20-04-2013, 12:26 AM
Selamat malam semuanya... Ikut nimbrung kembali & mencoba berbagi opini lg ya... Mohon maaf kalo udah OOT... 
Nggak perlu shock, Kang... Kalo sampeyan hobi koleksi tabel harga tiket KA dari tahun ke tahun pasti akan paham harga yg ditawarkan operator KA itu termasuk murah, terjangkau atau mahal. Kalo acuannya thdp tabel harga tiket KA dimana operator KA berbentuk Perum saya rasa msh sulit menebaknya, soalnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar udah beda dgn sekarang. Kalo punya tabel tahun 2005 sampai 2008 bs di quick count tuch, ambil ajah harga produksi yg dipengaruhi oleh laju inflasi mesti akan dpt nilai jual tahun sekarang. Nah, mulai tahun 2012 operator KA mulai membuat "permainan" harga jual yg fluktuatif, pdhal kalo dipikir secara logika harganya nggak akan jauh meleset bila dibanding tahun 2010 & 2011, apalg sarana yg dioperasikan masih sama. Pd 2 tahun tsb harga masih flat, weekday & weekendnya kan...? Yuuuk, mari diingat2 saja....
Mesti diusulkan jd lagu wajib utk hiburan di KA Eksekutif tuch, Kang... :p
Mungkin maksud Kang Toentang subsidi silang antar KA Komersial, Kang zmidth.... Kalo subsidi silang dari KA Barang, K1 & K2 utk K3 saya rasa udah bukan jamannya lg. Kalo K3 subsidinya sedikit ya tinggal ngurangin rangkaian. Apalg kalo nggak ada subsidinya ya tinggal ganti harga.
Subsidi silang antar KA Komersial saya rasa masih bs dilakukan, terutama utk porsi TAC (Track Acces Charge)nya. Andai sj pendapatan KA Barangnya sdh kuat saya pikir hal tsb bs dilakukan. Misal koridor JKT - SBY ada ABA (K1), Gumarang (K1, K2, K3AC misalnya) & KA Barang. Operator KA menetapkan TAC yg harus dibebankan pengguna jasa adalah Rp 4.500.000,- sekali jln / kereta atau gerbong. Mari kita hitung2 secara sederhana sj, ABA 50 seat jd per penumpang dikenai Rp 90.000,-. Apa yg terjadi bila TACnya sebesar Rp 90.000,- / penumpang...? Satu per satu penumpangnya terpental.... mending mabur...
Lanjut utk K2 64 seat, Rp 4.500.000 / 64 = Rp 70.000 (pembulatan), utk K3AC Split non subsidi malah lbh kecil lg nilainya yakni Rp 4.500.000 / 106 = Rp 42.500,- (pembulatan).
Sedangkan utk KA Barang kyk Parcel / ONS hitungannya pake kg. Sekali jalan ngangkut 30.000 kg, maka hitungannya Rp 4.500.000 / 30.000 = Rp 150,- / kg. Nilainya terasa kecil kan...? Ya ini tinggal pintar2nya operator KA sj, kalo ingin harga tiket KA Penumpang kembali "merakyat", rangkaian nggak kosong saat weekday & diminati pengguna jasa ya salah satu usahanya seperti itu, memperkuat pendapatan KA Barang & menurunkan nilai TAC yg dibebankan ke KA Penumpang.

