27-07-2012, 09:06 PM
Jangan terlalu memojokkan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), coba kita itung dengan pengandaian.
Tiap stasiun butuh minimal 1KS, 1-4PPKA, petugas JPJ, petugas PJL untuk beberapa perlintasan sebidang yg cukup padat frekuensi kendaraan roda dua dan empatnya. Petugas keamanan stasiun, dan beberapa orang lagi untuk mendukung operasional KA. Belum ditambah biaya perawatan rel, kricak, bantalan, wesel, sinyal, telegram/radio, biaya perawatan kereta, gerbong dan lokomotif. Jadi kalo menurut saya wajar PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak mengambil resiko dengan merebitalisasi jalur yg kurang mencukupi hitungan ekonomisnya.
Saya beri contoh di Kota tempat saya tinggal sekarang (Karawang). Di Karawang terdapat empat jalur mati (Karawang - Rengasdengklok, Karawang - Wadas, Cikampek - Wadas, Cikampek - Cilamaya). Saya memperhatikan jalur mati Cikampek - Cilamaya selama 2 tahun, walau dibilang mendekati nilai ekonomis, pengoperasian hanya bisa dilakukan 3x dalam satu hari. Karena daerah tersebut hanya ramai pada jam2 : 04 - 08 (penumpang ramai dari Cilamaya ke Cikampek), 08 - 12 (penumpang sedikit), 12 - 15 (penumpang sedikit), 15 - 22 (penumpang ramai dari Cikampek ke Cilamaya). Bila pakai C1 + 4 Kereta, hanya bisa dua kali jalan, pagi satu kali dan sore satu kali. Bila dibandingkan biaya operasional dan pendapatan, tidak akan bisa menutup biaya operasional.
Yang salah bukan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), tapi kebijakan politik Transportasi Pemerintah yg pro jalan aspal
Tiap stasiun butuh minimal 1KS, 1-4PPKA, petugas JPJ, petugas PJL untuk beberapa perlintasan sebidang yg cukup padat frekuensi kendaraan roda dua dan empatnya. Petugas keamanan stasiun, dan beberapa orang lagi untuk mendukung operasional KA. Belum ditambah biaya perawatan rel, kricak, bantalan, wesel, sinyal, telegram/radio, biaya perawatan kereta, gerbong dan lokomotif. Jadi kalo menurut saya wajar PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak mengambil resiko dengan merebitalisasi jalur yg kurang mencukupi hitungan ekonomisnya.
Saya beri contoh di Kota tempat saya tinggal sekarang (Karawang). Di Karawang terdapat empat jalur mati (Karawang - Rengasdengklok, Karawang - Wadas, Cikampek - Wadas, Cikampek - Cilamaya). Saya memperhatikan jalur mati Cikampek - Cilamaya selama 2 tahun, walau dibilang mendekati nilai ekonomis, pengoperasian hanya bisa dilakukan 3x dalam satu hari. Karena daerah tersebut hanya ramai pada jam2 : 04 - 08 (penumpang ramai dari Cilamaya ke Cikampek), 08 - 12 (penumpang sedikit), 12 - 15 (penumpang sedikit), 15 - 22 (penumpang ramai dari Cikampek ke Cilamaya). Bila pakai C1 + 4 Kereta, hanya bisa dua kali jalan, pagi satu kali dan sore satu kali. Bila dibandingkan biaya operasional dan pendapatan, tidak akan bisa menutup biaya operasional.
Yang salah bukan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), tapi kebijakan politik Transportasi Pemerintah yg pro jalan aspal
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA
walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya

