Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kereta Api tidak "merakyat" lagi......
#99
(24-03-2013, 12:14 AM)Logawa_ATB Wrote: Selamat malam, Kang.... Saya komen tulisan sampeyan yg saya bold ya... Apakah di Kalimantan, Sulawesi & Papua sdh ada rel yg dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ya, Kang...? Belum kan...? Kalo blm ya silakan saja operator KA swasta membuka bisnis termasuk investasi prasarana di pulau2 tsb. Di Sumatera, BATR udah mulai ancang2.
Memang belum nambah kang, tapi kalau di Sulawesi udah ada kabar kalau gabungan pengusaha sono mau bikin rel KA. Pak JK kayaknya juga mau bikin monorail/MRT di Makassar. Ya tinggal tunggu tanggal mainnya aja. Semoga bukan gosip doank
Quote:Lha kalo di Pulau Jawa bagaimana...? Di pulau Jawa jaringan rel sdh lama dikelola PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Dibentuk operator prasarana baru pun saya pikir nggak akan memunculkan operator KA (utk KA penumpang) baru karena seperti yg saya jelaskan di atas. Yg saya pahami dari dulu sistem pentarifan utk transportasi umum di Pulau Jawa sdh diset kalo kereta api ada di tengah, maksud saya level terbawah diset utk travel & bis, menengah diset utk KA & yg teratas utk pesawat terbang. Lha sekarang koq malah harga tiket KA bs 11 12 dgn tarif pesawat & meninggalkan jauh dgn tarif bis (dalam hal ini bis2 komersial) berarti ada yg nggak beres dgn sistem tsb kan... Selain itu jg bisnis transportasi di darat nggak saling sinergi antara travel, bis & KA tp saling mengambil celah, lbh tragis lg sampai gempur2an.

Saya malah merasa kalo didirikan operator prasarana malah jd lahan obyekan & akan selalu didikte oleh DJKA utk pengembangan & pengaktifan kembali jaringan rel KA di Jawa & Sumatera. OK lah kalo akhirnya Pemerintah "memaksa" personil PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dipecah & didirikan operator prasarana. Kalopun ada operator prasarana baru harga tiket KA yg ditawarkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan tetap sama selama TAC masih impas2an dgn IMO, karena TAC tsb jg akan dipergunakan operator prasarana baru utk biaya operasionalnya, misal gaji karyawan mereka. Karyawan operator prasarana jg awalnya dr personil PT. Kereta Api Indonesia (Persero) kan...? Jd nggak ada bedanya. Andai ada 1 operator KA baru, beban PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan berkurang krn itungannya TAC akan dipikul oleh 2 operator. Semakin banyak operator semakin ringan, otomatis harga tiket akan menyesuaikan turun. Tp apa akan bs diaplikasikan di Pulau Jawa mengingat arah kebijakan Pemerintah yg sdh saya tulis di atas...? Pesimis.
Yang ini kayaknya sudah saya jawab. Mau dipikir2 sampai muter tujuh keliling ntar mentoknya sama saja. Sektor perkeretaapian Indonesia selama ini stagnan atau malah mundur karena emang support dari Pemerintah yg kurang. Pemerintah lebih memilih membangun jalan tol, agar yang beli mobil banyak, yang beli motor banyak. Agar pajaknya banyak. Giliran subsidi BBM jebol, bingung. Susah-susah bikin UU eh malah ngga ada implementasinya.
Quote:Memulai suatu bisnis mesti direncanakan source (calon penumpang) & price yg mau dipasang. Itung2an saya kyk gini, ok lah ada operator KA baru (utk KA Penumpang) membuka rute JKT - BD. Mau pasang harga brp...? Lebih rendah dr tarif bis atau travel nanti ada yg teriak2, lahan bisnisnya diserobot KA. Akhirnya pasang harganya 60rb (kyk tarif Gopar nich...). Mau ambil penumpangnya selain dari penumpang bis & travel yakni pengguna mobil pribadi, apa mungkin...? Sekarang ada jalan tol Purbaleunyi, akses mudah. Keluarga2 di JKT (suami, istri & 1 anak) masih memilih menggunakan mobil pribadi utk bepergian ke BD, pake city car JKT - BD sejauh 160 km cukup mengkonsumsi BBM 8 ltr, PP cuma 16 ltr. Cuma 16 x 4500 = Rp 72.000,-. Bayangkan kalo pake KA 3 org x 60rb x 2 arah = 360ribu. Akhirnya akan berkompetisi dgn PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Gempur2an akhirnya, bedanya sarana yg dimiliki PT. Kereta Api Indonesia (Persero) itu armada lawas, operator KA yg baru ini (misal) pake armada baru. Apa akan balik modal cepet buat investasi sarana tsb...? Itu salah satu contohnya, Kang... Kecuali kalo BBM utk kendaraan pribadi sdh dibuat mahal, jd akan kemana2 akan terasa mahal baru bs lain ceritanya.
Kalau masalah balik modal, sarana baru atau bekas, untung atau rugi itu resiko investasi. Investor harus siap menerima apapun resikonya.