(19-04-2013, 07:47 PM)Garry KAHP Wrote: Paling pilih sepur ane juga. Cuma shock aja ngeliat harga sepur gara 2x blm sempet main ke stasiun ama web tiketkai lagi
Nggak perlu shock, Kang... Kalo sampeyan hobi koleksi tabel harga tiket KA dari tahun ke tahun pasti akan paham harga yg ditawarkan operator KA itu termasuk murah, terjangkau atau mahal. Kalo acuannya thdp tabel harga tiket KA dimana operator KA berbentuk Perum saya rasa msh sulit menebaknya, soalnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar udah beda dgn sekarang. Kalo punya tabel tahun 2005 sampai 2008 bs di quick count tuch, ambil ajah harga produksi yg dipengaruhi oleh laju inflasi mesti akan dpt nilai jual tahun sekarang. Nah, mulai tahun 2012 operator KA mulai membuat "permainan" harga jual yg fluktuatif, pdhal kalo dipikir secara logika harganya nggak akan jauh meleset bila dibanding tahun 2010 & 2011, apalg sarana yg dioperasikan masih sama. Pd 2 tahun tsb harga masih flat, weekday & weekendnya kan...? Yuuuk, mari diingat2 saja....
(19-04-2013, 08:37 PM)Hungry Soul Wrote: [spoiler=Kalo yang milih mabur biasanya salah satunya adalah pekerja supersibuk yang mencari kendaraan supercepat dalam jam kerja. Contohnya dosen saya yang pas dihubungi pada jam 7 pagi masih di Jogja, eh tapi sudah ngajar di Kampus saya di Jakarta sekitar jam 12 atau jam 2 siang nya (lupa saya tepatnya), hahaha.]
Kalo yang numpak sepur biasanya memang ada yang cari waktu untuk memaksimalkan jam gawe antarkota, jadi dari kota A sore hari lepas kerja, nyampe kota B pagi hari sebelum jam kerja dan langsung beraktivitas buat ngurus kerjaan juga. Di atas sepur? Ya tidur / istirahat.Kalo mabur kan kadang harus melek dulu sampe larut malam atau bahkan pagi buta buat nunggu kendaraan dari dan ke bandara baik di kota asal ataupun tujuan.[/spoiler]
Semuanya tergantung keputusan / pilihan penumpang, yang mana yang terbaik bagi mereka, hehehe.
Entah ini murni OOT atau setengah OOT sih, tapi saya tiba-tiba ngebayangin kalo Pak Jonan sebenernya bisa ngomong "Silakan menggunakan moda transportasi lain" dengan style / gaya.
Caranya? dengan nyanyi lagunya Om Broery Marantika dan Tante Dewi Yull yang "Jangan Ada Dusta Diantara Kita".
Semuaaa terserah padamu,
aku begini adanya~~
Kuhormati kepuuutusanmu,
apapun, yang akan, kau kaaatakaaan~~
Sebelum terlanjur, kita jauh melangkaaah~~
kau katakan, saja~~~
..............
Mesti diusulkan jd lagu wajib utk hiburan di KA Eksekutif tuch, Kang... :p
(17-04-2013, 08:15 AM)Toentang Wrote: Ya kita berharap dengan segera selesainya double track, semoga angkutan barang bisa meningkat pesat. Sehingga profit angkutan barang bisa "subsidi silang" ke angkutan penumpang. Itu juga jika ada kebijakan dari pihak terkait. Ngarep mode =ON.
Ngurusi angkutan penumpang memang lebih ribet daripada angkutan barang. Barang kan benda mati jadi gak bisa komplain kurang dingin, desak-desakan, kecopetan, dll.
(17-04-2013, 11:47 AM)zmidth Wrote: Sekarang mah ngga ada istilah subsidi silang. Lagian kalau dipikir2, kalau masih pake sistem subsidi silang, pemerintahnya ngapain sich. Masa mikirin subsidi BBM mulu, lha rakyat kecil yg naik KA kagak dipikirin sich. Kan ini tugasnya pemerintah euuiy
Mungkin maksud Kang Toentang subsidi silang antar KA Komersial, Kang zmidth.... Kalo subsidi silang dari KA Barang, K1 & K2 utk K3 saya rasa udah bukan jamannya lg. Kalo K3 subsidinya sedikit ya tinggal ngurangin rangkaian. Apalg kalo nggak ada subsidinya ya tinggal ganti harga.
Subsidi silang antar KA Komersial saya rasa masih bs dilakukan, terutama utk porsi TAC (Track Acces Charge)nya. Andai sj pendapatan KA Barangnya sdh kuat saya pikir hal tsb bs dilakukan. Misal koridor JKT - SBY ada ABA (K1), Gumarang (K1, K2, K3AC misalnya) & KA Barang. Operator KA menetapkan TAC yg harus dibebankan pengguna jasa adalah Rp 4.500.000,- sekali jln / kereta atau gerbong. Mari kita hitung2 secara sederhana sj, ABA 50 seat jd per penumpang dikenai Rp 90.000,-. Apa yg terjadi bila TACnya sebesar Rp 90.000,- / penumpang...? Satu per satu penumpangnya terpental.... mending mabur...

Lanjut utk K2 64 seat, Rp 4.500.000 / 64 = Rp 70.000 (pembulatan), utk K3AC Split non subsidi malah lbh kecil lg nilainya yakni Rp 4.500.000 / 106 = Rp 42.500,- (pembulatan).
Sedangkan utk KA Barang kyk Parcel / ONS hitungannya pake kg. Sekali jalan ngangkut 30.000 kg, maka hitungannya Rp 4.500.000 / 30.000 = Rp 150,- / kg. Nilainya terasa kecil kan...? Ya ini tinggal pintar2nya operator KA sj, kalo ingin harga tiket KA Penumpang kembali "merakyat", rangkaian nggak kosong saat weekday & diminati pengguna jasa ya salah satu usahanya seperti itu, memperkuat pendapatan KA Barang & menurunkan nilai TAC yg dibebankan ke KA Penumpang.


Kalo mabur kan kadang harus melek dulu sampe larut malam atau bahkan pagi buta buat nunggu kendaraan dari dan ke bandara baik di kota asal ataupun tujuan.[/spoiler]