08-03-2013, 07:20 PM
(08-03-2013, 11:29 AM)oke_sr Wrote:(07-03-2013, 10:47 PM)Illia Wrote: Tenang ajaMalabar itu uda punya pasar sendiri. ga semua penumpang mau ribet buat pindah2 kereta. Selama tiket KA ke Jakarta baik via utara atau selatan yang langsungan mash ada si mereka tetep pilih gmana caranya cepet langsung ke Jakarta :v
kecuali kalau kasusnya tiket habis...itu beda crita
Setuju.
Malabar sudah punya pangsa pasar sendiri, yang ke Jakarta baik memakai 7023 atau Majapahit juga demikian. Yang ingin lebih cepat sampai Jakarta silakan pilih 7023 dengan harga lebih mahal dibandingkan 89(15 jam an perjalanan dan nggak harus oper kendaraan lain yang tentu menambah biaya dan waktu perjalanan).
Saya pun demikian, sebenarnya punya kesempatan untuk menjajal Malabar dari dan ke dari rumah saya di Kab Bekasi ke Malang. Waktu tempuh dari rumah ke stasiun Bandung dan Gambir relatif sama(2 jam an), tapi karena masalah efisien waktunya, dan kebiasaan saja akhirnya belum berjodoh naik KA 89/90. Mungkin di lain waktu akan saya coba naik MalabarTetapi bukan karena ingin 'maling' atau sekedar nostalgia ngerasain K2nya yah
eace:
Mas-mas ini kalau diskusi bahasanya galak tenan sampe ada istilah 'maling'eace:
Saya sih positive thinking, andai memang demikian saya syukuri saja berarti KA Malabar ini laku tenan. Berharap saja pihak KAI, mau memperpanjang rangkaiannya(jika memungkinkan) atau dikemudian hari menambah jadwal perjalanannya(jika kondisi mengharapkan demikian).
Malabar itu,
selain penumpang yang ramai..
barang juga tak kalah ramai...
2/3 K1 + MP2+2 K2 + 2K3+ 2 B(Barang,bukan aling2)
Udah panjang..

sembilan sampai sepuluh kereta...
Tidak punya waktu ...

Malabar itu uda punya pasar sendiri. ga semua penumpang mau ribet buat pindah2 kereta. Selama tiket KA ke Jakarta baik via utara atau selatan yang langsungan mash ada si mereka tetep pilih gmana caranya cepet langsung ke Jakarta :v
Tetapi bukan karena ingin 'maling' atau sekedar nostalgia ngerasain K2nya yah