25-06-2014, 01:15 PM
Yap, berhubung semua foto dan video yg tertinggal udah berhasil diupload, berikut adalah akhir dari keseluruhan trip report gue...
Berlainan dengan mayoritas penumpang yang langsung pulang atau mendatangi penginapan tujuan mereka, gue memilih masuk ke ruang tunggu Stasiun Bandung. Di beberapa bangku terdapat penumpang-penumpang yang tertidur lelap, mungkin mereka yang akan melanjutkan perjalanan pagi itu dengan KA Lodaya Pagi, yang sudah berganti nomor perka dari 66 kembali ke nomor 74 seperti dalam Gapeka 2011.
Rencananya, saat itu gue bakal menunggu kedatangan KA 67P Lodaya Malam dari Solo sekaligus KA 85P Malabar dari Malang. Sesuai jadwal, seharusnya KA 67P tiba di Bandung pukul 03:27, disusul KA 85P pukul 04:10. Tetapi, malam itu, KA 67P baru menampakkan dirinya pukul 03:57, alias terlambat 30 menit, ditarik lokomotif CC 206 65 dari Dipo Induk Semarang Poncol. Melihat keterlambatan KA Lodaya tersebut, akhirnya gue “menyerah†dan memilih keluar bersama ratusan penumpang Lodaya menuju deretan taksi yang udah menunggu di luar.
Oh ya, karena saat itu udah masuk tanggal 01 Juni 2014, otomatis semua perjalanan kereta api berubah menggunakan Gapeka 2014. Dari daftar di bawah ini, satu-satunya kereta yang nggak berganti nomor hanyalah sang raja jalur selatan, Argo Wilis. Saudaranya si Argo (Gede) Parahyangan harus ikutan ganti nomor karena perjalanan KA Argo Jati Tambahan dijadikan KA reguler (KA 16-17), padahal setelah seminggu berlalu, KA 16-17 dijadikan KA “fakultatif†lagi (hanya jalan Jumat-Minggu dan hari libur nasional)...
[spoiler=Jadwal keberangkatan KA dari Bandung, versi Gapeka 2014]
![[Image: image+%252812%2529.jpeg]](https://lh6.googleusercontent.com/-6LxIgmQcLzw/U6pWkAw1zyI/AAAAAAAAAxs/MKbT1eFD0OU/w596-h445-no/image+%252812%2529.jpeg)
[/spoiler]
Berkat jalanan yang lengang, gue akhirnya tiba di rumah sekitar pukul 04:20. Pintu dibukakan, dan ternyata segelas susu hangat telah menanti di meja makan. Setelah meneguk minuman yang disediakan orang tua, gue akhirnya berpamitan untuk tidur senyenyak-nyenyaknya. Gue baru kembali terbangun sekitar pukul 10 pagi.
Oh ya, sedikit cerita aja. Waktu joyride ke Cirebon ternyata ada seorang penumpang Eksekutif 1 yang mukanya udah nggak asing lagi buat gue. Orang itu nggak lain adalah dosen yang ngajar di program kekhususan yang gue ambil. Dan, buat kami para mahasiswa, dosen ini bukan seseorang yang biasa aja, tapi spesial karena memiliki penampilan yang menarik. Yap, bahkan saking menariknya, ada beberapa gelintir mahasiswa yang menjadikan dosen ini sebagai dosen favorit mereka. Sayang buat temen-temen gue yang ngambil program kekhususan yang berbeda dengan gue, cuma sempet diajar sama dosen ybs. sekali aja, pas kebetulan kebagian di salah satu matkul dasar di semester 4. Sedangkan gue, ya sampe semester 6 yang baru beres, udah ketemu di empat matkul yang berbeda-beda.
