23-04-2013, 10:22 AM
(22-04-2013, 08:47 PM)Hungry Soul Wrote: Mau nambahin teori konstipasi dari eyang arwah juga *eeeeh*. Setau saya rata-rata kalo berhenti di stasiun "berpangkat tinggi" seperti ML, BL, KD, KTS, MN, SLO. Rata-rata tiap kereta berhenti antara 3 - 5 menit. Kalo "pangkat rendah" sekitar 1 menit (bahkan kurang) sampai 2 menit.
Nah untuk kasus Malioboro ini, berhubung memang kayaknya memang ndak terlalu rame tapi masih cukup laris untuk terus bertahan membelah bagian timur Jawa dan mendapatkan nomer kereta reguler dengan begitu cepat bagai anak panah lepas dari busurnya ........ err, maap, maap. Lebay nya kumat :v
Jadinya dengan kondisi di atas itu (yang naik dikit), ditambah seperti yang disebutkan kalau kereta ini sudah terlambat beberapa menit dari jadwal, mungkin PPKA nya udah gatel pengen ngusir kereta itu segera dari peron stasiun karena jalurnya mau segera dipake sepur lain.
Kalo kasusnya KD sih kayaknya biar dia ndak terlalu ikut campur urusan rumah tangganya si Brantas dan calon penumpangnya dan gak jadi orang ketiga, eh, sepur, eh, besi, yah, apapun lah, yang memisahkan mereka seenaknya antara peron dan jalur 2 ....
Demikian teori konstipasi dari Eyang Arwah ....
Wah jarang2 nih kangmas arwah maen2 ke trit ini...

sekalinya masuk langsung bikin heboh dunia permalioboroan.....

Wah udah deh kalo uda masuk dalam zona KD-Raul Lemos, eh maksudnya KD kediri, ini teori konstipasinya sudah sangat baik dan benar demikian adanya....
SEBELUM MENUTUP MATA INI IJINKAN AKU TUHAN MELIHAT SEMUA JALUR MATI DI JAWA HIDUP KEMBALI. AMIN