Kalau JKT-BD sehari masih bisa pp(masih dalam batas kemampuan manusia dalam mengendarai kendaraan). Coba aja yang waktu tempuhnya lebih dari 6 jam seperti JKT-YK. Secara hitung2 kayak gitu emang transportasi KA emang mahal. Tapi dari segi keamanan, kecepatan dan rasa cape, tentu saja KA menang.

Quote:Sekarang kalo ada investor mau berbisnis KA Penumpang coba ajah rute komuter BOO - MRI PP. Operator sarana kan nggak dipegang oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tapi oleh PT KCJ. Itu jelas2 source banyak, jalan tol Jagorawi jg sdh padat & cenderung macet. Bs kita lihat PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai operator prasarana di rute itu akan fair play atau tdk. Kalo dibilang hanya karena blm ada operator prasarana krn masih dimonopoli oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) shg mengakibatkan masih blm adanya investor KA swasta saya rasa masih bs diperbantahkan.
Sekarang saya mau nanya sama kang Logawa, ada ngga PO bus yang pake pool&halte saingannya. Seandainya terminal bus Pulo Gadung bukan milik pemerintah melainkan milik salah satu PO bus, apakah PO yang lain mau masuk ke dalam terminal Pulo Gadung. Seandainya juga Bandara Soekarno Hatta itu milik Garuda, apakah pesawat maskapai yang lain mau mendarat(kalau ngga terpaksa). Saya anggap PT KCJ jadi satu sama PT. Kereta Api Indonesia (Persero) karena PT. Kereta Api Indonesia (Persero) masih bisa intervensi PT KCJ(contoh di thread sebelah yg Dirut dimarahi sama Pak menteri).
Quote:Sebagai contoh kalo INKA ngirim hasil produksinya kyk K3AC, KFW & KA Penumpang ke Luar Negeri kenapa nggak pake truk ajah ke JKT...? Malah lebih memilih bayar TAC ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Lain contoh, kenapa ada Starbu*k, Hoka2 Ben*o, Indoma*t utk berbisnis di stasiun GMR...? Kalo namanya monopoli pasti akan dikuasai total oleh Reska sbg anak perusahaannya.
Ya jelaslah pilih bayar TAC daripada pake (◣_◢)┌∩┐. Kalau pake (◣_◢)┌∩┐ kan resikonya lebih gede(termasuk resiko pungli, Indonesia gitu loh)

Merk2 yg disebutkan diatas kan ada yang pakai sistem franchise/waralaba. Apakah kang Logawa tau siapa yg jadi terwaralaba ngga? Ngga hanya di GMR, tapi juga di stasiun lainnya? Yakin yg mendirikan Ind*****t itu dari luar, bukan dari dalam.
Quote:Bila TAC masih terus impas2an dgn IMO maka usaha PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan seperti ini, menumpangi harga tiket dgn biaya perawatan infrastruktur utk digunakan sebagai IMO mandiri, bukan dana dari Pemerintah. Sekarang yg dibidik adalah komersialisasi K3. Dgn cara tsb nantinya bila ada operator KA baru wajib dikenai sewa. Nggak beda jauh saya rasa kyk provider telpon selular yg menyewakan menara BTS ke provider telpon selular yg secara kapital lbh kecil.

Terima kasih.
Intinya kayak gini, Walaupun dibentuk operator prasarana, belum tentu swasta akan muncul.
Kalaupun muncul operator swasta, tapi TAC sama IMO masih impas2an tentu tarifnya akan sama aja. PSO, TAC dan IMO sampe sekarang ngga transparan. Dan lagi-lagi balik kepada Pemerintah. Emang susah kalau Pemerintahnya ngga mendukung kereta api.
Terima kasih telah mengantarkanku ke tempat tujuan dengan cepat, aman, tepat dan murah

facebook: Adhie | Twitter: @adh1e_
Reply


Messages In This Thread
RE: Kereta Api tidak "merakyat" lagi...... - by zmidth - 24-03-2013, 07:17 AM
RE: Kereta Api tidak - by Yogi Abdi Nugroho - 30-10-2013, 05:14 AM
RE: Joy Ride Pangrango (lagi) - by zae abjal - 29-01-2014, 05:55 PM
JR Pangrango - by zae abjal - 11-02-2014, 01:06 AM
JR Pangrango - by zae abjal - 01-03-2014, 12:04 AM
JR Pangrango - by zae abjal - 06-03-2014, 04:26 AM

Forum Jump:


Users browsing this thread: 4 Guest(s)