“Puas†bertatap muka di empat matkul, yang masing-masingnya berdurasi antara 100-200 menit, untuk pertama kalinya gue dapet kesempatan melihat dosen ybs. di luar lingkungan kampus, tanpa ada planning lain-lain. Tapi, saat itu, gue merasa malu-malu buat samperin ybs. karena waktu itu dia nggak sendiri, tetapi lagi bertiga dengan (yang belakangan gue tau dari temen kampus) sohib-sohibnya sesama dosen dari fakultas yang sama (tapi beda program kekhususan, dan karena alasan itu gue nggak ngenalin dosen-dosen yang lain itu). Ditambah lagi posisi kami yang berada di antara kerumunan ratusan penumpang lainnya, membuat gue tambah enggan buat nyamperin beliau.
Nah, pas kereta berhenti lama di Rendeh, gue sempetin jalan-jalan ke sisi Eksekutif. Niat awalnya bukan buat nyamperin bu dosen, cuma pengen motret-motret aja. Eh pas mau motret interior Turanzonk, jeng-jeng, tiga sosok perempuan itu beriringan melintas di lorong Turanzonk, dengan “bintang utama†berada di paling belakang. Langsung aja gue minggir, lalu begitu “bintang utama†akan lewat, gue pengen ngucapin “selamat siangâ€Â, tapi entah kenapa mulut gue tetep tertutup rapat dan gue hanya melemparkan senyum ke arahnya. Terlihat bu dosen balik tersenyum ke arah gue, entah karena dia ngenalin gue, atau bermaksud ngucapin terima kasih karena gue mendahulukan mereka lewat, atau hanya sekedar senyum aja, I don’t care. Yang penting dia tersenyum, itu udah bikin gue senang dan merasa lebih segar.
Oke, cukup dengan sesi curhatnya, sebagai penutup dari epilog, berikut gue lampirkan beberapa foto/video tambahan yang baru sempet diupload belakangan ini (terutama videonya, karena wajib menggunakan wi-fi biar kuota internet nggak abis sebelum akhir bulan)...
Bukti pembatalan tiket yang udah dipesen buat keberangkatan tanggal 30 Mei 2014 (sekaligus memenuhi “pesanan†rekan Batpod)...
[spoiler=Utang 104 ribu rupiah
]
![[Image: IMG_6102.JPG]](https://lh3.googleusercontent.com/-ysce5GTM3dY/U6pWlBLcMHI/AAAAAAAAAx0/AdR63YPTs8g/w297-h445-no/IMG_6102.JPG)
![[Image: IMG_6103.JPG]](https://lh4.googleusercontent.com/-e-5RHX6JpkU/U6pWdiPXVdI/AAAAAAAAAxc/6vmkqRQqhns/w297-h445-no/IMG_6103.JPG)
![[Image: IMG_6105.JPG]](https://lh5.googleusercontent.com/-9BjRkqagrL0/U6pWfirUt0I/AAAAAAAAAxk/-YNGOW_D8qI/w297-h445-no/IMG_6105.JPG)
[/spoiler]
Video kedatangan KA 64P Gumarang JAKK-SBI di jalur 5 CN, tapi gelap (waktu itu nggak kepikiran buat nyebrang ke peron jalur 5)...
Dengan demikian, selesailah sudah cerita perjalanan penutup Gapeka 2013 yang “sangat†berkesan ini... Eh, belum selesai! Masih ada bagian penilaiannya... untuk pertama kalinya gue mencoba membuat penilaian tentang perjalanan kali ini. Tentunya, karena adanya peristiwa luar biasa di Cisomang, maka penilaian untuk bagian ketepatan waktu akan dikosongkan...
