun Sumpiuh untuk mempersilahkan kereta api eksekutif melaju terlebih dahulu. Mendahuluiku dan kenangan akan tempat ini. Dari stasiun inilah untuk pertama kalinya aku mengendalikan lokomotif. Waktu itu jabatanku masih sebagai asisten masinis. Sang masinis yang merasa kelelahan mempersilahkanku untuk mengambil alih kendali. Aku merasa senang sekaligus gugup saat berhadapan langsung dengan berbagai panel dihadapanku. Beberapa sudah tampak tak terawat. Semboyan 35 kubunyikan. Pertanda kereta api akan diberangkatkan. Beberapa penumpang langganan lokomotif yang mulai terlelap tampak kaget dibuatnya. Mulai hari itu aku merasa telah disahkan untuk memulai lembaran baru. Dihadapan rel yang membentang panjang.
Maaf saya sedang luring
