14-01-2013, 01:25 AM
(This post was last modified: 14-01-2013, 01:48 AM by Anugrah Bima.)
Ingin masuk ke peron, saya melihat orang-orang yang akan naik kereta yang sama. Ternyata harus masuk lewat pintu masuk yang sama ruangannya dengan ruangan reservasi tiket. Setelah masuk peron. KA Penataran ada di jalur 1
[spoiler]
[/spoiler]
Loko CC201 merah eks sumatera selatan yang sudah diubah ke dipo SDT. Jujur Semboyan 35nya keras banget! Saya pun kaget dengan suara suling loko ini!
[spoiler]
[/spoiler]
Bogi KA Penataran. Apakah ini jenis Gorlitz?
[spoiler]
[/spoiler]
Akhirnya Penataran pun diberangkatkan
[spoiler]
[/spoiler]
KA Majapahit berada di jalur 3, bersiap untuk diberangkatkan
[spoiler]
[/spoiler]
Loko KA Majapahit
[spoiler]
[/spoiler]
KA Ekonomi AC yang baru kali ini saya lihat makai BP. Apakah K3 AC yang lain juga menggunakan BP?
[spoiler]
[/spoiler]
Memang KA ini ga favorit ya
terlihat ga begitu banyak yang naik
[spoiler]
[/spoiler]
Sayangnya ketika Majapahit berangkat, saya sedang memenuhi "panggilan alam" lagi. Ketika keluar, sudah tidak ada lagi Majapahit, sekedar untuk melakukan salam perpisahan
Setelah saya keluar, KA Gajayana dilangsir ke jalur 1.
[spoiler]
[/spoiler]
Baru tau kalau makai Rangkaian jendela pesawat
[spoiler]
[/spoiler]
Interior KA Gajayana. Yang naik kebanyakan orangnya berlogat sama dengan saya. Banyak yang masih seumuran malah (Logat Jakarta
)
[spoiler]
[/spoiler]
Kereta lalu diberangkatkan. Kali ini saya tidak terlalu ingin mengambil foto karena saya sudah lelah sekali.
Ketika berhenti di Tulungagung, berpapasan dengan KA Dhoho
[spoiler]
[/spoiler]
Melanjutkan perjalanan, Gajayana jauh lebih ngebut dari Majapahit di petak TA-KD. Tak lama, tiba di Kediri
MTT yang berangkaian
[spoiler]
[/spoiler]
Setelah Kediri ini, saya mematikan hape saya dan menikmati saja perjalanan pulang. Maklum, mata sudah sepet ingin cepat tidur. Walaupun begitu, saya memaksakan sedikit sampai YK. Sepanjang perjalanan KA ini menyusul Majapahit di Nganjuk, bersilang dengan Sancaka di Babadan dan Argo Wilis di Caruban, dan menyusul GBMS di Lempuyangan. Setelah YK saya benar-benar tertidur dan baru bangun di PWT karena ternyata ada yang mau duduk di kursi sebelah saya yang sejak dari Malang kosong.
Pukul 05:00 tibalah KA Gajayana di Jatinegara. Saya langsung menyegat metro 506 ke Pondok Kopi, dan setelah itu langsung naik angkot ke rumah di Bekasi.
Kesimpulan dari perjalanan ini bagi saya adalah:
-KA Majapahit menurut saya tiketnya kemahalan, tidak sebanding dengan fasilitas yang ada, telatan, dan lama perjalanannya. Tapi sangat cocok bagi yang ingin menikmati berada di atas kereta api
-KA Gajayana lumayan bagi saya, AC cukup ga terlalu dingin, juga ga gerah. Tetapi penutup barang di atas rusak, dan tidak ada ember di toilet. Harga dengan fasilitas berimbang.
That's all the folks lads. Selanjutnya mungkin antara april-mei saya akan pergi naik kereta lagi. Tunggu saja TR yang lain dari saya.
[spoiler]
[/spoiler]Loko CC201 merah eks sumatera selatan yang sudah diubah ke dipo SDT. Jujur Semboyan 35nya keras banget! Saya pun kaget dengan suara suling loko ini!
[spoiler]
[/spoiler]Bogi KA Penataran. Apakah ini jenis Gorlitz?
[spoiler]
[/spoiler]Akhirnya Penataran pun diberangkatkan
[spoiler]
[/spoiler]KA Majapahit berada di jalur 3, bersiap untuk diberangkatkan
[spoiler]
[/spoiler]Loko KA Majapahit
[spoiler]
[/spoiler]KA Ekonomi AC yang baru kali ini saya lihat makai BP. Apakah K3 AC yang lain juga menggunakan BP?
[spoiler]
[/spoiler]Memang KA ini ga favorit ya
terlihat ga begitu banyak yang naik[spoiler]
[/spoiler]Sayangnya ketika Majapahit berangkat, saya sedang memenuhi "panggilan alam" lagi. Ketika keluar, sudah tidak ada lagi Majapahit, sekedar untuk melakukan salam perpisahan

Setelah saya keluar, KA Gajayana dilangsir ke jalur 1.
[spoiler]
[/spoiler]Baru tau kalau makai Rangkaian jendela pesawat
[spoiler]
[/spoiler]Interior KA Gajayana. Yang naik kebanyakan orangnya berlogat sama dengan saya. Banyak yang masih seumuran malah (Logat Jakarta
)[spoiler]
[/spoiler]Kereta lalu diberangkatkan. Kali ini saya tidak terlalu ingin mengambil foto karena saya sudah lelah sekali.
Ketika berhenti di Tulungagung, berpapasan dengan KA Dhoho
[spoiler]
[/spoiler]Melanjutkan perjalanan, Gajayana jauh lebih ngebut dari Majapahit di petak TA-KD. Tak lama, tiba di Kediri
MTT yang berangkaian
[spoiler]
[/spoiler]Setelah Kediri ini, saya mematikan hape saya dan menikmati saja perjalanan pulang. Maklum, mata sudah sepet ingin cepat tidur. Walaupun begitu, saya memaksakan sedikit sampai YK. Sepanjang perjalanan KA ini menyusul Majapahit di Nganjuk, bersilang dengan Sancaka di Babadan dan Argo Wilis di Caruban, dan menyusul GBMS di Lempuyangan. Setelah YK saya benar-benar tertidur dan baru bangun di PWT karena ternyata ada yang mau duduk di kursi sebelah saya yang sejak dari Malang kosong.
Pukul 05:00 tibalah KA Gajayana di Jatinegara. Saya langsung menyegat metro 506 ke Pondok Kopi, dan setelah itu langsung naik angkot ke rumah di Bekasi.
Kesimpulan dari perjalanan ini bagi saya adalah:
-KA Majapahit menurut saya tiketnya kemahalan, tidak sebanding dengan fasilitas yang ada, telatan, dan lama perjalanannya. Tapi sangat cocok bagi yang ingin menikmati berada di atas kereta api
-KA Gajayana lumayan bagi saya, AC cukup ga terlalu dingin, juga ga gerah. Tetapi penutup barang di atas rusak, dan tidak ada ember di toilet. Harga dengan fasilitas berimbang.
That's all the folks lads. Selanjutnya mungkin antara april-mei saya akan pergi naik kereta lagi. Tunggu saja TR yang lain dari saya.