Perjalanan tahap 1: KA 7103 Bandung-Cikampek
Poin plus:
Kebersihan: OTC-nya tanggap, begitu rangkaian nyampe BD sampah yang berserakan bekas rombongan anak sekolahan dari CN langsung dibersihkan, juga sepanjang perjalanan BD-CKP rajin bersih-bersih, kurangnya hanya di flek-flek yang ada di sudut-sudut kereta – hal yang lumrah bahkan untuk K1 sekalipun -_-
Pendingin udara: dinginnya di luar ekspektasi gue, berhubung kalo dengerin pengalaman temen-temen RF lainnya yang udah pernah naik K3 Ciremai belakangan ini AC-nya sering anget
Awak kabin: baik, walaupun keretanya telat tapi mereka tetap berusaha melayani penumpang sebaik mungkin
Poin minus:
Makanan: ludes bahkan sebelum perjalanan dimulai... -_-
Perjalanan tahap 2: KA 7102 Cikampek-Cirebon
Poin plus:
Kebersihan: idem dgn penilaian KA 7103
Pendingin udara: hmm, fine-fine aja lah, dinginnya Turangga nggak terlalu berasa (mungkin efek jalan sore dan bukan malem)
Awak kabin: idem dgn penilaian KA 7103
Poin minus:
Kenyamanan kursi: sempit, keras, dan nggak ada single seat = mengerikan
Hiburan: mungkin TV LED yang ada bisa dimanfaatkan buat diputarkan film atau, sekurang-kurangnya, musik... toh Sancaka dan Muttim yang satu kelas dengan Ciremai ada hiburan serupa...
Perjalanan tahap 3: KA 7105/7108 Cirebon-Cikampek-Bandung
Poin plus:
Kebersihan: sebaik saat naik KA 7103/7102, begitu gue balik dan naik ke dalam kereta, petugasnya udah selesai bersihin interior K1... bahkan saat diem di CKP, lagi-lagi OTC-nya dateng buat ngumpulin sampah...
Pendingin udara: dingin, bahkan untuk perjalanan malam bisa membuat gue kedinginan...
Awak kabin: yang kali ini juga ramah, bahkan selain nawarin makanan mereka juga ngebagiin selimut... sayang selimutnya kagak bisa dimanfaatin sampe BD...
Poin minus:
Hiburan: idem dgn penilaian KA 7102
Secara keseluruhan, penilaiannya sedikit jeblok gara-gara K1 Turangga yang entah karena apa kecantol di rangkaian Ciremai, dan absennya hiburan audio visual untuk kelas Eksekutifnya Ciremai. Soal kenikmatan menu yang ditawarkan dan ketepatan waktu untuk perjalanan kali ini nggak ada yang dinilai, mungkin nanti kalo ada kesempatan naik Ciremai lagi baru ada penilaian untuk dua bagian itu...
Dengan demikian, selesailah sudah cerita perjalanan penutup Gapeka 2013 yang “sangat†berkesan ini, sampai berjumpa di kesempatan berikutnya!
[spoiler=Kata-kata terakhir...]
Sebelum lanjut ke cerita yang baru, mungkin resolusi gue saat ini adalah ngeberesin TR yang belum kelar dan dibiarin “ngegantung†sekian lama...
[/spoiler]
E P I L O G
Berlainan dengan mayoritas penumpang yang langsung pulang atau mendatangi penginapan tujuan mereka, gue memilih masuk ke ruang tunggu Stasiun Bandung. Di beberapa bangku terdapat penumpang-penumpang yang tertidur lelap, mungkin mereka yang akan melanjutkan perjalanan pagi itu dengan KA Lodaya Pagi, yang sudah berganti nomor perka dari 66 kembali ke nomor 74 seperti dalam Gapeka 2011.
Rencananya, saat itu gue bakal menunggu kedatangan KA 67P Lodaya Malam dari Solo sekaligus KA 85P Malabar dari Malang. Sesuai jadwal, seharusnya KA 67P tiba di Bandung pukul 03:27, disusul KA 85P pukul 04:10. Tetapi, malam itu, KA 67P baru menampakkan dirinya pukul 03:57, alias terlambat 30 menit, ditarik lokomotif CC 206 65 dari Dipo Induk Semarang Poncol. Melihat keterlambatan KA Lodaya tersebut, akhirnya gue “menyerah†dan memilih keluar bersama ratusan penumpang Lodaya menuju deretan taksi yang udah menunggu di luar.
Oh ya, karena saat itu udah masuk tanggal 01 Juni 2014, otomatis semua perjalanan kereta api berubah menggunakan Gapeka 2014. Dari daftar di bawah ini, satu-satunya kereta yang nggak berganti nomor hanyalah sang raja jalur selatan, Argo Wilis. Saudaranya si Argo (Gede) Parahyangan harus ikutan ganti nomor karena perjalanan KA Argo Jati Tambahan dijadikan KA reguler (KA 16-17), padahal setelah seminggu berlalu, KA 16-17 dijadikan KA “fakultatif†lagi (hanya jalan Jumat-Minggu dan hari libur nasional)...
