06-12-2013, 09:57 AM
(06-12-2013, 12:09 AM)Logawa_ATB Wrote:(22-11-2013, 11:07 PM)gustav Wrote: ^^mau sejauh apa lagi perubahan jadwalnya? kita lihat sendiri, bahkan pada prime time pun (7110 & 7113) penex masih juga tidak mampu untuk memenuhi seluruh kapasitasnya....sebagai perbandingan, pangrango pada jam siang hari saja okupansinya masih bisa 100%
masalah terbesar dari penex I think adalah terletak pada value for money nya serta mungkin juga pada karakter masyarakat jalur yang dilayaninya dimana KA bukanlah pilihan yang populer dibanding roda ban, selama ini berapa persen sih yang naik KA sby-mlg? dari total penglaju sby-mlg.. just IMHO
Hmmm..., value for money yach...
Saya mau tanya nich, saya analogikan stasiun ML & SGU itu kyk agen penjual air mineral dlm kemasan. Si agen itu menjual air mineral curah yg per galon 3500 rupiah & air mineral merk Aq*a seharga 15ribu per galon. Konsumen dihadapkan pada 2 pilihan dan akhirnya ada konsumen yg memilih / membeli air mineral merk Aq*a. Lha terus kira2 apa value for money yg didpt konsumen ketika membeli air mineral merk Aq*a ini...? Bukannya sama2 air, kemasan jg sama2 galon yg mayoritas warnanya biru...?
ya jelas beda lah kelihatan... meskipun sama2 air tapi kalo merk a*ua lbh valued dan yg pasti reputasinya yg jauh better dr pd air curah... sekarang trgantung konsumennya mau pilih yg mana dan juga disesuaikan dgn sikonnya... kembali lg ke Penex yg sepertinya memang perkembangannya stagnan atau jln di tempat, kalo analisa sy mungkin karna kedua kota ini lbh populer oleh argo karet ketimbang roda besi dan lagi karakteristik penglaju pd lintas ini yg memang preferred ke yg lbh murah dan cepat dan juga mreka sdh trbiasa dgn argo karet dan bagi para penglaju yg gunakan KA pd lintas ini bisa dikatakan org2 yg sdh trlanjur suka KA daripada argo karet, mungkin ini jadi PR besar utk Daop 8 gimana caranya agar penex ini trus eksis, sukur2 okupansinya meningkat... CMIIW
" R.I.P Bumi Geulis"[/i]


