16-01-2014, 06:07 AM
Jadi Stasiun Heritage, Pedagang Stasiun Jebres Harus Ganti Dagangan
SOLO – Rencana menjadikan Stasiun Jebres menjadi stasiun heritage sekaligus jujugan wisata di Kota Solo berdampak pada keberadaan pedagang. Tak hanya direlokasi ke kios yang disiapkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), dagangan mereka pun diharuskan berganti dengan barang-barang yang berbau heritage atau khas kota bengawan. Para pedagang pun akan dilarang berjualan barang-barang umum.“Sekarang kan masih banyak yang jualan mie instan, dan makanan ringan lainnya. Nanti kalau sudah ditata, itu tidak boleh. Harus sesuai dengan konsep cagar budaya seperti misalnya makanan tradisional dan souvenir,†kata Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Endah Sitaresmi, Rabu (15/1/2014).Kendati belum memastikan kapan aturan tersebut akan diterapkan, Sita bersama Kepala Pusat Pelestarian dan Arsitektur Desain PT. KAI, Ella Ubaidi sudah mulai mensosialisasikan wacana tersebut kepada para pedagang yang menempati kios di dalam Stasiun Jebres dalam kunjungan yang dilakukan PT. KAI bersama beberapa Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo dan beberapa Kepala Dinas ke Stasiun Jebres.Terkait hal itu, Ella Ubaidi menyatakan mendukung konsep yang diajukan DTRK Solo terkait penataan kawasan Stasiun Jebres.“Stasiun Jebres akan kita arahkan seperti zaman dahulu, jadi stasiunnya para pedagang dari berbagai daerah yang ingin berjualan di pasar di sekitar Stasiun. Jadi kalau ingin minum jamu dengan bahan yang masih fresh dari desa, bisa ke Stasiun Jebres,†kata Ella.Di sisi lain, pedagang merasa keberatan bila dipaksa mengganti jenis dagangan mereka. Para pedagang yang sebelumnya berjualan kopi, kelontong, dan makanan untuk para penumpang diharuskan berjualan cinderamata dan makanan tradisional agar serasi dengan konsep heritage yang diusung Pemkot Solo.“Informasi yang kami terima seperti itu. Cukup berat juga karena kita harus mulai dari nol,†kata salah satu pedagang yang menempati kios di Stasiun Jebres, Kalis.
SOLO – Rencana menjadikan Stasiun Jebres menjadi stasiun heritage sekaligus jujugan wisata di Kota Solo berdampak pada keberadaan pedagang. Tak hanya direlokasi ke kios yang disiapkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), dagangan mereka pun diharuskan berganti dengan barang-barang yang berbau heritage atau khas kota bengawan. Para pedagang pun akan dilarang berjualan barang-barang umum.“Sekarang kan masih banyak yang jualan mie instan, dan makanan ringan lainnya. Nanti kalau sudah ditata, itu tidak boleh. Harus sesuai dengan konsep cagar budaya seperti misalnya makanan tradisional dan souvenir,†kata Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Endah Sitaresmi, Rabu (15/1/2014).Kendati belum memastikan kapan aturan tersebut akan diterapkan, Sita bersama Kepala Pusat Pelestarian dan Arsitektur Desain PT. KAI, Ella Ubaidi sudah mulai mensosialisasikan wacana tersebut kepada para pedagang yang menempati kios di dalam Stasiun Jebres dalam kunjungan yang dilakukan PT. KAI bersama beberapa Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo dan beberapa Kepala Dinas ke Stasiun Jebres.Terkait hal itu, Ella Ubaidi menyatakan mendukung konsep yang diajukan DTRK Solo terkait penataan kawasan Stasiun Jebres.“Stasiun Jebres akan kita arahkan seperti zaman dahulu, jadi stasiunnya para pedagang dari berbagai daerah yang ingin berjualan di pasar di sekitar Stasiun. Jadi kalau ingin minum jamu dengan bahan yang masih fresh dari desa, bisa ke Stasiun Jebres,†kata Ella.Di sisi lain, pedagang merasa keberatan bila dipaksa mengganti jenis dagangan mereka. Para pedagang yang sebelumnya berjualan kopi, kelontong, dan makanan untuk para penumpang diharuskan berjualan cinderamata dan makanan tradisional agar serasi dengan konsep heritage yang diusung Pemkot Solo.“Informasi yang kami terima seperti itu. Cukup berat juga karena kita harus mulai dari nol,†kata salah satu pedagang yang menempati kios di Stasiun Jebres, Kalis.

