04-05-2012, 03:31 PM
(04-05-2012, 08:59 AM)Bimantara Wrote:tak apa maupun kelasnya Satwa, tetapi tidak kallah bersaing dengan Argo.(03-05-2012, 08:32 PM)bramoy Wrote: Sebenarnya dari KA Gajayana ini, berharap setidaknya ada peningkatan no kereta menjadi no 1 dan 2 alias menjadi Argo, Dwipangga aja bisa menjadi Argo Dwipangga, sedangkan Gajayana dari tahun 1999 sampai sekarang belum menjadi Argo, knapakah ( tak tahu saya )....
Trus ini juga, semakin lama agak sebel sebenar e sama stasiun pemberhentian KA Gajayana, sebagai KA jarak jauh harusnya para pengelola ngerti donk management-nya seperti apa, yah kalo jadwal keberangkatan sudah dirubah menjadi pukul 13.45 ke arah Jakarta, harusnya tak perlu berhenti di Kertosono, ga peduli kek stasiun tipe berapa, penumpang yang dari Kertosono biarkan tercover sama Bima dan Bangunkarta begitu pun juga di Stasiun Solo, ngapain berhenti juga sih, kalo cuma naikin ato nurunin ga sampe 10 penumpang rugi deh, rugi waktu. Kalo yang brngkat dari Solo biarkan naek Argo Dwipangga, Bima, Bangunkarta ( Jebres berhenti ka ga sih ). Apalagi keberangkatan di siang seperti ini pun ada kemungkinan untuk bersilang dengan Sancaka, Pasundan, (tambahin kalo ada), dulu aja hampir 20 menit nunggu Sancaka di Saradan. Kalo Surabaya - Kertosono aja cuma 80 km mungkin ekspress bisa melibas dalam waktu 1-1,5 jam. Malang - Kertosono aja brapa kilo, nah untuk mengefisien waktu alangkah baiknya kalau sistem pemberhentian kereta perlu ditata terkhusus untuk KA jarak jauh semisal jalur Malang - Jakarta.
Wah tapi itu udah diatur sama GAPEKA mas , memang Gajayana harusnya jadi Argo . Tapi menurut saya biarlah jadi Satwa Retrofit , karena cuma 4 kereta yang kelasnya Satwa Retrofit .
Hidup (ARGO) GAJAYANA !!