[spoiler=Jadwal keberangkatan KA dari Bandung, versi Gapeka 2014]
![[Image: image+%252812%2529.jpeg]](https://lh6.googleusercontent.com/-6LxIgmQcLzw/U6pWkAw1zyI/AAAAAAAAAxs/MKbT1eFD0OU/w596-h445-no/image+%252812%2529.jpeg)
[/spoiler]
Berkat jalanan yang lengang, gue akhirnya tiba di rumah sekitar pukul 04:20. Pintu dibukakan, dan ternyata segelas susu hangat telah menanti di meja makan. Setelah meneguk minuman yang disediakan orang tua, gue akhirnya berpamitan untuk tidur senyenyak-nyenyaknya. Gue baru kembali terbangun sekitar pukul 10 pagi.
Oh ya, sedikit cerita aja. Waktu joyride ke Cirebon ternyata ada seorang penumpang Eksekutif 1 yang mukanya udah nggak asing lagi buat gue. Orang itu nggak lain adalah dosen yang ngajar di program kekhususan yang gue ambil. Dan, buat kami para mahasiswa, dosen ini bukan seseorang yang biasa aja, tapi spesial karena memiliki penampilan yang menarik. Yap, bahkan saking menariknya, ada beberapa gelintir mahasiswa yang menjadikan dosen ini sebagai dosen favorit mereka. Sayang buat temen-temen gue yang ngambil program kekhususan yang berbeda dengan gue, cuma sempet diajar sama dosen ybs. sekali aja, pas kebetulan kebagian di salah satu matkul dasar di semester 4. Sedangkan gue, ya sampe semester 6 yang baru beres, udah ketemu di empat matkul yang berbeda-beda.
“Puas†bertatap muka di empat matkul, yang masing-masingnya berdurasi antara 100-200 menit, untuk pertama kalinya gue dapet kesempatan melihat dosen ybs. di luar lingkungan kampus, tanpa ada planning lain-lain. Tapi, saat itu, gue merasa malu-malu buat samperin ybs. karena waktu itu dia nggak sendiri, tetapi lagi bertiga dengan (yang belakangan gue tau dari temen kampus) sohib-sohibnya sesama dosen dari fakultas yang sama (tapi beda program kekhususan, dan karena alasan itu gue nggak ngenalin dosen-dosen yang lain itu). Ditambah lagi posisi kami yang berada di antara kerumunan ratusan penumpang lainnya, membuat gue tambah enggan buat nyamperin beliau.
Nah, pas kereta berhenti lama di Rendeh, gue sempetin jalan-jalan ke sisi Eksekutif. Niat awalnya bukan buat nyamperin bu dosen, cuma pengen motret-motret aja. Eh pas mau motret interior Turanzonk, jeng-jeng, tiga sosok perempuan itu beriringan melintas di lorong Turanzonk, dengan “bintang utama†berada di paling belakang. Langsung aja gue minggir, lalu begitu “bintang utama†akan lewat, gue pengen ngucapin “selamat siangâ€Â, tapi entah kenapa mulut gue tetep tertutup rapat dan gue hanya melemparkan senyum ke arahnya. Terlihat bu dosen balik tersenyum ke arah gue, entah karena dia ngenalin gue, atau bermaksud ngucapin terima kasih karena gue mendahulukan mereka lewat, atau hanya sekedar senyum aja, I don’t care. Yang penting dia tersenyum, itu udah bikin gue senang dan merasa lebih segar.
Oke, cukup dengan sesi curhatnya, sebagai penutup dari epilog, berikut gue lampirkan beberapa foto/video tambahan yang baru sempet diupload belakangan ini (terutama videonya, karena wajib menggunakan wi-fi biar kuota internet nggak abis sebelum akhir bulan)...
