23-12-2014, 10:31 AM
(This post was last modified: 23-12-2014, 02:29 PM by spetznaz_kdi.)
(06-05-2014, 07:58 PM)aditnugie Wrote:(06-05-2014, 07:51 PM)ady_mcady Wrote: kereta yang bawa gerbong barang hantaran paket (bhp) ini kan startnya dari stasiun yang berbeda2. misalnya ada yang dari kota, senen, dan manggarai. jadi menyesuaikan dengan kantor/gudang perusahaan ekspedisinya masing2. seandainya dikumpulkan jadi 1 rangkaian gimana caranya? apa mau dijemput pakai lok kecil satu persatu gerbong bhpnya dari jakk, pse, dan mri, lalu dikumpulkan disuatu tempat (misal jng) untuk dirangkai? lha apa gak tambah ribet?
lain halnya dengan ons yang start dari jakg saja, lebih mudah untuk digabung sekalian berangkatnya 1 rangkaian.
just imo..
mungkin maksudnya begini, daripada BHPnya dibawa masing-masing rangkaian kayak Argo lawu, taksaka, Bima dkk, mendingan dibuatkan satu rangkaian khusus membawa paket dari JAKG ke SB via selatan (PWT,KTA,YK,SLO, ..., SB) tapi paketnya dipool di JAKG. Jadi bongkar muat paketan di JAKG.
Sebenernya menggandeng kereta bagasi dgn rangkaian komersial itu cara yg efektif dan efisien dibanding dengan sistem ons. Keunggulannya bisa optimal sebagai aling2, banyak pilihan waktu keberangkatan, tidak harus ke JAKG, dan punya tujuan yg lebih variatif. ONS akan efektif hanya jika permintaan dari satu titik ke titik lain begitu tinggi. Misal jakarta-jogja. Pun dengan rangkaian komersil bisa jd ONS juga secara sibstansinya
