28-01-2009, 12:06 PM
Mas Intrias (IRPS-Bandung) Wrote:Yach temans....
Tragedi 'Tjukanghaoer' ini awal mula berakhirnya jalur Soreang - Tjiwidej (Bandung - Soreang masih digunakan s.d era loko diesel).
Peristiwa ini membuka mata para petinggi KA pd saat itu bahwa pemeliharaan di jalur2 cabang sangat minim, dan karena memang dananya juga minim. Jalur antara Soreang - Tjiwidej gradien tanjakannya cukup tinggi, sedangkan kondisi jalurnya pada saat itu ehmmm.... ya pokoknya tdk cukup kuat untuk dilalui kereta barang yg mayoritas mengangkut gelondongan kayu dan hasil kebun dari St. Tjiwidej & St. Pasirdjamboe (Tjisondari); shg akhirnya diputuskan untuk menutup jalur KA yg memang cukup berbahaya ini.
Pd saat kejadian itu rangkaian dgn sebuah lok uap (lok diesel blm pernah menginjakkan rodanya di jalur ini, kecuali antara Bandung - Soreang) meluncur tak terkendali krn masalah pd sistem pengeremannya sejak lepas Pasirdjamboe, tetapi masih berada di atas rel krn radius beloknya blm terlalu kecil, tetapi sesaat (kl. 400m) sblm memasuki halte Tjukanghaoer ada belokan ke kanan yg cukup tajam dan di situlah perjalanan KA tersebut berakhir (selamanya s.d. sekarang). Sampai tahun 2007 bekas rel sebelah kiri yg tercerabut lepas akibat PLH ini masih teronggok di sela2 gang rumah penduduk di sekitar lokasi (disebelah sisi kiri rel jika dari arah Ciwidey).