Bukti pembatalan tiket yang udah dipesen buat keberangkatan tanggal 30 Mei 2014 (sekaligus memenuhi “pesanan†rekan Batpod)...
[spoiler=Utang 104 ribu rupiah
][/spoiler]
Video kedatangan KA 64P Gumarang JAKK-SBI di jalur 5 CN, tapi gelap (waktu itu nggak kepikiran buat nyebrang ke peron jalur 5)...
Dengan demikian, selesailah sudah cerita perjalanan penutup Gapeka 2013 yang “sangat†berkesan ini... Eh, belum selesai! Masih ada bagian penilaiannya... untuk pertama kalinya gue mencoba membuat penilaian tentang perjalanan kali ini. Tentunya, karena adanya peristiwa luar biasa di Cisomang, maka penilaian untuk bagian ketepatan waktu akan dikosongkan...
Perjalanan tahap 1: KA 7103 Bandung-Cikampek
Poin plus:
Kebersihan: OTC-nya tanggap, begitu rangkaian nyampe BD sampah yang berserakan bekas rombongan anak sekolahan dari CN langsung dibersihkan, juga sepanjang perjalanan BD-CKP rajin bersih-bersih, kurangnya hanya di flek-flek yang ada di sudut-sudut kereta – hal yang lumrah bahkan untuk K1 sekalipun -_-
Pendingin udara: dinginnya di luar ekspektasi gue, berhubung kalo dengerin pengalaman temen-temen RF lainnya yang udah pernah naik K3 Ciremai belakangan ini AC-nya sering anget
Awak kabin: baik, walaupun keretanya telat tapi mereka tetap berusaha melayani penumpang sebaik mungkin
Poin minus:
Makanan: ludes bahkan sebelum perjalanan dimulai... -_-
Perjalanan tahap 2: KA 7102 Cikampek-Cirebon
Poin plus:
Kebersihan: idem dgn penilaian KA 7103
Pendingin udara: hmm, fine-fine aja lah, dinginnya Turangga nggak terlalu berasa (mungkin efek jalan sore dan bukan malem)
Awak kabin: idem dgn penilaian KA 7103
Poin minus:
Kenyamanan kursi: sempit, keras, dan nggak ada single seat = mengerikan

Hiburan: mungkin TV LED yang ada bisa dimanfaatkan buat diputarkan film atau, sekurang-kurangnya, musik... toh Sancaka dan Muttim yang satu kelas dengan Ciremai ada hiburan serupa...
Perjalanan tahap 3: KA 7105/7108 Cirebon-Cikampek-Bandung
Poin plus:
Kebersihan: sebaik saat naik KA 7103/7102, begitu gue balik dan naik ke dalam kereta, petugasnya udah selesai bersihin interior K1... bahkan saat diem di CKP, lagi-lagi OTC-nya dateng buat ngumpulin sampah...
Pendingin udara: dingin, bahkan untuk perjalanan malam bisa membuat gue kedinginan...
Awak kabin: yang kali ini juga ramah, bahkan selain nawarin makanan mereka juga ngebagiin selimut... sayang selimutnya kagak bisa dimanfaatin sampe BD...
Poin minus:
Hiburan: idem dgn penilaian KA 7102
Secara keseluruhan, penilaiannya sedikit jeblok gara-gara K1 Turangga yang entah karena apa kecantol di rangkaian Ciremai, dan absennya hiburan audio visual untuk kelas Eksekutifnya Ciremai. Soal kenikmatan menu yang ditawarkan dan ketepatan waktu untuk perjalanan kali ini nggak ada yang dinilai, mungkin nanti kalo ada kesempatan naik Ciremai lagi baru ada penilaian untuk dua bagian itu...
Dengan demikian, selesailah sudah cerita perjalanan penutup Gapeka 2013 yang “sangat†berkesan ini, sampai berjumpa di kesempatan berikutnya!
[spoiler=Kata-kata terakhir...]
Sebelum lanjut ke cerita yang baru, mungkin resolusi gue saat ini adalah ngeberesin TR yang belum kelar dan dibiarin “ngegantung†sekian lama...
[/spoiler]

