13-04-2013, 08:48 AM
(12-04-2013, 08:35 PM)Hungry Soul Wrote:(12-04-2013, 07:44 PM)zmidth Wrote: Ya salah satu peran media ya kayak gitu, ikut membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil. Kalau mau gugat menggugat tarif, ya bukan ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero) toh yo, seharusnya ke Pemerintah lah. Toh yg didalam YLAK orang berpendidikan semua. Kalau orang awan/masyarakat biasa baru saya maklum.
Rakyat sich sah-sah aja pengin KA murah, tapi jangan kebangetan. Realistis aja, kereta api butuh biaya untuk operasionalnya yang jumlahnya ngga sedikit. Dengan tarif yg dipake sejak beberapa tahun yg lalu apakah tarif segitu masih bisa menutup biaya operasional KA saat ini. Disini sekali lagi peran pemerintah yg sangat menentukan dalam tarif KA dan Pemerintah sudah memutuskan KA Ekonomi pake tarif baru seperti yang telah kita ketahui. Ya terima aja.
Kalau dalam berita itu mengambil contoh Pengemudi angkot yang tiap tahun mudik ke YK, saya kira dari JR ke YK pakai tarif 90rb itu sangat wajar untuk saat ini. Kalau ngga mau bayar 90rb ya tinggal cari moda transportasi lain ya. Gitu aja repot.
Kereta api ditinggal pelanggan setianya, saya kira ngga. Kereta api tetap ada pangsa pasar tersendiri. Hanya saja dengan tarif yg semakin mahal, market sharenya yang mengecil.
Hmm, entah saya pernah nulis ini di mana, di forum ini, di grup Indonesian Railfans, atau di grup non kereta api. Yang jelas saya pernah menjelaskan nilai mata uang dulu dan sekarang dengan media Wafer T*ngo. Dulu di awal dekade 2000 an, dengan harga Rp 750 sudah dapet 6 keping wafer. Jadi kalau diitung kasar tanpa memperhitungkan biaya kemasan dll, rata-rata harganya Rp 125 per keping. Sekarang kalo ndak salah dengan harga Rp 1000 hanya dapat sekitar 4 keping wafer. Jadi rata-ratanya Rp 250 per keping, meningkat dua kali lipat.
Ini baru satu contoh barang, kudapan langganan kita yang lain sejak masih sekolah yang masih kita sukai sampe sekarang jika diamati rata-rata juga mengalami kalo nggak penyusutan volume ya penyesuaian harga. Kasih contoh lain deh: Ch*ki-ch*ki dengan berbagai variannya, G*ry dan berbagai variannya, dst.
Nah lalu apa hubungannya sama kereta api? Yaa walaupun gak bisa dibandingin apple to apple, ini kan bisa menunjukkan kalau nilai uang Rp 45.500 (harga Brantas subsidi yang telah ada sejak paruh awal dekade 2000) itu berbeda dulu dengan yang sekarang. Jadi kalau dilihat dengan nilai uang sekarang, bisa saja itu menjadi sekitar Rp 80.000 - 90.000 an gitu. Yaa (maaf) masyarakat kita mungkin terbiasa dengan kereta yang bener-bener murah bertahun-tahun, jadinya dengan adanya kenaikan ini banyak yang kena shock therapy, padahal (nuwun sewu) harga rokok walaupun disesuaikan berkali-kali pun kayaknya bakal tetep kebeli juga tiap harinya.
Balik lagi ke sepur, sebenernya lumayan juga loh peningkatan pelayanan di dalam kereta nya, yang paling kerasa ya dihapusnya tiket tanpa tempat duduk itu. Perlu keberanian ekstrim untuk mengambil kebijakan ini. Ya walaupun di aspek yang lain masih banyak yang kurang dan perlu dibenahi, tapi aspek yang ini saja sudah membuat kenyamanan perjalanan pengguna kereta meningkat drastis kok.
Ya saya pribadi sih pengen egois juga, KA Brantas tetep murah 45.500, dengan tanpa tiket berdiri, fasilitas Ashee, Makanan Reska murah, dan seabrek nafsu pribadi saya yang lainnya. Tapi kalo nurutin nafsunya penumpang terus kapan sehatnya itu perusahaan? Lah wong ternyata subsidi buat K3 ternyata beberapa tahun ini bermasalah gitu .... kecuali pemerintah rela ngasih subsidi bermiliar-miliar bahkan ber triliun untuk ngejalanin sepur semurah itu, ya boleh deeeh. Nah berhubung realitasnya kayak yang seperti kita ketahui bersama ini, ya mau gak mau saya harus ikutan permainannya Pak Jonan, Take it or leave it....
Dan tampaknya dengan keadaan saya tahun ini, saya harus mengambil opsi "take it". Well Played, Mr. Jonan, Well Played ....
(12-04-2013, 07:44 PM)zmidth Wrote: wah salam ghoibnya mantap bener, pake Aang segala **efek kebanyakan baca thread "salam ghoib" nech* mau duel seseru pertempuran raja Ozai dgn Aang, tetaplah rakyat kecil tetap tergencet #ehh
Seperti yang saya tulis di atas, Mr. Jonan sudah memberikan opsi ... "take it or leave it". Di Indonesian Railfans juga saya pernah bilang kalo Gajah berkelahi dengan gajah, pelanduk akan mati di tengah-tengah. Karena itu, jadilah "pelanduk" yang pintar, kalau gak mau terluka, ya kalau berdiri jangan di tengah-tengah gajah. Agak minggir sedikit, yaa minimal risiko mati terinjak-injak jadi lebih kecil, palingan cuma luka baret saja ....
Wah, Mr. Zmidht, zmidhte, zmidth belum mendalami sejarah Salam Ghoib kayaknya, hahahaha
maaf orang baru ikut nimbrung hehee
sayangnya mas, pendapatan rakyat nggak berbanding lurus dengan inflasi yang terjadi di Indonesia ini

dan pemerintah kayanya nggak mau peduli dengan masalah satu ini, contohnya aja kalo seorang karyawan yang digaji 800rb per bulan apa bisa mudik dengan tiket yang sekitar 20% gajinya itu hehehe *opini kasar
BOO-THB-PLM
my "lovely" route hahaha...

my "lovely" route hahaha...



* mau duel seseru pertempuran raja Ozai dgn Aang, tetaplah rakyat kecil tetap tergencet #ehh