(22-01-2013, 08:48 AM)tegarz Wrote: Water tank yang ada di Lawangsewu sebaiknya juga dikembalikan...ternyata itu gunanya supaya lokomotif nggak sering2 berhenti isi air. Saya pernah lihat foto kuno loko B25 di Kedungjati didampingi water tank di belakangnya.
Ketiadaan water tank juga menjadi salah satu penyebab perjalanan ke Bedono harus singgah dulu di Jambu untuk isi air (selain untuk langsir), seperti yang dikatakan eyang Rob Dickinson,"Run-pasts are not available on the climb owing to insufficient water capacity but they are allowed on the flat section and during the descent." SUMBER. dari keterangan eyang Dickinson sepertinya jaman dulu ketika water tank masih ada B25 bisa jalan terus ke Bedono tanpa berhenti di Jambu.
Setahu saya B25 berhenti di Stasiun Jambu hanya untuk langsir saja, karena di Sta. Jambu tidak ada water torrent maupun sumber air yang ada di dekatnya. Meskipun kru B25 juga bawa pompa air untuk jaga2 bila kekurangan air, biasanya B25 berhenti di dekat pangkalan truk/rest area Jambu (+/- 700m setelah Sta. Jambu ke arah Bedono) yang memiliki track datar dengan rel bergerigi.
Di sini, B25 akan berhenti untuk pemeriksaan dan pengencangan bagian2 loko. Jika ada kekurangan air, kru akan mengisi air dari sungai kecil yang mengalir dekat rel dengan bantuan pompa air tadi.
Pengisian air dilakukan di sta. Bedono karena di sini terdapat water torrent dan persediaan air yang terdapat pada tandon air di dekat stasiun tsb.
Dreaming of TTG-KEJ track (re)activation ---> My dreams will come true!
